Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Suapan demi suapan bubur hangat perlahan mengembalikan tenaga Larasati, meskipun wajahnya masih terlihat pucat. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Dewa Dirgantara yang sejak tadi duduk tenang di hadapannya, memastikan setiap suapannya benar-benar habis.
Begitu mangkuknya kosong, Dewa meletakkan sendok di atas meja dengan pelan. Tatapannya kemudian beralih ke layar laptop Larasati yang masih dipenuhi berbagai berkas pekerjaan.
"Apakah semua pekerjaanmu sudah disimpan, Laras?" tanya Dewa.
"Sudah, Pak Dewa."
Larasati mengangguk pelan. Nyeri di pelipisnya masih belum sepenuhnya hilang.
Tanpa banyak bicara, Dewa menutup layar laptop itu.
Tepat pukul delapan malam, ia merapikan beberapa dokumen yang masih berserakan. Dokumen beserta laptopnya ia masukkan ke dalam tas kerja Larasati. Kemudian Dewa menatap wanita itu dengan sorot mata yang mendominasi.
"Pekerjaanmu sudah cukup untuk malam ini, Larasati!"
Larasati hendak menyahut, namun dia urungkan niatnya itu saat melihat ketegasan di wajah Dewa.
Pria itu bangkit lebih dulu, lalu mengulurkan tangan utuk membantunya berdiri.
"Ayo, saya antar kamu pulang."
Dewa menuntun wanitanya dengan sangat telaten. Larasati disampingnya berjalan dengan langkah yang masih lemas. Jas milik Dewa masih menyelimuti kedua bahunya, menghadirkan kehangatan dan aroma kayu cendana yang menenangkan. Merekapun meninggalkan ruang divisi kreatif yang telah sunyi itu.
Begitu tiba di lobi utama, mobil SUV hitam milik Dewa sudah menunggu di depan pintu. Evan berdiri tegak di sampingnya sambil memegang kunci mobil Larasati.
"Evan, kamu bawa mobil Larasati ke apartemennya, ya! Saya yang akan mengantarnya malam ini." ucap Dewa dengan nada tenang.
"Siap, laksanakan, Bos! Semoga Mbak Laras cepat pulih,ya." balas Evan dengan senyum penuh pengertian.
"Terima kasih, Evan." balas Larasati pelan sambil membalas senyumnya.
Evan menganggukkan kepala, lalu berjalan menuju mobil Larasati.
Sementara itu, Dewa membukakan pintu mobil miliknya untuk Larasati, lalu mengantarnya masuk dengan hati-hati.
Tak lama kemudian, kedua mobil itu meninggalkan pelataran gedung kantor secara beriringan menuju apartemen Larasati.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa begitu hangat. Larasati menyandarkan kepalanya di bantalan jok kulit yang empuk. Mata indahnya yang memiliki bulu yang lentik itu terpejam sayu. Sesekali, ia melirik, menatap wajah tampan nan tegas milik Dewa dari samping yang sedang fokus memegang kemudi dengan satu tangan. Pria itu terlihat gagah, dan memancarkan aura pelindung yang sangat kuat.
Begitu mobil berhenti tepat di depan lobi utama apartemen tempat tinggal Larasati, Dewa segera mematikan mesin mobilnya. Ia tidak membiarkan Larasati turun sendiri. Dengan gerakan cepat, Dewa sudah membukakan pintu untuk Larasati, lalu dengan lembut menahan siku wanitanya saat melangkah menyusuri koridor lobi menuju lift. Rasa segan dan canggung kembali menggelitik hati Larasati saat mereka berada di dalam lift yang bergerak naik.
"Pak Dewa... terima kasih sudah mengantarkan saya sampai ke sini. Setelah ini, Pak Dewa bisa langsung pulang dan istirahat. Saya sudah merasa jauh lebih baik, Pak." ucap Larasati pelan, berusaha menyembunyikan sakit yang masih sedikit terasa.
Dewa hanya melirik sekilas tanpa menyahut, mengabaikan penolakan halus dari Larasati.
Begitu pintu lift terbuka, Dewa tetap menuntun langkah lemas Larasati hingga berhenti tepat di depan pintu unit milik wanitanya.
Larasati menempelkan kartu aksesnya pada panel digital, memutar gagang pintu, lalu berbalik badan menatap Dewa dengan senyuman canggung.
