"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Sisi Kertas dan Wajah yang Berubah
Nama itu. Fajar.
Dua suku kata yang tertulis dengan tinta hitam di baris paling bawah catatan Satria itu terasa seperti hantaman godam di dada Lyana. Ia berkedip sekali, dua kali, berharap penglihatannya hanya tipuan dari rasa lelah yang menumpuk. Namun, tulisan itu tidak berubah. Fajar. Koordinator Logistik. Imbalan: 15% dari dana cair.
Lyana merasakan sekelilingnya berputar. Fajar. Laki-laki yang selalu membawakan sekotak nasi padang saat mereka lembur audit. Laki-laki yang pernah bilang, “Istirahat, Ly. Gue tahu lo banting tulang buat beasiswa ini, jangan sampai lo sakit.” Laki-laki itu. Orang yang ia anggap sebagai 'pelabuhan' tenang di tengah badai BEM.
Dito, yang masih terduduk di lantai kamar kosnya, menatap Lyana dengan wajah pucat. Ia melihat bagaimana tangan Lyana meremas buku agenda itu hingga kertasnya melengkung.
"Mbak... Fajar itu..." Dito tidak berani melanjutkan kalimatnya. Ia tahu benar betapa dekatnya Lyana dengan Fajar.
Lyana tidak menjawab. Ia menutup buku itu dengan gerakan patah-patah, lalu memasukannya ke dalam tasnya. Ia merasa mual. Aroma kapur barus di kamar Dito mendadak terasa seperti bau busuk yang menjijikkan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lyana memutar tubuh dan berjalan keluar dari kamar itu. Langkahnya terhuyung, namun ia tidak berhenti.
"Mbak mau ke mana?" tanya Dito, suaranya ketakutan.
Lyana tidak menjawab. Ia menyusuri lorong kos-kosan yang sempit dan pengap, melompat turun dari anak tangga besi yang berderit, lalu berjalan menembus gerimis yang mulai membasahi aspal jalanan. Ia tidak punya arah, tapi ia punya satu tujuan. Ia harus melihat wajah laki-laki itu. Ia harus mendengar alasan kenapa sahabatnya sendiri tega menjual kepercayaannya.
Ia menemukan Fajar di kantin fakultas, sedang duduk sendirian di meja sudut yang biasanya tertutup bayangan pohon angsana. Laki-laki itu sedang memegang ponsel, jemarinya bergerak lincah mengetik sesuatu dengan senyum tipis yang tak bisa disembunyikan. Senyum yang biasanya membuat Lyana merasa tenang, sekarang justru membuat amarahnya mendidih.
Lyana melangkah mendekat. Suara langkah sepatunya yang basah beradu dengan lantai keramik kantin yang licin, namun Fajar tidak menoleh. Sampai akhirnya, Lyana berdiri tepat di hadapannya dan membanting buku agenda Satria di atas meja, tepat di depan kopi Fajar.
"Jelasin," ucap Lyana. Suaranya tidak keras, justru sangat tenang dan tajam seperti irisan silet.
Fajar tersentak. Ponselnya nyaris terjatuh dari tangannya. Ia mendongak, dan begitu melihat Lyana—dengan rambut berantakan, jas hujan yang masih basah, dan mata yang merah—ia pucat seketika. Senyumnya hilang, digantikan oleh raut panik yang tak bisa ia tutupi lagi.
"Ly... Lyana? Lo ngapain di sini?"
"Jelasin apa maksud tulisan ini, Jar," Lyana menunjuk buku itu.
Fajar menatap buku agenda tersebut, lalu menatap Lyana. Ia tidak membuang muka. Ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi, dan perlahan, raut paniknya berubah menjadi wajah yang lelah—wajah seseorang yang sudah lama menunggu saat ini tiba.
"Lo nemu itu di loker Satria?" tanya Fajar. Suaranya terdengar pasrah.
"Kenapa, Jar?" suara Lyana kini bergetar, pertahanannya nyaris runtuh. "Gue percaya sama lo. Lo yang bantu gue audit, lo yang tahu betapa susahnya gue mempertahankan beasiswa ini. Kenapa lo tega?"
Fajar tertawa hambar. Ia menatap ke arah kerumunan mahasiswa yang sedang mengobrol di meja sebelah, seolah menatap masa depan yang tidak pernah bisa ia raih. "Karena beasiswa gue dicabut semester lalu, Ly. Gue bukan orang kaya yang bisa bayar UKT tiap semester pakai duit sendiri. Satria nawarin gue jalan keluar. Cuma 15% dari dana yang dia ambil, dan gue bisa lulus tahun ini."
"Jadi lo jual nama gue ke dia?"
"Bukan nama lo, tapi posisi lo," Fajar menatap mata Lyana. Tatapannya tidak lagi ramah, melainkan dingin dan penuh kebencian yang terpendam. "Gue cemburu, Ly. Gue cemburu lihat lo yang serba kekurangan tapi selalu bisa survive dengan kerja keras lo sendiri, sementara gue harus jungkir balik dan tetap aja gagal. Satria tahu itu. Dia memanipulasi kecemburuan gue."
Lyana memejamkan mata. Rasa sakitnya bukan karena dikhianati oleh musuh, tapi oleh seseorang yang ia anggap saudara. "Lo sampah, Jar."
Fajar tidak marah. Ia justru mengangguk kecil. "Gue emang sampah. Dan Satria... dia punya rekaman lo kerja di Drip & Draft sejak bulan lalu. Dia yang ngirim itu ke yayasan, bukan gue. Gue cuma bantu dia buat akses stempel, tapi dia yang ngancurin lo sepenuhnya."
