NovelToon NovelToon
Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Status: tamat
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Tamat
Popularitas:51k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia, wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.

"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.

"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.

"Nyonya, Tuan tidak mau bercerai!" -Ervan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 ~ Cium Aku

Hezlin membeku di tempat, menatap wajah Garra dengan bingung, mencoba mencari alasan yang mungkin terdengar masuk akal.

"Tapi... ranjang ini sempit. Tidak cukup untuk kita berdua," ucapnya pelan.

Garra menatapnya tenang, tak menghiraukan ucapan itu sedikitpun.

"Kamu sendiri yang memilih tidur di kamar ini. Padahal kita punya kamar yang jauh lebih luas. Sempit atau tidak, aku tidak akan pindah ke mana-mana. Aku ingin tidur di sini, bersama kalian." putusnya tegas.

Hezlin terdiam lama, tak menemukan alasan lain untuk menolak lagi. Akhirnya ia menghela napas pelan, lalu menjawab lirih.

"Baiklah... tapi jangan terlalu dekat."

Namun bukannya menjauh, Garra justru perlahan melingkarkan lengannya ke pinggang Hezlin, lalu berhenti lembut di perutnya. Tubuhnya menempel hangat dari belakang, tak memberi ruang untuk menjaga jarak.

"Garra.. Lepaskan.." tangan Hezlin hampir menyingkirkannya.

"Ssttt..." bisik Garra tepat di telinganya, nada suaranya berat dan rendah. "Tidurlah. Jangan banyak bergerak. Jika tidak... aku yang akan membuatmu tidak bisa tidur malam ini."

Deg.

Jantung Hezlin seolah berhenti berdetak sejenak, lalu berpacu jauh lebih kencang dari sebelumnya. Wajahnya memerah padam, dan ia seketika membeku di tempat, tak berani bergerak sedikit pun lagi.

Di belakangnya, Garra justru semakin menempel lembut, membiarkan detak jantungnya yang tenang terdengar jelas membelai punggung Hezlin. Telapak tangannya tetap diam di perut itu, hangat dan mengusapnya pelan.

••

••

Pagi ini, Garra sedang berdiri di depan cermin sambil merapikan kancing terakhir kemeja yang dikenakannya. Jas, jam tangan, dan dasi telah tertata rapi di atas meja. Semua pakaian itu dipersiapkan oleh Hezlin, sama seperti kebiasaan yang dulu selalu ia lakukan sebelum mereka sempat berpisah.

Sementara itu, Hezlin juga telah selesai bersiap. Kemeja berwarna gading yang dipadukan dengan rok span hitam membalut tubuhnya dengan rapi, sementara rambut panjangnya disanggul sederhana agar lebih nyaman selama bekerja.

Hezlin menoleh ke arah Garra yang masih berada di dalam kamar itu.

"Seharusnya kamu mandi di kamarmu sendiri saja. Lagipula, kita tidak perlu sekamar lagi seperti semalam."

Ucapan itu membuat Garra menghentikan gerakan tangannya. Ia menoleh menatap Hezlin.

"Kenapa? Bukankah aku sudah bilang kalau mulai sekarang aku akan tidur di sini bersamamu?"

Kening Hezlin langsung berkerut.

"Ini kamar tamu, Garra. Kamarmu ada di sebelah." jelas Hezlin sedikit menekan. Berharap pria keras kepala itu akan sedikit mengerti.

"Kalau begitu, anggap saja kamar ini sudah menjadi kamarku juga." balas Garra seolah telah mengambil keputusan tanpa bertanya terlebih dahulu.

Jawaban singkat itu membuat Hezlin terdiam. Dia benar-benar tidak bisa mengerti dengan jalan pikirannya.

Padahal, Hezlin sungguh berpikir bahwa setelah anak mereka lahir, perceraian tetap akan menjadi akhir dari hubungan mereka. Tapi pria itu seperti ingin mempersulit segalanya.

"Terserah." jawab Hezlin ketus. Ia memilih mengakhiri perdebatan itu. Setelah meraih tas kerjanya, ia melangkah menuju pintu.

"Aku keluar dulu."

Garra langsung meraih pergelangan tangan Hezlin sebelum wanita itu sempat membuka pintu. Dengan satu tarikan pelan, tubuh Hezlin berputar hingga tanpa sadar menabrak dada bidang pria itu.

