Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Udara malam di luar restoran The Obsidian terasa menusuk tulang, namun hawa panas yang membakar dada Catherina jauh lebih hebat. Langkah kakinya yang menggunakan stiletto tujuh sentimeter terdengar menghentak di atas aspal area parkir VIP yang mulai sepi. Di belakangnya, Adrian berjalan dengan santai, tangannya dimasukkan ke saku celana seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre, bukan baru saja menghancurkan martabat istrinya.
Julie sudah lebih dulu menghilang, pamit pulang dengan taksi setelah Adrian memberinya "bisikan perpisahan" yang terlalu lama di lobi tadi.
Catherina tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat di samping mobil sedan mewah mereka. Ia berbalik, matanya menyala dalam kegelapan parkiran yang hanya diterangi lampu merkuri remang-remang.
"Kau gila, Adrian?" Suara Catherina bergetar, bukan karena dingin, tapi karena kemarahan yang sudah mencapai puncaknya. "Sepanjang makan malam tadi... apa kau benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak mencumbu kekasihmu itu?"
Adrian menghentikan langkahnya, menatap Catherina dengan pandangan malas. "Apa yang kau bicarakan, Cathe? Kau terlalu sensitif. Aku hanya bekerja."
"Bekerja?" Catherina tertawa getir, suara tawanya terdengar menyedihkan di tengah kesunyian malam. "Kau kira aku bodoh? Kalian keluar bersamaan dengan alasan yang dibuat-buat, dan kembali dengan noda lipstik di wajahnya serta jasmu yang berantakan! Apa kau tidak punya rasa malu? Melakukan hal gila itu di saat istrimu duduk hanya beberapa meter dari sana?"
Catherina melangkah maju, menunjuk dada Adrian dengan jari yang gemetar. "Kau tidak cukup melakukannya di kantormu? Kau harus meneruskannya hingga ke tempat umum seperti ini? Di depan kolega bisnis sekelas Everest Cavanaught?"
Adrian terdiam sejenak. Alih-alih merasa bersalah, sebuah seringai perlahan muncul di sudut bibirnya. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Catherina bisa mencium aroma anggur dan parfum wanita lain yang menempel di kerah baju suaminya.
"Kau ingin tahu jawabannya, Sayang?" bisik Adrian, suaranya rendah dan penuh intimidasi. "Kami suka adrenalin yang kuat, Cathe. Semakin menantang tempatnya, semakin liar hasrat kami. Melakukannya di kantor sudah biasa. Tapi melakukannya di tempat di mana kau bisa memergoki kami kapan saja? Itu memberikan sensasi yang tidak bisa kau berikan selama pernikahan ini."
Deg.
Jantung Catherina seolah berhenti berdetak. Ia merasa dunianya berputar. Pengakuan itu lebih menyakitkan daripada tamparan fisik mana pun. Adrian tidak hanya berselingkuh; dia menikmati proses menyakiti Catherina. Dia menikmati penghinaan itu sebagai bumbu gairahnya dengan wanita lain.
"Kau... kau monster," bisik Catherina parau.
"Aku? Monster?" Adrian tertawa, kali ini lebih keras. "Lihat dirimu, Catherina. Kau duduk di sana dengan wajah suci, tapi kau hamil anak pria lain saat kita baru menikah sebulan. Kau pikir aku tidak tahu alasanmu menangis di rumah sakit tadi pagi? Kau menangis karena melihat wajah anak itu yang setiap hari semakin mirip dengan bajingan Cavanaught itu!"
"Adrian, cukup! Liam adalah anakmu!"
"Hentikan drama itu!" bentak Adrian, membuat suasana parkiran semakin mencekam. "Aku memberimu nama Mettond, aku memberimu kemewahan, dan aku memberimu perlindungan dari rasa malumu. Jadi, jangan pernah mengatur dengan siapa aku tidur atau di mana aku melakukannya. Tugasmu hanya satu, tetaplah menjadi pajangan yang cantik dan jangan membuat masalah di depan kolegaku."
Adrian membuka pintu mobil dengan kasar. "Masuk. Liam mungkin sudah membangunkan seisi rumah dengan tangisannya yang berisik itu. Aku tidak mau pulang dan mendengar suara bayi lagi."
Catherina berdiri terpaku. Ia menatap mobil itu seolah-olah itu adalah peti mati yang siap menguburnya hidup-hidup. Rasa mual yang sejak tadi ia tahan kini memuncak. Ia teringat tatapan Everest di dalam restoran tadi—tatapan yang seolah sudah tahu segalanya. Apakah Everest tahu betapa rendahnya Adrian memperlakukannya? Apakah itu sebabnya Everest menghinanya dengan kata-kata 'wanita rusak'?
Dengan sisa kekuatan yang ada, Catherina masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan pulang, tak ada kata yang terucap. Adrian sibuk dengan ponselnya, kemungkinan besar mengirim pesan pada Julie, sementara Catherina menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang buram oleh air mata.
Sesampainya di rumah, Adrian langsung menuju kamar tamu di lantai bawah, mengabaikan Catherina sepenuhnya. Catherina berlari kecil menaiki tangga menuju kamar bayi. Di sana, Liam sedang digendong oleh pengasuhnya, tampak gelisah namun tidak menangis kencang.
"Berikan padaku," ujar Catherina, mengambil alih Liam.
Begitu bayi itu berada di pelukannya, pertahanan Catherina runtuh. Ia duduk di kursi goyang di sudut kamar, memeluk Liam erat-erat. Ia menciumi puncak kepala bayinya, menghirup aroma bedak bayi yang menenangkan.
"Maafkan Ibu, Liam... Maafkan Ibu karena membawamu ke keluarga ini," bisik Catherina terisak.
Ia menatap wajah Liam di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Bayangan Everest kembali muncul. Rahang itu, bentuk telinga itu... Catherina memejamkan mata. Jika benar adrenalin adalah apa yang diinginkan Adrian, maka Catherina menyadari bahwa hidupnya sekarang adalah sebuah sirkuit mematikan.
Ia harus membuat keputusan. Bertahan dalam neraka yang diciptakan Adrian demi status dan keamanan Liam, atau mencari tahu kebenaran tentang malam-malam terakhirnya di Los Angeles yang mungkin akan menghancurkan segalanya.
Namun, satu hal yang pasti: Catherina tidak akan lagi menjadi pajangan yang diam. Jika Adrian menginginkan permainan yang liar, maka Catherina akan memberikan perlawanan yang tidak pernah dibayangkan oleh pria itu. Karena di balik wajah cantiknya yang sempurna, ada seorang ibu yang siap melakukan apa saja untuk melindungi anaknya, bahkan jika ia harus kembali masuk ke dalam pelukan badai bernama Everest Cavanaught.