Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 Hubungan Panas
Gina bersama dengan Reno, tampaknya sudah menghabiskan waktu jalan-jalan mereka untuk melepas rindu, mereka berdua menikmati makan malam bersama dan sampai akhirnya Reno mengantarkan kekasihnya pulang kembali ke hotel.
Gina melepas genggaman tangannya dari Reno ketika sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Makasih sayang, kamu sudah meluangkan waktu kamu untuk makan bersamaku, menemaniku belajar dan pergi ke tempat-tempat yang indah," ucap Gina tampak begitu bahagia dengan waktu singkat yang dia miliki bersama dengan sang kekasih.
Reno tersenyum dengan memegang kepala kekasihnya itu, membelai rambut Gina dan menyelipkan anak rambutnya di belakang daun telinga Gina.
"Aku yang berterima kasih kepada kamu, di tengah pekerjaan kamu yang begitu banyak, kamu menyempatkan diri untuk menemuiku," ucap Reno.
Gina hanya tersenyum ditatap begitu dalam oleh Reno.
"Aku sangat merindukan kamu Gina!" ucap Emir begitu lembur.
Gina tersenyum, perlahan mata Reno tertuju pada bibir Gina. Gina memejamkan mata, seolah-olah siap dicium oleh Reno yang saat ini sudah menempelkan bibirnya. Ciuman romantis pasangan itu, dengan Gina membuka mulutnya memberikan akses untuk Reno dengan keduanya saling bertukar saliva.
Ciuman keduanya semakin panas, tangan Gina yang memegang kartu hotel tersebut meremas kemeja Reno yang saat ini lidah sang kekasih mengabsen seluruh isi mulutnya, tangan Reno juga memegang belakang leher Gina dengan keduanya benar-benar frenc kiss.
Reno sepertinya tidak mampu menahan diri, cuman itu bahkan berpindah ke leher jenjang kekasihnya Gina.
"Sayang....." lirih Gina berusaha untuk mengendalikan diri dengan lahan kekasihnya agar tidak berbuat terlalu jauh Karena bagaimanapun itu adalah di tempat umum.
"Aku merindukanmu sayang, aku menginginkanmu," ucap Reno semakin mencurahkan hasratnya yang tidak tertahan dengan jilatan di leher sama kasih memberi tanda kepemilikan.
Reno tidak ingin menghilangkan kesempatan Gina, membuatnya dapat meraih kartu yang dipegang oleh Gina dan menempelkan pada pintu hotel tersebut sehingga terbuka.
Reno mendorong pelan Gina dengan menuntun memasuki hotel dan kemudian menutup pintu kamar menggunakan kakinya. Gina tidak bisa mengimbangi bagaimana Reno yang benar-benar ingin menguasai dirinya.
Kedua tangan Reno saat ini memegang tengkuknya, kembali melumat bibirnya dan bahkan tangannya sudah berpindah ke bagian paha Gina jangan coba untuk menaikkan dress kekasihnya itu dengan tangannya yang yang meraba area sensitif Gina.
Gina tampaknya pasrah, tubuhnya bersandar pada dinding meja yang semakin tidak bisa mengimbangi ciuman kekasihnya yang semakin dia, lehernya bahkan dengan cepat dipenuhi dengan tanda kepemilikan.
Reno mendudukkan Gina di atas meja makan yang terdapat di dapur mini kamar hotel tersebut. Reno kemudian mengambil kursi dan duduk tepat dihadapan Gina dan membuka kaki Gina lebar.
Tanpa ingin menghilangkan kesempatan, Reno melepaskan celana dalam penutup area sensitif yang sudah basah itu, arena langsung menenggelamkan kepalanya dengan lidahnya menari-nari memainkan area sensitif milik gina.
"Sayang......"
"Ahhhhhhh......."
Gina tidak dapat menahan dirinya yang terus mengeluarkan desahan seolah-olah area sensitifnya ingin meledak, Reno memang paling pintar memainkannya, membuatnya terus menyebut nama kekasihnya itu dengan panggilan khas yang selalu terucap dari mulutnya.
"Sayang....."
"Ahhhhhhh!"
Gina tampak tidak tahan yang menjambak rambut Reno dan menekan lebih masuk ke dalam area sensitifnya.
