Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.
Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.
Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.
Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Putri Hikari melangkah perlahan menuju bagian tengah aula. Langkahnya tenang dan anggun, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan kembali hening. Cahaya lampu kristal memantulkan kilau lembut pada gaun kerajaan yang dikenakannya, membuat sosoknya tampak seperti cahaya bulan yang turun menyentuh bumi.
Dia berhenti tepat di hadapan seluruh tamu. Pandangannya menyapu aula yang masih dipenuhi senyum, tawa, dan kenangan dari malam yang indah itu.
Sejenak, Putri Hikari menarik napas pelan.
"Begitu banyak wajah yang datang malam ini..." batinnya.
"Wajah-wajah yang membawa kebahagiaan, harapan, persahabatan, dan cerita mereka masing-masing. Sebuah pesta bukanlah tentang kemegahan aula atau cahaya lampu yang menghias langit-langitnya. Pesta menjadi berarti karena orang-orang yang hadir di dalamnya."
Tatapannya melembut.
"Dan malam ini... aula kerajaan tidak hanya dipenuhi bangsawan dan tamu kehormatan. Aula ini dipenuhi oleh kenangan yang akan dikenang untuk waktu yang lama."
Kemudian Putri Hikari mengangkat dagunya sedikit. Senyum anggun menghiasi wajahnya saat dia mulai berbicara.
"Para tamu yang kami hormati..."
Suaranya lembut, namun jelas terdengar hingga ke sudut aula.
"Malam yang indah ini pada akhirnya harus mencapai penghujungnya, sebagaimana setiap bintang akan kembali beristirahat ketika fajar tiba."
Dia berhenti sejenak.
"Atas nama keluarga kekaisaran, izinkan aku menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian semua yang telah meluangkan waktu untuk hadir."
Pandangan Hikari bergerak perlahan ke seluruh penjuru aula.
"Kehadiran kalian telah mengubah malam ini menjadi lebih hidup. Tawa yang kalian bagikan, tarian yang kalian persembahkan, serta doa dan harapan baik yang kalian bawa telah menjadi hiasan terindah bagi perayaan ini."
Suasana aula menjadi semakin tenang.
"Mungkin ketika matahari terbit esok hari, kita semua akan kembali menjalani jalan hidup masing-masing. Namun aku berharap, kenangan malam ini akan tetap tinggal di hati kalian seperti cahaya lentera yang tetap menyala meski musim telah berganti."
Hikari membungkukkan kepalanya dengan hormat.
"Untuk itu, aku mengucapkan terima kasih."
Para bangsawan tampak tersentuh oleh ketulusannya. Lalu Putri Hikari kembali menegakkan tubuhnya.
"Sebelum kalian meninggalkan istana, keluarga kekaisaran telah menyiapkan bingkisan sederhana sebagai tanda penghargaan dan rasa terima kasih kami."
Senyumnya semakin hangat.
"Nilainya mungkin tidak akan pernah sebanding dengan kehormatan yang telah kalian berikan melalui kehadiran kalian malam ini. Namun kami berharap hadiah tersebut dapat menjadi pengingat bahwa pintu istana ini akan selalu terbuka bagi sahabat-sahabat kerajaan."
Dia mengangkat tangan dengan anggun.
"Dengan ini, aku menyatakan bahwa Perjamuan Malam Musim Semi resmi berakhir."
Nada suaranya terdengar berwibawa namun penuh kehangatan.
"Semoga perjalanan pulang kalian dilindungi langit, semoga keberuntungan menyertai setiap langkah, dan semoga kedamaian selalu bersemayam di dalam rumah serta hati kalian."
Dia menundukkan badan dengan elegan.
"Terima kasih atas kehormatan yang telah kalian berikan kepada kerajaan pada malam ini."
Setelah pidato penutupan Putri Hikari selesai, suasana aula yang semula dipenuhi tepuk tangan perlahan kembali tenang. Seluruh tamu masih berdiri di tempat mereka masing-masing.
Di atas panggung kehormatan, Kaisar yang sejak tadi duduk memperhatikan jalannya perayaan perlahan bangkit dari singgasananya.
Gerakan itu sederhana.
