NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

Na bengong melihat penampilan acak adul Hana yang tengah duduk bengong di coffee shop tempat janjian mereka. Oddity Coffee Shop yang ada di Senopati. Hana sengaja memilih tempat duduk di bagian semi outdoor. Juga sengaja memilih jam buka kafe agar kafe masih sepi. Selain itu, Na juga belum masuk kantor.

"What the hell! Lu kenapa, Han?" tanya Na seraya mencengkram dua lengan Hana.

Kaget. Sahabatnya itu bak mesin pemindai bom saat meneliti wajah Hana.

Hana hanya menghela napas agak keras.

"Bukan Arnold kan? Sam bilang masa jahiliyah lo sama Arnold udah usai. Jadi ini pasti Reiga Reishard?" tebak Na.

Reiga?

Sejak semalam sampai pukul 7 pagi hari ini. Reiga belum menghubunginya. Apa kisahnya usai sampai di sini? Ini pertama kalinya dia pacaran dan cuma satu hari? Yang benar saja!? Hana merasa dirinya lebih menyedihkan dari ABG ababil berseragam putih-biru.

Tapi Hana pun berpikir, apabila Reiga menghubunginya, apa Hana bisa menahan diri untuk tidak memborbardir pria itu dengan belasan pertanyaan yang menyakiti mereka berdua seperti semalam?

"Selingkuh ya, Nyet?" tebak Na.

Pemimpin redaksi majalah franchise kenamaan itu menyedot es kopi Hana seenaknya.

"Akan lebih baik kalau dia selingkuh. Gue bisa langsung gampar dia dan masalah selesai," Hana akhirnya buka suara.

Kening Na mengerut.

"Terus? Gay?"

Hana menatap Na seraya melotot.

"Buset! Seram amat sih lo, Han," takut Na.

"Ya abis lo sembarangan ngomong! Mas Ayang bukan orang kayak gitu ya!" sebal Hana sekaligus membela Reiga.

Na bengong.

"Mas Ayang?"

Hana sadar salah ngomong. Na tersenyum meledek.

"Gila! Si Arnold yang empat tahun lu kejar aja nggak punya nama pendek kesayangan! Reiga Reishard memang luar biasa!"

Dari cara Hana membela Reiga, Na bisa menebak, jelas sahabatnya ini sudah masuk ke dalam tahapan bucin. Yang artinya Hana siap menistakan dirinya sendiri demi memperjuangkan cintanya untuk si lelaki.

Hana... Hana...

"Are you already in love with him?" selidik Na.

"Sulit nggak jatuh cinta sama dia, Nyet!" aku Hana tanpa menyangkalnya.

"Penyakit lu dari dulu belum berubah, Han. Love at first sight?!"

"Enggak."

"Terus?"

"Ya..." Hana bingung menjelaskan chemistry yang terjadi padanya dan Reiga. "... pokoknya rumit namun terasa eksplisit!" ujar Hana.

"Enggak jelas!" tukas Na.

Hana pun setuju atas pendapat Na.

"Pantes yang lu telepon gue. Bukannya Sam. Karena lu nggak mau Niyo tahu kegaduhan lu ini ya?" tebak Na.

Hana diam. Ia tidak perlu mengiyakan sesuatu yang pasti seperti itu.

"Is he so damn awesome? Sampai mata lo bengep begini padahal nanti malam ada premiere," ledek Na.

Hana sudah tidak ada tenaga untuk melawan apalagi membalas ledekan Na. Energinya habis akibat menangis semalaman. Bahkan dalam sujudnya ia menangis dan meminta Tuhan mengubah hati makhluk bernama Reiga Reishard demi dirinya. Memang sungguh memalukan!

"Gue sayang Reiga, Na."

"Dulu lu juga sayang Arnold, Nyet."

"Empat tahun."

"Iya, empat tahun! And now, look at you! Lo sudah sembuh dari ke-toxic-an hubungan lo sendiri! Sekarang pun pasti bisa. Apalagi sama Reiga yang baru seumur jagung," ucap Na beranalogi.

Apa iya?

"Gue bahkan nggak bisa membenci dan mengumpat dia. Gue bego banget ya, Na," lirih Hana.

Na tidak lagi melancarkan konfrontasinya. Ada perasaan empati yang memunculkan pemikiran bahwa kali ini Hana bukan lagi cinta-cintaan seperti biasanya.

"Lo kasih tahu gue dulu, ini kenapa? Yang jelas gitu, Nyet! Baru gue bisa tarik kesimpulan apakah lo ini bego atau bego banget," jawab Na.

"Sialan lu!" seru Hana cemberut.

Na tertawa. Lantas ia memeluk Hana dari samping kanan.

"Si Reiga nggak se-brengsek Enrique kan, Han?" tanya Na sambil menyebut nama mantan terakhir paling bejatnya.

Hana menggeleng.

"Terus ini tentang apa?"

"Beda keyakinan," jawab Hana.

Dahi Na mengerut dalam. Perasaan tiga bulan yang lalu si Okta, salah satu reporter majalahnya yang berkesempatan meng-interview Reiga bersaksi bahwa Reiga sholat ashar, jama'ah sama dia.

"Dia kristen?"

"Bukan."

"Katolik?"

"Bukan, Naaaa."

"Hindu? Budha? Konghucu?" Na makin gencar menebak.

Hana mendengus sebal.

"Reiga nggak percaya cinta sejati. Sementara gue percaya! Lu tahu sendiri kan terus..." Pikiran Na keburu terbang bagai gelembung sabun rapuh yang terombang-ambing di udara. Kalimat Hana tak lagi terdengar lalu pecah bagai tawanya yang kini menggelegar.

"Anjir! Malah ketawa!" sebal Hana dengan mata menyipit.

"Ya elu, Nyet! Lagi kayak gini masih ngelawak! Gue yakin tuh si Reiga pasti nyesel ngelepasin cewek eror langka kayak lu!"

"Ngatain gue cewek eror pula!"

Na masih tertawa.

"Terus kalau nggak eror apa dong??"

"Diem lu!"

"Reiga tuh cinta nggak sih sama lo?"

"Nggak tahu!"

"Ya tanya lah!"

"Males!"

Na berdecak.

"Cinta tapi gengsi, ke laut aja lo, Han! Lagian sejak kapan lo tahan adu gengsi!?" tukas Na.

Na benar.

"Terakhir kali, gue emosi banget, Na," jawab Hana jujur.

Na memasang wajah takjub.

"Cuma perkara ginian lu emosi!?"

"Nggak cuma ginian ya, Na!" sewot Hana merasa harga dirinya terluka dan baginya ini bukan masalah sepele.

"Terus nasib kisah Disney ini berakhir sad ending? Maleficient ya lo!?"

"Nggak ada akhlak lu!" sebal Hana.

Dan lagi-lagi Na tergelak tawa.

"Bisa nggak sih lu sedikit berempati sama gue!?" lanjut Hana.

"Kehadiran gue di pagi buta begini sudah menunjukkan empati gue ya, Nyet," sahut Na.

Hana mendengus.

Iya sih! Jarang-jarang Na ada waktu.

"Terus gimana?"

"Itukan pertanyaan gue!?" tukas Na kembali menyeruput es kopi Hana.

Hana menghela napas.

"Yaudah telepon aja," suruh Na.

"Malu."

"Astaga!" seru Na.

"Semalam gue block nomornya," ucap Hana.

Na tercengang mendengarnya. Lalu ia tergelak dalam tawa.

"Asli deh lu, Han! Ngapain lu block!? Alay lu," Na tertawa puas. Hana menunduk lemas sambil menyangga wajahnya dengan dua tangan di meja.

"Setuju. Gue memang bego dan alay," runtuk Hana mengakuinya.

Tawa Na perlahan usai. Ia melirik handphone Hana di atas meja. Niat jahil muncul dalam kepala Na. Diraihnya handphone Hana.

"Password handphone lu masih tanggal lahir kan?"

"Hmm," Hana berdehem tanpa mencurigai maksud pertanyaan Na.

Tidak perlu lama, Na sudah membuka block emosional tak perlu yang dilakukan Hana. Belum melakukan apapun, seperti mengirim pesan alay yang sudah direncanakannya dalam kepalanya.

Notifikasi pesan masuk langsung berbunyi.

TUNG!

Mas Ayang

Aku ke New York ya, Sayang.

Meeting aku dimajuin.

Maafin aku yang nggak bisa jawab pertanyaan kamu.

I love you.

"Is he really this sweet?" gumam Na membuat kepala Hana yang menempel di meja kembali tegak lalu menatap Na.

Na menunjukkan isi pesan Reiga kearah Hana.

TUNG!

Mas Ayang

Sukses film-nya ya, Sayang.

Maafin aku.

TUNG!

Mas Ayang

I'll be miss you so fucking hard here.

And it gets more hard

Because I know you're angry with me.

Hana membacanya dengan dadanya yang semakin sesak. Penyesalan sialan yang mulai mengerubunginya bagai semut menemukan gula.

"Dasar nyebelin!" ucap Hana pelan.

Na menatap Hana. Dan ia semakin yakin, cinta yang kini tengah Hana jalani, bukanlah cinta-cintaan musiman yang biasa Hana alami.

hati.

Pesan itu belum berhenti.

TUNG!

Mas Ayang

Aku terima kalau kamu marah.

Blame me.

But, please, don't leave me.

Aku minta maaf.

Hati Hana makin terenyuh membacanya.

TUNG!

Mas Ayang

I love you, Adrianne Hana.

Deeply. Insanely.

Notifikasi masuk itu akhirnya berhenti. Na menyodorkan kembali handphone itu pada Hana. Teman baiknya itu menerimanya dengan muka kuyu. Hana jelas menyesali perbuatan kekanakkan yang dilakukannya pada Reiga. Kemarahan yang sudah tidak jelas benar atau salahnya itu.

"Dua kalimat i love you. Satu kalimat kangen. Tiga kali permintaan maaf. Lu serius mau gontok-gontokkan sama cowok dari surga impian begini, Han?" tanya Na.

Hana mendengus sebal.

"Terus gue harus gimana?"

"Kasih tahu gue dulu ini sebenarnya ada apa," ujar Na.

Hana diam. Mana mungkin dia bilang pada Na kalau Reiga bisa lihat masa depan kan. Juga tidak mungkin mengatakan kalau kemungkinan besar ending hubungan Hana dan Reiga tidak seperti yang diharapkan Hana.

"Kan udah gue kasih tahu diawal, Nyet! Reiga nggak percaya cinta sejati. Kita ribut. Awal mengapa bisa sampai ke cinta sejati gue juga lupa," jawab Hana sekenanya.

Masa bodo Na bakal percaya atau enggak. Namun reaksi Na sungguh hillarius. Sahabatnya itu melongo tak percaya. Lalu berakhir dengan tawa berderai.

"Heh! Nggak sopan!" sewot Hana.

"Ini seriusan???????" Na ingin meyakinkan dirinya sekali lagi.

"Iyaaa. Pokoknya semalam gue kesel banget sama Reiga! Bukannya bujuk gue, malah diammmmm aja. Kan gue jadi semakin ..."

"Bego?" potong Na meledek Hana.

Hana mencibir.

"Cuih!" sebal Hana yang mengundang tawa Na kembali menggelegar.

Hana mendengus.

Kedua matanya menyipit.

"Si anjir malah ketawain gue!" sebal Hana.

Na masih terbahak sampai memegang perutnya.

"Solusi mana solusi!? Jangan ketawa aja lu, Nyet! Kontribusi sedikit kek! Es kopi gue udah tinggal setengah nih lo sedotin mulu dari tadi," sindir Hana yang ternyata menyadari sejak tadi es kopinya disedot oleh Na.

Si pelaku penyedotan es kopi tanpa izin cuma bisa nyengir.

"Ya apa susahnya sih! Tinggal buat Reiga percaya cinta sejati kan?" celetuk Na bagai sebuah hikmah di kajian subuh.

Hana bengong.

"Hah?"

"Hah heh hoh. Hah heh hoh!" gemas Na.

"Lo sayang Mas Ayang lo ini kan, Han?"

"Iya."

Na kembali mencengkram dua lengan Hana kuat seperti awal kedatangannya. Matanya menatap Hana lekat.

"Mana tekad lu!?" seru Na.

Hana terhenyak.

"Lu pernah segila itu berjuang buat si kampret Arnold yang jelas-jelas cintanya sama Lana. Dan perjuangan lu buat si kampret nggak main-main, Nyet!!!!! Empat tahun! Empat tahun seorang Adrianne Hana berjuang sampai titik darah penghabisan meski hasilnya nol!"

Hana menyipitkan mata sebal.

"Sial!" umpatnya pelan yang ditanggapi Na dengan cengiran.

"Nah sekarang! Ini laki! Yang dari isi pesannya aja jelas-jelas bucin menjurus mampus sama lu, eh malah lu blok! Dan bahkan setelah dipesan pertama Mas Ayang bucin nggak ketulungan ini tahu nomornya diblok sama pujaan hati gendeng kurang bersyukurnya, dia tetap mengirim pesan selanjutnya! Lu analisis deh omongan gue sama bukti valid yang kita dapat! Sungguh bego kalau lu nggak memperjuangkan Mas Ayang!"

Na akhirnya selesai mengucapkan orasi.

Hana diam sebelum akhirnya berkata, "Lu ada benarnya sih, Nyet!"

"Bukan ada! Tapi emang gue benar-sebenarnya!" sombong Na.

"Dih! Tengil!" sahut Hana.

Na terkekeh.

Hana menghela napas. "Reiga nggak percaya cinta dan itu berarti tugas lo untuk membuat dia percaya kalau cinta sejati itu ada, Nyet! Sesederhana itu! Kenapa lu harus pusing??? Sampai ngomel nggak jelas! Blok nomor anak orang pula!?"

Hana merenung. Si pemilik nama depan Rayadinata ini ada benarnya juga.

"Pilih kasih lu!" sembur Na lagi.

"Atau emang sebenarnya lu lebih cinta Arnold daripada Reiga, Nyet?" tuduh Na belum mau berhenti mendesak Hana.

"Ya enggaklah!" sangkal Hana cepat dengan muka galak.

Na terkekeh, lalu menyedot es kopi Hana lagi.

Na. "Terus apalagi yang lu ragukan, Hana???" gemas

Na benar. Kenapa dia marah? Jika memang dalam penglihatan masa depan yang Reiga lihat mereka akan putus, maka Hana tinggal melakukan segala cara untuk mengubah ending tidak enak itu kan? Putus, bukanlah takdir yang tidak bisa diubah.

Iya!

Hana pernah sekeras kepala itu untuk Arnold yang jelas-jelas tidak mencintainya. Lalu kenapa untuk Reiga yang jelas-jelas sayang sama dia, Hana menyerah dengan mudah!? Tekad itu perlahan muncul dalam diri Hana. Persis seperti Monkey D. Luffy yang bertekad akan menjadi raja bajak laut dan menemukan one piece yang konon katanya berada di pulau terakhir. Entah benar atau tidak kebenaran harta karun itu! Luffy tidak meragu, maju terus, memang tidak mudah, tapi kesenangan dan kebahagiaan yang didapatnya pun bukan sembarang kebahagiaan.