Reno kembali berdiri dari tempat duduknya dan melumat kembali bibir sang kekasih. Tangannya mulai memijat dua gunung milik sang kekasih dengan pakaian Gina yang sudah berantakan.
Permainan panas yang mereka lakukan, seluruh tubuh Gina tidak dilewatkan Reno untuk mencari kenikmatannya, hal-hal sensitif yang dimiliki Gina terus dipermainkan Gina terus mendesah dengan penuh kenikmatan sampai akhirnya pasangan itu melakukan penyatuan.
Reno memompa kekasihnya dengan posisinya yang masih tetap berdiri dan sementara Gina harus sedikit mengangkat tubuhnya untuk menyesuaikan antara dia dan juga Reno.
Untung saja kamar itu difasilitasi pengedap suara dan apapun yang terjadi dan bagaimana ributnya percintaan mereka tidak akan terdengar oleh orang lain.
Mereka sayapnya pasangan yang mencurahkan hasrat kerinduan masing-masing.
****
Jika Gina menikmati percintaan dengan kekasihnya yang menyusul ke Jepang dan lain dengan Amanda yang saat ini ternyata pada akhirnya makan bersama dengan Egar. Keduanya.
"Huhhh, ternyata makan di tempat ini enak juga, Tuan sering makan di tempat seperti ini?" tanya Amanda.
"Jika ke Jepang memang restoran ini yang menjadi kunjungan saya pertama kali," jawab Egar.
"Pilihan Tuan ternyata cukup bagus dengan selera makanan yang sangat enak dan membuat perut terasa kenyang, ini benar-benar akan menjadi rekomendasi restoran bagi saya ke depannya," ucap Amanda.
"Saya juga direkomendasikan oleh Gina tempat ini," jawab Egar.
"Benarkah, wah, Gina memang paling the best dalam mencari tempat yang unik dan bahkan tempat makanan," sahut Amanda.
"Kamu sebaiknya makan dan jangan terlalu banyak berbicara, bukankah kamu lapar dan sebaiknya menikmati makanan kamu, saya kurang suka jika makan sembari berbicara," ucap Egar.
"Hey Tuan, meski kita sangat lapar tetapi tidak menutup kemungkinan untuk berbicara sembari makan, lagi pula mana ada peraturannya tidak diperbolehkan makan sembari berbicara, semua itu hanya berdasarkan etika yang dimiliki seseorang saja," sahut Amanda.
"Kalau begitu kamu ingin mengatakan bahwa kamu tidak memiliki etika dan maka sejak tadi mengajak saya berbicara?" tanya Egar dengan menaikkan satu alisnya.
"Tuan mengatakan bahwa saya tidak beretika? Di mana letak tidak beretikanya saya?" tanya Amanda dengan menekan suaranya.
"Kamu yang menyinggung etika yang berkaitan dengan makan sembari berbicara, dan kamu melakukan hal itu, bukankah wajar saja jika saya pada akhirnya menyimpulkan," jawab Emir.
"Tetapi tidak juga mengatakan bahwa aku tidak beretika," sahut Amanda dengan kesal.
Emir berusaha untuk tidak menanggapi apapun yang dikatakan Amanda dan tetap melanjutkan makannya.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Amanda ternyata makan sedikit buru-buru dan mungkin saja sudah mengumpat di dalam hatinya yang membuatnya batuk-batuk.
Emir menghela nafas menuangkan air putih untuknya dan memberikan kepada Amanda. Amanda tampak masih diam sejenak dengan kesulitan menelan ludah dan kemudian mengambil air putih tersebut dengan meneguknya.
"Ini alasan makan dengan tenang dan tanpa berbicara," ucap Egar.
"Iya-iya," sahut Amanda.
"Jika dilihat-lihat pria di hadapanku ini baik juga, ternyata kesombongan, dinginnya wajahnya tidak sesuai dengan apa yang terlihat, semakin lama berbicara cukup banyak dengannya ternyata memperlihatkan bahwa dia pria yang cukup hangat dan menarik," batin Amanda tiba-tiba saja menyimpan sedikit rasa kagum kepada Egar yang mungkin sudah menolongnya memberikan perhatian kecil kepadanya.
Amanda menyadari bahwa secara tidak langsung memberi pujian kepada Egar, membuatnya seketika menyadarkan diri dengan menggoyang-goyang agar tidak berpikiran yang berlebihan.
Bersambung....