Clarissa Anggreni, pemimpin mafia kejam yang dijuluki Queen of Damnation, tewas ditembak oleh sahabatnya sendiri, Kalina, dan kekasihnya, Rafael, karena perselingkuhan. Saat ajal menjemput, ia justru terbangun di tubuh Alisha Kirana Maharani – istri cupu korban KDRT dari konglomerat Giovan Salvatore Vizcaya, yang wajahnya persis seperti Rafael. Alisha baru saja jatuh dari lantai atas setelah ditembak orang tak dikenal. Keluarga Vizcaya mengira ia sudah mati. Tapi kini, di balik tubuh lemah Alisha, bersemayam jiwa seorang ratu maut. Di keluarga Vizcaya yang kejam, Alisha direndahkan sebagai pelayan. Giovan berselingkuh di depannya. Tapi Clarissa tidak pernah menjadi korban. Dengan kecerdikan, koneksi bawah tanah, dan haus balas dendam, Alisha (Clarissa) mulai menyusun rencana: ·Membalaskan kematian jasad aslinya kepada Rafael (Giovan) dan Kalina. · Menguasai keluarga Vizcaya dari dalam. · Menemukan siapa penembak yang hampir membunuh Alisha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilih Kasih
Di ruang makan, suasana kali ini sangat berbeda. Alisha sangat diperlakukan istimewa oleh sang kakek.
Giovan mengangkat kelima jarinya. "Baik, Kakek!" ucapnya sambil tersenyum.
Setelah kepergian Edward dan Alisha, senyum Giovan dan keluarganya luntur. Mereka semua tampak menghela napasnya.
"Kita bak seorang pengawal yang menjaga seorang ratu, agar ratu itu tidak terluka. Tapi, sayangnya ratu itu terlalu lemah!" seru Fiona.
"Lemah apanya, Tante? Orang Alisha yang membunuh mayat-mayat itu!" ujar Giovan.
"Hah, kamu bilang apa, Gov?" tanya Emeline memastikan pendengarannya tak salah.
"Mereka semua mati karena Alisha, Mom," jawab Giovan.
"Ah, mana mungkin!" bantah Bramantya yang diangguki yang lain.
"Astaga, kalian bisa cek CCTV kalau tidak percaya! Awalnya aku sendiri tak yakin melihat Alisha bisa bertarung!" kekeh Giovan.
Christian, Fiona, dan Emeline menggeleng tak percaya. "Istri kamu itu terlalu lemah untuk bertarung!"
"Hm, betul. Digigit macan aja dia nangis!"
"Macan" adalah seekor anjing Corgi peliharaan Emeline dan keluarga Viscount. Dinamakan macan, karena anjing itu sering meraung seperti macan.
"Ya Tuhan! Terserah kalian saja, lah!" kesal Giovan yang memilih pergi.
---
"Minum teh madu ini, kau pasti syok berat, ya?" tanya Edward.
Clarissa hanya mengangguk saja sambil menikmati teh tersebut yang ternyata enak.
"Maafkan Kakek ya, Alisha. Kakek janji tidak akan ada orang yang berani menyakiti kamu lagi."
Clarissa dapat melihat ketulusan dari mata Edward. Entah apa yang membuat Edward sangat menyayangi Alisha, Clarissa juga tak tahu.
"Ayo habiskan tehnya, jangan memandang Kakek terus!"
"Hm."
Emeline dan Bramantya menuruni tangga bersamaan lalu mendekati Alisha yang sedang duduk.
"Ini kacamata mu, Alisha. Bukankah kamu suka pusing jika tidak pakai kacamata itu?" tanya Emeline.
Clarissa menggeleng sekilas.
"Tidak, sekarang aku sudah tidak membutuhkan kacamata itu lagi," jawabnya.
"Hm, bukannya kamu minus?" tanya Edward.
"Sudah sembuh," jawab Clarissa.
Walau bingung, namun Edward tetap memerintahkan Emeline untuk menyimpan saja kacamata tersebut.
Tak.
Clarissa menaruh gelas teh madu itu. "Habis. Sekarang aku ingin istirahat," ucapnya.
Edward mengangguk. "Kau istirahat di kamar tamu dulu ya, Alisha. Karena kamarmu sedang dibersihkan."
"Ya."
Dia bangkit dari tempat duduknya dan menatap Emeline, ibu dari Giovan.
"Em, Mommy," panggil Clarissa pada Emeline.
Mendengar Alisha memanggilnya "Mommy", membuat Emeline cukup terkejut, karena biasanya gadis itu akan memanggilnya dengan sebutan "Nyonya".
"Mom?" seru Clarissa lagi.
Emeline tersentak dan mencoba untuk tersenyum. "Ah, iya. Ada apa, Alisha?" tanyanya.
"Boleh aku meminjam bajumu? Jujur saja aku tidak menyukai baju-bajuku yang sekarang," jawab Clarissa.
Edward menatap ke arah menantunya menunggu jawaban dari Emeline. Sementara Emeline yang ditatap oleh Edward tentu saja langsung mengiyakan perkataan Clarissa.
"Tentu saja boleh, Alisha. Mari ikut Mommy," ujar Emeline.
"Alisha," panggil Edward.
"Ya, Kakek?" sahut Clarissa.
