"Mulai dari sekarang kamu adalah putraku, kamu yang akan menduduki tahta naga. Gantikan posisi kaisar, injaklah keparat itu."
Sang permaisuri berbisik sembari tersenyum, menatap ke arah seorang pangeran kecil berpakaian lusuh di istana terbuang.
Lin Krisan, merupakan putri tunggal dari jendral yang berkuasa. Diangkat menjadi permaisuri, setelah mendukung suaminya dari status pangeran hingga menjadi kaisar.
Namun, kasih sayang tidak didapatkannya. Kaisar lebih menyayangi para selirnya. Hingga pada akhirnya permaisuri Lin meninggal di istana dingin, setelah diracuni oleh kaisar.
Wanita yang terlahir kembali, kembali mengulangi waktu.
"Aku tidak akan berusaha merebut cintamu lagi. Tapi aku akan merebut tahtamu."
Menjadikan istana bagaikan papan catur, melucuti kekuasaan kaisar pengkhianat. Menjadikan putranya yang manis sebagai kaisar baru.
Tapi lebih dari itu, mata perdana menteri mengawasinya...atau menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Dan Anak
Anak yang sedikit meringis ketika diobati. Berusaha keras menahan rasa sakitnya, ini sudah biasa baginya. Benar-benar sudah biasa di saat pangeran lain sering merundungnya. Mereka memiliki Ibu untuk membela, sedangkan dirinya tidak.
Tapi sekarang pada akhirnya Lian memiliki seorang ibu.
“Riri, di mana sekarang dayang yang menjaga Lian?” Permaisuri melirik ke arah dayang kepercayaannya.
“Hamba sudah memberikan hukuman berupa pemotongan gaji.” Kalimat yang diucapkan oleh Riri.
“Bagus, tempatkan kembali dia di sisi Lian.” Perintah permaisuri kepada dayangnya.
Matanya kembali menatap ke arah putranya.”Dayang pangeran pertama juga sekarang akan menjadi dayangmu. Ibu sudah menyelidiki semua latar belakangnya. Walaupun dia adalah orang dari selir Agung. Tapi tetap saja orang itu berada di pihak netral. Dayang yang tidak bisa kembali mengabdi kepada selir Agung dan pangeran pertama. Sudah pasti hanya memiliki Lian sebagai tempat untuk bergantung. Kamu bisa memanfaatkannya untuk melakukan pekerjaan kotor dan kasar.”
“Apa maksud ibu?” Tanya Lian menatap ke arah ibunya.
“Dayang yang memiliki keberanian sebesar itu. Sudah pasti memiliki sifat dominan dan arogansi yang tinggi. Jika ada pangeran lain yang mengganggumu. Kamu bisa memerintahkannya untuk memukul atau menghajar mereka. Orang terkadang bisa jahat padamu, karena mereka menerima bayaran dari musuhmu. Ketika kamu memberikan bayaran dan jaminan yang lebih baik, maka orang itu bisa mengabdi padamu. Dalam istana yang dingin ini, kekuasaan dan uang adalah hal yang terpenting. Keluarga Lin tidak kekurangan sama sekali. Putraku tidak boleh dihina dan teraniaya…” permaisuri pada akhirnya usai membalut luka putranya.
Anak berusia 5 tahun yang mengangguk. Mengerti akan kata-kata ibunya, dirinya harus belajar banyak dari sang Ibu dan kakek, bahkan dari Paman perdana menteri. Agar ketika dewasa nanti dapat melindungi ibunya.
“Tapi, dayang mengatakan bahwa putra ibu sudah mulai bisa menulis dan membaca sebelum diajari. Lian belajar dari mana?” sang Ibu mengerutkan keningnya, semula Krisan mengira putranya hanya belajar dari dayang, tapi langsung bisa. Ternyata anak ini sudah belajar sebelumnya.
“Aku mengintip, setiap ada pangeran yang belajar menulis atau berhitung. Aku mengintip…” anak itu menunduk malu.
“Belajar menulis dari mana? Bukankah dulu Lian tidak punya peralatannya?” Permaisuri mengerutkan keningnya tidak mengerti.
“Lian memungut kuas yang rusak, kemudian menulis menggunakan air di atas ubin.” Jawaban darinya menelan ludah, benar-benar hal yang memalukan.
Tapi anak yang tidak memiliki teman, tidak memiliki mainan, bahkan tidak memiliki keluarga, belajar menulis mungkin adalah satu-satunya hiburan untuknya.
“Anak ibunda memang pintar…” permaisuri mengelus kepalanya.”Tetap seperti sebelumnya, jangan sampai menunjukkan kemampuanmu di hadapan orang lain. Lian…tapi sebelumnya ibunda akan meminta maaf kepadamu.”
“Kenapa?” Lian memiringkan kepalanya tidak mengerti.
“Kamu harus tetap berpura-pura tidak bisa apapun. Ibunda juga akan membuat kebohongan terus-menerus, mengatakan Lian tidak begitu pintar. Apa Lian tidak apa-apa?” Tanya sang ibu menatap ke arahnya, menatap putranya penuh kasih sayang.
Entah kenapa hati permaisuri benar-benar luluh. Benar-benar menganggap anak ini sebagai putranya. Anak yang benar-benar malang, pada akhirnya mati dalam keadaan tragis, sama seperti dirinya yang mengalami takdir serupa.
