Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara Rok?
Pagi itu, rumah keluarga Ardiansyah sudah ramai sejak subuh. Mama Zidan, yang sekarang juga jadi Mama Shakira, sibuk menyiapkan sarapan di meja makan. Sementara di lantai atas, Shakira sedang bergelut dengan lemari pakaiannya. Ini adalah pagi pertamanya sebagai "istri Zidan", dan dia masih merasa semuanya sangat aneh.
Setelah menimbang-nimbang, Shakira akhirnya menjatuhkan pilihan pada blus berwarna pastel dengan potongan lengan balon yang manis, dipadukan dengan rok span hitam yang panjangnya pas selutut. Shakira menatap pantulan dirinya di cermin. Dia terlihat rapi, sopan, dan chic—gaya khasnya ke kampus kalau ada presentasi penting. Hari ini memang bukan presentasi, tapi dia harus bertemu dosen pembimbingnya untuk revisi laporan, jadi kesan rapi itu perlu.
Dia merapikan sedikit poni rambutnya, lalu menyambar tas kuliah dan bundel laporan yang sudah dicetak. Suara gaduh dari bawah terdengar jelas, pertanda Papa Zidan dan Papa Shakira sudah bangun dan sedang asyik mengobrol. Semoga Papa segera pulang, batin Shakira. Kalau Papanya masih ada di sini, dia tidak bisa terang-terangan bersikap judes pada Zidan di depan umum.
Shakira mulai berjalan menuruni tangga kayu dengan santai. Di ruang tamu, di meja makan yang terlihat jelas dari tangga, Zidan duduk berhadapan dengan Papa-nya, Ardiansyah, dan Papanya sendiri, Surya. Zidan masih memakai kemeja flanel kotak-kotak yang dipadukan dengan celana jins, khas gaya 'mekanik' yang mau ke bengkel tapi masih sempat bergaya.
Suara langkah kaki Shakira membuat percakapan terhenti. Ketiga pria itu menoleh serempak ke arah tangga. Papa Ardi dan Papa Surya tersenyum ramah, tapi Zidan... tatapannya berubah drastis. Dia tidak lagi tersenyum tengil. Matanya menyipit, meneliti penampilan Shakira dari ujung kepala sampai... lutut. Tatapannya tertuju pada bagian kaki Shakira yang terekspos karena roknya yang selutut.
Shakira merasa tidak nyaman. Dia mempercepat langkahnya, mencoba mengabaikan tatapan Zidan, dan langsung menuju ke arah Papa Surya untuk mencium tangannya. "Pagi, Pa," sapa Shakira, suaranya diusahakan selembut mungkin, kontras dengan kekesalannya dalam hati.
"Pagi, Sayang. Wah, rapi banget menantu Papa hari ini," puji Papa Ardiansyah tulus.
Shakira memaksakan senyum tipis. Saat dia berbalik untuk duduk di kursi kosong di samping Papa Surya, dia mendapati Zidan masih menatapnya dengan pandangan... menilai? Dan sepertinya dia tidak suka.
"Apa liat-liat?" tanya Shakira ketus, suaranya rendah tapi cukup tajam untuk telinga Zidan. Dia sengaja tidak menatap mata Zidan, fokus menuangkan air putih ke gelasnya.
Zidan tidak menjawab dengan kata-kata. Dia berdiri dari kursinya, berjalan mendekat ke arah Shakira, dan berdiri tepat di sampingnya. Dia menundukkan kepala sedikit agar wajahnya sejajar dengan Shakira.
"Ganti," ucap Zidan pendek, suaranya datar dan serius, sangat jarang Zidan berbicara seperti ini.
Shakira mendongak, matanya membelalak kaget. "Apa sih? Enggak." Dia menggeleng kuat. "Nanti telat. Aku harus ketemu Pak Kusuma jam sembilan. Ini udah setengah delapan."
"Aku bilang ganti, Sayang," Zidan menekankan kata 'sayang', tapi nadanya sama sekali tidak romantis. Ada nada kepemilikan dan... cemburu yang kental di sana. "Atau mau aku gantiin?"
Wajah Shakira mendadak panas. Antara marah, malu, dan kaget mendengar ucapan Zidan yang super nekat itu. Berani-beraninya dia ngomong begitu di depan Papa mereka berdua!
"Zidan! Gila kamu ya?" desis Shakira pelan, suaranya bergetar menahan emosi. Dia melirik kedua Papanya dengan panik, beruntung mereka berdua tampaknya sibuk mengobrol lagi dan tidak menyadari drama kecil ini. "Apanya yang diganti sih? Nggak jelas banget."