Namun cukup untuk membuat seluruh aula kembali hening. Para bangsawan, pejabat tinggi, dan tamu kehormatan segera menundukkan kepala mereka dengan hormat. Cahaya lampu kristal memantul pada jubah kebesaran yang dikenakan sang penguasa.
Tatapannya menyapu seluruh aula. Menyaksikan wajah-wajah yang telah ikut memeriahkan malam tersebut. Kemudian Kaisar berbicara.
"Malam ini telah menjadi malam yang indah."
Suaranya tenang dan berat, membawa kewibawaan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang telah memimpin negeri selama bertahun-tahun.
"Aku telah menyaksikan tawa, persahabatan, serta kebahagiaan yang memenuhi aula ini."
Dia berhenti sejenak.
Pandangan tuanya beralih kepada para tamu yang berdiri dengan penuh hormat.
"Dan untuk itu, kerajaan mengucapkan terima kasih kepada kalian semua."
Keheningan memenuhi ruangan. Bahkan suara langkah para pelayan pun seakan menghilang.
"Kerajaan tidak dibangun oleh satu orang."
"Kemakmuran negeri ini tidak lahir dari satu keluarga."
"Melainkan dari kesetiaan, kerja keras, dan pengabdian seluruh rakyat serta para keluarga yang mengabdi kepada mahkota."
Kata-katanya sederhana. Namun setiap kalimat terasa memiliki bobot yang berat.
Seperti sebuah nasihat dari seorang ayah kepada keluarganya. Kemudian senyum kecil muncul di wajah Kaisar.
"Semoga keberuntungan menyertai perjalanan kalian."
"Semoga keluarga kalian selalu diberkahi kedamaian."
"Dan semoga kita dapat kembali bertemu dalam keadaan yang lebih baik di masa mendatang."
Kaisar menganggukkan kepalanya perlahan. Serentak seluruh tamu membungkukkan badan lebih dalam.
"Hidup Yang Mulia Kaisar!"
Suara itu bergema memenuhi aula. Kaisar kemudian berbalik. Di sampingnya, Putri Hikari melangkah mengikuti dengan anggun.
Para dayang khusus, pengawal kerajaan, serta para pejabat istana segera membentuk iring-iringan di belakang mereka. Dengan langkah tenang dan teratur, keluarga kekaisaran meninggalkan aula melalui koridor khusus kerajaan.
Para tamu tetap menundukkan kepala hingga sosok Kaisar dan Putri Hikari menghilang di balik pintu-pintu emas istana.
Barulah setelah itu suasana menjadi lebih santai.
Para kasim senior dan dayang utama kerajaan maju ke depan mengambil alih jalannya penutupan acara. Mereka berdiri berjajar dengan sikap sempurna.
"Terima kasih atas kehadiran Anda malam ini."
"Silakan menerima bingkisan dari pihak istana."
"Semoga perjalanan pulang Anda menyenangkan."
Satu per satu keluarga bangsawan menerima hadiah perpisahan sebelum meninggalkan aula.
Di luar, deretan kereta mulai bergerak meninggalkan halaman istana yang diterangi ratusan lampion. Roda-roda kereta berderak pelan di atas jalan batu.
Membawa pulang para tamu beserta kenangan yang mereka peroleh malam itu. Dan perlahan, kemegahan pesta kerajaan pun berubah menjadi ketenangan malam yang damai.
Saat itu sebagian besar tamu telah meninggalkan aula.
Lampu-lampu kristal masih bersinar hangat di langit-langit, namun suasana yang sebelumnya ramai kini jauh lebih tenang. Hanya tersisa beberapa kelompok bangsawan yang masih berbincang sebelum pulang.
Di salah satu sudut aula, Haru, Ryujin dan Kazura tampak menghabiskan makanan ringan yang tersisa di meja jamuan. Namun Ryujin tidak makan, dia hanya sering minum anggur di meja itu.
Haru mengambil sepotong kue kecil lalu menyodorkannya ke arah Kazura.
"Cobalah.."
Kazura terkekeh pelan sebelum menerimanya. Tak lama kemudian, giliran Kazura yang menyodorkan potongan buah manis kepada Haru.