Anak itu mengangguk, menatap bersungguh-sungguh ke arah permaisuri.”Ibunda… semuanya demi kebaikan Lian kan? Pangeran ketiga sempat keracunan karena menunjukkan bakatnya. Beberapa dayang mengatakan pangeran ketiga diracuni selir Wen. Jika Ibunda ingin menyembunyikan kemampuan Lian, itu pasti untuk melindungi Lian.”
Permaisuri menghela nafas, benar-benar anak yang cerdas, tidak egois dan pengertian. Bagaimana bisa Kaisar brengsek itu menghasilkan bibit berkualitas seperti ini? Sungguh keberuntungan luar biasa dari si brengsek.
“Lian…anak ibunda yang paling pengertian. Benar! Ibunda melakukan semuanya untuk melindungi Lian. Ingat! Berpura-pura bodoh, jangan tunjukkan kemampuanmu.” Peringatan yang diucapkan oleh permaisuri kepada putranya.
Anak yang mengangguk pertanda mengerti dengan arahan permaisuri. Kembali memakan kue bunga yang disuapi oleh ibunya.
Mata permaisuri melirik ke arah hadiah yang dibawa oleh beberapa istri bangsawan. Mereka menunjukkan dukungan kepada pangeran kelima secara diam-diam. Tentu saja karena ada dirinya dan Jenderal Lin di belakang pangeran kelima. Putranya yang akan menjadi Kaisar, putranya lah yang akan menyelamatkan kediaman Lin. Putranya lah juga yang akan membawanya pada status lebih tinggi…Ibu suri…
Tapi…sebelum itu, mata permaisuri melirik ke arah hadiah yang diberikan oleh kaisar sebelumnya. Sekotak dupa, tidak ada satupun yang sempat dinyalakan olehnya.
Matanya sedikit melirik ke arah pelayannya.”Riri…kamu sudah menyuruh tabib untuk memeriksa lupa pemberian Kaisar?”
“Sudah yang mulia, ada ramuan khusus untuk memicu kemandulan. Dalam artian dupa ini beracun. Bagi orang biasa mungkin efek sampingnya tidak begitu buruk. Tapi bagi wanita dapat menimbulkan kemandulan, jika terpapar terus-menerus.” Itulah yang diucapkan oleh sang dayang menunduk memberi hormat.
Dayang yang sudah begitu lama mengikuti permaisuri.”Kaisar kali ini sudah benar-benar keterlaluan. Memberikan banyak anak kepada selir lainnya, tapi malah ingin menghilangkan kesempatan yang mulia untuk memiliki keturunan!” Riri mengepalkan tangannya menahan rasa kesal.
“Tidak apa-apa, mintalah pembuat dupa untuk membuat dupa dengan aroma serupa. Hanya aromanya saja yang sama. Tapi kandungannya berbeda.” Permaisuri mengangkat sebelah alisnya, membelai kotak dupa dengan ukiran yang begitu indah.
“Lalu apa yang harus dilakukan dengan dupa pemberian Kaisar? Apa harus dikembalikan? Atau membongkar semuanya, agar Kaisar menerima akibatnya!?” Kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Riri, bagaikan pangeran kelima dapat mencerna kata-kata mereka.
“Jadi ayahanda ingin meracuni Ibunda?” Tanya anak yang begitu polos.
“Lian…mulai sekarang kamu harus lebih mengerti dan berhati-hati. Jangan pernah bersedia menerima makanan atau minuman dari selir dan pangeran lainnya. Atau dari ayahandamu sekalipun.” Peringatan yang diucapkan oleh ibunya, menyuapi putranya dengan kue bunga.
Anak itu mengangguk dengan cepat, wajahnya tersenyum kepada ibunya. Tapi sebenarnya memendam dendam kepada ayahnya. Ibundanya begitu baik, begitu cantik, tapi kenapa ayahandanya malah berbuat seperti ini?
“Tentang dupa ini, sebarkan berita di istana selir. Bahwa yang mulia Kaisar secara khusus memberikan dupa dengan efek memberi ketenangan, juga wajah awet muda kepada permaisuri. Sebarkan desas-desus diantara para dayang. Ini akan menjadi semakin menarik. Saat kecemburuan dapat menguasai pikiran seseorang. Bahkan mereka mencuri pun tidak akan keberatan.” Permaisuri tersenyum, meraih gunting, kemudian memotong setangkai bunga mawar. Kelopak bunga yang terjatuh di atas meja. Senyuman menyeringai begitu mengerikan dari wajah cantik itu.
“Ha…ha… ha… ha…” pangeran kecil yang anehnya tertawa jahat.
Semua orang menoleh padanya, pangeran kelima yang berkedip beberapa kali.”Biasanya ibunda akan tertawa…jadi aku ingin tertawa duluan bersama ibunda.”
Sungguh tingkah laku konyol lucu dan aneh. Permaisuri pun tidak habis pikir Bagaimana bisa Kaisar brengsek itu memiliki anak seperti ini.
“Ha…ha…ha… ha…ha..” pada akhirnya permaisuri tertawa. Sebuah tawa jahat yang kembali diikuti oleh pangeran Lian.
Sepasang ibu dan anak yang benar-benar aneh. Tapi sekaligus benar-benar menarik.
hayu pangeran kecil,segera beraksi
biar kapok kaisarnya
enak bener dah sekian purnama di anggurin tiba2 minta jatah dengan alasan tidak tega melihatmu dihina
lanjut KK author,semangat💪
kasian amet Krisan dapat barang bekas🫣🤣🤣
jgn lah
jangan biarkan ibundamu di temani si kaisar
hayo bersiasat