Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 20
Pukul 08.45 WIB. Lima belas menit sebelum bel pembukaan Bursa Efek Indonesia berbunyi, ketegangan di dalam ruang perdagangan Satria Corporation sudah mencapai puncaknya.
Udara di lantai tertinggi Menara Cakrawala itu seolah dialiri listrik bertegangan tinggi.
Nisa, dengan keanggunan sekretaris elitnya, berdiri di dekat meja utama sambil memegangi tablet digital, sesekali merapikan rambut sanggulnya yang sempurna.
Di dekat jendela, Gege terus berjalan mondar-mandir.
Setelan jas three-piece hitamnya yang necis tampak sangat gagah, namun wajahnya tegang setengah mati.
Tangannya berkeringat dingin sampai-sampai ia harus berulang kali mengelapnya ke celana bahan mahalnya.
Sementara itu, Wahyu, sang genius bursa, sudah duduk tegak di kursi kulit premiumnya.
Enam layar kuantum di depannya menampilkan pergerakan grafik pra-pembukaan saham PT Bumi Hijau (BUMI) yang mulai merayap naik akibat manipulasi terselubung dari Artha Kencana Asset Management.
Jemari Wahyu sudah gemetar di atas papan ketik, siap mengeksekusi dana monster.
"Bos Satria," panggil Wahyu dengan suara parau menahan adrenalin.
"Akun sekuritas Satria Corporation sudah aktif."
"Tapi... modal lima ratus miliar yang Bos janjikan belum masuk ke sistem perdagangan saya."
"Sisa waktu kita tinggal lima belas menit lagi sebelum bandar hitam itu mulai melakukan dumping!"
Gege langsung menoleh panik.
"Iya, Sat! Mana duitnya?! Waduh, kalau telat sedetik aja, si Wahyu bisa digoreng hidup-hidup sama mantan bosnya!"
Nisa juga menatap Satria dengan tatapan penuh tuntutan profesional.
"Bos, mohon segera lakukan otorisasi transfer."
"Semua mata di divisi kliring bursa sedang memantau pergerakan akun kita."
Di tengah kepanikan massal ketiga bawahannya, sang pemilik perusahaan, Satria, justru sedang sibuk dengan urusan yang jauh lebih krusial bagi kelangsungan hidupnya.
Satria sedang berdiri di pojok ruangan, berdebat sengit dengan layar ponselnya yang menyala terang.
Di layar itu, Sistem Total Reversal sedang memunculkan sebuah notifikasi darurat yang tingkat kegilaannya sudah di luar nalar manusia sehat.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN- PROTOKOL KEBERUNTUNGAN FINANSIAL]
Perhatian Pengguna! Dana modal perang bursa sebesar Rp 500.000.000.000,00 (Lima Ratus Miliar Rupiah) saat ini tertahan di dalam brankas kuantum sistem.
Syarat Pelepasan Dana: Pengguna WAJIB melakukan ritual 'Sarung Keberuntungan' terlebih dahulu untuk menyelaraskan energi kemiskinan murni dengan bursa saham.
Instruksi Ritual:
1. Ikat ujung sarung kotak-kotak Anda ke atas dada hingga membentuk model daster/kemben.
2. Lakukan gerakan memutar pinggul (Hula-hoop) sebanyak tiga kali di tengah-tengah ruang kerja sambil menggenggam segelas kopi saset dingin.
3. Teriakkan kalimat mantra: 'Uang adalah sampah, mari kita bakar bersama!' dengan lantang.
Sisa Waktu Ritual: 00:08:50. Jika gagal, dana lima ratus miliar akan hangus dan Anda akan dikenakan denda kuadrat berupa kurungan sarung selama tiga hari tiga malam.
Satria membelalakkan matanya, napasnya memburu.
'Heh! Sistem sialan! Lu bener-bener mau bikin harga diri gua hancur di depan karyawan baru gua, ya?!'
umpat Satria dalam hati, jempolnya menekan-nekan layar dengan frustrasi.
'Nisa sama Gege baru aja gua sulap jadi orang elit kemarin, sekarang lu malah menyuruh gua jadi topeng monyet di depan mereka?!'
Sistem tidak peduli. Angka hitung mundur terus berjalan dengan warna merah darah yang mengintimidasi: 00:07:45... 00:07:44...
Satria melirik Wahyu yang sudah mulai pucat, lalu melirik Gege yang tampak siap pingsan. Satria tahu, tidak ada pilihan lain.
Demi satu miliar rupiah uang harian yang bebas pakai dan demi menghancurkan bajingan Artha Kencana, harga dirinya harus dikorbankan untuk kesekian kalinya.
"Bos Satria? Kenapa Anda malah diam di pojokan?"
tanya Nisa, mulai curiga melihat gerak-gerik bosnya yang aneh.
Satria berdeham keras.
Ia membalikkan badannya, menatap ketiga orang itu dengan wajah super serius, seolah-olah ia sedang hendak menyampaikan strategi militer tingkat tinggi.
"Nisa, Gege, Wahyu... dengarkan gua,"
ucap Satria dengan nada suara yang berat dan berwibawa.
"Dalam dunia metafisika keuangan tingkat atas, sebelum kita membuang uang ratusan miliar ke dalam pusaran bursa, kita harus melakukan penyelarasan energi makro."
"Ini adalah teknik rahasia para taipan dunia."
Gege mengernyitkan dahi.
"Hah? Penyelarasan energi macam apa, Sat?"
Tanpa menjawab, Satria langsung menarik ujung bawah sarung kotak-kotaknya naik ke atas, lalu mengikatnya kuat-kuat di atas dadanya.
Dalam sekejap, sarung kebanggaannya berubah fungsi menjadi kemben instan yang membungkus tubuhnya hingga sebatas lutut, memamerkan betisnya yang berbulu lebat di atas sandal jepit karet.
"B-Bos?!" pekik Wahyu, matanya hampir melompat keluar dari kacamata minusnya.
Nisa langsung menutup mulutnya dengan tablet digital, wajahnya yang cantik mendadak kaku, berusaha mati-matian menahan tawa agar tidak merusak citra sekretaris profesionalnya.
"Jangan ada yang protes! Ini demi kelancaran likuiditas!" seru Satria panik.
Ia langsung menyambar segelas kopi saset dingin yang tergeletak di meja marmer, menggenggamnya tinggi-tinggi, lalu melangkah ke tengah-tengah Trading Room.
Dengan mata terpejam menahan malu yang luar biasa, Satria mulai memutar pinggirkannya, melakukan gerakan hula-hoop absurd sebanyak tiga kali di bawah pendar lampu neon kuantum.
Satu... dua... tiga...
"UANG ADALAH SAMPAH, MARI KITA BAKAR BERSAMA!" teriak Satria dengan lantang, suaranya menggema ke seluruh sudut Menara Satria Corporation.
Ting!
Sebuah suara dentingan lonceng emas yang sangat merdu berbunyi di dalam kepala Satria, disusul oleh getaran panjang di ponselnya.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Ritual Sarung Keberuntungan: BERHASIL MUTLAK.
Evaluasi: Tingkat kegilaan dan hilangnya harga diri pengguna berada di level maksimal. Energi kemiskinan telah berhasil dikonversi menjadi amunisi finansial yang mematikan.
Dana Rp 500.000.000.000,00 RESMI DILEPASKAN ke akun bursa Satria Corporation.
Tepat bersamaan dengan bunyi dentingan itu, layar monitor utama di depan Wahyu mendadak berkedip liar.
Angka saldo di pojok kanan atas yang tadinya bertuliskan Rp 0,00 secara instan berubah menjadi deretan angka nol yang sangat panjang: Rp 500.000.000.000,00.
"D-Dana... Dananya masuk, Bos!"
teriak Wahyu histeris, suaranya melengking tinggi karena syok.
"Tepat lima ratus miliar! Masuk lewat rekening perantara tanpa ada notifikasi kliring formal sama sekali! Ini... ini benar-benar sihir keuangan!"
Gege yang tadinya mau mengolok-olok bentuk sarung kemben Satria langsung bungkam seribu bahasa.
Ia menatap saldo itu dengan tubuh gemetar, lalu menatap Satria dengan pandangan penuh kekaguman yang mistis.
Di dalam kepala Gege dan Nisa, tindakan konyol Satria barusan bukanlah sebuah kegilaan, melainkan sebuah ritual sakral bin ajaib dari seorang master keuangan yang tidak bisa dinalar oleh otak manusia biasa.
"Gila..." bisik Gege sambil membetulkan letak dasinya dengan tangan gemetar.
"Jadi... jadi ritual pakai sarung kemben tadi itu beneran mantra pemanggil duit? Sat... lu bener-bener bukan manusia biasa."
Nisa pun ikut mengangguk takzim, menatap Satria dengan tatapan yang sangat hormat.
"Luar biasa, Bos Satria."
"Pengetahuan metafisika finansial Anda benar-benar di luar jangkauan literasi modern. Maafkan saya karena sempat meragukan metode Anda."
Satria yang masih dalam posisi berkemben sarung hanya bisa tersenyum kecut sambil mengusap keringat dingin di dahinya.
'Untung mereka bodoh dan langsung percaya...' batin Satria lega,
sembari pelan-pelan melonggarkan ikatan sarungnya dan mengembalikannya ke posisi normal di pinggang.
"Pukul 09.00 WIB! Bursa resmi dibuka!"
teriak Wahyu, memecah ketegangan. Jemarinya langsung menari di atas papan ketik dengan kecepatan penuh.
"Bandar Artha Kencana mulai memasukkan order palsu untuk menaikkan harga saham BUMI! Mereka mulai menggoreng, Bos!"
Satria melangkah maju, berdiri di samping Wahyu dengan sarung yang sudah rapi kembali.
Tatapan matanya mendadak berubah dingin dan tajam.
"Wahyu... tunggu sampai menit kelima seperti rencana kita."
"Begitu mereka lengah, lepaskan seluruh lima ratus miliar itu. Kita kunci jalur mereka, jangan biarkan mereka menyisakan satu rupiah pun untuk pulang."
"Siap, Bos!" sahut Wahyu penuh gairah perang.
Di bawah kendali Satria Corporation, dan dengan modal rahasia dari sistem yang diawali oleh ritual paling konyol dalam sejarah SCBD, badai finansial terbesar siap menerjang dan meratakan para bandar hitam dalam hitungan menit.