NovelToon NovelToon
Talak Tiga Di Malam Pertama

Talak Tiga Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .

Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.

Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Malam itu, langit di atas kota terlihat bersih dan bertabur bintang, seolah alam pun sedang bersaksi akan peristiwa besar yang akan terjadi. Di gedung serbaguna paling megah dan termegah di kota itu, lampu-lampu menyala terang benderang hingga ke langit, menciptakan pemandangan yang luar biasa indah. Pesta ulang tahun Perusahaan Laksana Group memang dikenal sebagai acara paling mewah sepanjang tahun ini.

Di luar gedung, barisan mobil-mobil mewah berjejer rapi, turun satu per satu penumpangnya yang merupakan orang-orang penting, pejabat tinggi, pengusaha sukses, dan tokoh masyarakat. Semua yang hadir mengenakan pakaian terbaik mereka, berjalan dengan kepala terangkat tinggi, merasa bangga bisa hadir di acara bergengsi ini.

Di sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam, duduklah keluarga Pratama lengkap dengan Pak Joko, Bu Ratna, dan Sania. Di dalam mobil itu, kegembiraan mereka sudah memuncak. Yogie duduk tegak di kursi depan, sementara di belakang Sania duduk di tengah-tengah antara kedua orang tuanya, wajahnya bersinar terang, begitu percaya diri dan angkuh. Gaun biru langitnya yang penuh hiasan manik-manik berkilauan indah setiap kali terkena cahaya lampu jalan. Perhiasan berlian di leher dan telinganya berkilau tak kalah hebat. Bu Ratna dan Pak Joko pun tak kalah mewah, berpakaian serba baru dan mahal, berusaha menutupi segala asal-usul mereka yang sebenarnya.

"Lihatlah, Yah... Bu... Semua orang melihat kita," bisik Sania sambil tersenyum manja saat mobil mereka berhenti di depan pintu utama. "Besok, nama kita akan ada di koran, ada di berita. Kita sudah masuk ke lingkaran atas."

Saat mereka turun dari mobil, sorot mata orang-orang di sekitar seolah tertuju pada mereka. Bagi mereka, pandangan itu adalah pandangan kekaguman dan rasa hormat. Padahal, sebagian orang hanya penasaran siapa keluarga yang berani tampil begitu mencolok dan penuh hiasan berlebihan itu.

Mereka berjalan masuk beriringan, Yogie menggandeng tangan Sania dengan bangga. Sania berjalan dengan langkah yang sangat lambat dan anggun, memastikan semua orang melihat keindahan dan kemewahannya. Di dalam ruangan pesta yang sangat luas dan megah itu, udara terasa sejuk dan beraroma wangi bunga segar. Hiasan-hiasan indah, lampu gantung raksasa, dan meja-meja penuh makanan mewah menghiasi seisi ruangan.

"Wow... luar biasa... Megah sekali," gumam Pak Joko takjub, matanya berputar ke sana ke mari, serakah menatap segala kemewahan yang ada. "Ternyata begini rasanya jadi orang kaya benar-benar. Besok, kita juga harus buat rumah kita semegah ini, Ratna. Kita harus ubah penampilan kita total."

Bu Ratna hanya mengangguk terpukau, namun matanya tiba-tiba berputar gelisah. Ada rasa dingin yang menjalar di punggungnya. Ia merasa ada sepasang mata yang sangat tajam dan penuh kebencian sedang menatap mereka dari atas, dari lantai mezzanine yang agak gelap di sudut ruangan. Saat ia menoleh ke sana, tidak ada siapa-siapa. Hanya bayangan samar. Ia mengusap dadanya, berusaha menenangkan diri. Mungkin hanya perasaanku saja, pikirnya.

Mereka pun menuju tempat duduk yang sudah disiapkan khusus untuk mereka di barisan paling depan, kursi-kursi empuk berwarna emas yang paling dekat dengan panggung utama. Tempat terhormat.

"Wah, lihat itu! Kita duduk di depan sekali!" seru Pak Joko berbisik dengan antusias. "Pasti karena mereka menghormati keluarga Pratama. Hebat, Sania, rencanamu sukses besar."

Mereka duduk dengan sangat nyaman, merasa menang telak, merasa menjadi tamu kehormatan nomor satu malam itu. Mereka sibuk menyapa orang-orang di sekitar, memperkenalkan diri dengan bangga, dan membayangkan betapa indahnya hidup mereka ke depannya.

Sementara itu, di ruangan persiapan khusus di lantai atas, suasana sangat hening dan khidmat.

Salwa berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun putih tulang pilihannya. Gaun itu jatuh indah dan pas di tubuhnya yang tinggi langsing, tidak ada hiasan berlebihan, namun kainnya berkilau lembut memancarkan kemewahan kelas tinggi yang tenang. Di lehernya, kalung pemberian ayahnya berkilau indah, menjadi satu-satunya perhiasan yang ia pakai. Rambutnya disanggul rapi namun sedikit beralun lembut, memperlihatkan lekuk wajahnya yang cantik, tenang, namun sangat berwibawa. Kulitnya yang putih bersih bersinar alami, wajahnya berseri namun tanpa riasan berlebihan. Ia terlihat seperti bidadari yang turun ke bumi, namun sekaligus seperti seorang ratu yang berkuasa.

