Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Matahari sore sudah hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan semburat warna jingga keunguan yang tampak suram di langit kampung. Arin berjalan menyusuri gang dengan langkah yang terasa amat sangat berat. Wajahnya terlihat begitu kuyu, dengan kantung mata yang menghitam karena kelelahan fisik dan batin yang terkuras habis.
Dia baru saja pulang dari rumah Bu RT. Urusan di sekolah tadi berbuntut panjang hingga harus diselesaikan di tingkat desa. Di depan teras rumah mewah itu, Arin harus menundukkan kepala sedalam-dalamnya, mendengarkan rentetan makian dan sindiran tajam dari Bu RT yang tidak terima anak kesayangannya babak belur.
Bukan hanya harga dirinya yang diinjak-injak, uang hasil memeras keringat dari cucian Bu Tari selama berminggu-minggu yang rencananya akan digunakan untuk membeli beras dan keperluan sekolah Zayyan, kini berpindah tangan semuanya. Arin terpaksa menyerahkan seluruh uang itu untuk membayar biaya pengobatan luka memar di wajah Doni.
Sementara itu, di dalam rumah petak yang sepi, sepasang mata bulat milik Zayyan terus mengintip dari balik tirai jendela yang sedikit tersingkap. Jantung bocah kelas 2 SD itu bertalu-talu begitu melihat siluet ibunya berjalan mendekati pintu.
Rasa berani yang membuatnya mengamuk di sekolah tadi siang kini menguap tanpa sisa, berganti dengan rasa takut dan bersalah yang amat besar. Zayyan tahu dia telah membuat ibunya kesulitan lagi. Begitu mendengar suara langkah kaki Arin meniti teras, Zayyan buru-buru mundur dan berdiri mematung di sudut ruangan dengan kepala tertunduk dalam.
Krieeet...
Pintu kayu itu terbuka perlahan. Arin melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya dengan helaan napas panjang yang terdengar begitu sarat akan beban hidup. Dia meletakkan tas jinjingnya di atas meja, lalu membalikkan badan, menatap putranya yang berdiri kaku tak berani menatapnya.
Suasana di dalam rumah seketika menjadi begitu hening dan mencekam.
"Zayyan... ke sini, Nak," panggil Arin. Suaranya terdengar parau, tidak ada nada bentakan, namun getaran kelelahan di dalamnya justru membuat dada Zayyan terasa sesak.
Zayyan melangkah sangat pelan, seolah setiap langkahnya ditarik oleh beban yang berat. Dia berhenti tepat dua langkah di depan ibunya, jemari kecilnya saling meremas satu sama lain, bersiap menerima kemarahan Arin.
Arin tidak memukul, tidak juga berteriak. Dia perlahan berlutut di hadapan Zayyan, menyamakan tingginya dengan sang putra. Ketika tangan Arin meraih kedua bahu kecil Zayyan, bocah itu sempat tersentak sedikit.
"Tatap Ibu, Zayyan," ucap Arin lembut namun tegas.
Zayyan memberanikan diri mendongak. Begitu matanya bertemu dengan mata Arin yang berkaca-kaca, pertahanan bocah itu runtuh. Air matanya mulai mengalir perlahan membasahi pipi.
"Kenapa Zayyan melakukan itu tadi siang di sekolah? Kenapa sampai memukul Doni keterlaluan seperti itu, hah?" tanya Arin, menatap lurus ke dalam manik mata anaknya.
"Dia... dia hina Ibu, Bu..." bisik Zayyan di sela isaknya, suaranya bergetar hebat. "Doni bilang Ibu perempuan murahan... Doni bilang Zayyan anak haram yang gak diinginkan. Zayyan gak terima Ibu dihina begitu..."
Mendengar penuturan jujur dari mulut anaknya, dada Arin terasa seperti dihantam ombak besar. Rasa perih itu kembali datang, namun dia menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh di depan Zayyan. Dia meremas lembut bahu putranya.
"Zayyan, dengerin Ibu," kata Arin, nadanya kini beralih menjadi sebuah nasihat yang mendalam. "Ibu tahu kamu sayang sama Ibu. Ibu tahu kamu ingin melindungi harga diri Ibu. Dan Ibu berterima kasih karena kamu sudah peduli pada perasaan Ibu."
Arin menarik napas dalam, mencoba menata emosinya.
"Tapi dengan kamu memukul Doni sampai seperti itu, apa omongan mereka langsung berhenti? Tidak, kan? Yang ada, sekarang semua orang di kampung justru menganggap kamu anak yang nakal, anak yang suka kekerasan. Apakah itu yang kamu inginkan?"
Zayyan menggelengkan kepalanya cepat dengan air mata yang kian deras. "Enggak, Bu... bukan begitu..."
"Zayyan, kalau kita membalas keburukan orang lain dengan cara yang buruk juga, lalu apa bedanya kita dengan mereka?" lanjut Arin, jemarinya beralih mengusap air mata di pipi Zayyan. "Tenaga yang kamu punya, tangan yang kamu miliki, jangan digunakan untuk melukai orang lain, sekasar apa pun omongan mereka pada kita. Kita ini orang kecil, Nak. Kalau kamu terpancing emosi, kita sendiri yang akan kesusahan."
Arin menatap saku daster lusuhnya yang kini telah kosong melompong.
"Uang yang harusnya bisa kita pakai untuk hidup sebulan ke depan, hari ini habis semua untuk membayar obat Doni. Ibu tidak marah karena uang itu habis, Zayyan. Ibu cuma sedih... Ibu sedih karena anak Ibu yang biasanya saleh dan penyabar, hari ini membiarkan dirinya dikuasai oleh amarah dan setan."
Zayyan langsung melangkah maju dan menghambur ke dalam pelukan ibunya. Dia memeluk leher Arin dengan sangat erat, menangis sejadi-jadinya di pundak sang ibu.
"Maaf, Ibu... Zayyan minta maaf... Zayyan gak akan ulangi lagi. Jangan sedih, Ibu..." ratap Zayyan penuh penyesalan.
Arin mendekap erat tubuh mungil putranya, mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini akhirnya luruh juga, mengalir diam-diam di balik bahu Zayyan.