Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Alunan musik instrumental klasik bernada riang menggema dari pelantang suara berkualitas tinggi, memenuhi setiap sudut ballroom hotel yang megah. Bagi para tamu undangan yang memenuhi meja-meja bundar di barisan depan, malam itu adalah pesta yang sempurna. Sebuah perayaan yang meriah, penuh dengan tawa renyah, denting gelas kristal yang saling beradu, dan kilatan lampu kamera dari fotografer sewaan yang sibuk mengabadikan momen kemewahan tersebut.
Pesta ini adalah panggung impian bagi mereka yang memuja status sosial, sebuah tempat di mana ego bisa diberi makan dengan tatapan kagum dan pujian-pujian basa-basi yang manis.
Namun, di sudut paling belakang, tepat di meja nomor enam yang temaram, suasananya terasa bagai dunia yang berbeda. Bagi Adinda dan Dimas, keriuhan di depan sana sama sekali tidak memiliki arti. Keduanya memang tidak pernah menyukai acara-acara yang sarat akan kepalsuan seperti ini. Sejak awal melangkah masuk, Adinda sudah memilih untuk menarik diri secara emosional.
Baginya, denting musik dan gemerlap lampu itu terasa bising dan melelahkan, sebuah kontras yang tajam dari ketenangan dapur kontrakannya yang biasa dipenuhi aroma harum adonan kue yang matang dengan jujur.
Di sebelahnya, Dimas duduk dengan punggung tegak. Remaja berusia empat belas tahun itu sama sekali tidak menyentuh hidangan pembuka yang disajikan oleh pelayan hotel. Tatapan matanya lurus memperhatikan panggung utama, namun bukan dengan binar kagum, melainkan dengan pandangan jeli seorang anak yang sedang mempelajari betapa rapuhnya fondasi dari kemewahan yang dipamerkan di depan sana. Dimas tahu persis, setiap jengkal kemeriahan yang membuat Abahnya tersenyum lebar itu ditopang oleh rasa lelah Ibunya yang disembunyikan rapat-rapat.
"Ibu lelah?" bisik Dimas pelan, menggeser segelas air putih hangat ke dekat tangan Adinda.
Adinda menoleh, lalu tersenyum lembut sembari menggeleng pelan. "Tidak, Dim. Ibu cuma sedang menikmati ketenangan di sini."
Ketenangan itu mendadak terusik ketika pembawa acara berbaju formal naik ke atas panggung dengan mikrofon di tangan, suaranya yang menggelegar segera mengambil alih perhatian seluruh ruangan.
"Hadirin sekalian, mari kita masuki momen yang paling dinantikan malam ini! Momen penghormatan dan ungkapan bakti dari putra-putri tercinta kepada ibunda tercinta, Mama Lastri, yang pada malam hari ini genap berusia tujuh puluh tahun! Kami persilakan kepada perwakilan keluarga besar untuk maju ke depan panggung!"
Mendengar instruksi tersebut, suasana di barisan meja depan langsung bergerak dinamis. Adinda menyaksikan dari kejauhan bagaimana klan keluarga besar itu mulai bangkit dari kursi mereka dengan penuh kebanggaan. Mas Broto dan Mbak Rika melangkah paling depan, memimpin barisan dengan senyum yang mengembang sempurna. Di belakang mereka, Mbak Ambar dan suaminya mengikuti dengan langkah yang tak kalah anggun, sesekali melambaikan tangan kepada rekan bisnis yang menyapa dari meja samping. Bahkan, anak-anak dari Mas Broto dan Mbak Ambar sepupu-sepupu Dimas turut diajak serta, berbaris rapi membentuk formasi keluarga yang tampak utuh dan harmonis.
Lalu, pandangan Adinda beralih kepada Bagas. Pria itu tampak sangat bersemangat. Dengan kemeja batik barunya yang licin, Bagas langsung berdiri dan merapikan letak kerahnya dengan gerakan cepat. Namun, yang membuat ulu hati Adinda sedikit berdenyut bukan karena semangat suaminya, melainkan karena cara Bagas melangkah pergi. Pria itu langsung berjalan memutar melewati meja nomor enam tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Bagas melangkah begitu saja menuju panggung depan, meninggalkan Adinda dan Dimas di barisan belakang seolah-olah keberadaan istri dan anak kandungnya sendiri telah lenyap dari memorinya.
Bagas sengaja tidak mengajak mereka maju. Pria itu terlampau malu menampilkan Adinda yang hanya mengenakan gamis polos tanpa payet, dan ia terlampau gengsi membawa Dimas yang baru saja mempermalukannya di depan para ipar tadi. Bagas ingin berdiri di panggung itu sebagai sosok anak yang mandiri dan sukses, tanpa perlu dibayangi oleh realita bahwa keluarganya sendiri tampil paling bersahaja di antara yang lain.
Melihat hal itu, Dimas mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Rahangnya mengeras menahan amarah yang kembali naik ke ubun-ubun. "Abah keterlaluan, Bu. Semua sepupu diajak maju, bahkan menantu-menantu yang lain berdiri di sana. Kenapa Abah malah meninggalkan Ibu seolah-olah kita ini orang asing?"