"Kalau begitu kau juga harus mencoba ini."
Pemandangan mereka terlihat lebih bersantai dibanding dua orang yang baru saja menjadi pusat perhatian pesta.
Haru tersenyum lega.
"Kalau kau tidak datang tadi, aku pasti sudah kewalahan menghadapi para putri bangsawan itu."
Kazura tertawa kecil.
"Aku hanya datang membantu sedikit."
"Sedikit katanya..."
Haru menghela napas panjang. Kazura memandangnya sambil tersenyum tipis.
"Sebenarnya, aku juga ingin berdansa denganmu."
Haru berkedip beberapa kali. Mendengar itu, Haru hanya bisa tertawa canggung sambil sesekali mengalihkan pandangannya.
"Ryujin, jangan terlalu banyak minum kau nanti mabuk.." ucap Haru.
Ryujin menatap cairan di dalam gelasnya cukup lama. Pantulan cahaya lampu pesta bergetar di permukaannya. Senyum tipis muncul di wajahnya, namun terasa pahit.
"Ini membuatku jauh lebih baik..."
Diaa mengangkat gelasnya perlahan.
"...daripada harus berpura-pura tidak merasakan apa-apa."
Haru terdiam dan keheranan dengan sikap Ryujin yang sedikit berbeda.
Sementara itu, tidak jauh dari sana, Jinsei dan Yua tampak berjalan meninggalkan aula melalui pintu samping. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi keduanya pergi berdampingan.
Ryujin yang sedang berdiri dekat meja minuman tanpa sadar memperhatikan mereka. Tatapannya mengikuti langkah kedua orang itu yang perlahan menjauh.
Namun sebelum dia sempat melihat lebih jauh, seseorang tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya. Sosok itu menutupi pandangannya.
Ryujin mengalihkan fokusnya.
Dan mendapati seorang gadis bangsawan berdiri di depannya.
Yuna.
Gaun merah mudanya masih terlihat anggun di bawah cahaya lampu aula. Yuna membungkukkan badan sedikit.
"Tuan Ryujin."
Ryujin segera membalas dengan senyum ramah.
"Nona Yuna."
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Karena telah berdansa denganku malam ini."
Ryujin tersenyum hangat.
"Itu justru kehormatanku. Ngomong-ngomong panggil aku Ryujin saja. Agar kita tidak terlalu formal."
Wajah Yuna sedikit memerah mendengar jawaban itu.
"Baik.. Ru.. Ryujin."
Haru membuka pembicaraan.
"Nona Yuna, senang bertemu denganmu."
Yuna menoleh dan tersenyum.
"Tuan Haru. Aku juga senang bisa bertemu denganmu malam ini."
Mereka bertukar sapaan dengan sopan sebagaimana para bangsawan pada umumnya. Di sisi Haru, Kazura yang sejak tadi diam hanya memperhatikan. Tatapannya bergerak perlahan.
Dari wajah Yuna. Ke cara bicaranya. Ke sikap tubuhnya. Lalu kembali lagi ke wajahnya. Seolah sedang menilai sesuatu.
Namun tak lama kemudian, senyum tipis muncul di sudut bibir Kazura. Senyum yang sulit ditebak maknanya.
"Jadi ini orangnya..." batin Kazura.
Matanya sedikit menyipit.
"Tak kusangka aku bisa bertemu langsung dengannya." batinnya lagi.
Kazura tetap mempertahankan senyum tenangnya saat menyapa.
"Senang bertemu denganmu, Nona Yuna."
Yuna membalas salam itu dengan sopan tanpa menyadari apa yang sedang dipikirkan wanita di hadapannya. Sementara itu, di dalam hati Kazura muncul pikiran yang membuatnya sedikit terhibur.
"Mereka bahkan belum memulai apa pun..."
"Namun orang-orang di sekitar mereka sudah sibuk memesan jabatan untuk masa depan. Benar-benar khas para bangsawan."
Kadang yang paling bersemangat bukan orang yang terlibat, melainkan orang-orang di sekeliling mereka. Namun Kazura memilih menyimpan pikirannya sendiri dan tetap memasang senyum ramah yang tak menunjukkan apa pun.