Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Para Orang Tua
Satu bulan berlalu adalah masa tenang dan damai bagi Arini. Dia hanya dihadapkan dengan pekerjaan dan proyek yang ia tangani. Kehadiran Kevin di hidupnya bukan lagi sekadar teman dan rekan bisnis yang cekatan, melainkan oase di tengah gurun emosi yang gersang.
Namun, di balik kemesraan yang mulai tumbuh secara alami itu, sebuah rencana besar sedang disusun di sebuah restoran privat di pusat kota oleh kedua keluarga.
Pertemuan itu berlangsung sangat tertutup. Di satu sisi meja, duduk Papa Arini yang tampak jauh lebih sehat dan tenang setelah badai perusahaan mereda dengan kehadiran Arini. Di hadapannya, orang tua Kevin duduk dengan raut wajah penuh harap. Ini adalah pertemuan antara dua keluarga yang sudah lama saling menghormati, namun baru kali ini memiliki agenda yang lebih personal.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu, Pak Bayu," ucap Ayah Kevin membuka pembicaraan dengan nada formal namun hangat.
Papa Arini mengangguk pelan. "Sama-sama. Sebenarnya, saya sudah menduga kita akan duduk di sini cepat atau lambat. Melihat bagaimana Kevin menjaga Arini selama masa-masa sulit kemarin... saya rasa tidak ada orang tua yang bisa menutup mata."
Ibu Kevin menimpali dengan lembut, "Anak kami, Kevin, itu pria yang sangat keras kepala jika sudah menyangkut perasaan, Pak. Selama bertahun-tahun dia menutup hati. Banyak wanita yang mencoba mendekati, tapi dia selalu bilang hatinya sudah ada yang punya, meski saat itu Arini masih... yah, masih berada di situasi yang salah."
Pak Bayu menghela napas panjang. Guratan kesedihan sempat melintas di wajahnya saat teringat pengkhianatan Galang. "Arini telah melalui neraka, Pak, Bu. Dia ditipu, dikhianati, dan dimanfaatkan oleh pria yang seharusnya melindunginya. Luka itu tidak akan hilang hanya dalam semalam. Kepercayaannya pada hubungan pernikahan sudah hancur lebur."
Ia meminum tehnya sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih berat. "Jujur saja, sebagai ayahnya, saya sangat ingin melihatnya bahagia dengan pria yang tulus seperti Kevin. Tapi, saya tidak akan memaksanya. Saya sudah menyerahkan semua keputusan hidupnya kepada Arini. Saya tidak ingin dia merasa ditekan oleh keluarganya sendiri lagi. Karena semakin ditekan Arini akan semakin memberontak."
Ayah Kevin mengangguk setuju. "Kami sangat mengerti posisi itu. Kami tidak berniat menjodohkan mereka secara paksa. Namun, kami ingin Bapak tahu satu hal yang mungkin tidak pernah Kevin ceritakan pada Arini."
Ibu Kevin menyambung dengan suara yang sedikit bergetar karena haru. "Kevin menyimpan perasaan ini sejak mereka masih di bangku sekolah. Dia menunggu Arini selama bertahun-tahun dalam diam. Bahkan saat Arini menikah dengan Galang, Kevin tidak pernah mencoba mencari pengganti. Dia memilih untuk sibuk bekerja dan membantu perusahaan agar lebih maju, hanya agar dia bisa melupakan perasaannya dan tetap melihat Arini dari jauh meski hanya sebagai bayangan."
Mendengar pengakuan itu, Papa Arini tampak tertegun. Ia tidak menyangka bahwa perasaan Kevin kepada anaknya sedalam itu.
"Ternyata, selama ini Arini berada di dekat permata, sementara dia sibuk mengurus kerikil tajam yang sudah menghancurkan segalanya," gumam Papa Arini pahit.
"Itulah sebabnya kami berharap," lanjut Ayah Kevin. "Jika memang takdir membawa mereka kembali bersama, kami ingin pernikahan ini terjadi dalam waktu dekat. Bukan untuk mengikat Arini secara hukum, tapi untuk memberikan dia perlindungan dan kepastian bahwa dia tidak akan pernah sendirian lagi menghadapi dunia."