Adinda segera mengulurkan tangannya, mengusap punggung tangan Dimas dengan lembut untuk menenangkan gejolak amarah putranya. Wajah Adinda tetap tenang, tidak ada raut sedih atau kecewa yang mendalam di sana.
"Sudah, Dim. Jangan diambil hati," ucap Adinda dengan nada suara yang teramat tenang, mengalir seperti air di gurun yang panas. "Ibu sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini. Jujur saja, Ibu justru bersyukur kita tidak perlu berdiri di depan sana menjadi pusat perhatian orang-orang. Ibu sudah sangat terbiasa dengan perlakuan seperti ini selama tiga belas tahun, dan malam ini, duduk di sini bersamamu jauh lebih berharga daripada berdiri di atas panggung penuh kepalsuan itu."
Dimas menatap mata ibunya, mencari gurat kebohongan atau rasa sakit yang disembunyikan, namun yang ia temukan hanyalah ketegasan yang mutlak. Perlahan, kepalan tangan Dimas mengendur, digantikan oleh rasa kagum yang makin besar terhadap ketabahan wanita di sebelahnya.
Di atas panggung yang diterangi sorot lampu kuning keemasan, Mama Lastri duduk di kursi mirip singgasana yang telah disiapkan khusus. Nenek Dimas itu tampak tersenyum lebar, wajahnya yang mulai berkerut dihiasi riasan tebal yang mahal. Di sekelilingnya, anak-anak, menantu dan cucu-cucunya berdiri membentuk setengah lingkaran, menciptakan sebuah visual keluarga idaman yang tampak begitu kompak di mata para tamu undangan yang langsung bertepuk tangan riuh.
"Dan sekarang, inilah persembahan spesial dari putra-putri terbaik Mama Lastri! Sebuah tanda cinta yang telah dipersiapkan dengan penuh ketulusan!" seru pembawa acara, memicu sepasang pelayan hotel berbaju seragam rapi untuk mendorong sebuah meja kecil beroda ke atas panggung.
Di atas meja tersebut, bertumpuk beberapa kotak hadiah dengan kemasan yang luar biasa mewah. Kotak-kotak itu dilapisi kertas kado beludru berwarna merah tua dan emas, lengkap dengan pita sutra besar yang mengikatnya.
Mas Broto maju selangkah, mengambil mikrofon, lalu berbicara dengan nada suara yang berwibawa. "Mama, malam ini kami semua, anak-anakmu, ingin memberikan sedikit tanda mata. Ini tidak seberapa dibandingkan dengan semua kasih sayang yang telah Mama berikan kepada kami. Semoga Mama menyukainya."
Mbak Rika dengan gerakan yang sengaja dibuat anggun dan dramatis, membantu Mama Lastri membuka kotak hadiah pertama yang berukuran paling besar. Begitu tutup kotak beludru itu terbuka, Mbak Rika mengangkat isinya tinggi-tinggi agar bisa tertangkap oleh kamera fotografer dan terlihat oleh seluruh penonton di ballroom.
Sebuah tas tangan mewah dari rumah mode ternama asal Prancis berbahan kulit buaya berwarna hitam mengkilap langsung terpajang nyata di bawah sorot lampu panggung. Logo logam emas di bagian depan tas itu memantulkan cahaya berkilauan, mempertegas status harganya yang dipastikan mencapai angka puluhan atau bahkan ratusan juta rupiah. Tidak berhenti sampai di sana, kotak kedua dibuka oleh Mbak Ambar, mengeluarkan sepasang selendang sutra murni bersulam benang emas khis, diikuti oleh kotak ketiga berisi satu set perhiasan mutiara air laut yang berkilau lembut.
Melihat barang-barang mewah itu dipamerkan satu per satu di atas panggung, Adinda yang duduk di meja belakang langsung tertegun. Matanya sedikit membelalak, dan napasnya tertahan sejenak di tenggorokan. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena ia merasa takjub atau iri dengan kemewahan barang-barang tersebut, melainkan karena sebuah kesadaran yang mendadak menghantam pikirannya dengan keras.
"Tas itu... perhiasan itu... semuanya barang-barang bermerek", batin Adinda dengan cemas.
Pikiran Adinda langsung berputar cepat menghitung angka-angka. Sebagai seorang wanita yang setiap hari harus memutar otak mengelola uang modal katering, ia tahu persis nilai dari barang-barang yang dipamerkan di depan sana. Dan seketika itu juga, Adinda tahu apa arti dari semua kemewahan ini bagi dirinya dan suaminya. Ini bukan sekadar hadiah kejutan yang tulus dari anak-anak untuk ibunya. Ini adalah proyek iuran baru yang dipaksakan. Ini berarti, setelah pesta ini selesai, atau bahkan mungkin besok pagi, pesan di grup WhatsApp keluarga besar akan kembali berdenting nyaring, membawa rincian tagihan nominal iuran tambahan yang harus ditanggung bersama oleh seluruh anak Mama Lastri, termasuk Bagas.
