Bagaimana jadinya jika kamu harus menikah dengan musuh kamu, itu yang di rasakan Haziqa Elvarreta Shanum atau kerap di sapa Hazi.
Seorang Dokter umum di salah satu rumah sakit di Jakarta ,anak kedua dari pasangan Kiyia Luqman dan Nyai Khodija.
Hazi harus menikah menggantikan sang kakak, apakah Kehidupan Hazi, akan baik- baik saja setelah menikah, tunggu updatenya hanya di novel ini yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Istri Pengganti 21
Arras kemudian beranjak dan memilih menunggu Hazi dengan duduk di meja makan, " Mas, enggak akan lepasin kamu, dan mas akan buat kamu jatuh cinta " guman Arras, yang merasa ia sudah mulai jatuh cinta dan tidak ingin kehilangan istrinya.
Tidak lama Hazi datang dengan membawakan nasi goreng yang ia hangatkan di dapur tadi, Hazi memberikan piring tersebut pada suaminya, "Ini mas makan dulu " ujar Hazi.
" Kamu enggak makan?" tanya Arras.
" ini aku mau ambil" jawab Hazi.
Arras menarik tangan istrinya untuk duduk, "berdua saja, nanti kalau kurang tinggal tambah " ujar Arras .
" Tapi mas...."jawab Hazi sedikit gugup.
" Udah gapapa, bukannya sunnah ya.. makan sepiring berdua" ucap Arras.
" Kalau gitu aku ambil sendok dulu" sahut Hazi yang terlihat jika menghindar dari suaminya.
Arras kembali menahan sang istri, " enggak usah, sini aku suapin aja " cegah Arras.
Hazi kemudian kembali duduk di samping suaminya, Hazi melihat ada sedikit perbedaan dari suaminya, "Apa mas Arras dengar pembicaraan ku dengan Han?" tanya Hazi pada dirinya sendiri.
" Aaaa" Arras menyuapkan nasi goreng ke istrinya, Dengan canggung Hazi menerima itu.
Entah mengapa Hazi merasa ada yang aneh dari suaminya, Namun Hazi tidak ambil pusing, ia harus fokus untuk mengejar beasiswa di luar negri.
Sejujurnya Hazi ingin mengambil beasiswa, ia ingin menghindari suaminya, ia takut jika dengan ia tinggal dengan suaminya ia jatuh cinta, jujur saja Hazi belom siap untuk itu dan menurut dirinya Arras hanya untuk Mila, sesuai dengan pilihan kedua orang tuanya dan dia hanyalah istri pengganti.
Hazi hanya takut jika ia jatuh cinta pada Arras dan ia sudah nyaman dan bergantung pada Arras, suatu saat Mila kembali dan meminta Arras untuknya.
Dari dulu Hazi terbiasa untuk mengalah pada Mila dan Hazi juga tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali.
Dimana Hazi baru masuk kuliah dan ia di kenalkan oleh salah satu Gus dari pesantren ternama, gus Bilal namanya Hazi ingin di jodohkan dengan Gus tersebut tapi Mila saat itu menyukainya dan keesokan harinya dimana Hazi sudah cocok dengan Gus tersebut dan Gus tersebut ingin melamar dirinya, abinya meminta untuk Hazi mundur karena Mila menyukai Gus tersebut.
Tapi hingga saat ini Hazi tidak mengetahui alasan Mila dan Gus tersebut tidak sampai menikah dan yang Hazi dengar terakhir tentang Gus Bilal, Beliau kembali melanjutkan kuliahnya di Kairo.
Tak terasa nasi goreng di piring itu habis , bahkan Hazi tidak sadar jika sedari tadi ia terus menerus di suapi oleh suaminya dan suaminya tidak memakan nasi tersebut sama sekali.
" Alhamdulillah kenyang " gumam Hazi ketika ia melihat piring di depannya sudah kosong.
" kenyanglah satu piring habis sendiri " ejek Hanzzah yang duduk di ruang keluarga yang menyatu dngan ruang makan, hanya tersekat tembok yang tingginya hanya 50cm.
" Hah? ini mas belom makan?" tanya Hazi sedikit panik.
" Yah.... belom lah, orang di habisin sama mbak, tapi tumben tau mas, biasanya mbak Hazi kalau makan itu sedikit banget " ucap Hanzzah.
"aduhh maaf mas, aku ambilin dulu ya... buat mas Arras " ujar Hazi panik yang kemudian membawa piring kosong itu .
Arras dan Hanzza hanya bisa menahan tawa melihat tingkah Hazi, tidak lama Hazi kembali dengan piring yang sudah penuh kembali dengan nasi goreng.