"Terima kasih banyak untuk malam ini, Pak Dewa. Selamat mal—"
"Saya tidak akan membiarkanmu berada di dalam ruangan yang sunyi ini sendirian dalam kondisi tubuh menggigil seperti ini, Larasati!" potong Dewa dengan suara yang sangat tenang.
Pria berusia 38 tahun itu dengan sopan melangkah masuk ke dalam unit apartemen Larasati yang rapi, wangi dan tenang. Ia meletakkan tas kerja Larasati di atas meja kaca ruang tamu.
Larasati sempat terpaku di ambang pintu, jantungnya berdegup kencang karena terkejut. Ini adalah pertama kalinya seorang pria melangkah masuk ke dalam area pribadinya. Terlebih pria itu adalah bos besarnya.
Sedikit pun juga, tak terlihat niat buruk di mata Dewa. Yang ada hanyalah kekhawatiran yang begitu tulus terhadap Larasati.
"Duduklah di sofa, Laras! Di mana kamu menyimpan kotak obat dan persediaan kompres hangat, Ras?" tanya Dewa sembari menggulung kemeja linen putihnya hingga sebatas siku.
"Di... di laci dapur sebelah kanan, Pak Dewa." jawab Larasati gugup, perlahan ia mendudukkan tubuh lemasnya di atas sofa beludru ruang tamu.
Dewa melangkah menuju dapur bersih dengan gerakan yang sangat berwibawa. Hanya dalam waktu beberapa menit, salah satu pria terkaya di Indonesia itu kembali dengan membawa segelas air putih hangat, kemudian satu tablet obat penurun demam, dan sebuah handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat.
Dewa duduk di atas meja yang berada tepat di hadapan sofa Larasati, mendekatkan jarak di antara mereka hingga Larasati bisa merasakan hembusan nafas hangat pria itu.
"Ini, minum obatmu dulu!" perintah Dewa sambil menyodorkan obat dan air hangat.
Larasati pun menurut. Setelah menelan obat dan meneguk habis airnya, ia mengembalikan gelas itu pada Dewa.
Tepat saat Larasati hendak menyandarkan kepalanya ke sofa, tangan kekar Dewa bergerak maju dengan teramat lembut. Dewa menempelkan handuk kompres hangat tepat di atas dahi Larasati, lalu jemari kokohnya bergerak perlahan memijat pelipis Larasati dengan ritme yang sangat teratur.
Deg!
Sentuhan kulit yang hangat dan perhatian yang begitu dekat ini seketika membuat wajah pucat Larasati mendadak merah.
"Pak Dewa... ini benar-benar tidak perlu Bapak lakukan. Saya merasa sangat sungkan..." bisik Larasati dengan suara yang bergetar halus, matanya menatap lekat dada bidang Dewa yang berada sangat dekat di depannya.
Dewa menghentikan gerakan tangannya sejenak, binar mata elangnya meredup, memancarkan getaran asmara yang dalam. "Larasati, tidak pernah ada satu pun wanita yang membuat saya mengkhawatirkan kesehatannya sampai seperti ini. Saya ingin membuktikan bahwa melindungmu bukanlah hanya sekedar dengan kata-kata."
Mendengar kalimat itu, mata indah Larasati berkaca-berkaca.
Melihat tatapan Larasati yang mulai sayu karena efek obat, Dewa tersenyum tipis. Jemarinya mengusap lembut puncak kepala wanita itu, lalu menarik kembali tangannya dengan perlahan.
"Tidurlah di kamarmu, Larasati. Saya akan menemanimu dari sofa sampai demammu benar-benar turun. Selamat malam."
Larasati menatap Dewa beberapa saat. Ia pun mengangguk perlahan.
"Terima kasih, Pak Dewa... sudah mau menjaga saya."
Dewa membalas dengan senyum kecil dan anggukan pelan.
Dengan langkah yang masih sedikit lemah, Larasati berjalan menuju kamarnya. Tepat sebelum menutup pintu, ia sempat menoleh. Dewa masih duduk tenang di sofa, menatapnya dengan sorot mata yang penuh keteduhan, memastikan Larasati benar-benar masuk ke kamar dengan selamat.
Senyum tipis terukir di wajah Larasati sebelum akhirnya perlahan ia menutup pintu.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok