NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Pagi itu Aira terbangun perlahan, seperti seseorang yang baru saja ditarik kembali dari kedalaman mimpi yang gelap dan berat. Kepalanya masih terasa pening, tubuhnya lemas, dan kelopak matanya seperti enggan terbuka sepenuhnya. Namun ada sesuatu yang mengusiknya—suara.

Suara itu pelan, teredam, seperti percakapan yang terjadi di ujung ruangan. Aira mencoba fokus, meski pandangannya masih buram. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menguceknya dengan pelan. Siluet seseorang mulai terbentuk di hadapannya.

Seorang pria.

Ia berdiri di dekat pintu, mengenakan jas abu-abu. Suaranya terdengar samar, berbicara dengan seorang suster. Kata-katanya tidak sepenuhnya jelas, tetapi Aira bisa menangkap potongan-potongan kalimat yang terasa familiar—tentang biaya rumah sakit, administrasi, dan sesuatu yang terdengar seperti tanggung jawab.

Aira menatapnya lebih lama. Ada sesuatu dalam postur tubuh pria itu, cara ia berdiri, cara ia berbicara... sesuatu yang membuat dada Aira terasa sesak.

Percakapan itu berakhir. Suster yang tadi berbicara dengannya mengangguk, lalu keluar dari ruangan. Pria itu berdiri diam sejenak sebelum akhirnya berbalik.

Dan saat itulah Aira melihat wajahnya dengan jelas.

Bima.

Jantung Aira seperti berhenti berdetak untuk sesaat.

Mata mereka bertemu.

Waktu terasa melambat. Tidak ada suara, tidak ada gerakan, hanya tatapan yang penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan—terlalu banyak emosi yang bercampur menjadi satu.

Namun reaksi Bima justru berbeda dari yang Aira bayangkan.

Begitu menyadari Aira telah membuka mata, wajahnya berubah. Bukan marah, bukan dingin, melainkan... terkejut. Dan tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan berlari keluar dari ruangan.

Langkahnya cepat, seolah ia sedang menghindari sesuatu.

Atau seseorang.

Aira hanya bisa terdiam.

“Apa... yang dia lakukan?” gumamnya pelan.

Kebingungan perlahan berubah menjadi kegelisahan. Pikiran-pikiran yang selama ini ia kubur kembali muncul ke permukaan.

Apakah Bima masih belum puas?

Apakah ini bagian dari balas dendamnya?

Aira menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan dirinya. Namun justru bayangan masa lalu yang muncul. Masa SMA. Masa ketika semuanya terasa sederhana—dan juga rumit di saat yang bersamaan.

Jika saja ia tidak memutuskan hubungan mereka saat itu...

Jika saja mereka tidak pernah bertemu...

Jika saja ia tidak jatuh cinta.

Pintu kamar terbuka kembali, memotong alur pikirannya. Seorang suster masuk dengan langkah ringan, membawa beberapa peralatan medis.

“Selamat pagi, Mbak Aira. Sudah bangun ya,” ucapnya ramah.

Aira mengalihkan pandangannya. “Pagi...”

Suster itu mulai memeriksa kondisi Aira dengan teliti—tekanan darah, suhu tubuh, dan beberapa hal lain. Gerakannya lembut dan profesional, membuat Aira sedikit lebih tenang.

“Hari ini sudah boleh pulang, lho,” kata suster itu sambil tersenyum.

Aira sedikit terkejut. “Hari ini?”

“Iya. Kondisinya sudah cukup stabil.”

Aira mengangguk pelan, lalu ragu sejenak sebelum akhirnya bertanya, “Suster... tadi... ada pria yang bicara dengan suster di sini, kan?”

Suster itu berhenti sejenak, lalu menoleh dengan ekspresi bingung. “Pria?”

“Iya. Dia pakai jas abu-abu. Tadi ngobrol soal biaya rumah sakit.”

Suster itu mengerutkan keningnya, lalu tersenyum kecil. “Maaf, Mbak. Saya baru masuk ke ruangan ini. Belum sempat ke sini sebelumnya.”

Aira terdiam.

“Tidak mungkin...” bisiknya.

Suster itu mendekat sedikit, nada suaranya berubah lebih lembut. “Kadang pasien yang baru sadar memang bisa mengalami halusinasi ringan. Apalagi kalau masih lemah.”

Aira menggeleng cepat. “Bukan halusinasi. Saya benar-benar melihatnya.”

Suster itu tersenyum tipis, sedikit menggoda. “Bisa jadi itu orang yang Mbak rindukan.”

Aira langsung menggeleng lebih keras.

“Tidak,” jawabnya tegas. “Dia bukan orang yang saya rindukan.”

“Lalu?”

Aira menatap kosong ke depan. “Orang yang paling membenci saya.”

Suster itu tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia hanya tersenyum samar, lalu membantu Aira bangun dari tempat tidur.

“Yuk, kita ganti baju dulu supaya lebih nyaman,” katanya lembut.

Aira mengangguk.

Dengan hati-hati, suster itu membantu Aira mengenakan pakaian yang lebih layak untuk pulang. Sentuhannya ringan dan penuh perhatian, seolah memahami bahwa pasien di hadapannya bukan hanya butuh perawatan fisik, tetapi juga ketenangan.

Setelah selesai, suster itu duduk di kursi kecil di samping tempat tidur.

“Mbak Aira sekolah di mana?” tanyanya santai.

Aira tersenyum kecil. Pertanyaan yang sudah terlalu sering ia dengar.

“Saya tidak sekolah lagi,” jawabnya.

Suster itu tampak bingung. “Lho? Maksudnya?”

“Saya sudah umur 27 tahun.”

Suster itu langsung membelalak. “Serius?”

Aira tertawa pelan. “Serius.”

“Wah, saya kira masih anak SMA.”

“Sudah biasa,” kata Aira santai. “Mungkin ini satu-satunya kelebihan saya—terlihat selalu muda.”

Suster itu ikut tertawa kecil. “Kalau begitu saya harus belajar dari Mbak.”

Suasana di ruangan itu sempat terasa ringan, seolah semua yang terjadi sebelumnya hanya bayangan yang tidak nyata.

Namun tepat pukul sepuluh pagi, pintu kamar kembali terbuka.

Seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah tergesa—ibunya. Di belakangnya, menyusul seorang wanita lain yang tak kalah cemas—bibinya.

“Aira!” seru ibunya, suaranya bergetar.

Aira tersenyum tipis. “Bu...”

Ibunya langsung mendekat dan memeluknya erat. “Kamu bikin Ibu khawatir sekali.”

“Aira tidak apa-apa sekarang,” jawabnya pelan.

Bibinya ikut mendekat, menatap Aira dengan mata penuh kekhawatiran. “Kamu benar-benar sudah membaik?”

“Iya, Bi.”

Ibunya mengusap pipi Aira. “Kita pulang, ya. Ibu sudah siapkan semuanya.”

Namun Aira menggeleng.

“Saya tidak mau pulang ke rumah, Bu.”

Ibunya terdiam. “Lalu kamu mau ke mana?”

“Saya ingin kembali ke kost. Saya mau cari kerja lagi.”

Wajah ibunya langsung berubah. “Setelah semua yang terjadi?”

Aira menunduk sebentar, lalu berkata, “Itu hanya kebetulan buruk. Di tempat kerja sebelumnya, atasan saya baik-baik saja.”

Bibinya menyela, suaranya lebih tegas. “Kalau begitu kamu tinggal di rumah Bibi saja.”

Aira menatapnya. “Bi...”

“Bibi tidak tenang kalau kamu sendirian,” lanjutnya. “Setelah apa yang kamu lakukan...”

Kalimat itu menggantung, tetapi maknanya jelas.

Aira terdiam.

Kenekatannya beberapa waktu lalu—mengiris pergelangan tangannya—masih menjadi bayangan yang menakutkan bagi mereka.

“Aira sudah sadar, Bi,” katanya akhirnya. “Hidup Aira lebih berarti dari itu. Aira tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi.”

Ibunya menatapnya lama. “Ibu ingin percaya... tapi tetap saja khawatir.”

“Makanya,” tambah bibinya, “tinggal saja di rumah Bibi. Tidak perlu sendiri.”

Perdebatan kecil pun terjadi. Aira mencoba mempertahankan keinginannya, sementara ibu dan bibinya bersikeras dengan kekhawatiran mereka.

Akhirnya, setelah beberapa saat, Aira menghela napas panjang.

“Baiklah,” katanya pelan. “Aira akan tinggal di rumah Bibi.”

Ibunya langsung tersenyum lega. “Terima kasih.”

Bibinya juga tampak lebih tenang. “Itu keputusan yang baik.”

Setelah semuanya siap, mereka pun bersiap untuk pulang. Aira duduk di kursi roda sementara ibunya mendorongnya keluar kamar.

Langkah mereka berhenti di bagian kasir.

Ibunya mendekat ke loket. “Kami ingin menyelesaikan pembayaran atas nama Aira.”

Petugas kasir memeriksa data di komputer, lalu mengangkat kepala.

“Sudah lunas, Bu.”

Ibunya terkejut. “Sudah dibayar?”

“Iya.”

“Siapa yang membayar?”

Petugas itu menggeleng. “Tidak ada nama khusus. Di sistem tertulis ditanggung BPJS.”

Aira yang mendengar itu ikut mengernyit.

“Tapi ini bukan kamar BPJS biasa,” kata bibinya.

Petugas itu tampak ragu. “Memang... seharusnya tidak termasuk. Tapi di sistem sudah tercatat seperti itu.”

Mereka saling berpandangan.

Kebingungan semakin terasa.

Aira terdiam, pikirannya kembali berputar.

Jas abu-abu.

Percakapan dengan suster.

Dan wajah itu.

Bima.

Jika itu bukan halusinasi...

Lalu siapa yang sebenarnya membayar semua ini?

Aira menatap kosong ke depan, sementara satu pertanyaan terus bergema di dalam benaknya—

Apakah Bima benar-benar datang... dan memilih pergi tanpa meninggalkan jejak?

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!