" Ini mas, maaf ya..." ujar Hazi.
" Gapapa, mau mas suapin lagu gak?" sahut Arras.
" enggak Mas, aku udah kenyang" jawab Hazi.
Hazi menemani suaminya makan, serta mencari info- info untuk beasiswa di ponselnya, Sedangkan Hanzzah sedang menyiapkan untuk tahlilan nanti malam.
...****************...
Satu minggu sudah Hazi dan Arras di Magelang, hari ini mereka akan kembali ke Jakarta, karena Hazi juga tidak bisa libur lebih lama lagi.
" Mobil mas mana ?" tanya Hazi yang sudah bicara dengan suaminya, jika ia akan menggunakan mobilnya sendiri, agar lebih memudahkan Hazi,.jika ingin bekerja .
Arras menyetujuinya, namun bukan Arras namanya jika tidak punya cara untuk lebih dekat dengan istrinya, tadi malam setelah Hazi meminta izin , Arras meminta asisten pribadinya untuk mengambil mobilnya.
" di ambil sama asisten mas" jawab Arras dengan santainya.
" Lahhh.... terus mas, ke jakarta naik apa?" tanya Hazi.
"Ya... naik mobil mbak Hazi lah.... masak jalan kaki sih, gitu aja enggak tau mbak" jawab Hanzzah yang muncul dari belakang dengan buleknya.
"Ckkkk diam kamu " jawab Hazi.
" Ya sudah yuk.... ke buru malam nanti, besok kamu jaga pagi kan" ucap Arras mengambil kunci mobil Hazi yang ada di gengaman Hazi.
" bulik pamit dulu ya....nanti Arras dan Hazi akan sering main kesini, kalau ada apa- apa tolong jangan sungkan buat hubungin Arras atau Hazi" pamit Arras pada buliknya Hazi.
" Iyaa le.... bulik titip Hazi ya.... tolong jaga hazi ya, jewer aja kalah ngeyel " jawab bulik hazi yang tahu sifat keponakannya itu, karena bulik aisyah dekat dengan Hazi, bahkan Hazi bisa di bilang lebih dekat dengan bulik aisyah daripada Almarhuma umi khodijah.
" Apa sih bulik, Hazi kan enggak pernah macem - macem juga " jawab Hazi yang berada di belakang Hazi dan kini menghampiri buliknya untuk berpamitan.
Hanzzah ingin mengeluarkan suaranya, tapi ia fikir akan bercuma karena pasti Kakaknya akan membungkamnya, jadi Hanzzah lebih baik diam dan mencari waktu yang pas.
" bulek... Hazi pamit ya, doa kan Hazi selalu di lancarkan segala urusannya, hazi titip Han, kalau nakal jewer aja sampai kapok" ucap Hazi.
" Dih.... kakak tuh yang harusnya di jewer" sahut Hanzzah.
Mereka berpamitan cukup lama, karena adanya adegan berantem antara Hazi dan Hanzzah terlebih dahulu.
" husss udah, kalian ini malah berantem, Han sana ke kelas, nanti di marahi paklek lohh..." Ucap bulek aisyah.
" Iyaa bulek... mas, mbak aku ke kelas dulu, kalian hati - hati ya...." Ujar Hanzzah yang juga berpamitan pada Hazi dan Arras.
" Iya, belajar yang bener" sahut Hazi.
" Iya bawel" balas Hanzzah yang menyalami kakaknya.
Saat ingin meyalami kakak iparnya, Hanzzah mendapatkan salam tempel dari Arras,." buat jajan, nanti mas kirim lagi, tiap bulan ke bulek ya..." ujar Arras.
Hanzzah yang kesenangan memeluk erat Arras, hingga Arras merasakan sesak, Hazi kemudian memukul sang adik ketika melihat suaminya, kehabisan nafas.
" plak"
" ehhh maaf mas, terlalu seneng soalnya, makasih ya... mas, makasih banyak" ujar Hanzzah.
" i- iya sama- sama, udah sana ke kelas, belajar yang rajin, nanti mas akan sering mampir, kalau libur main ke jakarta " ucap Arras.
" okey mas, siap... kalau gitu aku ke kelas dulu Assalamualaikum " pamit Hanzzah.
Baru beberapa langkah Hanzzah berhenti dan kembali menoleh ke arah belakang, " ouh ya... mas, mbak Hazi mau cari beasiswa ke UK soalnya mau ngehindari mas Arras, dia takut jatuh cinta sama Mas Arras" ujar Hanzzah yang membuat Hazi menatap tajam ke arah dirinya.
" kaburrrrrrr".