NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XXIX - Harga Sebuah Pilihan

Video konferensi pers Radit sudah ditonton lebih dari lima ratus ribu kali dalam dua jam setelah konferensi itu berakhir. Nadia menunjukkan layar ponselnya ke Kirana begitu mereka selesai rapat evaluasi sore itu.

"Kir, lu harus liat ini," Nadia berkata, memutarkan video itu dari awal untuk dilihat Kirana. "Radit bela lu di depan semua wartawan. Terang-terangan, bukan cuma lewat pernyataan tertulis dari humas."

Kirana menonton video itu dalam diam, dadanya terasa hangat sekaligus berat di saat bersamaan. Ia belum sempat membalas pesan Radit sejak semalam, ia terlalu tenggelam dalam urusan Dimas dan rumor yang belum juga reda.

"Efeknya udah mulai kelihatan, nih," Nadia melanjutkan, menggeser layar ke tab lain. "Dua investor yang kemarin ragu, sore ini malah telepon balik, nanya soal jadwal buat ketemu lagi minggu depan. Kayaknya pernyataan Radit bantu banget ngangkat kepercayaan mereka."

"Syukurlah," Kirana berkata pelan, meski pikirannya masih berputar ke arah lain — konsekuensi apa yang harus Radit tanggung karena keputusan ini.

"Lu nggak seneng?" Nadia bertanya, memperhatikan ekspresi Kirana yang masih terlihat muram.

"Gua seneng," Kirana menjawab. "Tapi gua juga tau, keluarga Wibowo itu bukan keluarga yang gampang terima keputusan kayak gini. Radit baru aja milih buat bela gua di depan publik, dan itu artinya, sekarang dia lawan ayahnya sendiri."

"Menurut lu, si Hartono itu bakal ngapain?" Nadia bertanya, nadanya berubah lebih serius.

"Gua nggak tau," Kirana menjawab jujur. "Tapi orang kayak Hartono nggak bakal diem aja liat anaknya milih pihak lawan. Dia pasti udah nyiapin sesuatu buat balikin keadaan sesuai keinginan dia."

Ponselnya bergetar. Pesan dari Radit.

Kamu udah lihat konferensi pers-nya? Semoga ini bisa bantu sedikit.

Kirana menatap layar itu cukup lama sebelum mengetik balasan.

Udah. Makasih, Dit. Tapi kamu tau ini bakal bikin posisi kamu susah, kan?

Balasan Radit datang cepat.

Aku tau. Tapi ada hal yang lebih penting dari posisi aku.

Kirana membaca pesan itu berulang kali, jarinya berhenti di atas layar tanpa tau harus membalas apa. Ia tahu betul apa arti pernyataan itu bagi Radit — bukan cuma soal reputasi, tapi soal posisinya di keluarga Wibowo.

...****************...

Di apartemen pribadinya, Valerie menonton ulang video konferensi pers Radit untuk ketiga kalinya, wajahnya semakin pucat setiap kali sampai ke bagian Radit membela Kirana secara terang-terangan. Ponselnya berbunyi berkali-kali, pesan dari ibunya masuk beruntun.

Kamu lihat ini? Radit mempermalukan keluarga kita.

Ayahmu udah telepon Hartono. Kita harus bicara soal pertunangan ini.

Valerie mematikan layar ponselnya dengan kasar, meletakkannya menghadap ke bawah di atas meja. Ia menatap jendela apartemennya, rahangnya mengeras. Rencana yang sudah ia susun bersama Dimas seharusnya membuat Kirana menjauh dari Radit, bukan malah mendorong Radit semakin dekat dengan Kirana, membelanya di depan seluruh negeri.

Ia mengambil kembali ponselnya, membuka percakapan dengan Dimas, mengetik satu pesan singkat sebelum akhirnya menghapusnya lagi. Rencana mereka mulai terasa jauh lebih rapuh dari yang ia kira, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Valerie tidak yakin dengan Langkah berikutnya yang harus ia ambil. Semua yang mereka rencanakan seharusnya membuat Kirana terlihat buruk di mata Radit, bukan malah membuat Radit rela mempertaruhkan segalanya demi membelanya.

...****************...

Di kediaman Wibowo, Hartono duduk di depan televisi di ruang keluarga, menyaksikan cuplikan pernyataan pers Radit diputar berulang kali di setiap saluran berita. Ratna, asisten pribadinya, berdiri gugup di sudut ruangan, tidak berani mendekat.

