"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Baru, Target Baru
Tiga hari setelah malam menegangkan di Hotel Mulia, duniaku berputar dengan kecepatan penuh. Tidak ada waktu untuk meratap. Berita penangkapan Ardiantoro dan hancurnya nama Dimas serta Maya memenuhi halaman utama media nasional. Namun, seperti yang sudah diprediksi Zaidan, Konsorsium Mahendra bergerak kilat. Lewat kaki tangannya, mereka mencoba menenggelamkan berita itu dengan isu lain dan mulai mengirim orang untuk mengintai rumah peninggalan orang tuaku.
Mereka terlambat. Aku sudah tidak ada di sana.
"Ini tempat tinggal barumu untuk sementara, Laras," ucap Zaidan sambil membukakan pintu sebuah unit apartemen minimalis di pusat kota Jakarta. Tempat ini jauh dari kota asal kami, tempat di mana tidak ada satu pun orang Mahendra yang mengenalku.
Aku melangkah masuk, meletakkan tas jinjingku. "Bagaimana dengan identitas baruku, Zai?"
Zaidan menyodorkan sebuah dompet kulit kecil. Di dalamnya terdapat KTP, SIM, dan paspor baru dengan fotoku, namun dengan nama yang berbeda: Kirana Anandita.
"Mulai hari ini, Larasati Hermawan dinyatakan sedang berada di Singapura untuk pengobatan saraf pasca-trauma. Di sini, kau adalah Kirana, seorang penulis lepas yang baru pindah," jelas Zaidan, matanya menatapku tajam. "Dan ini langkah pertama kita. Kita tidak bisa menunggu mereka bergerak. Kita yang harus menyusup."
"Sebutkan rencananya," jawabku tanpa ragu. Aliran dendam di tubuhku membuatku tidak ingin membuang waktu semenit pun.
Zaidan membuka laptopnya, menampilkan struktur organisasi Konsorsium Mahendra. Di puncak tertinggi, ada nama Adrian Mahendra, sang Tuan Besar yang memerintahkan pembunuhan Ayahku. Dan di bawahnya, ada lini bisnis baru yang sedang mereka kembangkan: sebuah yayasan teknologi dan energi masa depan.
"Minggu depan, mereka mengadakan gala denda dan peluncuran yayasan tersebut. Acara itu sangat eksklusif. Hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk," kata Zaidan.
"Dan aku akan masuk ke sana sebagai salah satu tamu?" tanyaku.
"Lebih dari sekadar tamu," Zaidan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kecerdikan siber. "Aku berhasil meretas sistem undangan mereka. Aku memasukkan namamu sebagai salah satu investor muda dari luar daerah yang tertarik mendanai proyek mereka. Kau akan berhadapan langsung dengan Adrian Mahendra."
Jantungku berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena gairah berburu yang membakar dada. "Lalu apa yang harus kulakukan setelah masuk?"
"Gunakan flashdisk perak milik ayahmu. Di dalam kartu identitas barumu ini, aku sudah menanam chip duplikat dari kunci enkripsi tersebut. Tugasmu adalah mendekati meja kerja privat Adrian di aula acara, lalu mencolokkan chip ini ke perangkat utamanya selama enam puluh detik. Setelah itu, tim sibetku akan mengambil alih dan mengunduh seluruh dokumen pembunuhan ayahmu serta bukti korporat mereka."
"Enam puluh detik untuk menghancurkan sebuah kekaisaran," gumamku sambil menatap kartu identitas baruku.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti montase film yang diputar cepat. Aku berlatih mengubah caraku berjalan, nada suaraku, hingga gestur tubuhku bersama Zaidan. Aku bukan lagi Laras yang lemah lembut; aku adalah Kirana yang anggun, tegas, dan penuh rahasia. Aku juga terus memantau perkembangan novel digital-ku. Di sana, para pembaca setia NovelToon histeris karena plotnya tiba-tiba melompat ke babak spionase tingkat tinggi. Mereka tidak tahu, bab yang mereka baca adalah apa yang akan kulakukan di dunia nyata.
Malam yang dinanti pun tiba.
Sebuah gaun malam berwarna hitam pekat dengan aksen brokat emas membalut tubuhku, memberikan kesan misterius namun sangat berkelas. Hijab hitamku ditata sederhana namun elegan dengan pin berlian kecil. Di balik riasan wajahku yang tegas, tidak ada lagi jejak air mata.
Sebuah mobil sedan mewah yang disewa Zaidan berhenti di depan gedung pencakar langit milik Mahendra. Karpet merah membentang, lampu kilat kamera wartawan saling bersahutan menyambut para konglomerat yang hadir.
Aku turun dari mobil, menegakkan punggungku, dan melangkah masuk ke dalam sarang singa dengan dagu terangkat.
"Undangan Anda, Ibu?" tanya petugas keamanan di pintu masuk utama yang dijaga ketat dengan pemindai biometrik.
Aku menyodorkan kartu identitas baruku dengan senyuman tenang. Petugas itu memindainya. Layar hijau menyala.
Selamat Datang, Ibu Kirana Anandita.
Aku melangkah masuk ke dalam aula besar yang dipenuhi oleh ratusan orang borjuis. Di ujung ruangan, di atas panggung utama, berdiri seorang pria paruh baya dengan rambut memutih yang disisir rapi. Setelannya tampak sangat mahal, dan auranya begitu mendominasi ruangan.
Adrian Mahendra. Pembunuh ayahku.
Ia sedang tertawa bersama beberapa rekan bisnisnya, memegang gelas sampanye seolah tangan itu tidak pernah berlumuran darah. Napasku sempat memburu melihatnya, namun aku segera mengendalikan diri. Aku merasakan getaran di pergelangan tanganku—jam tangan pintar yang terhubung dengan Zaidan di luar gedung.
[Zaidan]: "Aku sudah melihatmu di kamera pengawas. Adrian akan turun dari panggung dalam tiga menit menuju ruang privatnya di sebelah barat aula untuk menandatangani berkas internal. Itu kesempatanmu, Kirana. Waktumu dimulai dari sekarang."
Aku menarik napas dalam-dalam, membetulkan letak tas jinjingku yang menyimpan chip maut itu, dan mulai berjalan membelah kerumunan pesta, bergerak mendekati ruangan gelap yang akan menjadi awal dari kejatuhan sang raksasa.