Pak Bayu terdiam sejenak, menatap kosong ke luar jendela restoran. "Jika Kevin bisa membuktikan ketulusannya kepada Arini dan membuatnya luluh dan Arini menerimanya, maka tidak ada alasan bagi saya untuk memberikan restu penuh. Saya berharap Kevin bisa menjadi pelabuhan terakhir bagi putri saya."
Kedua orang tua Kevin saling berpandangan dan tersenyum lebar. Ternyata restu dari orang tua Arini sudah di kantongi. Dan hal itu membuat mereka lega.
Tanpa mengetahui pertemuan rahasia para orang tua, Kevin dan Arini sedang menikmati makan malam sederhana di balkon apartemen Arini. Malam itu, Arini memasak sendiri, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan semenjak menjadi CEO.
"Masakanmu tidak kalah dengan koki bintang lima, Rin," puji Kevin tulus sambil menyantap pasta buatannya.
Arini tersenyum, pipinya merona karena pujian sederhana itu. "Kamu terlalu berlebihan, Kev. Aku hanya mengikuti resep dari internet."
Setelah makan, mereka berdiri di balkon, menatap lampu-lampu Jakarta yang tak pernah padam. Kevin berdiri cukup dekat hingga Arini bisa mencium aroma parfumnya yang menenangkan, aroma yang kini selalu ia cari saat ia merasa stres.
"Vin, " panggil Arini pelan. "Kenapa kamu terus bertahan di sampingku? Bahkan saat aku sedang di titik terendah, saat aku penuh amarah dan dendam... kenapa kamu tidak pergi?"
Kevin meletakkan gelasnya, lalu menatap Arini dengan intensitas yang membuat napas Arini tercekat. "Karena bagiku, kamu bukan sekadar projek atau pekerjaan, Rin. Kamu adalah alasan kenapa aku tetap ingin menjadi pria yang baik setiap harinya. Aku sudah menunggu sangat lama untuk bisa berdiri di sini, di sampingmu, tanpa ada penghalang."
Arini menatap mata Kevin, mencari jejak kebohongan yang biasa ia temukan pada Galang, namun ia hanya menemukan ketulusan yang murni. Untuk pertama kalinya, Arini merasa tidak perlu memakai topeng besi miliknya.
"Kevin... aku belum berani berjanji banyak hal," bisik Arini.
"Aku tidak butuh janji, Rin. Aku hanya butuh kesempatan untuk terus ada di sini," jawab Kevin sambil perlahan meraih tangan Arini dan mengecup punggung tangannya dengan penuh hormat yang membuat hati Arini bergetar.
Di tempat lain, pertemuan orang tua mereka berakhir dengan sebuah kesepakatan diam-diam. Mereka tidak akan memberitahu anak-anak mereka tentang pertemuan ini, namun mereka akan mulai menyiapkan segala sesuatunya secara perlahan di balik layar.
Ibu Kevin sudah mulai melihat-lihat katalog perhiasan keluarga yang ingin ia wariskan kepada calon menantunya. Sementara Papa Arini sudah mulai menyiapkan aset-aset pribadi yang akan ia berikan sebagai hadiah pernikahan untuk Arini, sebagai simbol awal hidup yang baru dan bersih dari noda masa lalu.
"Kita biarkan mereka berproses," ucap Papa Arini saat mereka bersalaman di depan restoran. "Tapi saya setuju, dalam waktu dekat, kita harus merayakan penyatuan dua hati ini. Arini butuh kebahagiaan, dan Kevin pantas mendapatkannya."
Dua keluarga itu berpisah dengan senyum kemenangan. Mereka tahu, cinta Kevin adalah obat terbaik untuk luka Arini. Dan meskipun Arini masih merasa takut, ia mulai menyadari bahwa di balik samudera yang luas dan dalam, selalu ada dermaga yang menunggunya pulang dengan penuh kesabaran. Kevin adalah dermaga itu, dan Arini mulai memantapkan hatinya untuk bersandar selamanya di sana.