Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17.
Keesokan paginya.
Sebuah mobil hitam memasuki halaman kantor kepolisian. Dr. Rangga turun lebih dulu, disusul seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan yang mengenakan setelan jas warna biru dongker. Dialah Arya Permana, pengacara yang selama ini menjadi penasihat hukum keluarga Dr. Rangga.
"Silakan, Dokter," ujar Pak Arya sembari mempersilakan kliennya melangkah lebih dulu.
Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju ruang penyidik yang menangani kasus Maura.
"Selamat pagi," sapa Pak Arya sambil menunjukkan kartu identitas profesinya.
"Saya Arya Permana, kuasa hukum keluarga Nona Maura. Kami datang untuk mengajukan permohonan penangguhan penahanan," lanjutnya dengan tenang.
"Silakan duduk terlebih dahulu," ujar Petugas Penyidik setelah menerima berkas yang disodorkan Pak Arya, lalu membacanya dengan saksama.
Setelah beberapa saat memeriksa dokumen, Petugas Penyidik kembali mengangkat kepala.
"Pak Arya, kami memahami maksud Anda. Namun, perlu kami sampaikan bahwa proses hukum terhadap Saudari Maura tetap berjalan."
"Klien saya hanya mengajukan penangguhan penahanan. Dr. Rangga bersedia menjadi penjamin dan memastikan Nona Maura akan bersikap kooperatif selama proses hukum berlangsung. Beliau juga siap memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan sesuai ketentuan," sambung Pak Arya kemudian.
Dr. Rangga mengangguk pelan. "Benar, Pak. Saya datang bukan untuk menghentikan proses hukum anak saya. Karena dia memang harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya."
Petugas Penyidik menatap keduanya bergantian. "Apakah Anda yakin, sanggup menjamin Saudari Maura tidak akan melarikan diri ataupun menghilangkan barang bukti?"
"Saya berani menjamin," jawab Dr. Rangga mantap. "Sebagai ayah, saya bertanggung jawab penuh atas putri saya dan akan memastikan dia mematuhi setiap proses hukum yang berlaku."
Ruangan kembali hening beberapa saat. Petugas Penyidik lalu menutup map berisi dokumen permohonan tersebut. "Baik. Kami akan memproses pengajuan ini dan meneruskannya kepada pimpinan untuk dipertimbangkan. Mohon menunggu sebentar."
Dr. Rangga mengangguk penuh harap. Beberapa saat kemudian, Petugas Penyidik kembali dengan membawa selembar dokumen.
"Setelah mempertimbangkan permohonan yang diajukan serta adanya jaminan dari pihak keluarga, permohonan penangguhan penahanan terhadap Saudari Maura dikabulkan. Namun, perlu diingat, bahwa statusnya kini berubah menjadi tahanan kota. Ia wajib memenuhi seluruh ketentuan yang telah ditetapkan dan tetap mengikuti setiap proses hukum sampai perkara ini selesai."
Raut wajah Dr. Rangga yang semula tegang kini sedikit mengendur. Beban di dadanya seolah berkurang meski belum sepenuhnya hilang.
"Terima kasih, Pak," ucapnya tulus. "Saya berjanji akan mengawasi Maura dengan sebaik-baiknya."
"Kalau begitu, silakan menyelesaikan administrasi yang diperlukan. Setelah itu, Saudari Maura dapat dibawa pulang."
Dr. Rangga menoleh ke arah Pak Arya. Keduanya saling bertukar pandang lalu mengembuskan napas lega.
Tak lama berselang, seorang petugas berjalan menuju ruang tahanan untuk menjemput Maura. "Saudari Maura," panggilnya.
Gadis remaja yang sedang duduk sambil memeluk kedua lututnya di sudut ruangan, perlahan mengangkat kepala.
"Kamu boleh keluar," ujar petugas itu lagi.
"Keluar?" gumam Maura dengan wajah bingung.
"Ayahmu mengajukan penangguhan penahanan. Mulai hari ini kamu berstatus tahanan kota. Tapi wajib kamu ingat, proses hukumnya tetap berjalan."
Airmata Maura langsung menggenang di pelupuk mata. Dengan langkah ragu gadis itu keluar dari balik jeruji. Begitu tiba di ruang pelayanan, pandangannya langsung tertuju pada sosok sang ayah yang berdiri menunggunya.
"Papa..." lirihnya dengan pipi dipenuhi airmata.
Dr. Rangga menghampiri putrinya. Bukannya memeluk, pria itu justru menatap Maura dengan sorot mata yang tegas.
"Papa membawamu pulang bukan karena untuk membebaskanmu dari hukuman," ucapnya pelan. "Papa ingin kamu tetap bertanggungjawab dengan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan sia-siakan kesempatan ini."