Hana juga akan melakukannya. Ia akan menemukan one piece miliknya sendiri dalam bentuk kembalinya kepercayaan cinta sejati Reiga Reishard. Ya. Sama seperti Luffy. Tantangan seperti apapun akan Hana hadapi. Dia pernah menjadi lulusan terbaik dari Harvard Medical School yang tingkat penerimaan mahasiswa barunya hanya 3,5 persen dari ribuan jumlah pelamar di seluruh dunia.

Kenapa menghadapi trauma Reiga saja takut?

Dan Na juga benar!

Takut tidaklah cocok untuk karakter Hana.

Lagipula, bukankah ini saatnya ia membuktikan pada Reiga bahwa cinta sejati itu ada? Bahwa tidak masalah untuk percaya. Patah hati adalah bagian dari siklus kehidupan yang tidak seharusnya jadi pemutus sebuah perasaan bernama cinta. Hanya karena beberapa oknum keji tak bertanggung jawab.

Ya.

Hana sudah memutuskannya. Reiga tidak perlu tahu. Hana akan melakukan apapun untuk memanipulasi manusia super yang tengah dipacarinya itu. Berbekal bakat akting dan otak pintarnya. Hana akan membuat Reiga percaya cinta sejati secara sukarela. Bukan atas pintanya.

"Dari muka lu kayaknya lu udah sadar ya, Nyet?"

tanya Na sambil menyunggingkan senyum.

Bibir Hana tersenyum lebar. Matanya bersinar nyaris berkilat.

"Lu benar, Na. Kenapa gue pusing dan ribet banget ye?" gumam Hana seraya menyeruput es kopi-nya yang sekuat apapun dia menyedotnya, tak ada es kopi yang tersedot. Hana mengangkat cup es kopi miliknya.

Habis.

Hana bengong. Na tergelak hebat. "Si Anjir! Es kopi gue diabisin!!!" pekik Hana dengan muka tidak terima kearah Na

Derma berdiri menyambut Mama-nya yang baru keluar kamar. Ia tersenyum lalu salim dan memeluk erat Eyang Uti.

"Ke sini mulu?" sindir Eyang Uti.

Derma terkekeh.

"Iya nih. Ikutin jejaknya Mas Denis. Ternyata capek juga ya," jawab Derma.

Eyang Uti tertawa.

"Apa ini masih Derma Soediro anak Mama yang paling nggak suka repot?" ledek Eyang Uti.

"Masih, Mah. Cuma sekarang lebih beradab aja," jawab Derma sambil senyum.

Derma merangkul Mama-nya.

"Mbok Minjo bilang Mama lagi nggak nafsu makan. Mau makan di mana? Yuk, Derma anterin," ucap Derma.

Eyang Uti memandangi anak bungsunya yang selalu manis meski jiwa pemberontaknya paling besar di antara kedua kakaknya.

"Mama nggak apa-apa, De," ucap Eyang Uti yang tahu betul alasan Derma bolak-balik ke rumah ini meski lelah sehabis praktek.

"Kalau nggak apa-apa kok males makan? Mas Devan ya? Biar Derma yang tegur," ucapnya.

Eyang Uti tak mengiyakan ataupun menjawab.

"Mama yang salah," ucapnya.

"Mah," Derma seakan ingin menghentikan apa yang akan diucapkan Mama-nya.

"Keheningan keluarga ini memang salah Mama, De," ucapnya dengan mata yang sudah berkaca.

Derma memeluk Eyang Uti dari samping.

"Ini takdir yang harus keluarga ini jalani, Mah.

Bukan salah siapa-siapa. Hana hanya butuh waktu.

Dia cucu Mama yang paling manis, paling sopan, paling peduli dan perhatian. Just give her a little bit more time. Derma yakin, tawa anak itu akan kembali ke rumah ini," ucap Derma.

Eyang Uti tersenyum kecil.

"Kebencian Hana adalah karma yang harus Mama tanggung."

"Nggak boleh ngomong gitu, Mah," sergah Derma.