Refleks, kedua telapak tangan Hezlin menekan dada bidang Garra, menjaga jarak di antara mereka.

"Apa kamu melupakan sesuatu?" tanya Garra seraya mengangkat sebelah alisnya.

Hezlin menatapnya bingung. "Apa?"

Garra menundukkan pandangannya ke arah dasi yang masih terkulai di lehernya.

"Kamu belum memasangkan dasi untukku."

Hezlin ikut melihat ke arah dasi itu.

"Selama kamu pergi, Bi Rum yang melakukannya untukku." Suara Garra terdengar rendah, tetapi tetap tenang. "Tapi sekarang kamu sudah di sini, jadi aku ingin kamu yang melakukannya."

Tatapan Hezlin seketika melunak. Permintaan itu terdengar sederhana, tetapi justru membuat dadanya terasa sesak. Kebiasaan kecil yang dulu ia anggap sepele, ternyata masih begitu berarti bagi Garra.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Hezlin menghela napas pelan lalu mengangkat kedua tangannya. Jemarinya mulai merapikan kerah kemeja Garra sebelum melilitkan dasi di leher pria itu.

Gerakannya begitu cekatan, seolah tak pernah berhenti melakukannya. Dalam hitungan detik, simpul dasi itu telah terpasang rapi.

"Sudah selesai."

Hezlin bermaksud mundur, tetapi Garra lebih dulu menahan pergelangan tangannya.

"Terima kasih."

Hanya dua kata itu yang keluar dari bibir Garra. Namun, cara pria itu menatapnya membuat wajah Hezlin perlahan memanas. Ia segera melepaskan tangannya.

"Kita harus berangkat sekarang. Nanti bisa terlambat."

Garra mengangguk pelan, lalu mengambil jasnya dari atas meja sebelum mengikuti Hezlin keluar dari kamar.

Sepanjang perjalanan, Hezlin lebih banyak diam. Pandangannya tertuju ke luar jendela mobil, sementara pikirannya terus dipenuhi ucapan ayahnya semalam.

Ia tidak ingin Garra terus-menerus menuruti semua keinginan ayahnya hanya demi menyenangkan hati pria itu. Terlebih jika keputusan yang diambil justru mengorbankan perusahaannya sendiri.

Hezlin sadar, pernikahan mereka sejak awal memang dipenuhi campur tangan keluarga. Ia tidak ingin hal yang sama terus berulang.

Hingga akhirnya mobil mereka kini telah berhenti di depan gedung kantor Xabiru. Namun, Hezlin tidak langsung turun.

Ia menarik napas pelan sebelum menoleh ke arah Garra. "Garra?"

"Hm?"

"Apakah kemarin ayahku menghubungimu?"

"Tidak."

Hezlin mengangguk pelan, lalu kembali bertanya. "Tentang perjanjian kontrak tambang emas yang ayah ajukan... apa kamu menyetujuinya?"

Garra menatapnya sejenak. "Tidak."

Hezlin mengembuskan napas lega mendengarnya. Setidaknya kali ini Garra tidak mengambil keputusan gegabah untuk menuruti segala kemauan sang ayah.

"Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Garra.

Hezlin segera menggeleng. "Tidak."

"Tapi jika kamu mau, aku bisa meminta tim legal memperbaiki isi kontraknya."

"Jangan!" potong Hezlin cepat. Nada suara Hezlin terdengar lebih tegas dari sebelumnya.

Sudah cukup yang selama ini keluarga Garra berikan pada mereka. Hezlin tidak mau semua itu menjadi hutang yang terus menumpuk hingga membuat langkahnya semakin berat untuk pergi dari Garra nantinya.

"Aku tidak ingin kamu mengubah keputusanmu hanya karena ayahku."

Garra menatapnya dalam diam.

"Tenang saja. Keputusanku tidak ada hubungannya dengan ayahmu."

"Lalu?"

Garra menatapnya beberapa saat sebelum berkata, "Kontrak itu memang kususun dengan pertimbangan yang matang. Setiap klausul dibuat untuk melindungi kepentingan perusahaan Kingston."

"Yang diinginkan ayahmu adalah perubahan pada beberapa poin yang justru menguntungkan pihaknya. Kalau aku mengabulkannya hanya karena dia ayahmu, itu tidak adil bagi perusahaanku."

Garra tersenyum tipis.

"Dalam urusan bisnis, aku tidak bisa membedakan siapa pun. Entah itu keluarga, kerabat, atau orang lain, semua akan diperlakukan dengan aturan yang sama."