"Jika kau tak suka dengan baju-baju mu, mulai besok pagi kau boleh berbelanja sesuka hatimu," ucap Edward.
"Terima kasih, Kakek."
"Sama-sama, Nak. Sekarang pakailah pakaian punya mertua mu dulu. Tapi, Emeline!"
"Ya, Dad?"
"Jangan kau kasih Alisha baju bekas! Biarkan dia memilih baju yang dia suka."
Emeline menganggukkan kepalanya. "Baik, Dad."
"Ayo, Alisha," ajak Emeline.
"Hm."
Clarissa mengikuti langkah Emeline dan masuk ke dalam kamar mertuanya itu. Emeline membuka pintu kamar yang ternyata isinya baju-baju, perhiasan, sepatu, heels, dan tas.
"Pilihlah yang kau inginkan. Semua ini baru, belum sama sekali aku pakai," ucap Emeline.
"Waw, kamar ini seperti surga bagi wanita. Semuanya ada," gumam Clarissa.
Emeline hanya tersenyum menyeringai saja ketika mendengar gumaman menantunya.
Clarissa hanya mengambil satu piyama tidur yang cukup seksi dan satu dress biru muda.
"Aku hanya meminjam ini saja," ucap Clarissa.
"Tidak usah pinjam. Itu semua kuberikan padamu!"
"Oh, oke. Terima kasih, Mamah mertua," ujar Clarissa seraya mengedipkan satu matanya.
---
Clarissa segera mandi dan mencuci rambutnya yang terasa lepek, lalu mengganti pakaiannya dengan piyama milik Emeline.
"Hais, kulitnya kenapa kering begini? Ini pasti Alisha gak pernah pakai skincare!" seru Clarissa sambil berkaca.
"Ini juga, kulitnya. Astaga, pantes aja Giovan gak tertarik. Toh kamu saja jelek, Alisha!"
"Bisa-bisanya, aku transmigrasi ke tubuh jelek seperti ini!" dumel Clarissa.
Clarissa mencoba mencari body lotion tapi, ia tidak menemukannya sama sekali.
"Si Alisha gak pernah beli body lotion, kali ya. Miskin amat, sih! Padahal suaminya kaya!"
Akhirnya Clarissa memutuskan untuk tidur saja, biar besok pagi dia akan berbelanja sepuasnya.
---
Malam harinya.
Jam 08.00 adalah waktu di mana semua anggota keluarga Viscount harus sudah berkumpul di meja makan. Jika ada yang terlambat, akan ada hukuman yang menanti.
Namun, saat ini sudah tepat pukul 08.00 dan Alisha belum juga muncul.
"Hah, mungkin Alisha ke tiduran. Giovan, sekarang kamu cek dia di kamar tamu," titah Edward.
"Baik, Kakek."
Derit kursi Giovan berbunyi menandakan jika pria itu sudah bangkit dari kursi tempat duduknya.
"Alisha telat karena dia tak tahu. Jadi buat kalian semua, jangan ada yang menghukumnya. Ingat?!"
"Ingat, Kakek."
"Iya, Dad."
Emeline dan Fiona tampak sama-sama tersenyum sinis saat mendengar perkataan Edward.
"Giliran cucu kesayangannya, tidak diberi hukuman meskipun telat. Sementara aku, kemarin hanya terlambat sedikit saat BAB, tapi tetap saja dihukum," batin Fiona.
---
Ceklek.
Giovan masuk ke dalam kamar Alisha dan dia cukup dibuat terkejut dengan penampilan gadis itu.
"Ciih, apa maksudnya dia dengan memakai pakaian seperti itu! Apa dia sedang berusaha menggoda aku?" batin Giovan.
"Ugh..."
Clarissa menggeliatkan tubuhnya dan membuat piyama pendek yang sedang dia pakai sedikit terangkat.
Giovan yang melihat itu semua, mencoba mengalihkan tatapannya dan fokus untuk membangunkan Alisha.
"Alisha, bangun!"
"Alisha!"
"Alisha!"
"Ugh!!"
Clarissa yang sedang tertidur tentu saja merasa terganggu dengan suara Giovan. Gadis itu membuka sedikit matanya dan langsung menarik tangan Giovan hingga jatuh ke atas tubuhnya.
SREEEKK.
BRUK.
"AAWWW!!" ringis Clarissa.
Keningnya dan kening Giovan beradu. Giovan segera menjauhi tubuh Alisha, namun istrinya itu justru menahan tangannya.
"Mau ke mana, hm?" tanya Clarissa dengan suara serak sambil merangkul leher Giovan.
"Alisha, lepas!" pinta Giovan.
"Tidak! Kau sudah mengganggu tidurku, Giovan," ucap Clarissa sambil mendekatkan wajahnya ke arah wajah Giovan.
Giovan menahan tubuh Alisha. "Mau apa kau?" tanya Giovan.
"Menciummu," jawab Clarissa.
"Tidak boleh."
"Kenapa, hm? Apa karena kau belum pernah berciuman, Giovan?" tanya Clarissa seraya mengelus tengkuk suaminya.
Giovan menggelengkan kepalanya. "Bukan itu!"
"Lalu kenapa?"
"Karena kau bau jigong!"
"Hah, apa?!"
Clarissa segera mendorong tubuh Giovan dan mencium bau mulutnya sendiri.
---
Bersambung
ini Novel baru aku👈✍️