NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

"Aku ingin ketiga anak itu."

Kalimat dari orang misterius di seberang telepon membuat seluruh gudang membeku, tidak ada seorang pun yang berbicara selama beberapa detik bahkan Septian yang sejak tadi terlihat tenang kini berdiri dengan wajah tegang.

Bintang memperhatikan perubahan ekspresi semua orang dan semakin yakin bahwa mereka mengenal sosok di balik panggilan tersebut.

"Siapa kau?" tanya Bintang sambil menatap ponsel yang masih berada di tangan Rania.

Terdengar tawa kecil dari seberang.

"Pertanyaan yang bagus." Suara itu terdengar santai. "Tapi aku lebih tertarik pada pertanyaan lain."

"Pertanyaan apa?" tanya Rania sambil menggenggam ponselnya erat.

"Berapa lama mereka akan terus berbohong padamu?"

Tatapan Rania langsung beralih kepada Viktor, Damar, Leonard, dan Septian. Tidak ada yang menjawab dan diam mereka justru terasa jauh lebih mengganggu daripada jawaban apa pun.

"Katakan siapa dirimu!" bentak Bintang sambil melangkah maju.

"Kalian akan segera bertemu denganku." Suara itu tertawa pelan. "Kalau kalian berhasil tetap hidup."

Panggilan langsung terputus dan suasana kembali hening, hanya suara ombak dan angin malam yang terdengar dari luar gudang. Rania perlahan menurunkan ponselnya, sedangkan Bintang masih menatap layar yang kini sudah gelap.

"Siapa dia?" tanya Rangga sambil menoleh ke arah Septian.

Septian tidak langsung menjawab, rahangnya mengeras sementara kedua tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya.

"Namanya Ezra." Septian akhirnya membuka suara.

Nama itu membuat Viktor langsung menutup mata sesaat, sedangkan Damar terlihat kehilangan warna di wajahnya.

"Kalian mengenalnya?" tanya Rania sambil mengernyit.

"Bukan hanya mengenalnya." Leonard tertawa hambar. "Kami pernah menganggapnya keluarga."

Kalimat itu membuat suasana semakin berat, Bintang berjalan beberapa langkah menjauh sebelum berhenti di dekat salah satu kontainer tua. Kepalanya terasa penuh oleh terlalu banyak informasi, setiap kali satu rahasia terungkap lalu dua rahasia baru muncul menggantikannya.

"Jadi sekarang ada Arga yang seharusnya mati." Bintang menoleh ke arah mereka. "Lalu ada Septian yang ditakuti semua orang. Dan sekarang muncul Ezra."

"Tepat." Arga mengangguk pelan.

"Aku mulai membenci keluarga kalian." Bintang mengusap wajahnya kasar.

"Aku juga." Raka mendengus pelan.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu, Bintang dan Raka saling menatap sebelum tertawa kecil dan situasi mereka terlalu absurd untuk dipercaya. Rania justru tidak bisa ikut tertawa, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya sejak tadi.

"Kenapa dia menyebut kami bertiga?" tanya Rania sambil menatap Septian.

"Karena dia tahu sesuatu yang tidak kalian ketahui," jawab Arga sambil menyilangkan tangan di dada.

"Jangan mulai lagi dengan teka-teki." Rania menatapnya kesal.

"Aku serius." Arga menggeleng pelan. "Ezra tidak pernah bergerak tanpa alasan."

"Kalau begitu apa alasannya?" tanya Bintang.

Arga menatap Raka kemudian Rania, lalu akhirnya berhenti pada Bintang.

"Karena kalian bertiga adalah saksi."

"Saksi apa?" tanya Rangga sambil mengangkat alis.

"Saksi dari sesuatu yang terjadi dua puluh lima tahun lalu."

Belum sempat ada yang bertanya lebih jauh, suara tembakan tiba-tiba terdengar dari luar gudang.

Dor Dor Dor

Semua orang langsung siaga.

"Sial!" umpat Rangga sambil mencabut pistolnya.

"Ada penyerang!" teriak salah satu anak buah Septian dari luar.

Suasana langsung berubah kacau, beberapa pria bersenjata berlari masuk ke dalam gudang sementara suara tembakan terus terdengar dari kejauhan.

"Berapa banyak?" tanya Viktor sambil mengeluarkan pistol.

"Puluhan!" jawab pria itu dengan napas memburu.

"Mustahil." Damar menggeleng cepat.

"Sayangnya tidak." Septian menatap pintu gudang dengan wajah dingin.

Bintang segera berdiri di depan Rania, sedangkan Raka bergerak ke sisi lainnya dan refleks itu membuat Rania menatap kedua pria tersebut bergantian.

"Kalian bahkan baru saling kenal." gumamnya pelan.

"Kita bisa membahasnya nanti." Bintang mengokang pistolnya.

"Aku setuju." Raka mengangguk singkat.

Suara ledakan tiba-tiba mengguncang bagian luar gudang.

Boom

Dinding besi bergetar keras, debu langsung berjatuhan dari langit-langit.

"Brengsek!" bentak Leonard sambil berdiri.

"Itu bukan serangan biasa." Septian menyipitkan mata.

"Apa maksudmu?" tanya Viktor.

Septian belum sempat menjawab ketika salah satu anak buahnya kembali berlari masuk dengan wajah pucat.

"Tuan!" serunya panik. "Mereka sudah masuk ke area pelabuhan!"

"Siapa mereka?" tanya Bintang cepat.

"Lambang mereka ada di semua kendaraan." Pria itu menelan ludah.

"Lambang apa?" tanya Rania.

"Burung hitam." Pria itu terlihat ragu sesaat sebelum akhirnya menjawab.

Ruangan langsung hening, jantung Septian seolah berhenti berdetak sedangkan Arga langsung memejamkan mata.

"Oh tidak..." bisiknya pelan.

Bintang memperhatikan reaksi mereka dan langsung tahu bahwa nama itu jauh lebih berbahaya daripada Ezra.

"Ada yang mau menjelaskan?" tanyanya sambil menatap mereka satu per satu.

"Tidak ada waktu." Septian menggeleng cepat. "Kalau Burung Hitam sudah bergerak, berarti mereka datang untuk menghabisi semua saksi."

"Termasuk kami?" tanya Rania.

"Terutama kalian." Septian menatap Rania dan Raka bergantian.

Suara tembakan kembali terdengar semakin dekat, kali ini bahkan peluru mulai menghantam dinding luar gudang.

"Kita harus pergi!" bentak Viktor sambil memberi isyarat kepada semua orang.

"Ke mana?" tanya Rangga.

"Ada jalan keluar rahasia." Septian menoleh ke arah lorong gelap di belakang gudang.

"Kau yakin?" tanya Leonard.

"Aku yang membangunnya." Septian mengangguk pelan.

Semua orang langsung bergerak namun saat mereka hendak memasuki lorong tersebut, suara seseorang tiba-tiba terdengar dari pengeras suara yang terpasang di dalam gudang.

"Sudah terlambat."

Semua orang membeku karena mereka mengenali suara itu, terdengar tawa pelan sebelum suara itu kembali berbicara.

"Aku sudah menunggu malam ini selama dua puluh lima tahun."

Rania merasakan bulu kuduknya meremang sedangkan Bintang perlahan mengepalkan tangannya karena untuk pertama kalinya... mereka sadar bahwa musuh mereka mungkin sudah berada jauh lebih dekat daripada yang mereka kira.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!