SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Rubah Ekor Sembilan
WUUUSSSHHH!
Dua siluet bayangan berkecepatan tinggi melesat di antara celah-celah pohon raksasa Hutan Purba.
Langkah kaki Tian Xue dan Lu Shi hampir tidak menyentuh tanah. Pemahaman mendalam tentang manipulasi refleks dari ujian pertama di Istana Leluhur kini berpadu sempurna dengan gejolak kekuatan baru di dalam tubuh mereka.
Garis Darah Tingkat Empat yang baru saja meledak di dalam sumsum tulang telah mendongkrak kecepatan fisik keduanya ke tingkat yang berada di luar jangkauan praktisi biasa.
Setiap kali tumpuan kaki mereka menghentak dahan atau batuan tua, embusan angin kencang tercipta di belakang punggung mereka, menyapu dedaunan kering yang berserakan di tanah.
BOOOOOOM!
Gemuruh ledakan kedua bergema kian dekat.
Gelombang kejutnya membuat kanopi pepohonan di area depan bergetar hebat. Asap hitam berbau hangus perlahan membubung ke udara, mengubur pendar sinar matahari sore yang menyelinap dari celah ranting.
Tian Xue menatap lurus ke depan dengan mata menyipit tajam, sementara Lu Shi melompat lincah di sisinya dengan ketajaman insting rubah yang sepenuhnya siaga.
Hanya dalam waktu beberapa tarikan napas, keduanya melompati semak belukar terakhir dan mendarat mulus di atas dahan raksasa berketinggian sepuluh meter.
Di bawah pijakan mereka, terhampar sebuah area lapang yang dipenuhi kehancuran.
Pemandangan di bawah sana benar-benar memilukan sekaligus mengerikan.
Tumpukan bangkai Beast tingkat rendah membumbung bagaikan bukit kecil. Darah kental berwarna merah gelap dan kehitaman merembes membasahi tanah, memancarkan aroma amis menyengat yang mengundang mual.
Bahkan beberapa ekor Beast tingkat menengah berukuran raksasa—yang seharusnya menjadi predator mengerikan di area luar hutan—kini tergeletak kaku dengan tubuh hancur terbelah dan inti energi yang direbut secara paksa.
Di tengah-tengah lautan bangkai tersebut, berdiri tiga sosok pemuda.
Masing-masing dari mereka mengenakan zirah mewah berwarna biru keemasan dengan ukiran gelombang laut yang berkilau. Di dada zirah tersebut, terpatri sebuah lambang megah berupa naga air yang melingkar pilar.
Klan Ao.
Salah satu dari Empat Klan Besar yang menguasai pilar perdagangan dan kekayaan di seluruh Benua Canglan.
Tian Xue mengenali ketiga sosok tersebut dalam sekali pandang.
Ao Feng, Ao Yun, dan Ao Lin.
Meskipun ketiga pemuda ini bukan jajaran jenius teratas di inti Klan Ao, keberadaan Garis Darah Naga Murni di tubuh mereka sudah cukup untuk mengangkat posisi mereka jauh di atas ribuan penduduk benua.
Di mata ketiga pemuda itu, siapa pun yang tidak memiliki darah murni hanyalah cacing tanah yang pantas diinjak.
Arogan, angkuh, dan selalu merasa paling berkuasa di mana pun mereka melangkah.
Lu Shi berdiri di ujung dahan, memandangi pemandangan pembantaian di bawahnya dengan raut wajah yang menggelap.
Gadis itu mengepalkan jemarinya rapat-rapat hingga persendian tangannya memutih.
Wussh!
Tian Xue melompat turun dari atas dahan, mendarat dengan tenang beberapa langkah di samping Lu Shi.
Sepasang matanya yang sedingin es abadi menatap lurus ke arah tiga anggota Klan Ao tersebut.
Suara pijakan kaki Tian Xue dan Lu Shi memecah keheningan di area pembantaian.
Tiga pemuda dari Klan Ao itu perlahan membalikkan badan.
Awalnya, wajah mereka diliputi oleh kekesalan karena ada pihak luar yang berani mengganggu kegiatan berburu mereka. Namun, tatkala mata mereka menatap wajah Tian Xue, riak terkejut bercampur cemoohan seketika terukir lebar di bibir salah satu dari mereka.
"Ooooh... lihat siapa yang ada di sini!" seru Ao Feng seraya tersenyum culas.
Ia memutar-mutar pedang di tangannya yang masih meneteskan darah Beast.
"Bukankah ini si budak naga rendahan dari tambang belerang?" ejek Ao Feng dengan nada merendahkan. "Aku ingat bajingan ini! Dia menghilang misterius sejak satu bulan lalu. Ternyata kau tidak mati membusuk di dasar gua, hah?"
Dua rekannya, Ao Yun dan Ao Lin, ikut tertawa meremehkan.
Namun, tawa kedua pemuda itu tidak bertahan lama. Tatapan mata Ao Yun dan Ao Lin mendadak berpindah, terkunci rapat pada sosok gadis yang berdiri di samping Tian Xue.
Mata kedua pemuda Klan Ao itu berbinar liar.
Nafsu serakah yang memuakkan terpancar jelas saat pandangan mereka menyapu wajah jelita dan lekuk tubuh Lu Shi yang terbungkus jubah anggun.
"Wooooow... cantik sekali!" gumam Ao Yun dengan kekehan licik. "Bagaimana bisa ada wanita secantik ini berkeliaran di tengah Hutan Purba bersama sampah tambang?"
