NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Sinar Pucat di Ujung Dermaga

​Fajar baru saja pecah di cakrawala laut utara, menyemburkan warna jingga pucat yang beradu dengan sisa-sisa kelabu sisa badai semalam. Cahaya itu menyelinap masuk melalui celah-celah kayu gudang nelayan yang lapuk, menciptakan garis-garis cahaya yang membelah kegelapan ruangan. Udara pagi terasa menggigit, membawa aroma garam yang tajam dan bau amis jaring ikan yang lembap.

​Aku duduk di lantai semen yang dingin, punggungku bersandar pada tumpukan palet kayu. Di pangkuanku, laptop perak itu masih menyala redup, menampilkan barisan data yang telah mengubah hidupku selamanya dalam semalam. Namun, mataku tidak lagi menatap layar. Pandanganku terkunci pada Devan.

​Ia terbaring di atas tumpukan jaring nelayan yang kususun sedemikian rupa agar menjadi alas tidur yang layak. Napasnya terdengar pendek dan berat. Wajahnya yang biasanya memancarkan kekerasan dan kewaspadaan, kini terlihat sangat rapuh di bawah pendaran cahaya pagi. Perban darurat yang kubebatkan di lengan kirinya semalam kini dipenuhi noda merah kecokelatan yang melebar—sebuah peringatan bisu bahwa peluru yang menyerempetnya telah meninggalkan jejak yang lebih dalam dari yang ia akui.

​"Van..." bisikku pelan.

​Tidak ada jawaban. Hanya ada suara deburan ombak yang menghantam beton pemecah ombak di luar sana, terdengar ritmis seperti detak jantung bumi yang sedang lelah.

​Aku mengulurkan tangan, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh keningnya. Panas. Kulitnya terasa terbakar. Kepanikan yang sempat kuredam sejak keberhasilan di bandara tadi kembali merayap naik, mencengkeram kerongkonganku. Ia mengalami infeksi. Adrenalin yang menopangnya selama pelarian tadi telah habis, meninggalkan tubuhnya yang babak belur untuk menanggung beban sendirian.

​Tiga tahun. Aku menatap bekas luka di pelipisnya yang selama ini tidak pernah kusadari. Selama tiga tahun, ia hidup seperti binatang buruan, berdarah-darah di arena tarung, hanya untuk sampai di momen ini. Untuk menjemputku dari kebohongan yang rapi. Dan sekarang, saat kebenaran sudah di tangan, aku justru merasa sangat tidak berdaya melihatnya seperti ini.

​Aku beringsut mendekat, mengambil botol air mineral yang tersisa sedikit. Kubasahi sapu tangan kecil milikku, lalu perlahan kuusapkan ke dahinya yang berkeringat. Devan mengerang pelan, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit. Iris matanya yang sekelam malam itu tampak kabur, mencoba memfokuskan pandangan padaku.

​"Anya..." suaranya serak, nyaris tak terdengar.

​"Aku di sini, Van. Jangan banyak bergerak," ujarku, berusaha menjaga suaraku agar tidak bergetar.

​Ia mencoba duduk, namun ringisan sakit yang hebat membuat tubuhnya kembali ambruk ke tumpukan jaring. Tangan kanannya meraba-raba, mencari sesuatu di sampingnya. Ia mencari pistolnya. Bahkan di saat kesadarannya hampir hilang, insting pertamanya tetaplah perlindungan.

​"Senjatamu ada di tas. Kita aman, Devan. Ayah sudah ditangkap. Jaksa Satria sedang dalam perjalanan ke sini," aku meletakkan tanganku di atas tangan kanannya, mencoba memberikan ketenangan.

​Devan terdiam, matanya menatap langit-langit gudang yang dipenuhi jaring laba-laba. Sebuah senyum tipis, sangat tipis hingga nyaris menyerupai tarikan napas lelah, muncul di bibirnya yang pucat. "Ditangkap... ya? Rasanya... aneh."

​"Apa yang aneh?"

​"Tiga tahun aku memimpikan saat dia memakai borgol itu," bisik Devan. "Tapi sekarang, saat itu terjadi... aku merasa seolah-olah ini adalah mimpi buruk yang lain. Bahwa besok aku akan bangun di dalam sel, dan kau masih tersenyum padanya di rumah kaca itu."

​Hatiku terasa seperti diremas. Aku menunduk, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh mengenai punggung tangannya. "Maafkan aku, Devan. Maafkan aku karena melupakanmu begitu lama."

​Devan menggerakkan jemarinya, menggenggam tanganku dengan sisa tenaganya yang lemah. "Jangan minta maaf. Kau tidak punya pilihan. Bahan kimia itu... mereka merampas hakmu untuk mengingat. Tapi sekarang..." ia menatap laptop di pangkuanku. "...kau sudah mengambilnya kembali."

​Keheningan kembali turun, kali ini terasa lebih berat. Aku teringat pada rekaman audio yang kudengar di Micro-SD tadi. Suara Ayah yang terdengar begitu dingin saat memerintahkan Mandor Joko untuk 'membersihkan' sisa-sisa proyek yang runtuh. Bagaimana mungkin pria yang selalu mengecup dahiku setiap malam adalah pria yang sama yang membiarkan orang-orang mati tertimbun semen?

​Paradoks itu menyiksa kewarasanku. Selama sembilan belas tahun, aku mencintai sebuah ilusi. Aku adalah putri dari seorang pembunuh massal yang menyembunyikan dosanya dengan aroma lavender dan pendidikan elit. Dan Devan... Devan adalah korban yang menolak untuk mati.

​Tiba-tiba, suara derum mesin mobil yang berat terdengar mendekat. Suaranya bukan seperti mobil polisi yang berisik dengan sirene, melainkan sebuah SUV dengan mesin yang halus namun bertenaga.

​Aku seketika menegang. Tanganku secara refleks meraih gagang pisau lipat yang tergeletak di dekat kaki Devan. Kewaspadaanku yang baru lahir berteriak: jangan percaya pada siapa pun.

​"Itu Satria," gumam Devan, meski ia sendiri tetap berusaha meraih tas ranselnya yang berisi senjata.

​Pintu gudang didorong terbuka. Cahaya matahari pagi menyerbu masuk, membutakan mataku sejenak. Siluet jangkung Jaksa Satria Wirawan muncul di ambang pintu, diikuti oleh dua pria berpakaian sipil yang tampak sangat siaga. Satria melangkah masuk, sepatunya berderap di lantai semen. Wajahnya yang biasanya keras kini tampak sedikit lebih lega, namun tetap dipenuhi gurat kelelahan.

​"Kalian masih hidup," ujar Satria datar. Ia berdiri di hadapan kami, menatap kondisi Devan dengan dahi berkerut. "Luka itu... kau butuh rumah sakit segera, Devan."

​"Bagaimana di bandara?" potong Devan, mengabaikan kondisi fisiknya sendiri.

​Satria bersandar pada salah satu pilar gudang. "Resmi. Hendra Kusuma dan Frans Sugiarto sudah diamankan di Mabes Polri. Berita ini akan meledak dalam hitungan jam. Tim forensik digital sedang membedah klinik Frans sekarang. Tapi..." Satria menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "...kita punya masalah baru."

​Jantungku berdegup kencang. "Masalah apa lagi?"

​"Hendra menolak bicara. Dia hanya meminta satu hal: bertemu denganmu, Anya," jawab Satria. "Dan pengacaranya... dia sangat licin. Dia sedang mencoba menggugat prosedur penangkapan ini karena dianggap tidak berdasar. Kita butuh kartu SD itu segera sebagai alat bukti sah di depan hakim pengadilan negeri pagi ini."

​Aku mengambil kartu Micro-SD hitam kecil itu dari laptop dan menyodorkannya pada Satria. "Ambil ini. Lakukan apa pun untuk memastikan dia tidak pernah keluar dari sana."

​Satria mengambil kartu itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang memegang jantung dari kerajaan Kusuma. Ia memberikannya pada salah satu bawahannya yang segera keluar gudang untuk membawa bukti itu ke markas.

​"Anya, Devan," Satria mendekat, suaranya merendah menjadi sebuah bisikan yang serius. "Untuk sementara, kalian tidak bisa kembali ke rumah atau ke apartemen. Kota ini akan menjadi medan perang media dan hukum. Aku sudah menyiapkan sebuah rumah aman di daerah pegunungan. Kalian akan tinggal di sana sampai situasi stabil."

​"Rumah aman?" Devan mendengus. "Seperti 'rumah aman' yang dulu ayah Anya janjikan?"

​"Ini di bawah pengawasan langsung Kejaksaan Agung Pusat, bukan kepolisian lokal yang bisa dibeli ayahmu," balas Satria tegas. Ia menatap Devan dengan tatapan penuh hormat yang jarang ia tunjukkan. "Kau sudah melakukan tugasmu, Nak. Sekarang biarkan negara yang melakukan tugasnya."

​Satria kemudian memerintahkan tim medis pribadinya yang ia bawa secara rahasia untuk masuk ke gudang. Mereka segera mengangkat Devan ke atas tandu. Saat mereka membawanya keluar, Devan terus menggenggam tanganku erat-erat, seolah takut jika ia melepaskannya, aku akan menghilang kembali ke dalam kabut amnesia.

​"Aku akan ikut bersamamu, Van. Aku tidak akan ke mana-mana," bisikku tepat di telinganya sebelum mereka memasukkannya ke dalam ambulans terselubung.

​Perjalanan menuju rumah aman memakan waktu tiga jam. Kami bergerak ke arah selatan, menanjak menuju perbukitan yang diselimuti kabut tebal. Pemandangan pelabuhan yang kumuh berganti menjadi deretan pohon pinus dan udara yang semakin tipis dan dingin.

​Rumah aman itu adalah sebuah vila tua bergaya kolonial yang tersembunyi di balik perkebunan teh. Tempat itu sepi, terisolasi, dan dijaga oleh personel bersenjata yang tidak menggunakan seragam. Bagiku, ini adalah sangkar yang baru. Tapi kali ini, kuncinya ada di tanganku.

​Setelah Devan ditangani oleh dokter internal kejaksaan—lukanya dijahit ulang dan ia diberi antibiotik dosis tinggi—ia akhirnya tertidur pulas karena pengaruh obat penenang. Aku duduk di kursi kayu di samping tempat tidurnya, menatap butiran hujan yang mulai turun membasahi kaca jendela vila.

​Ponsel burner yang diberikan Satria bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

​‘Kau pikir ini sudah berakhir? Ayahmu hanya satu lapisan dari dinding kaca ini, Anya. Buka folder "Red-Alpha" di laptop perakmu. Kau akan tahu siapa yang sebenarnya membunuh kucing itu sepuluh tahun lalu.’

​Darahku seketika membeku.

​Sepuluh tahun lalu? Kematian Oren? Ayah bilang itu kecelakaan biasa. Devan bilang mobil Ayah yang menabraknya. Tapi pesan ini menyiratkan sesuatu yang lain.

​Aku segera menyambar laptop perak yang diletakkan di atas meja. Tanganku gemetar saat jariku menari di atas trackpad. Aku mencari folder yang dimaksud.

​Ketemu. Red-Alpha.

​Folder ini tersembunyi di dalam sistem root yang sangat dalam, yang bahkan tidak sempat kulihat semalam. Aku mencoba membukanya, namun sebuah jendela permintaan sandi muncul. Sandi yang berbeda dari sandi-sandi sebelumnya.

​Aku menatap Devan yang sedang tertidur. Aku mencoba memutar kembali memori masa kecilku. Masa di mana kami masih berusia sembilan tahun. Masa di mana semuanya terasa murni sebelum kecelakaan Oren terjadi.

​Apa yang kami bicarakan di bawah pohon kamboja saat itu?

​Kilasan memori mendadak menghantamku. Bukan memori yang indah, melainkan memori yang gelap dan dingin.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​EXT. JALANAN KOMPLEKS PERUMAHAN - SORE HARI (10 TAHUN LALU)

​Suasana senja yang merah membara. Angin bertiup kencang, menerbangkan kelopak bunga kamboja putih ke atas aspal. ANYA kecil (9 tahun) sedang berdiri di trotoar, menatap kotak kardus berisi kucing oranye yang sudah tidak bernyawa.

​Di sampingnya, berdiri seorang ANAK LAKI-LAKI lain. Bukan Devan. Anak laki-laki ini lebih besar, mengenakan pakaian mahal, dan memegang sebuah konsol permainan di tangannya. Namanya BIMA—putra dari rekan bisnis utama Ayah.

​ANYA KECIL

(Menangis terisak)

"Kenapa kau melakukannya, Bima? Oren tidak salah apa-apa! Kau sengaja menyuruh supirmu menabraknya!"

​BIMA KECIL

(Tersenyum miring, tanpa rasa bersalah sedikit pun)

"Dia menghalangi jalan mobilku, Anya. Lagipula, anak montir itu terlalu sering bermain dengannya di depan rumahmu. Ayahku bilang, kita harus menyingkirkan pengganggu dari pandangan mata kita."

​Tiba-tiba, DEVAN kecil (10 tahun) berlari mendekat. Wajahnya memerah karena marah. Ia melihat kotak kardus itu, lalu menatap Bima dengan kebencian yang murni.

​DEVAN KECIL

"Kau pembunuh! Aku akan melaporkanmu!"

​BIMA KECIL

(Tertawa mengejek)

"Lapor saja. Ayahku yang memiliki saham di perusahaan ayah Anya. Siapa yang akan percaya pada anak pembersih oli sepertimu?"

​Bima meludah ke arah kaki Devan, lalu berjalan pergi dengan angkuh menuju mobil mewah yang menunggunya.

​Kamera fokus pada wajah Devan kecil yang mengepalkan tinjunya hingga bergetar. Ia menoleh pada Anya yang masih menangis.

​DEVAN KECIL

"Jangan menangis, Anya. Suatu hari nanti, aku akan menjadi sangat kuat. Aku akan memastikan orang-orang seperti dia tidak bisa menyakitimu lagi. Aku janji."

​Kamera bergerak naik (High Angle), menyorot sosok AYAH ANYA yang ternyata sedang berdiri di balkon lantai dua, memperhatikan kejadian itu dari jauh dengan ekspresi dingin. Ia tidak membela Anya, ia tidak menegur Bima. Ia justru mengangguk kecil pada supir Bima yang baru saja membunuh seekor kucing.

​ANYA (V.O)

(Suaranya bergetar penuh kengerian)

"Aku baru menyadarinya sekarang. Kebohongan Ayah dimulai jauh sebelum kecelakaan di Jalan Lingkar Selatan. Ia sengaja membiarkan Bima menindasku, sengaja membiarkan kebencian itu tumbuh, karena bagi Ayah... manusia hanyalah variabel dalam angka-angka bisnisnya. Dan Bima... Bima adalah orang yang ia pilih untuk menjagaku jika ia sudah tidak ada."

​Layar perlahan memudar menjadi warna merah pekat yang statis, diiringi suara tawa Bima kecil yang berubah menjadi suara dering telepon di masa kini.

​FADE OUT.

​Aku tersentak kembali ke realitas. Pesan singkat itu... pesan itu bukan dari Ayah. Ayah ada di penjara. Pesan itu dari seseorang yang tahu masa kecilku dengan sangat detail.

​Aku menatap layar laptop. Aku mengetik sandi baru: B-I-M-A-1-0-9-5. (1095 adalah jumlah hari Devan menungguku).

​Enter.

​Layar laptop berkedip merah. Sebuah dokumen terbuka otomatis. Isinya bukan lagi tentang Proyek Sudirman, melainkan sebuah kontrak perjodohan bisnis yang ditandatangani oleh Ayah dan ayah Bima, lima tahun yang lalu.

​Isi perjanjiannya mengerikan: Penyerahan 30% saham Kusuma Jaya kepada keluarga Dirgantara (keluarga Bima) pada hari pernikahan Anya Kusuma dan Bima Dirgantara.

​Dan di bagian paling bawah, ada sebuah memo tambahan dari Dokter Frans: ‘Status memori subjek stabil. Subjek tidak mengingat insiden Bima di masa kecil. Prosedur siap dilanjutkan untuk fase integrasi dengan keluarga Dirgantara.’

​Aku menutup mulutku dengan tangan, menahan jeritan histeris. Jadi ini semua... amnesia ini, pengasingan ini, bahkan penangkapan Ayah semalam... apakah semuanya hanya bagian dari rencana yang lebih besar?

​Tiba-tiba, suara dering telepon rumah di vila itu berbunyi. Suaranya menggema nyaring di tengah kesunyian pegunungan.

​Aku berjalan menuju ruang tamu dengan kaki gemetar. Aku mengangkat gagang telepon itu.

​"Halo?" suaraku nyaris tak terdengar.

​"Halo, Anya Kusuma," suara di seberang sana sangat familier. Suara bariton yang sombong, suara yang sama dengan anak laki-laki yang membunuh kucingku sepuluh tahun lalu. "Selamat atas penangkapan ayahmu. Aku yang mengirimkan bukti-bukti itu kepada Devan melalui informan anonim. Aku ingin ayahmu menyingkir dari jalanku... agar aku bisa menjemput milikku."

​"Bima..." desisku.

​"Nikmati waktumu bersama si anak montir itu untuk terakhir kalinya, Anya. Karena dalam tiga hari, aku akan datang ke vila itu. Dan kali ini, tidak ada kaset rusak yang bisa menyelamatkanmu dariku."

​Klik. Sambungan terputus.

​Aku menjatuhkan gagang telepon itu ke lantai. Duniaku yang baru saja kurasa akan membaik, kini kembali runtuh ke dalam kegelapan yang lebih dalam. Musuhku bukan lagi seorang pria tua yang terobsesi pada kontrol, melainkan seorang predator muda yang haus kekuasaan dan dendam masa lalu.

​Aku berbalik, menatap Devan yang masih terlelap. Aku harus melindunginya. Kali ini, giliranku yang akan berperang.

​Elegi kami belum berakhir. Ia baru saja mengganti temponya menjadi lebih cepat, lebih gelap, dan lebih mematikan.

​[BERSAMBUNG KE BAB 14]

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!