Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Pengganggu
Seminggu berlalu sejak malam jamuan di Hotel Grand Hyatt. Keberhasilan Aisha melewati "ujian" pertama dari Madam Rosalia membawa perubahan besar di mansion Alister.
Tidak ada lagi keraguan dari jajaran staf senior maupun pimpinan Alister Group, Aisha kini dipandang sebagai Nyonya Alister yang tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga diakui penuh oleh sang Nyonya Besar.
Pagi itu, udara dingin menyelimuti area perbukitan Bogor. Sebuah sedan hitam Rolls-Royce melaju tenang membelah jalanan rindang menuju Kediaman Utama Alister, sebuah istana tua berarsitektur kolonial yang dikelilingi taman bunga mawar dan pepohonan pinus yang tinggi.
Di dalam mobil, Aisha duduk berdampingan dengan Devan. Tangannya menggenggam erat sebuah map tebal berisi draf rancangan gedung dan rencana kegiatan Risa Dirgantara Foundation.
"Kamu kelihatan tegang lagi," goda Devan seraya mengusap lembut punggung tangan Aisha. Pria itu mengenakan kemeja rajut kasual berwarna abu-abu, memberikan kesan lebih ramah dan hangat dibanding gaya pakaian formalnya di kantor.
Aisha menoleh, tersenyum kecil.
"Bukan tegang seperti waktu di pesta, Devan. Aku cuma, tidak sabar sekaligus sedikit gugup. Nenek benar-benar mau membantu yayasan ini?"
Devan terkekeh pelan, sebuah tawa rendah yang menenangkan.
"Nenek itu kolektor seni tingkat tinggi. Kalau beliau sudah bilang mau menyumbangkan beberapa lukisan kunonya untuk lelang, artinya beliau sangat serius mendukungmu. Lagipula, Nenek sebenarnya merindukan suasana rumah yang ramai."
Mobil melaju memasuki gerbang besi berukir naga dan mahkota yang terbuka lebar. Begitu kendaraan berhenti di pelataran marmer putih, beberapa pelayan senior berseragam rapi langsung menyambut kedatangan mereka dengan tundukan hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda Devan, Nyonya Aisha." Sapa Kepala Pelayan tua bernama Pak Usman.
Devan menuntun Aisha turun dari mobil, bergandengan tangan menyusuri lorong berlantai kayu jati mahal yang dihiasi lukisan-lukisan klasik. Rumah tua ini memancarkan aura sejarah yang kuat, tempat di mana masa kecil Devan dihabiskan sebelum tragedi dua puluh tahun lalu mengubah segalanya.
Mereka dibawa ke gazebo kaca yang terletak di tengah taman belakang. Di sana, Madam Rosalia sudah duduk menunggu, ditemani sebuah meja bundar yang dipenuhi cangkir teh dan kue-kue tradisional khas Bogor.
"Kalian datang tepat waktu." Sapa Madam Rosalia hangat begitu melihat Devan dan Aisha mendekat. Tangan tuanya melambai pelan, mengisyaratkan mereka untuk duduk.
"Selamat pagi, Nenek," sapa Aisha lembut, membungkukkan badan sebelum duduk di kursi rotan di samping Devan.
Madam Rosalia memperhatikan Aisha dengan binar mata yang jauh lebih ramah dibanding pertemuan pertama mereka.
"Bagaimana perjalananmu, Aisha? Tidak mabuk darat, kan?"
"Tidak, Nenek. Udara di sini sangat segar dan pemandangannya indah sekali," jawab Aisha tulus.
Devan merengkuh bahu Aisha pelan di atas sandaran kursi.
"Nenek, Aisha membawa berkas rancangan yayasan seni yang sempat Nenek tanyakan minggu lalu."
"Ah, benar." Madam Rosalia menegakkan duduknya, menyesap teh cantiknya sejenak.
"Biar Kulihat, Cucu Menantuku."
Aisha dengan sigap menyerahkan map cokelat itu. Madam Rosalia membuka lembar demi lembar rancangan Risa Dirgantara Foundation dengan kacamata bacanya. Ruangan gazebo hening selama beberapa menit, hanya dihiasi suara cangkir berdenting dan desiran angin yang berhembus pelan menerpa pepohonan pinus di luar.
Madam Rosalia mengangguk-angguk kecil, sesekali mengusap foto bangunan yang dirancang berkonsep terbuka dan ramah anak.
"Bagus sekali," puji Madam Rosalia akhirnya, melepas kacamatanya dan menatap Aisha dengan penuh apresiasi.
"Konsepnya hangat, tidak seperti gedung-gedung bisnis kaku milik Devan. Ibumu pasti sangat bangga melihat ini."
Aisha merasakan dadanya berdesir hangat.
"Terima kasih, Nenek. Semua ini bisa berjalan cepat juga berkat bantuan penuh dari Devan."
Madam Rosalia melirik cucunya seraya tersenyum tipis.
"Pria Alister memang harus selalu mendukung istrinya. Dulu Almarhum Kakekmu juga seperti itu padaku."
Namun, di tengah suasana hangat tersebut, Pak Usman tiba-tiba melangkah mendekati gazebo dengan ekspresi wajah yang sedikit agak canggung. Pria tua itu membungkuk sopan di samping Madam Rosalia.
"Permisi, Madam," bisik Pak Usman pelan.
"Ada tamu yang datang tanpa janji di depan."
Madam Rosalia mengerutkan alisnya.
"Siapa? Bukankah aku sudah bilang hari ini khusus untuk cucu dan cucu menantuku?"
Pak Usman melirik Devan dan Aisha sejenak sebelum menjawab,
"Nona Catherine Lim, Madam. Beliau bilang membawa surat berkas kerja sama dari ayahnya di Singapura, sekaligus membawa beberapa oleh-oleh obat herbal khusus dari kedutaan untuk Anda."
Devan seketika menyipitkan matanya. Aura dingin yang sempat mencair mendadak kembali menyelimuti garis rahangnya. Dia melirik Aisha, menangkap sedikit kilatan rasa tidak nyaman yang kembali muncul di mata istrinya.
Madam Rosalia menarik napas pendek. Sebagai wanita berpengalaman, beliau tentu menyadari ada maksud lain di balik kedatangan mendadak putri pengusaha Singapura itu.
"Suruh dia masuk ke gazebo," putus Madam Rosalia tenang namun penuh wibawa.
"Mari kita lihat apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan oleh anak muda itu."