Ardiansyah masuk mengenakan setelan jas hitam elegan yang sangat berwibawa, di sebelahnya ada Bunga yang mengenakan gaun biru tua anggun, berjalan dengan keanggunan yang tiada tara. Keduanya berhenti sejenak memandang Salwa, mata mereka berkaca-kaca bangga dan haru.

"Sempurna..." bisik Bunga terpesona. "Kau terlihat luar biasa, Nak. Jauh lebih indah, jauh lebih berkelas, dan jauh lebih berharga dibandingkan ribuan permata yang mereka pakai."

Ardiansyah mendekat, mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Sudah siap, Putriku? Saatnya kita turun ke bawah. Saatnya kita ambil kembali apa yang menjadi hak kita. Ingat, Nak... Jangan marah, jangan menangis. Bersikaplah dingin, anggun, dan berkuasa. Biarkan keberadaan mu saja yang menjadi hukuman terbesar bagi mereka."

Salwa mengangguk, menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, menenangkan seluruh detak jantungnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi, lalu tersenyum tipis, senyum yang belum pernah dilihat oleh siapa pun sebelumnya. Senyum seorang pemimpin, senyum pemenang.

"Saya siap, Ayah. Mari kita berikan kejutan terbesar bagi mereka. Mari kita mulai malam penghakiman ini."

Pintu terbuka lebar, dan ketiganya berjalan beriringan menuju tangga besar utama yang akan membawa mereka ke tengah ruangan, ke tengah perhatian ratusan pasang mata, dan tepat ke hadapan orang-orang yang dulu menghancurkan hidup Salwa, yang kini sedang duduk angkuh menunggu kejayaan mereka sendiri.

Di bawah sana, di barisan depan, Sania sedang tertawa renyah mendengar bisikan Yogie.

"Sebentar lagi pengumuman dimulai," ucap Yogie penuh harap. "Nanti setelah acara resmi, kita akan umumkan hubungan kita. Semua orang akan iri melihat kita, Sania. Kau adalah wanita paling beruntung malam ini."

Sania tersenyum miring, matanya menatap kosong ke arah panggung. "Iya, Mas. Saya wanita paling beruntung. Dan ada seseorang di luar sana yang pasti mati rasa dengki kalau melihat kita sekarang."

Namun, tawa mereka terhenti seketika. Tiba-tiba musik pengiring berubah menjadi irama yang lebih megah, lebih hening, dan lebih khidmat. Seluruh lampu di ruangan itu perlahan meredup, hanya menyisakan sorotan cahaya putih terang yang mengarah tepat ke puncak tangga besar di belakang ruangan.

Semua kepala menoleh serentak ke arah sana. Keheningan mutlak menyelimuti ruangan itu.

Perlahan, di bawah sorotan cahaya itu, muncullah tiga sosok yang berjalan beriringan dengan keanggunan yang tak terlukiskan. Di tengah adalah Ardiansyah Laksana, pemilik perusahaan raksasa itu, yang wajahnya berwibawa namun dingin. Di sebelah kanannya ada Bunga, cantik dan anggun. Dan di sebelah kirinya... ada seorang gadis muda, tinggi, putih bersih, cantik alami, mengenakan gaun putih sederhana namun mempesona, yang berjalan dengan langkah tegap dan mata yang tajam menembus ke dasar jiwa siapa saja yang menatapnya.

Jantung Sania berhenti berdetak.

Napas Yogie tercekat di tenggorokan.

Tubuh Pak Joko kaku tak bergerak.

Dan Bu Ratna... Bu Ratna menatap gadis itu, lalu menjerit kecil tertahan, wajahnya pucat pasi seolah melihat hantu.

Gadis yang berjalan turun tangga itu... wajah itu... mata itu... senyum dingin itu... itu adalah Salwa.

Salwa yang mereka buang. Salwa yang mereka anggap hancur. Salwa yang mereka kira mati atau kelaparan di jalanan.

Salwa Azzahra kini berjalan turun sebagai nyonya besar, berjalan di samping orang terkaya dan paling berkuasa di kota ini, memancarkan kemegahan dan kekuasaan yang seratus kali lipat lebih hebat dari apa pun yang pernah mereka bayangkan.

Dan di saat itu juga, di detik itu juga... kesombongan mereka runtuh seketika. Mimpi indah mereka berubah menjadi mimpi buruk yang nyata. Di bawah lampu sorot itu, di depan ratusan tamu penting, mereka harus menatap wajah gadis yang telah mereka sakiti, yang kini berdiri jauh di atas mereka, menatap mereka dengan pandangan yang sama persis seperti seseorang yang sedang menatap serangga kecil yang akan ia remukkan.

Malam penghakiman pun baru saja dimulai.

bersambung ,,,,

1
Alit Liet
ceritanya bagus tidak berbelit2
Alit Liet
bab 23 nya mana
Jetva
Yogie..kamu sayang tp kamu talak 3...jelas kamu tak bisa lagi kembali padanya...lelaki koq otaknya kecil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!