Hezlin menatap Garra cukup lama. Dadanya terasa jauh lebih lega. Setidaknya, pria itu memiliki prinsip yang tegas pada ayahnya dan menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan dengan adil.

Hezlin tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak semalam, beban yang memenuhi dadanya terasa sedikit berkurang.

"Terima kasih," ucapnya tulus.

Garra mengangkat sebelah alis, menatap Hezlin tanpa sedikit pun berniat membuka pintu mobil.

"Hanya itu?"

Pertanyaan itu membuat Hezlin mengernyit bingung.

"Apa maksudmu?"

"Aku sudah menuruti keinginanmu." Garra menyandarkan punggungnya ke kursi, tatapannya tetap tertuju pada wajah Hezlin.

"Keinginanku?" ulang Hezlin, masih belum memahami maksud pria itu.

Garra mengangguk pelan.

"Aku tidak mengubah kontrak itu."

"Lalu?" Hezlin menatapnya penuh tanda tanya.

"Kalau begitu, sekarang giliranmu memenuhi keinginanku."

Kening Hezlin langsung berkerut. "Apa maksudnya? Kenapa kamu jadi pamrih begini?"

Garra terkekeh pelan, lalu menggeleng. "Bukan pamrih." Tatapannya melembut. "Ini namanya saling menguntungkan."

Garra sedikit membungkukkan tubuhnya hingga jarak mereka semakin dekat. "Keinginanmu sudah kupenuhi. Sekarang, penuhi satu keinginanku."

Hezlin menelan ludah pelan.

"Apa maumu?"

Tatapan Garra beralih sejenak ke bibir Hezlin sebelum kembali menatap kedua matanya.

"Cium aku."

❤️

1
Siti Maulidah
ceritanya menarik
🥀
terimakasih KK Thor 😍
Zhao_Xena: sepertinya tidak kakak.. yukk kepoin aja novel baru akuuh..🤗🤗
total 3 replies
Zhao_Xena
Luar Biasa
You `ka
semoga Garra mau membantu, kasihan Rachel
You `ka
masih nggak sadar juga Kamu Felicia. Jangan takut Rachel
ayo lawan..💪
You `ka
mampus kau Felicia 🤣🤣
Rian Moontero
mampiiirr👍🤣
Zhao_Xena: silahkan... 🤗🤗
total 1 replies
Red Blossom
Bikin Hezlin bantu pengobatan mamanya Rachel serta biaya adiknya Rachel thor
Zhao_Xena: asyaaappp....👍
total 1 replies
Alya Bau
up yang banyak lagii thorr 😍
Zhao_Xena: ditunggu besok yakk....🤗🤗
total 1 replies
aku
gara lembek
Gita ayu Puspitasari
ayo hempaskan pelakor hezlin🤭
Zhao_Xena: /Determined//Determined//Hammer//Hammer//Hammer/
total 1 replies
🥀
lgi Thor jgn ngantung kyk jemuran 😄
Zhao_Xena: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ ditunggu ya kak...
total 1 replies
You `ka
Cerita yang sangat bagus .. Berawal dari sebuah kesalahpahaman yang perlahan tumbuh menjadi tembok tinggi di antara mereka, kisah ini mengajarkan kita betapa mahalnya sebuah kepercayaan.

Kita disuguhi pergulatan batin yang nyata di mana cinta yang seharusnya menjadi pelindung, justru sempat menjadi sumber luka karena ketidaksabaran untuk saling mendengar. Namun di balik semua pertengkaran, diam, dan rasa sakit, terlihat jelas bahwa ikatan mereka tak pernah benar-benar putus.
Zhao_Xena: waahh... terimakasih banyak untuk bintang sempurna serta ulasan terbaiknya kakak...🥰🥰
total 1 replies
You `ka
next..
You `ka
akhirnya ketauan juga... ayo Ervan, buat Rachel mengaku..
Alya Bau
di tunggu bab selanjutnya Thor, up yang banyak
Zhao_Xena: asyiiiaaappp...🫡
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
semangat garra😄
Zhao_Xena: /Smirk//Smirk//Smirk/
total 1 replies
You `ka
lanjut
You `ka
gercep Garra.. jangan biarin Felicia berhasil membohongi Hezlin
You `ka
jangan mudah percaya ucapan Felicia Hezlin,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!