"Rok kamu," jawab Zidan, tatapannya beralih ke rok span hitam yang dikenakan Shakira. "Ganti yang lebih panjang. Atau pakai celana. Rok itu kependekan."
Shakira melepaskan napas panjang, mendengus frustrasi. "Kependekan apanya sih? Ini pas di lutut, Zidan! Standar pakaian kampus. Nggak ada yang aneh. Semua temanku juga pakai kayak gini."
"Teman kamu bukan istri aku," Zidan membalas cepat, tatapannya tidak goyah. "Sekarang kamu istri aku. Dan aku nggak suka kamu keluar rumah pakai rok kayak gini. Ganti sekarang."
"Nggak, ah!" Shakira bangkit berdiri, rasa kesalnya sudah memuncak. "Udah, gue mau sarapan." Dia sengaja menggunakan 'gue' di depan Papa Ardiansyah untuk menunjukkan penolakannya.
"Zidan, ada apa ini?" tanya Papa Ardiansyah yang akhirnya menyadari ketegangan antara menantu dan anaknya. "Kenapa Shakira jadi mau pergi begitu aja?"
Shakira tersenyum canggung ke arah mertuanya. "Oh, nggak apa-apa, Pa. Zidan... Zidan cuma... cuma becanda."
Zidan mendengus. "Becanda dari mana. Ra, aku serius. Ganti."
"Nggak! Gue telat, Zidan! Lo ngerti nggak sih?" Shakira mulai menaikkan nadanya. Dia benar-benar frustrasi sekarang.
Papa Surya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Shakira, panggilnya yang sopan sama suaminya."
Zidan hanya diam. Dia menatap Shakira sejenak, lalu tanpa sepatah kata pun, dia berbalik dan berjalan cepat menaiki tangga. Shakira menatap punggung Zidan yang menjauh dengan tatapan bingung sekaligus lega. Bagus, akhirnya dia nyerah, pikirnya.
"Maaf ya, Pa. Zidan emang kadang aneh pagi-pagi," kata Shakira mencoba mencairkan suasana.
Mama Zidan datang dari dapur membawa piring berisi nasi goreng. "Udah, udah, ayo sarapan dulu. Itu Zidan mau ke mana lagi sih?"
"Palingan galau gara-gara gak diturutin permintaannya, Ma," celetuk Shakira acal-acalan, sambil mengambil piring dan sendok.
Baru saja Shakira hendak menyendok nasi goreng ke piringnya, terdengar suara langkah kaki cepat menuruni tangga. Itu Zidan. Dia berjalan dengan tatapan yang sama seriusnya seperti tadi. Dan di tangannya... ada sebuah celana jins panjang berwarna gelap.
Zidan berjalan lurus ke arah Shakira yang masih berdiri di dekat meja makan. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi langsung menyodorkan celana jins itu ke hadapan Shakira, tepat di depan Papa Ardi dan Papa Surya.
Shakira membeku. Dia menatap celana jins itu, lalu menatap Zidan dengan pandangan tidak percaya. "Zidan, apaan sih ini?" desis Shakira, suaranya tertahan di tenggorokan.
"Celana panjang," jawab Zidan pendek, suaranya datar. "Ini jins aku yang lama, tapi masih bersih. Kamu bisa pakai ini. Ganti roknya."
"Zidan, kamu kenapa?" tanya Papa Ardi, matanya beralih dari Zidan ke celana di tangannya, lalu ke rok Shakira. "Kenapa kamu maksa Shakira ganti celana?"
Zidan melirik Papanya sekilas, lalu kembali menatap Shakira. "Rok Shakira kependekan, Pa. Aku nggak suka."
"Kependekan apanya, Zidan?" bela Papa Ardiansyah. "Itu rok sopan kok. Pas di lutut. Kamu jangan berlebihan."
Zidan tidak bergeming. Dia menatap Shakira dalam-dalam, tatapannya kali ini terasa lebih... intens. "Terserah apa kata Papa. Tapi aku yang punya hak buat ngatur penampilan istri aku. Dan aku nggak mau kamu keluar pakai rok ini. Jadi, ganti. Atau nggak usah pergi ke kampus."
Shakira menahan napas. Ucapan Zidan yang terakhir terasa seperti ancaman nyata. "Zidan, ini demi revisi laporanku! Kalau aku nggak pergi, laporanku nggak bakal selesai! Lo mau tanggung jawab kalau gue nggak lulus semester ini?"
"Tanggung jawab aku sekarang adalah jaga kamu, Ra. Termasuk dari pandangan mata cowok-cowok di kampus kamu yang bakal ngeliatin kaki kamu kalau kamu pakai rok kayak gini," Zidan membalas dengan nada yang sangat serius, membuat Shakira tersentak.
Mama Zidan akhirnya menengahi. "Zidan, udah, udah. Shakira rapi kok. Nanti dia telat kalau ganti."
"Ma, ini bukan soal telat atau nggak," kata Zidan keras, membuat seisi ruangan terdiam. "Ini soal aku yang nggak suka istri aku jadi pusat perhatian karena pakaiannya. Dan aku udah bawa celana gantinya."
Shakira menatap celana jins di tangan Zidan dengan rasa kesal yang sudah di ubun-ubun. Dia ingin sekali berteriak, memaki-maki Zidan, dan bilang kalau dia bukan barang yang bisa diatur-atur. Tapi, dia ingat Papanya masih ada di sini. Dia nggak bisa mempermalukan Papanya.
Dia menatap Zidan, lalu beralih menatap Papa Surya. Papanya hanya diam, menundukkan kepala, sepertinya tidak ingin ikut campur. Shakira melepaskan napas panjang, menahan air mata yang mulai mengenang di sudut matanya.
"Iya, iya! Puas sekarang?" desis Shakira ketus, sambil merenggut celana jins di tangan Zidan. "Udah ah, gue mau ganti. Puas!"
Shakira berbalik dengan kasar, berjalan cepat menaiki tangga tanpa menoleh lagi. Zidan menatap punggung Shakira yang menjauh, lalu menghela napas panjang dan kembali duduk di kursinya. Dia mengusap wajahnya dengan gusar.
"Zidan," kata Papa Ardi dengan nada menegur, "kamu jangan terlalu posesif sama Shakira. Dia bukan anak kecil."
Zidan menundukkan kepalanya. "Aku tahu, Pa. Tapi aku... aku cuma nggak suka."
Di kamar mandi, Shakira mengganti roknya dengan celana jins milik Zidan. Celana itu sedikit kedodoran di pinggang, tapi setidaknya lebih panjang daripada roknya tadi. Dia menatap pantulan dirinya di cermin, matanya merah menahan amarah. Gila, Zidan itu benar-benar gila, batinnya kesal. Baru satu hari jadi suami, udah berani ngatur-ngatur kayak gini. Gimana nanti?
Dia mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. Dia harus ke kampus, apapun yang terjadi. Dia nggak bisa membiarkan Zidan mengacaukan masa depannya. Dia merapikan blusnya, lalu keluar dari kamar mandi dan kembali menuruni tangga dengan langkah cepat.
Di ruang tamu, Zidan masih duduk di kursi, wajahnya masih datar. Dia menoleh saat Shakira turun. Matanya meneliti celana jins di tubuh Shakira, lalu dia mengangguk pelan. "Lebih baik," ucapnya.
Shakira tidak menjawab. Dia langsung menuju ke arah Papa Surya dan mencium tangannya. "Pa, Shakira pamit ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Hati-hati di jalan ya," kata Papa Surya, suaranya lembut.
Shakira berbalik dan berjalan menuju pintu. Dia tidak mempedulikan Zidan yang mengikutinya dari belakang.
"Ra," panggil Zidan saat mereka sudah di depan pintu.
Shakira berbalik dengan ketus. "Apa lagi? Mau ngatur apa lagi?"
Zidan tersenyum tipis, sorot matanya kembali tengil. Dia berjalan mendekat ke arah Shakira. "Jangan lupa sarapan, Istriku yang galak. Dan inget, jangan lewat garis khatulistiwa kalau aku lagi tidur."
"Bodo amat!" sahut Shakira ketus, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju mobilnya.
Zidan tertawa kecil, menatap punggung Shakira yang menjauh. Di balik kekesalannya, dia tahu kalau Shakira sebenarnya terpaksa menuruti permintaannya. Dan itu, entah kenapa, membuatnya merasa sedikit... puas. Dia tahu kalau dia sudah berlebihan, tapi dia juga tahu kalau dia tidak akan pernah bisa membiarkan istri kesayangannya itu jadi pusat perhatian cowok lain. Dia akan terus mencoba, dengan caranya sendiri yang tengil, untuk menaklukkan hati Shakira Naomi, istri pasutri amatirnya.
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo