🌶️ WARNING!!🌶️
Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.
Cantik. Elegan. Mematikan.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.
Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.
Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.
Satu kehilangan diri karena trauma.
Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.
Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Di Supermarket
Seravina duduk menyamping di kursi belakang mobil mewah Rolls-Royce miliknya, jemari lentiknya menari lincah di atas layar tablet. Ia sedang meninjau laporan keuangan beberapa aset pribadinya. Garis rahangnya tampak mengeras; ia sudah cukup muak menghabiskan waktu di mansion keluarga Zharvok pagi ini dan butuh kembali ke privasinya sendiri, tempat di mana tidak ada yang berani mendikte langkahnya.
Mobil itu perlahan berhenti karena lampu isyarat berubah merah.
Entah dorongan apa, mungkin insting atau sekadar kebosanan, Seravina mematikan tabletnya dan menoleh ke luar jendela kaca yang gelap. Matanya menyapu trotoar yang dipenuhi pejalan kaki, hingga pandangannya terkunci pada sebuah supermarket besar di seberang jalan.
Seorang pria sedang berjalan menuju pintu masuk otomatis bangunan itu.
Jantung Seravina berdegup satu kali dengan sangat keras. Hoodie hitam polos itu, rambut pirang keperakan yang berantakan terkena angin, dan cara jalan yang tegap seperti serigala yang tidak peduli pada kerumunan domba di sekitarnya.
"Viktor..." bisik Seravina pelan. Namanya terasa manis sekaligus berbahaya di lidahnya.
Sial. Kebetulan macam apa ini? Tuhan—jika Dia memang ada—sepertinya sedang berpihak pada kegilaannya hari ini. Seravina menyunggingkan senyum kemenangan yang tajam. Ia tidak akan membiarkan kesempatan ini menguap begitu saja.
Klik.
Tanpa aba-aba, Seravina membuka kunci pintu mobil.
"Nona? Apa yang Anda lakukan?!" seru pengawal baru yang sedang menyetir, wajahnya pucat karena kaget melihat majikannya tiba-tiba keluar di tengah jalan raya yang sibuk.
Seravina tidak menjawab. Ia melompat keluar, sepatu hak tingginya berdenting keras di atas aspal. Ia mengabaikan klakson mobil-mobil yang mengerem mendadak dan teriakan para pengemudi yang marah. Dengan langkah anggun namun penuh tekad, ia menyeberangi jalan raya seolah-olah ia adalah pemilik aspal tersebut.
"Nona! Kembali!" teriak pengawalnya dari dalam mobil, namun pria itu tidak berani meninggalkan kendaraan di tengah lampu merah yang sebentar lagi berubah hijau.
Seravina terus melangkah. Matanya tidak lepas dari pintu kaca supermarket tempat Viktor baru saja menghilang masuk ke dalam.
Ia masuk ke dalam bangunan itu dengan aura yang sanggup membekukan pendingin ruangan di sana. Di antara deretan rak makanan, ia mulai berburu, mencari sosok tinggi yang telah merampas ketenangannya sejak kemarin.
Sementara itu, di bagian dalam supermarket, Viktor sedang berdiri dengan tenang di depan rak daging, sama sekali tidak menyadari bahwa ada seorang wanita gila yang baru saja mempertaruhkan nyawa di jalan raya hanya untuk mengejarnya.
Di dalam supermarket yang terang benderang itu, Viktor bergerak dengan ketenangan yang ganjil. Meski hanya mengenakan hoodie hitam dan sweatpants sederhana, sosoknya yang setinggi 191 cm dengan bahu lebar dan wajah pahatan dewa itu tidak mungkin bisa diabaikan.
Beberapa pelanggan wanita yang lewat di sampingnya sengaja melambatkan langkah, mencuri pandang ke arah rahang tajam dan rambut pirang yang sedikit berantakan.
Viktor seolah hidup dalam dimensinya sendiri. Ia tidak sadar—atau lebih tepatnya tidak peduli—bahwa ia menjadi pusat perhatian.
Ia mendorong troli belanja dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meraih sebungkus daging ribeye premium. Matanya yang dingin menatap label kemasan dengan sangat teliti, memeriksa kadar lemak dan tanggal potongnya seserius ia menganalisis kelemahan lawan di ring tinju.
Setelah yakin dengan dagingnya, ia berbelok ke area sayur-mayur. Di sana, ia memilih brokoli dan bayam organik yang paling segar. Gerakannya saat memasukkan sayuran ke dalam troli terlihat sangat sistematis dan rapi.
"Dia tampan sekali..." bisik dua orang remaja perempuan di dekat rak buah, sambil berpura-pura memilih apel.
Viktor baru saja akan meraih botol minyak zaitun kualitas terbaik di rak atas ketika sebuah aroma parfum mahal yang tidak asing—aroma yang sama seperti di lorong kemarin—tiba-tiba menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Aroma bunga yang elegan, dominan, dan berbahaya.
Langkah kaki yang mendekat terdengar ringan namun penuh percaya diri. Viktor tidak menoleh, tapi jemarinya yang sedang memegang botol kaca itu sedikit mengeras.
"Aku tidak menyangka seekor monster ternyata sangat peduli dengan asupan gizinya," suara itu rendah, tenang, dan sangat provokatif.
Viktor menghela napas pendek—hampir tak terdengar. Ia meletakkan botol itu ke dalam troli, lalu perlahan memutar tubuhnya. Di sana, berdiri Seravina dengan napas yang sedikit tidak beraturan.
Rambutnya sedikit berantakan karena berlari menyeberang jalan tadi, tapi matanya... matanya menatap Viktor seolah ia baru saja menemukan harta karun yang paling berharga di seluruh dunia.
Seravina melangkah mendekat, mengabaikan jarak privasi yang seharusnya ada di antara dua orang asing. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, melirik ke dalam troli belanja milik Viktor dengan tatapan menilai yang tajam.
"Daging premium, brokoli organik, dan minyak zaitun kualitas terbaik?" Seravina mengangkat alisnya, lalu kembali menatap wajah datar Viktor. "Beli apa lagi, hm? Aku tidak menyangka seleramu ternyata cukup... berkelas."
Ia mengulurkan tangannya yang halus, ujung jarinya menyentuh dinginnya kemasan daging yang baru saja dipilih Viktor, seolah ia juga sedang memeriksa apa yang akan masuk ke dalam tubuh pria itu.
"Kau sangat pemilih soal apa yang kau makan," gumam Seravina pelan, suaranya terdengar seperti sebuah pujian sekaligus ejekan. "Apa ini rahasia di balik otot-ototmu yang mengerikan itu?"
Viktor tidak menjawab. Ia hanya menatap tangan Seravina yang menyentuh belanjaannya dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa wanita itu adalah gangguan yang tidak perlu. Ia menarik kembali trolinya sedikit, menciptakan jarak di antara mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Viktor. Suaranya berat, datar, dan tidak menunjukkan sedikit pun ketertarikan pada kehadiran Seravina yang memukau.
Seravina tegak berdiri, menyunggingkan senyum miring yang indah namun berbahaya. "Menjemput anjingku yang tersesat, tentu saja."
"Aku tidak punya majikan," balas Viktor pendek. Ia mulai mendorong kembali trolinya, bermaksud melewati Seravina seolah wanita itu hanyalah pajangan manekin yang menghalangi jalannya.
Seravina tidak membiarkannya pergi begitu saja. Ia ikut berjalan di samping Viktor, mengikutinya menyusuri lorong supermarket dengan langkah anggun.
Meskipun Viktor terus melangkah seolah-olah Seravina tidak ada di sana, wanita itu sama sekali tidak merasa terusir. Sebaliknya, Seravina justru berjalan beriringan di sampingnya dengan langkah santai, mengabaikan tatapan heran dari pengunjung lain yang melihat seorang wanita sosialita papan atas sedang berjalan bersama pria ber- hoodie yang tampak berbahaya.
Seravina mengalihkan pandangannya ke rak-rak di sekeliling mereka, seolah-olah ia memang sedang berbelanja kebutuhan rumah tangga, bukan sedang memburu pria. Saat mereka melewati bagian buah-buahan, matanya tertuju pada sekumpulan anggur ungu yang besar dan segar.
Tanpa meminta izin, Seravina mengambil satu kemasan anggur terbaik dan menjatuhkannya ke dalam troli milik Viktor begitu saja.
Pluk.
Viktor menghentikan langkahnya seketika. Ia menatap buah anggur yang kini berada di atas tumpukan dagingnya, lalu beralih menatap Seravina dengan tatapan yang mulai menunjukkan rasa terganggu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Viktor, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.
"Belanja," jawab Seravina singkat dengan nada yang sangat polos yang dibuat-buat. Ia kembali mengambil sebotol jus delima murni dan memasukkannya ke dalam troli pria itu. "Kau butuh antioksidan untuk menyeimbangkan semua protein yang kau makan itu. Aku tidak mau anjingku jatuh sakit karena kekurangan vitamin."
"Aku tidak memintanya," Viktor meraih kemasan anggur itu, berniat mengembalikannya ke rak.
Seravina hanya tersenyum tipis, membiarkan Viktor melakukan apa pun yang dia mau.
Namun, saat Viktor melihat tatapan Seravina yang begitu tenang dan yakin, pria itu entah kenapa tidak jadi meletakkan kembali anggur tersebut.
Dengan napas berat, Viktor akhirnya melepaskan kemasan itu kembali ke dalam troli miliknya sendiri dan lanjut mendorong troli tersebut, sementara Seravina dengan senang hati berjalan di sampingnya layaknya mereka sedang berbelanja bersama.
Viktor terus melangkah, namun kini rahangnya mengeras saat menyadari bahwa trolinya tidak lagi hanya berisi bahan bakar ototnya. Wanita di sampingnya ini benar-benar bertingkah seolah mereka sedang mengisi dapur rumah bersama.
Seravina berjalan dengan keanggunan seorang ratu yang sedang melakukan inspeksi. Tangannya yang ramping sesekali meraih stoples selai kacang impor, sekotak pasta artisan, hingga bumbu-bumbu dapur mahal yang bahkan namanya mungkin tidak pernah Viktor dengar.
"Ini kelihatannya punya aroma yang menarik untuk pangganganmu nanti," gumam Seravina tenang sambil menjatuhkan sebotol rempah premium ke dalam troli.
Pluk.
Satu barang lagi masuk. Viktor menghentikan trolinya, menatap tumpukan barang yang mulai menutupi daging dan sayurnya. Ia tidak tahu siapa wanita ini, dari mana asalnya, atau mengapa dia bersikap seperti orang gila yang sangat akrab di tengah supermarket.
"Aku tidak tahu siapa kau," ucap Viktor, suaranya terdengar seperti geraman rendah yang memperingatkan.
Seravina tidak berhenti. Ia justru meraih sekotak cokelat hitam berkadar kakao tinggi dan menaruhnya tepat di atas tumpukan bumbu tadi. Ia menoleh ke arah Viktor, menyunggingkan senyum tipis yang mematikan sekaligus mempesona.
"Kau tidak perlu tahu namaku untuk menerima saranku, bukan?" sahut Seravina halus. Ia kembali melangkah, jemarinya menunjuk ke arah rak keju. "Keju itu juga bagus. Kau harus mencobanya."
......................
Viktor berdiri diam seperti patung di depan meja kasir, menatap layar monitor kecil yang menampilkan angka digital berwarna merah. Suasana di sekitar mereka mendadak sunyi, bahkan kasir muda yang bertugas sempat tertegun beberapa detik sebelum memberanikan diri untuk menyebutkan totalnya.
"Semuanya jadi... 110,628.33 Rubel, Tuan," ucap kasir itu dengan suara agak bergetar.
Mendengar angka fantastis itu, ekspresi Viktor tetap datar, namun matanya sedikit menyipit. Ia melirik ke arah tumpukan belanjaan di atas conveyor belt. Di sana, bahan makanan sehat miliknya terkubur di bawah tumpukan cokelat artisan, keju langka, botol-botol saus impor, dan berbagai barang "pilihan" wanita di sampingnya yang harganya tidak masuk akal.
Viktor mengalihkan pandangannya ke arah Seravina. Pria itu seolah sedang mempertanyakan kewarasan wanita yang masih berdiri dengan santai sambil memainkan kuku-kukunya yang cantik.
Uang di saku Viktor sebenarnya cukup, namun menghabiskan ratusan ribu Rubel untuk barang-barang yang tidak ia butuhkan terasa sangat konyol.
Seravina yang menyadari tatapan itu hanya mengangkat bahu kecil dengan wajah tanpa dosa. "Apa? Semuanya terlihat enak, bukan?"
Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut dari Viktor, Seravina mengeluarkan sebuah kartu hitam (Black Card) dari balik saku jubahnya yang elegan dan meletakkannya di atas meja kasir sebelum Viktor sempat merogoh sakunya sendiri.
"Pakai ini saja," ucap Seravina kepada kasir dengan nada perintah yang mutlak.
Kasir itu dengan cepat memproses pembayaran tersebut. Viktor hanya bisa menarik napas dalam-dalam, menatap belanjaan mewahnya yang kini mulai dikemas.