NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Areka Leywin

Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Cuma Satu Gang

Malam-malam berikutnya, aku hampir tidak tidur.

Aku duduk di gang buntu dekat bantaran kali—tempat yang sudah jadi semacam "markas" tidak resmi kami—sambil mencoret-coret di buku tulis bekas sekolah, mencoba membayangkan bagaimana caranya kelompok yang tadinya cuma menjaga tiga-empat gang bisa berubah jadi sesuatu yang cukup besar untuk melawan proyek sekelas milik Bupati.

Ujang yang pertama menyadari perubahan itu. "Bang Rangga akhir-akhir ini kayak orang lain," katanya suatu malam, sambil menyodorkan segelas kopi yang dibelinya dari warung Bu Inah. "Dulu mikirin gimana jaga satu gang aja udah pusing. Sekarang malah mikirin seluruh Karang Wetan."

"Kalau kita cuma jaga satu gang," jawabku, "kita bakal kalah waktu papan proyek itu berubah jadi alat berat. Kita harus mikir lebih besar dari itu, walaupun berat."

---

Aku mulai memahami satu hal penting: Karang Wetan bukan satu-satunya kawasan kumuh di kota ini yang jadi sasaran proyek serupa. Lewat Pak Darto dan jaringan ojeknya yang ternyata menjangkau lebih jauh dari yang kukira, aku tahu ada setidaknya tiga kawasan lain—pemukiman bantaran kali di sisi timur kota, area sekitar terminal lama, dan sebuah kampung nelayan kecil di pinggir kota—yang menghadapi ancaman serupa dari proyek-proyek "revitalisasi" yang, kalau ditelusuri, semuanya berujung pada nama perusahaan yang sama.

"Kalau semua kawasan ini punya musuh yang sama," kataku pada Yanto suatu malam, "kenapa kita nggak gabung kekuatan? Selama ini kita masing-masing kelompok kecil yang lemah sendiri-sendiri. Tapi kalau digabung..."

Yanto menatapku lama, lalu untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang mirip harapan di wajahnya yang biasanya datar. "Itu bukan lagi jaga gang, Rangga. Itu udah kayak... gerakan."

Kata itu terasa berat waktu diucapkan, tapi entah kenapa juga terasa benar.

---

Membangun jaringan itu tidak semudah membicarakannya. Setiap kawasan punya cerita sendiri, luka sendiri, dan yang lebih penting—kecurigaan sendiri terhadap orang asing yang tiba-tiba datang menawarkan "kerja sama".

Perjalanan pertamaku ke kampung nelayan di pinggir kota nyaris berakhir buruk. Warga di sana, yang sudah lelah dijanjikan macam-macam oleh LSM dan politisi yang datang menjelang pemilu lalu menghilang setelahnya, awalnya menganggapku sama saja—anak muda dengan janji kosong.

"Kenapa saya harus percaya sama kamu?" tanya seorang nelayan tua bernama Pak Rusdi, pemimpin tidak resmi kampung itu, menatapku tajam di depan warganya. "Sudah banyak yang datang, ngomong manis, terus ilang pas kita butuh."

Aku tidak punya jawaban yang pintar. Yang kupunya cuma cerita—soal warung Bu Inah yang dibakar, soal kasusku sendiri yang dihentikan begitu saja, soal bagaimana kami belajar melindungi diri sendiri karena tidak ada pilihan lain.

"Saya nggak bisa janji kami bakal menang," kataku akhirnya. "Saya cuma bisa janji, kalau bapak-bapak di sini diserang, kami nggak akan diam kayak orang-orang yang katanya wakil rakyat itu. Itu aja."

Hening lama. Lalu Pak Rusdi mengangguk pelan—bukan tanda percaya penuh, tapi tanda bahwa pintu belum tertutup sepenuhnya.

---

Butuh dua bulan penuh, banyak perjalanan, dan lebih banyak lagi malam tanpa tidur, sampai jaringan itu mulai terbentuk—longgar, belum terlalu terorganisir, tapi nyata. Setiap kawasan tetap punya "penjaga" masing-masing seperti Yanto dan Salim di Karang Wetan, tapi sekarang mereka saling terhubung lewat jalur komunikasi yang dibangun Ujang dan Pak Darto: pesan berantai lewat sopir ojek, kode-kode sederhana yang disebar dari mulut ke mulut, tempat-tempat aman yang bisa dipakai siapa saja dari kawasan mana saja kalau sedang dikejar.

Aku juga mulai membagi tanggung jawab—bukan lagi aku yang mengurus semuanya sendiri. Yanto memegang urusan strategi dan keamanan internal, Ujang memegang jaringan informasi dan pengintaian, Salim mengoordinasi "penjagaan lapangan" tiap kawasan, dan seorang perempuan muda dari kampung nelayan bernama Sari, yang ternyata punya latar belakang sempat kuliah sebelum putus karena masalah ekonomi, mulai membantu menyusun catatan-catatan proyek pembangunan yang bisa jadi bukti di kemudian hari.

Malam waktu kami pertama kali kumpul lengkap—perwakilan dari empat kawasan, duduk melingkar di gudang kosong dekat pasar yang dipinjamkan diam-diam oleh salah satu pedagang—aku berdiri di tengah dan untuk pertama kalinya mengucapkan sesuatu yang terasa seperti visi, bukan cuma reaksi atas kejadian yang menimpa kami.

"Kita bukan lagi cuma ngejaga satu gang," kataku, suaraku terdengar lebih mantap dari yang kurasakan. "Lentera sekarang punya cabang di empat tempat. Tapi inget, kita tetap pegang aturan yang sama dari awal—kita lindungi, bukan meras. Kita jaga orang biasa, bukan nakut-nakutin. Karena begitu kita lupa itu, kita nggak beda sama Broto, sama Baskoro, atau sama Bupati yang lagi coba gusur rumah kita."

Sari, yang duduk paling dekat denganku, berbisik pelan, hampir seperti bicara ke dirinya sendiri. "Kalau ini beneran jalan... ini bukan lagi cuma soal Karang Wetan."

Aku mengangguk. Karena dalam hati, aku tahu ia benar—dan aku juga tahu, semakin besar Lentera tumbuh, semakin besar juga perhatian yang akan kami tarik dari orang-orang yang jauh lebih berbahaya daripada Broto seorang diri.

---

*(Bersambung ke Bab 9)*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!