"Sudah berapa lama ini tayang?" Hartono bertanya, matanya tidak lepas dari layer televisi.

"Sejak sore, Pak," Ratna menjawab pelan. "Hampir semua stasiun berita nasional muter potongan yang sama. Ada juga yang bikin analisis soal hubungan Bapak Radit dengan Ibu Kirana."

Hartono mematikan televisi dengan kasar, remote di tangannya nyaris terlempar ke lantai.

"Panggil Radit," Hartono berkata, suaranya penuh amarah yang tertahan. "Sekarang."

...****************...

Radit tiba di kediaman ayahnya pukul 19.30, ia masih mengenakan setelan jas yang sama dari konferensi pers yang ia lakukan tadi sore. Sepanjang perjalanan tadi, ia sudah menduga akan dipanggil malam ini, dan ia sudah menyiapkan diri untuk menghadapi ayahnya, apa pun yang menantinya. Ia menemukan Hartono berdiri di ruang kerjanya, tidak lagi duduk seperti tadi siang, tangannya mencengkeram sandaran kursi kulit di depannya.

"Kau tau apa yang baru saja kau lakukan?" Hartono bertanya begitu Radit masuk.

"Aku tau," Radit menjawab tenang, menutup pintu di belakangnya perlahan. "Aku bikin pernyataan yang benar, Ayah. Cipta Prada Land nggak salah, dan sekarang semua orang tau itu."

Hartono berbalik, wajahnya merah menahan marah. "Kau sudah mempermalukan keluarga ini di depan seluruh negeri! Kau tau berapa banyak telepon yang Ayah terima dari keluarga Wijaya sore ini? Mereka mengancam batalkan pertunangan kau dengan Valerie, mengancam narik semua investasi mereka dari Wibowo Group!"

"Aku nggak peduli soal pertunangan itu, Ayah," Radit menjawab, suaranya mulai naik. "Ayah tau itu bukan pernikahan yang aku mau sejak awal. Itu cuma kesepakatan bisnis yang Ayah paksain ke aku, dari dulu aku nggak pernah setuju sama Keputusan untuk menikah sama Valerie."

"Kesepakatan itu bisa menjaga perusahaan ini tetap berdiri!" Hartono berteriak. "Kau pikir Wibowo Group bisa sekokoh sekarang tanpa dukungan finansial keluarga Wijaya? Kau baru saja menghancurkan itu semua demi seorang perempuan yang bahkan belum tentu mau balik sama kau."

Radit terdiam sesaat, kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia duga, tapi ia tidak membiarkan itu terlihat di wajahnya.

"Kalau itu yang Ayah pikirin tentang aku," Radit berkata, "berarti Ayah nggak pernah benar-benar kenal sama aku."

"Kau pikir aku nggak kenal kamu?" Hartono mendekat, suaranya sekarang lebih tenang tapi jauh lebih dingin. "Aku kenal kamu lebih dari siapa pun, Radit. Dan Ayah tau, kalau kamu terus memaksa jalan di arah ini, kau bakal kehilangan semuanya."

"Maksud Ayah?"

"Posisi kau sebagai CEO Wibowo Group," Hartono berkata, setiap kata diucapkan pelan, seolah ingin memastikan Radit mendengar dengan jelas. "Hak waris kau atas semua aset keluarga ini. Kalau kau terus membela Cipta Prada Land, kalau kau terus pilih Kirana di atas keluargamu sendiri, Ayah akan cabut semuanya. Ayah akan serahkan Wibowo Group ke Om Yanto, dan kau nggak akan dapat apa-apa selain nama belakang kamu."

Ruangan itu hening. Bu Ratna yang masih berdiri di sudut ruangan menahan napas, tidak berani bergerak sedikit pun.

Radit menatap ayahnya lama. Ada bagian dari dirinya yang goyah mendengar ancaman itu — seluruh hidupnya, semua yang ia bangun sejak kecil, semua yang orang harapkan darinya sebagai anak tunggal keluarga Wibowo, bisa hilang karena satu Keputusan yang ia ambil.

Tapi bagian lain dari dirinya, bagian yang sudah lelah hidup di bawah bayang-bayang keputusan ayahnya, justru merasa lebih ringan mendengar ancaman itu diucapkan langsung.

"Om Yanto?" Radit bertanya, nyaris tidak percaya. "Ayah rela serahin perusahaan yang Ayah bangun puluhan tahun ke adik Ayah sendiri, cuma buat ngehukum aku?"