Maura menundukkan kepala, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun selain mengangguk pelan.
.
.
.
Unggahan sopir taksi itu benar-benar meledak di media sosial. Dalam waktu kurang dari satu jam, video tersebut sudah memenuhi berbagai beranda media sosial dan FYP akun TokTok. Ribuan komentar membanjiri unggahan itu.
"Gila... dua orang ini jago banget!"
"Lima begal dilawan berdua? Kayak film aksi!"
"Semoga polisi memberi mereka penghargaan."
"Ternyata masih ada orang baik di zaman sekarang."
Jenna pagi itu sedang menikmati sarapannya sambil sesekali menggulir layar ponsel. Seperti kebanyakan orang, ia hanya berniat melihat-lihat video yang sedang ramai di FYP TokTok. Namun, jemarinya mendadak berhenti, ketika sebuah video memperlihatkan dua orang yang tengah berkelahi menghadapi lima begal di tengah jalan yang remang-remang oleh sorot lampu mobil.
Awalnya Jenna hanya menonton sekilas. Akan tetapi, semakin lama wajahnya berubah serius. Ia memperbesar tampilan video itu, lalu memutarnya kembali dari awal.
"Ini...?" gumamnya lirih.
Beberapa detik kemudian matanya membelalak lebar. Napasnya seolah tertahan. Refleks ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, sementara pandangannya tak lepas dari layar ponsel.
"Ada apa, Sayang?" tanya sang ibu yang merasa heran dengan reaksi putrinya.
"Ini Ma... Ini kan... Daniel sama Zeya, teman Jenna," bisiknya tak percaya sambil memperlihatkan layar ponsel ke arah ibunya.
Video itu diputar sekali lagi untuk memastikan apa yang dilihatnya bukan sekadar ilusi. Namun, hasilnya tetap sama. Sosok dalam rekaman itu memang Daniel dan Zeya.
"Wah, hebat banget mereka ya, Jen," komentar mama Jenna dan mendapat anggukan putrinya.
"Di mana mereka ini?" gumam Jenna pelan. "Sebaiknya aku telepon dia, aja."
Jenna langsung meletakkan sendoknya di atas piring. Tanpa membuang waktu, ia segera mencari nama Zeya di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil.
Tak butuh waktu lama, panggilannya tersambung.
"Halo, Jen," suara Zeya terdengar dari seberang.
Jenna mengembuskan napas lega begitu mendengar suara sahabatnya itu.
"Ze, gimana kabarmu? Kamu sama Daniel nggak kenapa-kenapa, kan?"
"Alhamdulillah, kami baik-baik aja, kok," jawab Zeya tenang.
"Syukurlah. Tadi aku kaget banget pas lihat video kalian yang lagi viral itu. Kalian hebat, deh! Ngelawan lima begal berdua, itu bukan hal yang gampang, loh."
Zeya hanya terkekeh kecil mendengar pujian sahabatnya. "Ya... Itu hanya kebetulan aja kami bisa mengalahkan mereka. Karena waktu itu sedang lapar, jadi butuh pelampiasan."
Jenna ikut tertawa pelan, lalu kembali teringat sesuatu yang sejak kemarin mengganjal pikirannya.
"Oh ya, Ze." Nada suaranya berubah sedikit lebih serius. "Kamu sudah menemukan siapa yang mengunggah video dan foto pernikahan kalian?"
"Sudah," jawab Zeya singkat. "Maura yang melakukannya."
"Apa...!" Jenna spontan memekik kaget hingga hampir menjatuhkan gelas di depannya. "Maura...! Maura teman kita sendiri? Saudara tirimu itu?"
"Iya, dia orangnya," jawab Zeya santai.
"Astaga...!" Jenna lalu terdiam beberapa saat, berusaha mencerna jawaban Zeya. Raut wajahnya berubah lebih serius. Keningnya berkerut dalam. "Ze, apa kamu tahu alasan dia melakukan itu?"
"Dia bilang iri dan benci sama aku karena selalu lebih unggul darinya. Baik akademik maupun yang lainnya," jawab Zeya. "sudah ya, Jen. Aku harus segera bersiap ke rumah Pak Kades."
"Baiklah...bye, Ze..." Sambungan terputus.
Jenna masih menggenggam ponselnya. Lalu senyum tipis tersungging di bibirnya. "Jika dia berhasil mempermalukanmu, maka aku yang akan mempermalukannya sampai dia tahu rasanya nggak punya muka!" tekadnya seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.
.emaknya datang😁
Tinggal minta maaf secara langsung Daniel dan Zeya