Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pertemuan dengannya yang dinanti
Wang Chan berhenti di suatu tempat. Sebuah pinggiran kota yang sunyi, tanpa satu pun tanda kehidupan.
Namun perasaannya membawanya ke sana. Ada sesuatu yang menarik dari tempat ini, seperti benang tak kasat mata yang tertambat di dadanya.
Ia tidak berhenti. Wang Chan meneruskan langkah.
Di dekat sebuah rumah kosong, akhirnya ia berhenti. Rumah itu tua, dindingnya retak, atapnya tampak hampir roboh.
Tapi bukan rumahnya yang penting. Wang Chan tahu bahwa yang ia cari bukanlah bangunan ini.
"Kau sudah datang?"
Wang Chan seketika berbalik. Suara itu lembut, familiar, meskipun ia baru mendengarnya sekali.
"Lama tidak bertemu."
Wanita berambut putih yang ia lihat beberapa waktu lalu kini berdiri di hadapannya.
Rambutnya bersih seperti salju, kulitnya putih pucat, dan matanya yang hijau zamrud bersinar redup di bawah cahaya rembulan.
Wang Chan mengambil langkah mundur.
Tangannya secara naluriah mengepal, meskipun ia tahu wanita ini berada di tingkat yang jauh di atasnya.
"Siapa kau?" tanyanya lagi, suaranya tegas meskipun ada getar hati-hati di sana.
Wanita itu tersenyum. Bukan senyum mengejek, tapi senyum yang seolah ia sudah mengenal Wang Chan sejak lama.
Ia mendekat satu langkah, tidak terlalu dekat, cukup untuk membuat Wang Chan tidak merasa terpojok.
"Ayolah, jangan kaku begitu." Ia menepuk bahu Wang Chan dengan gerakan yang hampir akrab. Pandangan mereka bertemu. "Aku Nuan Shuang."
Wang Chan kembali mundur mendengar nama itu.
Bukan karena ia mengenalnya, justru karena ia sama sekali tidak mengenalnya.
"Aku tidak mengenalmu. Kenapa kau membantuku? Apa tujuanmu sebenarnya?"
"Wah, tanpa basa-basi langsung menanyakan semua itu? Tidak ada sapaan? Tidak ada 'senang bertemu denganmu'? Kau sungguh berbeda dari kebanyakan orang. Biasanya mereka lebih dulu terpesona oleh wajahku sebelum bertanya apa pun."
Nuan Shuang hanya bisa tertawa ringan melihat keseriusan di wajah Wang Chan.
Pemuda ini benar-benar tidak mau buang waktu. Langsung ke inti, tanpa basa-basi. Nuan Shuang menyukai itu.
"Baiklah, baiklah. Akan kujawab."
Nuan Shuang mendekat sedikit lagi, cukup untuk suaranya tidak perlu terlalu keras meskipun tidak ada siapa pun di sekitar.
"Wang Chan, aku berasal dari alam atas. Karena suatu kesalahan, aku jatuh ke alam bawah ini. Terdampar. Sendirian. Tidak bisa kembali."
Wang Chan masih mendengarkan, meskipun pertanyaan dalam kepalanya semakin bertambah banyak.
Alam atas? Ia pernah mendengar desas-desus tentang alam di atas dunia kultivasi biasa, tapi tidak pernah bertemu seseorang yang benar-benar mengaku berasal dari sana.
"Jadi aku membutuhkanmu. Mungkin kau berpikir bahwa kau tidak istimewa. Tapi aku melihat hal lain dalam dirimu. Kau sungguh akan menjadi sangat kuat."
Wang Chan terdiam.
Kata-kata itu manis. Terlalu manis. Tidak pernah ada orang yang mengatakan hal seperti itu kepadanya.
Selama ini yang ia dengar hanyalah ejekan, cemoohan, dan tatapan iba.
Sekarang tiba-tiba ada wanita cantik yang mengatakan bahwa ia akan menjadi sangat kuat.
"Kata-katamu sungguh manis," ucap Wang Chan dingin. "Aku tidak akan tertipu dengan itu."
Nuan Shuang memutar bola matanya malas. Bukan karena meremehkan, tapi karena ia sudah menduga jawaban seperti itu.
"Aku tidak berbohong. Nyatanya, hanya kuberi sedikit bunga di matamu, kau sudah bisa menggunakannya dengan begitu baik. Hanya dalam sebulan kau menguasainya seperti sudah bertahun-tahun berlatih. Itu bukan kebetulan, Wang Chan. Itu bakat."
Wang Chan menyentuh mata kirinya. Hangat.
Tidak seperti dulu yang terasa panas membakar, sekarang hangatnya seperti handuk kecil yang direndam air jahe.
"Hanya sebelah?" ulangnya.
Nuan Shuang tersenyum. Senyum yang sedikit misterius, seperti kucing yang menyembunyikan sesuatu di balik bulunya.
