NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Dermaga Kayu Besi dan Bayangan Nyawa

Suara deburan ombak yang menghantam tiang-tiang pancang kayu memecah keheningan pagi ketika rombongan kecil itu melangkah keluar dari lebatnya Hutan Bakau Hitam. Di hadapan Marno, Sari, dan Si Mbah, terhampar Pelabuhan Bandan—sebuah kota pesisir yang hidup, sibuk, dan dipenuhi oleh aroma asin garam, minyak ter, serta bau rempah-rempah dari berbagai penjuru benua.

Ratusan kapal berlabuh bersisian di sepanjang dermaga utama. Mulai dari perahu layar nelayan berukuran sedang hingga kapal jung raksasa bercat merah emas milik pedagang manca negara. Pasar pelabuhan di sisi timur tampak riuh oleh teriakan para kuli panggul dan tawar-menawar dalam berbagai bahasa yang asing di telinga Marno. Bagi seorang pemuda perbukitan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di depan tungku tempa Karang Tumpuk, pemandangan ini adalah sebuah dunia baru yang sangat asing sekaligus mengagumkan.

"Inilah Pelabuhan Bandan, Ki Marno," ujar Perwira Muda—yang memperkenalkan dirinya sebagai Kapten Wardana—sambil memimpin jalan di depan. "Pusat perdagangan terbesar di bawah naungan Kedatuan Pantai Selatan. Tempat berkumpulnya pedagang, ahli pelaut, hingga orang-orang berbahaya yang bersembunyi di balik riuknya kota."

Si Mbah, yang bertengger nyaman di kepala Marno, mengamati sekeliling dengan mata bulatnya yang serba ingin tahu. sesekali kera kecil itu mendesis pelan ketika melihat burung camar menukik tajam menyambar ikan di atas air.

"Terima kasih atas pengawalannya, Kapten Wardana," ucap Sari seraya mengamati deretan kedai obat dan rempah yang berbaris di sepanjang jalan dermaga utama. "Namun, di mana kami bisa bertemu dengan Pangeran Arya Braja?"

Kapten Wardana menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah bangunan megah berlantai tiga yang dibangun dari kayu Ulin tua berkilat. Bangunan itu berdiri di atas tiang-tiang kayu raksasa yang menancap langsung ke dasar laut. Di atas pintu utamanya, terukir lambang gelombang samudra dan jangkar silang berbahan perak murni.

"Pangeran Arya sudah menunggu kalian di Bangsal Kayu Besi, balai pertemuan utama kedatuan di pelabuhan ini," jawab Wardana seraya memberi isyarat tangan kepada dua prajurit berzirah perak yang menjaga pintu masuk.

Saat pintu gerbang berukir itu terbuka, aroma kayu jati tua dan harum dupa cendana menyambut mereka. Di dalam balai yang luas dan teduh itu, duduk seorang pria berusia awal tiga puluhan berpakaian sutra biru tua dengan sulaman benang emas. Wajahnya tegas, dengan garis rahang kokoh dan tatapan mata tajam khas seorang pemimpin yang terbiasa mengarungi samudra liar.

Dialah Pangeran Arya Braja.

"Selamat datang di Pelabuhan Bandan, Nyi Sari, Ki Pande Marno," panggil Pangeran Arya dengan suara serak-serak basah yang ramah namun penuh wibawa. Ia berdiri dari kursi ukirnya dan melangkah menyambut mereka. "Kabar tentang keberhasilan kalian menumbangkan Mbah Jiwo Suro dan membubarkan Sekte Bayangan Hitam di Karang Tumpuk telah sampai ke telinga saya lebih cepat daripada tiupan angin laut."

Sari dan Marno membungkuk hormat. "Kami hanya melakukan apa yang harus dilakukan demi keselamatan warga Karang Tumpuk, Pangeran," sahut Marno jujur.

Pangeran Arya tertawa kecil, matanya beralih menatap martil besi raksasa di punggung Marno yang terbungkus kain terpal. "Kerahasiaan dan kerendahan hati adalah tanda dari seorang master tempa sejati. Namun, jujur saja, alasan saya mengundang kalian jauh-jauh ke pesisir ini bukan sekadar untuk mengucapkan terima kasih atas nama Kedatuan."

Wajah sang Pangeran mendadak berubah serius. Ia memberi isyarat kepada para prajurit dan Kapten Wardana untuk mengosongkan ruangan. Setelah pintu balai tertutup rapat, Arya melangkah menuju sebuah meja kayu besar yang diatasnya terbentang peta pelayaran kuno berbahan kulit binatang.