"Benar-benar barang bagaikan permata," timpal Ao Lin seraya menjilat bibir bawahnya sendiri. "Hari ini keberuntungan benar-benar berpihak pada kita!"
Lu Shi menatap ketiga pemuda itu dengan tatapan jijik yang amat dalam, seolah sedang melihat tumpukan kotoran beracun.
"Ciiiih... dasar bajingan menjijikkan," desis Lu Shi dengan nada dingin yang menggetarkan udara.
Gadis itu melangkah maju satu tapak, matanya berkilat memancarkan niat membunuh yang pekat.
"Jaga mulut kotor kalian, atau aku sendiri yang akan merobek wajah kalian sampai orang tua kalian tidak bisa mengenali bangkai kalian lagi!"
Mendengar gertakan keras tersebut, raut wajah Ao Feng yang semula penuh ejekan seketika berubah menjadi sangat tegang dan membara oleh amarah.
Sebagai keturunan naga murni dari Klan Ao, tidak pernah ada seorang pun dari kasta bawah yang berani bicara sekasar itu di hadapannya!
"Kurang ajar! Kau pikir sedang berbicara dengan siapa, hah?!" bentak Ao Feng murka.
"Kau cari gara-gara dengan kami, Wanita Liar?!"
BRUUUSSHHH!
Tanpa peringatan, gelombang tekanan Garis Darah Tingkat Empat meledak keras dari tubuh Ao Feng!
Udara di sekitarnya berguncang hebat. Sisik-sisik naga berwarna kebiruan meluncur keluar dari pori-pori kulitnya, melapisi kedua lengannya hingga mengeras menjadi cakar tajam.
Rasa bangga atas garis darah murni membuat dadanya membusung pongah.
Namun, gertakan tekanan garis darah itu sama sekali tidak membuat Lu Shi gentar.
Bukannya mundur, mata indah Lu Shi justru menyipit kejam.
"Sok gagah!" seru Lu Shi.
BRUUUSSSSZZZT!
Seketika itu juga, ledakan aura berwarna merah keperakan yang amat pekat menyembur dahsyat dari dalam tubuh Lu Shi!
Daya dorong energi yang keluar dari tubuh gadis itu begitu kuat hingga membuat debu dan batu-batu kecil di tanah terlempar ke udara.
Dari belakang pinggulnya, manifestasi sembilan ekor energi berbulu halus mengembang megah, menutupi sebagian cahaya sore dan memancarkan wibawa purba yang amat mencekam!
Xue Tian yang berdiri di belakang tetap bersikap sangat tenang.
Ia tidak sedikit pun terprovokasi oleh gertakan atau ejekan Klan Ao. Pengalaman hidup di dasar tambang dan tempaan di Istana Leluhur telah mengasah mentalnya menjadi sedingin baja.
"Lu Shi, tenangkan dirimu," ucap Xue Tian pelan, suaranya sangat datar namun penuh wibawa.
Ia melangkah berdiri sejajar di samping gadis itu, siap menopang pergerakan apa pun yang akan terjadi.
Sementara itu, Ao Feng, Ao Yun, dan Ao Lin seketika terpaku kaku di tempat mereka berdiri.
Mata ketiga anggota Klan Ao itu membelalak lebar. Senyum angkuh di wajah mereka hancur berkeping-keping digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa.
Ini adalah pertama kalinya sepanjang hidup mereka melihat wujud manifestasi energi dari ras purba selain bangsa naga di Benua Canglan!
Tekanan udara yang keluar dari sembilan ekor energi Lu Shi bahkan membuat aliran darah naga di dalam nadi mereka bergetar gelisah secara tidak wajar.
"Ini... energi apa ini?!" gumam Ao Lin dengan tenggorokan kering.
Namun, rasa terkejut itu dengan cepat tergantikan oleh keserakahan yang jauh lebih gelap di dalam benak Ao Yun.
Sepasang mata Ao Yun berkilat penuh intrik saat menatap bayangan sembilan ekor di belakang tubuh Lu Shi.
"Luar biasa..." bisik Ao Yun dengan seringai kejam.
Ia menoleh cepat ke arah Ao Feng dan Ao Lin.
"Kalian lihat itu?! Wanita ini membawa garis darah kuno yang sangat langka! Jika kita berhasil menangkapnya hidup-hidup dan menyerahkannya langsung kepada Patriark..."
Ao Yun tertawa licik, "...poin kontribusi dan hadiah yang akan kita terima dari klan pasti tidak terhitung jumlahnya!"
Tanpa memberikan jeda atau aba-aba sedikit pun—
WUSSSHHHH!
Ao Yun memicu tenaga penuh di kakinya, melesat maju bagaikan kilat biru!
Cakar naganya mengayun deras, membelah udara murni dengan kecepatan tinggi lurus menuju bahu Lu Shi, berniat mengunci dan merobek jaringan otot gadis itu secara paksa!
Namun, Lu Shi bukan lagi praktisi lemah seperti beberapa minggu lalu.
Melihat serangan maut yang meluncur ke arahnya, senyum kejam terukir di sudut bibir cantiknya.
"Mencari mati!"
Lu Shi sepenuhnya memasuki Mode Tempur Rubah Ekor Sembilan.
Sembilan ekor energinya menyabet lurus ke depan, melancarkan serangan balasan yang amat brutal untuk meratakan siapa pun yang berani menyentuhnya!