Lyana terdiam. Kepalanya pening. Jadi, Satria sudah merencanakannya sejak lama? Ia menggunakan Fajar sebagai pion, dan setelah Fajar tidak berguna, Satria akan membuangnya begitu saja.
Lyana mengambil bukunya kembali. Ia tidak ingin lagi berdebat dengan Fajar. Laki-laki di depannya ini bukan lagi sahabatnya; ia hanya seorang pecundang yang terjebak dalam rasa iri.
"Jangan harap kita bakal kenal lagi setelah ini," ucap Lyana dingin.
Ia berbalik, meninggalkan kantin tanpa menoleh lagi. Ia berjalan menjauh, melewati gedung rektorat, melewati parkiran, menuju ke mana saja asalkan jauh dari kampus yang kini terasa seperti penjara.
Namun, baru saja ia sampai di depan gerbang kampus, ponselnya bergetar hebat di dalam saku. Sebuah panggilan masuk. Bukan dari ibu, bukan dari Rumi. Dari yayasan.
Lyana menarik napas panjang, menekan tombol hijau, dan menempelkan ponsel ke telinganya dengan tangan yang dingin.
"Halo?"
"Selamat siang, Saudari Lyana. Saya dari bagian administrasi Yayasan Lentera Bangsa," suara di seberang sana terdengar sangat formal, sangat dingin. "Kami sudah meninjau dokumen klarifikasi yang Anda kirimkan pagi ini."
Lyana memejamkan mata, berdoa dalam hati agar mukjizat itu datang. "Lalu, bagaimana Pak? Apakah status beasiswa saya—"
"Karena adanya temuan baru mengenai pelanggaran kontrak kerja paruh waktu, dan diperkuat dengan laporan saksi mengenai penggunaan fasilitas organisasi untuk kepentingan pribadi, pihak yayasan memutuskan untuk tetap pada keputusan awal. Beasiswa Anda dicabut secara permanen."
Dunia seakan berhenti berputar. Suara di seberang sana seolah menjauh, digantikan oleh dengung statis yang memekakkan telinga.
"Dan mohon maaf, Saudari Lyana, pihak yayasan juga menuntut pengembalian dana beasiswa semester berjalan karena Anda terbukti melanggar pasal integritas. Batas waktu pengembalian adalah 3x24 jam. Jika tidak, kasus ini akan kami teruskan ke jalur hukum."
Klik. Panggilan itu terputus.
Lyana berdiri di depan gerbang kampus yang sibuk. Di sekelilingnya, mahasiswa tertawa, berbincang soal rencana liburan, atau mengeluhkan tugas kuliah. Hidup mereka normal. Hidup mereka terus berjalan. Tapi hidup Lyana baru saja berhenti.
Ia mematung di tengah trotoar, membiarkan orang-orang menabrak bahunya karena menghalangi jalan. Ia tidak merasakan apa-apa. Rasa takut, amarah, kesedihan—semuanya menguap, menyisakan kekosongan yang begitu dalam.
Sebuah tangan menyentuh bahunya dengan lembut. Lyana menoleh.
Itu Rumi. Laki-laki itu tampak kelelahan, matanya merah, namun ia berdiri tegak di samping Lyana. Rumi sepertinya sudah mendengar semuanya, atau mungkin ia sudah menebak hasilnya.
"Beasiswa kamu jadi di cabut?" tanya Rumi pelan.
Lyana mengangguk. Air mata akhirnya jatuh, bukan karena sedih, tapi karena ia sudah sampai di batas akhirnya. Ia tidak bisa lagi berpura-pura kuat.
Rumi tidak berkata apa-apa. Ia menarik Lyana ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis di balik jaket almamaternya yang kasar. Di tengah hiruk-pikuk gerbang kampus, di bawah langit Solo yang pucat, Lyana melepaskan segalanya. Ia tidak memikirkan lagi soal Satria, soal Fajar, atau soal beasiswa. Ia hanya ingin berhenti sejenak.
"Ayo," bisik Rumi di dekat telinganya. "Kita pulang."
"Ke mana, Mas? Aku nggak punya rumah di sini," isak Lyana.
"Ke rumahku," jawab Rumi mantap. "Bukan rumah orang tuaku. Rumahku sendiri. Tempat yang aku bangun pakai uang tabunganku sendiri dari hasil ngamen dan ngajar les. Kita selesaikan masalah ini dari sana. Kita cari cara buat bayar denda itu, meski harus aku jual semua alat musik yang aku punya."
Lyana menatap Rumi, lalu menatap gerbang kampus yang megah itu. Sesuatu di dalam dirinya retak, dan di saat yang bersamaan, sesuatu yang lain mulai tumbuh. Sebuah tekad untuk tidak lagi menjadi korban.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran, siap meninggalkan kampus itu untuk sementara waktu. Namun, saat mereka baru saja hendak melangkah, ponsel Rumi bergetar. Sebuah notifikasi berita daring muncul di layar.
Rumi berhenti melangkah, menatap layar ponselnya dengan wajah yang berubah drastis.
"Lyan..." Rumi menoleh pada Lyana, suaranya gemetar. "Coba lihat ini."
Lyana melihat layar ponsel Rumi. Judul berita itu terpampang besar: “Mahasiswa Universitas Pembangunan Tewas Terjatuh dari Lantai 4 Gedung BEM. Identitas Korban Masih Diselidiki.”
Di bawah foto gedung yang dikerumuni polisi, ada sebuah benda yang tergeletak di samping tubuh yang tertutup kain kuning.
Sebuah buku agenda kecil berwarna cokelat yang sudah berlumuran darah.
Jantung Lyana berhenti berdetak. Itu buku agenda yang baru saja ia tinggalkan di kantin. Dan Fajar... ia baru saja meninggalkan Fajar di sana.