Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh
Kedua kakinya yang di penuhi luka-luka terus ia pacu tanpa memperdulikan rasa sakit yang begitu menusuk. Air mata terus membasahi wajahnya tapi ia tak berhenti untuk terus berlari, nafasnya memburu terlampau cepat. Bisa ia rasakan sekujur tubuhnya begitu sakit dan ngilu, tapi ia tak perduli.
Ketika tiba di depan gerbang besar sebuah rumah mewah, ia memaksa masuk begitu saja dan langsung berlari ke dalam. Mencari seseorang dengan begitu liar lalu membelalak saat menemukannya.
"Ibu!"
Wanita dengan pakaian anggun yang membalut tubuhnya itu menoleh dengan alis naik, "Aruna?"
Aruna, wanita itu menangis dan langsung jatuh berlutut sembari memeluk kaki Ayana— wanita yang ia panggil ibu.
"Ibu, selamatkan aku! Hiks! Aku tidak mau! Hiks! Selamatkan aku!" lirihnya dengan isakkan memohon.
Ayana menunduk dan membawa Aruna terduduk di sofa, tangannya naik lalu mengelus wajah Aruna yang di penuhi lebam keunguan.
"Apa maksudmu, nak?"
"Ibu, hiks! Carlo terus memukulku. Hiks! Sakit sekali. Hiks! Selamatkan aku, aku tidak mau kembali ke sana lagi. Hiks!"
"Tidak mungkin. Carlo mencintaimu, Aruna."
Aruna menggeleng kuat, "Aku tidak berbohong! Hiks! Ibu bisa lihat luka di wajah dan seluruh tubuhku. Hiks! Tolong aku, bu! Hiks! Aku mohon!"
"Ah, di sini rupanya sayangku berada," suara Carlo terdengar tiba-tiba di ambang pintu rumah dan membuat tubuh Aruna menegang ketakutan. Ia memegang tangan Ayana begitu kuat seolah meminta perlindungan wanita itu. Kemudian ia menatap Ayana lagi dengan tatapan permohonan.
"Ibu, aku mohon. Hiks! Aku tidak mau..hiks!"
"Aruna sayang, aku tahu kau marah padaku. Tapi tidak seharusnya kau lari dari rumah begitu saja. Aku mencemaskanku, sayangku. Ayo pulang, hm?" ucap Carlo yang mendekat dan mencoba meraih Aruna.
"Lihat? Carlo mencintaimu, sayang. Tidak mungkin ia memukulmu," ucap Ayana lagi sembari mengelus rambut Aruna yang berantakan.
"Aku tidak bohong, bu! Selamatkan aku! Hiks!" jerit Aruna panik dan semakin mencengkram kuat tangan Ayana.
Carlo menghela nafas pelan, "Maaf ya, bu. Terkadang kami memang bertengkar, tapi aku selalu berusaha memperbaikinya. Terima kasih ibu selalu menelponku dan memberitahu keberadaan Aruna. Aku selalu cemas padanya."
Aruna membelalak dan langsung menatap Ayana tak percaya, padahal sudah melihat dengan jelas hasil perbuatan Carlo padanya. Kenapa tetap tidak mempercayainya?
Ayana tersenyum, "Tidak apa. Tolong jaga baik-baik anak ibu ya, Carlo?"
"Iya, bu. Aruna ayo pulang," kata Carlo dengan nada lembutnya.
Merasa Ayana tak bisa melindunginya, Aruna langsung berdiri dan menghindar. Ia harus bertemu dengan sang Ayah. Pria itu pasti akan menyelamatkannya. Meski hanya anak angkat, tapi ia yakin Elvio akan menolongnya. Maka Aruna berlari menuju ruangan kerja Elvio.
"Ayah! Hiks! Ayah! Selamatkan aku! Hiks! Ayah—"
Bugh!
Sebuah pukulan menghantam belakang tengkuk Aruna dan membuatnya langsung terjatuh di lantai tak sadarkan diri. Menatap pintu kerja ruangan sang Ayah yang masih tertutup begitu rapat seolah menolak kehadirannya.
Di mana Ayahnya?
Di mana Elvio?
Kenapa mengabaikannya?
Selamatkan aku, Ayah.
***
Aruna membuka kedua matanya begitu saja dengan nafas terengah-engah, seluruh wajahnya di penuhi keringat juga terlihat cukup pucat. Ia bermimpi kejadian masa lalunya lagi. Kenapa ia masih harus tersiksa di dalam tidurnya?
Anak itu melirik jam weker di atas meja dan menunjukkan waktu sekitar pukul 3 pagi. Semenjak kembali memutar waktu, Aruna selalu bermimpi tentang masa lalunya dan membuatnya terbangun pada pukul 2 atau 3 pagi. Lalu setelahnya ia tak bisa tidur lagi karena takut memimpikan hal yang sama kembali.