"Ada racun baru yang beredar di Pelabuhan Bandan dalam tiga minggu terakhir," kata Pangeran Arya dengan nada berbisik keras. "Racun ini tidak berbau, tidak berwarna, dan bekerja secara perlahan melumpuhkan saraf serta membusukkan organ dalam korban dari dalam. Lebih berbahaya dari racun belerang Mbah Jiwo Suro."

Sari mengerutkan keningnya, naluri herbalisnya langsung tergelitik. "Racun jenis apa itu, Pangeran? Dan siapa korbankan?"

"Korban terbarunya adalah Laksamana Reksapati, komando tertinggi armada laut kita," jawab Arya prihatin. "Beliau kini terbaring koma di dalam kediamannya. Para tabib istana sudah menyerah karena serbuk obat biasa tak mampu menetralkan racun ini. Kami menyebutnya Darah Gurita Putih—racun terlarang yang konon hanya dibuat oleh para penyelam dari Kepulauan Tengkorak di ujung utara."

Marno menatap Sari yang tampak berpikir keras. "Apakah kau pernah mendengar tentang racun itu, Sari?"

"Hanya dalam catatan pustaka kuno guru saya," sahut Sari perlahan. "Racun itu dibuat dari ekstrak kelenjar gurita beracun yang dicampur dengan getah akar pohon Bakau Merah darah. Untuk menetralkannya, kita membutuhkan penawar racun dari ekstrak Bunga Teratai Hitam yang hanya tumbuh di dasar Gua Karang Berbisik."

Pangeran Arya menatap Sari dengan binar harapan di matanya. "Tepat seperti yang dikatakan oleh utusan tabib tua dari perbukitan! Bunga Teratai Hitam itu memang ada, Nyi Sari. Namun masalahnya, Gua Karang Berbisik terletak di tebing terjal pulau karang mati yang berada di tengah jalur pelayaran paling berbahaya di laut selatan—Selat Lintah Laut."

Pangeran Arya lalu menatap Marno. "Selat itu dijaga oleh kelompok bajak laut paling berdarah dingin di wilayah ini, Kelompok Naga Samudra, yang dipimpin oleh seorang mantan empu pembuat senjata berhati iblis bernama Ki Ranajaya. Dialah yang menyuplai senjata-senjata beracun dan baja-baja berkualitas rendah yang mudah patah untuk mengacaukan perdagangan kita. Hanya besi berkualitas murni atau martil dengan teknik penempaan tingkat tinggi yang bisa menembus perisai baja hitam milik armada mereka."

Marno memegang gagang martil besinya dari balik terpal. Ia bisa merasakan getaran tugas baru yang menanti di depan mata. Ini bukan lagi sekadar menyelamatkan satu desa dari ilmu hitam, melainkan menyelamatkan stabilitas seluruh wilayah pesisir dari kehancuran yang dirancang oleh persekutuan jahat antara penjahat pelabuhan dan bajak laut.

"Pangeran," kata Marno dengan suara berat dan mantap. "Jika tempaan besi saya dan kemampuan racikan obat Sari bisa menyelamatkan nyawa Laksamana serta memulihkan kedamaian di pesisir ini, kami siap berlayar ke Gua Karang Berbisik."

Pangeran Arya tersenyum puas, melangkah maju dan menepuk bahu tegap Marno. "Jawaban yang sangat berani! Saya telah menyiapkan kapal layar tercepat milik kedatuan, Bahari Perkasa, beserta sepuluh prajurit terbaik. Kalian bisa beristirahat malam ini di balai kedatuan. Besok, saat fajar menyingsing, perjalanan laut kalian yang sebenarnya akan dimulai."

Si Mbah mendadak melompat turun dari bahu Marno ke atas meja peta, mengendus-endus gambar Gua Karang Berbisik lalu menepuk-nepuk dadanya seolah menyatakan kesiapannya untuk bertarung di atas gelombang laut.

Marno dan Sari saling bertukar pandang. Di luar jendela balai, matahari mulai tenggelam di batas samudra, membiaskan warna merah darah di atas permukaan air laut Pelabuhan Bandan. Mereka tahu, ombak yang akan mereka hadapi besok tidak hanya membawa guncangan gelombang, tetapi juga bahaya dari bayangan maut yang bersembunyi di balik kegelapan samudra.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!