Adinda merasakan dadanya sesak. Ia teringat bagaimana semalam Bagas dengan tega mengambil paksa uang modal belanja daging kateringnya sebesar lima juta rupiah hanya demi membayar sisa iuran sewa hotel dan katering pesta ini. Uang yang ia kumpulkan dengan mandi keringat di depan kompor gas sejak subuh, uang yang seharusnya diputar untuk memenuhi pesanan pelanggan minggu depan, lenyap begitu saja demi membiayai gengsi suaminya yang ingin terlihat sejajar dengan Mas Broto. Dan sekarang, melihat tas mewah dan perhiasan itu, Adinda tahu tagihan baru yang tak kalah besar sudah menanti di depan mata. Bagas pasti akan kembali menuntut uang darinya demi melunasi bagian iuran hadiah mewah tersebut, karena gaji bulanan Bagas sendiri sebagai pegawai kantoran biasa tidak akan pernah cukup untuk menutupi gaya hidup klan keluarga besarnya yang sosialita.
Di atas panggung, Bagas tampak berdiri di samping Mas Broto dengan dagu yang dibusungkan, ikut bertepuk tangan dengan wajah yang berseri-seri penuh kebanggaan saat Mama Lastri memeluk tas mewah barunya. Bagas tampak begitu menikmati momen itu, seolah-olah ia telah berhasil menjadi bagian dari kesuksesan pemberian hadiah tersebut, tanpa pernah memedulikan bagaimana cara uang untuk iuran itu akan didapatkan nantinya.
Adinda menatap lurus ke arah suaminya di atas panggung. Rasa cemas dan kaget yang sempat mampir di hatinya perlahan-lahan menguap, digantikan oleh sebuah rasa dingin yang membeku dan mengeras di dalam lubuk hatinya.
Kesabaran Adinda yang selama tiga belas tahun ini layaknya hamparan samudra luas yang tak bertepi, malam ini resmi menyentuh batas dasarnya yang paling keras.
Sebuah keputusan mutlak langsung diambil oleh Adinda saat itu juga. Ia bersumpah di dalam hatinya sendiri, menatap pendar lampu panggung yang menyilaukan.
"Cukup. Ini yang terakhir," batin Adinda, matanya menyipit penuh ketegasan.
"Setelah malam ini, aku tidak akan pernah memberikan sepeser pun uang hasil keringatku untuk iuran apa pun di keluarga ini. Tidak untuk ulang tahun, tidak untuk arisan, tidak untuk hadiah mewah, dan tidak untuk semua kepalsuan yang mereka banggakan."
Adinda berjanji pada dirinya sendiri bahwa uang modal usahanya, tabungannya, dan setiap rupiah yang ia hasilkan dari pesanan kue online di rumah kontrakannya akan ia kunci rapat-rapat. Jika Bagas ingin tetap memelihara topeng gengsinya di depan Mas Broto dan Mbak Rika, maka pria itu harus membiayainya dengan sisa uang dari kantongnya sendiri, bukan dengan merampas hak hidup istri dan anaknya lagi. Adinda sudah selesai dengan perannya sebagai penopang rahasia dari kesombongan suaminya.
Dimas yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi wajah ibunya, bisa merasakan atmosfer ketegasan yang tiba-tiba menguar kuat dari diri Adinda. Remaja itu melihat bagaimana tatapan ragu Ibunya berubah menjadi sedingin es, menatap lurus ke arah Abahnya yang masih sibuk tertawa di depan sana.
"Ibu memikirkan soal iuran hadiah tas itu, ya?" tebak Dimas dengan suara yang sangat pelan, namun penuh pengertian.
Adinda menoleh ke arah Dimas. Kali ini, tidak ada lagi senyuman sabar atau pasrah di wajahnya. Yang ada hanyalah sepasang mata seorang ibu yang siap bertarung demi masa depan anaknya. Adinda memegang tangan Dimas, lalu mengangguk kecil dengan mantap.
"Benar, Dim. Tapi kamu tidak perlu khawatir lagi," jawab Adinda, suaranya terdengar begitu berbobot dan penuh keyakinan. "Ibu berjanji, mulai besok pagi, tidak akan ada lagi satu rupiah pun dari rumah kita yang keluar untuk membiayai pesta atau hadiah mereka. Ibu sudah selesai dengan semua ini."
Dimas tersenyum mendengar kalimat itu sebuah senyuman kepuasan yang teramat tulus dari seorang anak yang akhirnya melihat ibunya memilih untuk bangkit melawan ketertindasan yang tak kasat mata. "Dimas akan selalu dukung Ibu. Mulai sekarang, uang Ibu hanya untuk kita berdua."
Di kejauhan, pesta ulang tahun itu masih terus berlanjut dengan segala kemegahannya yang riuh rendah. Namun bagi Adinda dan Dimas, yang duduk tenang di meja nomor enam, ruangan itu kini terasa makin hambar. Di bawah pendar cahaya emas hotel berbintang itu, sebuah batasan tegas telah resmi ditarik, dan Adinda tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini berlalu. Selesai sudah masa-masa mengalah; kini saatnya ia berdiri di atas kakinya sendiri secara utuh.