"Ayah rela lakuin apa pun buat pastiin Wibowo Group tetap berdiri," Hartono menjawab. "Kalau kau nggak bisa jadi orang yang bisa diandalin buat itu, Ayah akan cari orang lain yang bisa."

"Ayah pikir aku takut kehilangan itu semua?" Radit bertanya, suaranya mulai stabil kembali.

"Kau harusnya takut," Hartono menjawab. "Tanpa nama Wibowo, kau bukan siapa-siapa di dunia bisnis ini."

"Mungkin," Radit berkata. "Tapi setidaknya, kalau aku kehilangan semuanya, aku kehilangan itu karena aku pilih untuk jadi orang yang benar. Bukan karena aku diem-diem ikutin cara Ayah ngehancurin orang lain demi tetap punya kuasa."

Hartono menatap putranya, rahangnya mengeras, tangannya masih mencengkeram sandaran kursi di depannya. Untuk sesaat, sesuatu di matanya berubah, seolah kata-kata Radit benar-benar mengenai sesuatu yang selama ini ia tolak untuk akui.

"Kau sadar apa yang kau korbankan cuma demi perempuan itu?" Hartono bertanya lagi, kali ini suaranya terdengar seperti memohon. "Nama keluarga ini, warisan yang seharusnya jadi milik kamu, semua yang Ayah bangun untuk kau teruskan."

"Aku nggak korbanin itu semua demi Kirana, Ayah," Radit menjawab. " Selama ini aku selalu ikutin apa kata Ayah, selalu diem walau tau ada yang salah, dan lihat sendiri hasilnya sekarang — keluarga kita jadi kayak gini, penuh sama rahasia dan orang-orang di luar sana, banyak yang kecewa."

Hartono tidak langsung menjawab. Ia berjalan menjauh ke arah jendela, punggungnya menghadap Radit, bahunya tampak sedikit merosot.

"Ini kesempatan terakhir kamu, Radit," Hartono berkata, suaranya nyaris berbisik, masih tidak menoleh. "Tarik kembali pernyataan kamu. Minta maaf ke keluarga Wijaya. Atau kau kehilangan semuanya yang seharusnya jadi milik kau."

Radit terdiam sesaat, membiarkan kata-kata ayahnya menggantung di udara. Ruang kerja Hartono mulai terasa sesak. Ia memikirkan Kirana, memikirkan semua yang sudah mereka lewati, memikirkan setiap keputusan yang membawa mereka sampai ke titik ini.

Radit menatap ayahnya lurus-lurus, tidak sedikit pun berkedip.

"Kalau itu harganya, aku rela kehilangan semuanya."

1
m.marsela
kalau masih sayang, kenapa melepaskan sih duit, kepo banget sama alasannya ninggalin kirana
Ade Chubi
Radit hebat 👍
Ade Chubi
selalu nyerang pihak perempuan nya ,kalo menyerang Radit , Valerie tau akan konsekuensinya 😂😂
Cilia: Radit punya kuasa ka😂
total 1 replies
m.marsela
padahal ada orang baru yang siap untuk selalu ada
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
Cilia: Terlsdang masa lalu selalu menang ka… huhu
total 3 replies
Raudhatul Zannah
buat penasaran kak ceritanya, semangat ya kak
Ery Sithi Badriyyah
seru bgt ceritanya
Ery Sithi Badriyyah
seru ceritanya lanjut yuk
white star ⭐
bikin ketagihan membacanya
mary dice
Nah gitu dong Kirana 🔥🔥 ditunggu gebrakan-gebrakanya melawan m
para musuh 💪💪
Arni Arlinawati pratiwi
semangat anak ku sayang..
helena
lanjut thoor
m.marsela
Fix lanjut baca, penasaran banget
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat merekomendasi ceritanya... Yang belum baca wajib baca sih ini
Cilia
Penjelasannya bisa dibaca di bab-bab selanjutnya! Makin seru loh😆
Putri Ayu/PqxxyZ
terjadi salah paham ya...tapi kenapaa gak dijelasin sih malah ilang 😊
Putri Ayu/PqxxyZ
yuk bisa yuk cari cowok selain Raditya...💪💪 🤭
Cilia
Terimakasih atas dukungannya kak❤️
Raudhatul Zannah
semangat kak
Wawan
Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪
Wawan
Clue nya menarik 👍
Cilia: Terimakasih, kak! Bab-bab berikutnya akan lebih menarik! Ditunggu, ya😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!