NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi / Iblis
Popularitas:827
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7.

Kedua bola mata Maura nampak membulat sempurna, kala dirinya membuka pintu ruangan unit kesehatan sekolah dan berniat untuk pergi meninggalkan ruangan itu.

Kini Maura berdiri tepat di hadapan gurunya yang tadi pagi bersitegang dengannya.

"Mau kemana? Ini sudah aku panggil kan perawat kesini! Katanya punggung kamu itu sakit!" tegur Vince yang melihat muridnya dengan tatapan heran.

"Katanya Bapak tidak peduli!" Maura nampak memutar bola matanya itu dengan jengah. Walaupun ia akui, kalau sekarang ini punggungnya terasa sakit. Tapi ntah kenapa ia begitu jengkel saat berdekatan dengan guru yang di sebutnya dengan sebutan guru aneh itu.

Vince hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar, ia terlihat menarik tangan murid ya itu untuk kembali masuk ke dalam ruangan unit kesehatan sekolah.

"Di obati dulu luka yang ada di punggung mu itu! Ini bapak udah panggil tiga perawat sekaligus," ujar Vince.

"Tapi ini udah gak sakit kok Pak, saya mau kembali ke dalam kelas saya saja! Takut ketinggalan pelajaran," sahut Maura dengan suara yang terdengar sedikit sopan.

Walaupun Maura memaksa, tapi Vince juga tak kalah memaksa. Akhirnya Maura tidak ada pilihan lain selain mengikuti permintaan dari gurunya.

Tiba-tiba rasa takut melanda hati Maura. "Aku benar-benar khawatir, bagaimana jika Pak Vince mengetahui luka di punggungku ini adalah luka cambuk? Apa yang akan dia lakukan? Aku tidak bisa membayangkan betapa ngerinya jika dia sampai mengatakannya pada Mamih Cherly. Jika Pak Vince sampai berbicara, pasti akan ada keributan besar di rumah antara Mamih dan Mamah!" desah Maura dalam hati. Selama ini, pikirannya begitu menerawang dalam kecemasan sampai-sampai ia tak sadar dirinya telah dikelilingi oleh para perawat. Bahkan, seragam sekolahnya pun sudah berhasil dilepas oleh perawat yang saat ini berada di sekitarnya.

Salah satu perawat mencoba mengajak Maura berbicara, hendak meminta izin untuk melepaskan pakaiannya agar mudah dalam perawatan.

Namun, Maura terlalu terdiam hingga perawat tersebut memutuskan untuk melepaskan pakaiannya tanpa izin.

Tiba-tiba, Maura tersentak kaget karena rasa perih yang luar biasa di punggungnya. "Astaga, kenapa sakit sekali!" teriak Maura.

Salah satu perawat terlihat menjelaskan, "Maaf, luka di punggung mu itu mengeluarkan cairan dan darah. Kami harus membersihkannya terlebih dahulu agar tidak infeksi." Lalu perawat itu melanjutkan dengan hati-hati membersihkan lukanya, berusaha untuk tidak menambah rasa sakitnya.

"Tapi ini sakit sekali, hiks," keluh Maura semakin kesakitan.

Para perawat hanya bisa saling pandang satu sama lain, "Apakah ini luka cambuk Maura? Siapa yang melakukan ini pada mu?"

Maura yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa mengigit bibir bawahnya, ia benar benar di buat bingung harus menjawab apa pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh para perawat itu.

Di luar tirai ruangan unit kesehatan sekolah, Vince yang menunggu dengan cemas hanya bisa berjalan mondar-mandir, wajahnya gusar, terutama saat mendengar jeritan Maura.

Vince benar benar di buat gusar, ia begitu penasaran dengan keadaan Maura. Apalagi yang ia tahu Maura itu gadis yang kuat, "Tapi kenapa gadis itu menjerit dengan suara yang sangat kencang? Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Vince dengan suara lirih.

Harusnya sekarang ini Vince sudah kembali ke ruang kepala sekolah, karena ada hal yang harus ia bicarakan dengan Daniel. Namun kekhawatirannya pada Maura seakan membuatnya tidak bisa pergi meninggalkan ruangan ini.

***

*****

Sementara itu di dalam ruangan kepala sekolah.

"Cherly, apakah kamu datang ke sini untuk menemui ku?" tanya Daniel dengan wajah penuh harap.

"Gak," sahut Cherly ketus.

Dengan perasaan sedikit terluka dan bingung dengan nada bicara Cherly, Daniel hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar.

"Kenapa berbicara pada ku dengan nada suara seperti itu? Apakah kamu masih marah perihal masa lalu kita? Ayolah, bukankah yang lalu itu biarlah berlalu."

Daniel menyadari bahwa mungkin Cherly masih membawa beban dari hubungan masa lalunya.

"Seperti nya bukan aku yang tidak bisa melupakan masa lalu kita, tapi kamulah yang tidak bisa melupakan masa lalu kebersamaan kita! Asal kamu tahu saja, aku kesini untuk menyerahkan berkas milik Maura, seperti akte kelahiran dan kelengkapan lainnya yang belum aku bawa saat pendaftaran sekolah! Jadi kamu itu tidak usah terlalu percaya diri, kalau aku datang kesini untuk menemui mu," jelas Cherly dengan ekspresi datar.

Lagi lagi ucapan Cherly sungguh membuat hatinya sangat terluka, tetapi ia sadar, bahwa mungkin selama ia memang terlalu percaya diri.

Daniel nampak menatap Cherly dengan tatapan yang mendalam, seraya berkata dalam hatinya. "Di balik semua kepahitan masa lalu, aku masih berharap Cherly mampu melupakan kesalahanku di masa lalu dan aku juga berharap ia mau membuka hatinya untuk ku lagi. Namun sepertinya sangat mustahil, nampaknya, masa lalu yang pernah kita jalani tetap menghantui kami."

"Kalau begitu aku permisi! Jangan bilang sama Maura kalau aku habis datang ke sini!"

"Cherly tunggu!"

Cherly nampak menoleh.

"Maafkan aku, aku mohon maafkan semua kesalahanku di masa lalu. Karena masa lalu itu sungguh selalu menghantui ku," kata Daniel tulus.

Cherly hanya menjawab ucapan Daniel dengan anggukan kepala. Lalu ia terlihat pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah itu.

"Sudah lah Daniel, hilangkan bayang bayang Cherly dari hidupmu! Lagian sekarang ini ia sudah bahagia bersama dengan Aron," gumam Daniel sembari membaca berkas Cherly, karena di situ tertuliskan jika sampai sekarang Cherly masih sah sebagai istri Aron.

Daniel yang sekarang menjabat sebagai kepala sekolah, nampak melihat berkas berkas milik Maura.

Di situ tertuliskan jika Maura adalah anak kandung Lian dan juga Stela, hal itu sungguh membuat Daniel bingung.

"Apakah saat itu Stela hamil lagi? Terus kenapa bisa Maura itu memiliki wajah yang sama persis dengan mendiang Naura? Terus untuk apa Cherly itu mengangkat Maura menjadi anaknya? Bukankah hubungan Stela dan juga Cherly tidak pernah akur sebelumnya?" Beberapa pertanyaan agaknya mulai bermunculan dalam benak Daniel.

Daniel benar benar bingung dengan berkas berkas milik Maura yang saat ini sangat membingungkan dirinya.

Tiba tiba Daniel nampak terpikirkan sesuatu.

"Kalau memang Maura anak Lian dan Stela, kenapa tidak mereka berdua saja yang mendaftarkan anaknya ke sekolah? Kenapa harus Cherly?" Beberapa hal sungguh sangat membingungkan Daniel saat ini.

"Aku harus membicarakan semua ini pada Vince, sungguh sebuah hal yang sangat mencurigakan? Bagaiman pun caranya? Aku dan Vince harus mencari tahu tentang semua ini," gumam Daniel lagi sembari mengambil hape dari saku celananya. Ia berniat ingin menghubungi Vince untuk membahas perihal Maura.

****

Di ruang unit kesehatan sekolah SMA Taruna.

Vince terkejut mendengar informasi yang diberikan oleh perawat di depannya. "Apa? Luka cambuk?" Vince bahkan tak menyadari bahwa ponselnya berada di saku celananya berbunyi sejak tadi.

"Iya Pak, sebagian luka cambuk Maura juga infeksi," jawab perawat itu.

"Kalau saran saya lebih baik, Pak Vince membawa Maura ke rumah sakit. Takutnya kalau sampai terjadi apa-apa." timpal perawat yang lain.

Vince terdiam, tak percaya dengan fakta yang ada di depan matanya. "Tapi siapa yang mencambuk Maura? Apakah Cherly? Sungguh tak masuk akal!" gumam Vince dalam hati.

"Aku perlu berbicara dengan Maura, mungkin ada yang terlewat. Tentu ada penjelasan di balik semua ini," tegas Vince pada perawat-perawat tersebut.

Pada saat itu juga, Vince merasa sangat bersimpati tentang kehidupan Maura, dan ntah kenapa Vince ingin membantu menyembuhkan luka di punggung muridnya itu.

Sementara Maura yang ada di balik tirai, hanya bisa mengigit bibir bawahnya. Ia benar benar bingung harus mengatakan apa pada Vince, gurunya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!