Mereka bertatapan.

"Beberapa hari yang lalu, Mas-mu datang lagi ke dalam mimpi Mama ..."

"Mas Denis, "gumam Derma dalam hati.

"Nggak bilang apa-apa. Hanya menitipkan anak istrinya."

"See? Mas Denis aja nggak membenci Mama," ucap Derma menghibur Mama-nya.

Eyang Uti terkekeh. Lalu memeluk Derma.

"Kalau Mas Devan? Ada ke sini nggak? Derma dapat omongan nggak enak dari teman satu RS-nya Mas Devan," selidik Derma.

"Hmm,"

Eyang Uti mengiyakan.

"Kenapa sih dia? Dari dulu suka banget maksain anaknya. Kalau Lana sukanya sama yang lain memangnya kenapa ya, Mah," ujar Derma.

Eyang Uti terkekeh.

"Iya. Beda banget sama Mas-mu yang satunya.

Anaknya nggak koas aja malah dirayakan dengan dinner syukuran," ujar Eyang Uti dengan ekspresi hilarius yang membuat Derma tertawa.

"Iya ya," sahutnya.

Mereka kembali tertawa. Derma meraih Eyang Uti dalam peluknya lalu dikecup keningnya.

"Emangnya Mas-mu digosipkan apa?"

"Menyogok tim seleksi dokter kepresidenan, karena sadar nggak akan pernah dapat dukungan Rahardian," jawab Derma.

"Ambisinya itu turunan siapa ya, De?"

"Bukannya Mama?" ledek Derma.

"Sembarangan!" dalih Eyang Uti sambil tertawa.

"Terus kamu nggak ikut marah juga sama Mama karena Reiga pilih Hana?" tanya meledek Eyang Uti.

Derma tersenyum.

"Tergantung, Mah."

"Tergantung apa?"

"Reiga tuh orangnya gimana? Playboy nggak? Bertanggung jawab nggak? Serius nggak sama Hana? Kalau dia memang playboy, nggak bertanggung jawab, nggak serius sama Hana, tentu Derma harus marah kan?"

Eyang Uti tersenyum bangga. Terharu melihat Derma dewasa dan semakin bijaksana.

"Kamu sudah berubah ya?"

"Kayak bukan anak Mama," tambah Eyang Uti.

Derma tersenyum tipis. Sesungguhnya ia tidak ingin begini. Kepergian Mas Denis membuatnya menjadi dewasa dan wajib bijaksana. Dua hal yang biasanya ada pada diri kakak keduanya itu. Derma yang biasanya cuek dan tidak mau ambil pusing, kini mau tidak mau harus mengambil alih posisi Denis untuk membuat keluarga ini setidaknya tidak makin hancur.

"Mas Denis udah nggak ada, Mah. Hana jelas juga termasuk tanggung jawab aku sebagai om-nya kan?"

Eyang Uti tertawa.

"Nggak apa-apa nih, nggak jadi besanan sama keluarga Reishard??" ledek Eyang Uti.

"Apa sih, Mah!? Kalau lihat secara kasat mata juga anaknya Derma, si Nana, cucu Mama, belum waktunya married. Dia masih hobi main," ujar Derma.

Eyang Uti kembali tertawa.

"Tahu nggak, Mah? Waktu tahu Hana pacaran sama Reiga. Dia sujud syukur loh! Ampun deh," curhat Derma jengah.

Tawa Eyang Uti makin berderai.

"Dia tuh persis kamu," tukas Eyang Uti.

"Iya sih!" aku Derma sambil nyengir kearah Mama-nya.

"Ternyata aku nyebelin banget ya, Mah," ucap Derma setengah melawak.

Eyang Uti kembali tergelak. Sungguh terhibur dengan kedatangan anak bungsunya sore ini.

"Baru tahu!?" sahut Eyang Uti.

Lalu, pecahlah tawa ibu dan anak itu bersama-sama di ruang keluarga.

1
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!