Sialan!
Sampai kapan ia harus begini?!
Karena tidak bisa tidur, Aruna memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di sekitar taman kediaman Adijaya. Ia keluar begitu saja tanpa jaket dan hanya piyama yang membungkus tubuh mungilnya. Sengaja melakukan itu agar dinginnya angin menyadarkannya dan membuat kantuknya hilang.
Kakinya melangkah keluar dan terus berjalan menyusuri taman yang di penuhi oleh berbagai macam bunga di sana. Katanya sang Nyonya rumah terdahulu sangat menyukai bunga, jadi Elvio sengaja membuat taman besar ini khusus untuk istri tercintanya.
Aruna selalu menuju ke tempat ini ketika ia terbangun dari mimpi buruknya, menikmati pemandangan sinar bulan yang menyinari seluruh taman bunga hingga nampak begitu cantik. Meski sudah bertahun-tahun sepeninggal sang Nyonya rumah, tapi bunga-bunga di tempat ini tetap di rawat dengan baik.
Ah, Aruna begitu iri kepada wanita itu karena ia begitu di cintai oleh suami juga keemmpat anaknya.
Ia juga ingin di cintai. Merasa begitu di butuhkan dan dinantikan kehadirannya. Aruna hanya menginginkan itu dari keluarga Adijaya. Tapi mereka membencinya, membenci keberadaannya dan mengabaikan eksistensinya.
Kenapa?
Apa salahnya?
Kenapa memperlakukannya seburuk itu?
Anak itu tak sadar sedang menangis tanpa suara, membiarkan air mata meluncur begitu saja di wajah kecilnya.
Ia kesepian.
Di dunia ini mungkin yang mengharapkan kehadirannya hanya Ganesha seorang. Tapi ia tak bisa selamanya terus berada di samping anak itu dan menyusahkannya. Meski begitu, Aruna bertekad bukan hanya merubah takdirnya, tapi juga merubah takdir Ganesha. Kali ini, ia akan memastikan Ganesha hidup.
Angin malam menghembus dan menembus piyamanya yang tipis, tapi Aruna tidak bergerak. Ia membiarkan rasa dingin menusuk itu menembus tubuhnya dan membuat kedua tangan dan kakinya mati rasa seperti membeku. Itu adalah cara Aruna untuk melepas emosinya yaitu dengan menyakiti tubuhnya sendiri.
"Aku tidak tahu kau bisa membuat ekspresi seperti itu, Aruna," ucap sebuah suara tiba-tiba dari arah belakangnya.
Aruna terdiam. Ia mengenali suara itu dengan baik.
Abimanyu Vano Adijaya, putera kedua dari keluarga Adijaya.
Kenapa pria itu berada di sini?
Setahunya Abimanyu tengah menempuh pendidikan kuliah di Moscow dan akan kembali dua tahun lagi. Meski begitu, seingatnya ia tak pernah bertemu dengan Abimanyu semenjak dirinya di adopsi karena pria itu memilih tinggal di Moscow dan bekerja di sana setelah lulus. Bahkan setelah ia menikah dan kematian menjemputnya sekalipun, Aruna tak pernah bertemu dengannya. Namun, Aruna pernah mendengar suaranya tanpa sengaja ketika pria itu pulang sejenak dan bertemu dengan sang ayah. Anehnya, ia masih mengingat suara Abimanyu dengan baik.
Aruna menoleh kebelakang dan mendapati Abimanyu dengan rambut panjangnya yang ia ikat sembarangan kebelakang, tengah menatapnya datar.
Kenapa pria itu ada di sini?
Apa takdir mulai berubah perlahan-lahan karena ulahnya?
Meski tak pernah bertemu tapi Aruna tahu bahwa Abimanyu tidak menyukainya sama seperti saudaranya yang lain. Bedanya, pria itu lebih memilih menjauhi Aruna dengan caranya sendiri dari pada menunjukkan rasa tidak sukanya terang-terangan seperti Alvaro dan Antares. Mungkin karena alasan itulah, menurut Aruna kakak keduanya lebih baik ketimbang dua lainnya.
"Hei, kau tuli?" bisa Aruna lihat Abimanyu yang protes karena ia tidak meresponnya sama sekali.
Tidak. Bukan karena ia tak mau menjawab tapi kepalanya terasa begitu berat dan pandangannya memudar.
Huh? Apa yang terjadi?
Badannya terasa begitu panas.
"Hya, kau kenapa?" suara Abimanyu terdengar lagi.
Berikutnya Aruna tumbang kedepan begitu saja dan akan menghantam rerumputan di depannya jika saja Abimanyu tidak berlari dengan cepat dan menangkap tubuh kecilnya sigap.
"Aruna!"
Setelahnya anak itu kehilangan kesadarannya.