"Kau terlalu serakah kalau ingin dua," ucapnya sambil menyentuh mata kanannya sendiri. "Satunya milikku, ada di sini."
Wang Chan memperhatikan mata kanan Nuan Shuang. Tidak ada yang aneh di sana.
Tapi ia yakin wanita itu tidak berbohong. Tidak ada alasan untuk berbohong tentang hal seperti itu.
"Jadi sebenarnya apa yang harus kulakukan?"
Nuan Shuang terdiam sesaat, matanya menatap langit malam yang bertabur bintang.
Ketika ia berbicara lagi, suaranya lebih serius dari sebelumnya.
"Kau hanya perlu menjadi lebih kuat. Paling tidak capailah Ranah Nirvana."
Ia berbalik, memunggungi Wang Chan. Angin malam menggoyangkan rambut putih panjangnya yang tergerai.
Dari belakang, ia terlihat rapuh, seperti patung salju yang bisa meleleh kapan saja.
"Maka saat itu aku akan membawamu ke alam atas. Menuju dunia yang begitu luas untuk mencapai puncak kekuatan."
Nuan Shuang kembali berbalik. Matanya menatap Wang Chan lurus-lurus, tidak ada keraguan di sana.
"Hanya saja ini tidak mudah, bocah. Aku sudah hidup ratusan tahun di dunia ini, sudah merasakan bagaimana kehidupan seorang kultivator yang penuh bahaya. Aku sudah melihat teman-temanku mati satu per satu, sudah melihat orang yang kukenal berkhianat demi sebutir pil atau sebilah pedang. Karena itulah aku membutuhkanmu. Sebagai tangan kananku."
Kedua tangan Nuan Shuang terbuka lebar.
Gerakannya penuh keyakinan, seolah ia sedang berbicara di atas panggung yang hanya berisi mereka berdua.
"Kita berdua akan membuat dunia melihat siapa yang akan berada di puncak!"
Wang Chan hanya menatapnya dengan ragu-ragu. Kata-kata Nuan Shuang memang terdengar meyakinkan. Ada api di matanya saat ia berbicara, api yang tidak bisa dipalsukan.
Tapi Wang Chan juga tahu bahwa kata-kata manis sering kali datang dari mulut berbisa.
"Aku hanya takut kau mengkhianatiku. Manusia fana saja bisa berkhianat, apa lagi kultivator. Menjadi tangan kananmu sama saja mempercayakan nyawaku untukmu, yang artinya aku sudah bukan diriku lagi. Tidak bisa menentukan hidup sendiri."
"Tunggu, tunggu!"
Nuan Shuang mendekat satu langkah. Wajahnya yang tadi bersemangat kini berubah serius, hampir terluka.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan mengkhianatimu. Tanpamu, mustahil untukku mencapai tujuanku. Kau bukan alat bagiku, Wang Chan. Kau satu-satunya yang kulihat layak berdiri di sampingku."
Wang Chan menghela napas. Ia ingin percaya. Tapi pengalaman hidupnya mengajarkan bahwa kepercayaan adalah barang paling mahal di dunia ini. Dan ia tidak bisa membelinya.
"Kau sudah hidup ratusan tahun. Tidak mungkin hanya aku yang pernah kau datangi untuk mengatakan ini."
Mendengar apa yang Wang Chan katakan, Nuan Shuang akhirnya tertawa.
Bukan tawa mengejek, tapi tawa yang hangat, tawa yang lahir dari kesadaran bahwa kecurigaan Wang Chan sebenarnya wajar.
"Tidak. Hanya kau yang pernah kudatangi. Selama ratusan tahun ini, hanya kau saja yang menarik perhatianku."
Wang Chan menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. Dadanya terasa sesak oleh beban keputusan yang harus ia ambil.
"Bisa beri aku waktu untuk berpikir?"
Nuan Shuang tersenyum. Senyum yang lembut, sedikit lega, seolah ia khawatir Wang Chan akan langsung menolak mentah-mentah.
"Yah. Aku akan menunggumu sampai kau siap. Ingat baik-baik tawaran ini, Wang Chan."
Wang Chan mengedipkan matanya.
Saat ia membuka mata lagi, Nuan Shuang sudah menghilang dari hadapannya.
Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada sisa energi spiritual, tidak ada apa-apa. Seperti ia memang tidak pernah ada di sana.
Tapi Wang Chan tahu. Ia nyata.
Wang Chan berdiri sendirian di depan rumah kosong itu. Angin malam semakin dingin, membuat bulu kuduknya meremang.
Ia menatap ke arah bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit.
"Alam atas... Ranah Nirvana..." gumamnya pelan.
Tangannya mengepal.
"Apakah aku sanggup?"
Tidak ada yang menjawab.
Tapi di dalam dadanya, di suatu tempat yang paling dalam, ada api kecil yang mulai menyala.