Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : RAMUAN, RAHASIA, DAN LANGKAH BARU
Api unggun di pantai sudah menyala sejak siang tadi, dan di sekelilingnya suasana yang berkumpul adalah suasana yang tidak pernah sempat terbentuk selama berminggu-minggu di laut.
"Sudah aku bilang tadi," kata Wang Bi kepada Liu Mao dengan nada seseorang yang sudah mengulangi hal yang sama berulang kali, "porsi dagingku lebih kecil dari porsimu."
"Tanganmu yang ambil sendiri, kok."
"Tanganku yang mengambil dari piring yang sudah kau habiskan separuhnya lebih dulu."
"Itu namanya mengambil dari sumber yang sama. Bukan ambil punyaku."
Tianbao duduk di antara keduanya dengan ekspresi orang yang sudah lama berdamai dengan kenyataan bahwa percakapan semacam ini adalah bagian dari biaya yang harus dibayar untuk mendapatkan teman-teman berisik seperti ini. "Kita baru saja selamat dari pertempuran besar dan yang kalian ributkan saat ini adalah ukuran porsi makanan?"
"Makanan adalah kebutuhan dasar manusia," kata Wang Bi dengan sangat serius.
"Kak Chen, kau mau juga?" Liu Mao mengangkat sepotong daging panggang ke arah Chen Mo yang duduk di batu dekat mereka.
Tapi Chen Mo tidak menjawab. Tatapannya ada di garis hutan.
"Seperti itu ya rupanya," bisik Liu Mao ke Tianbao.
"Sudah kebiasaan," Tianbao berbisik balik. "Jangan tersinggung."
Tawa kecil pun pecah di antara keduanya yang segera mereka tahan ketika Chen Mo melirik ke arah mereka.
Sementara Tabib Hua Yuan duduk di sisi yang lebih tenang, cangkir teh hangat di tangannya, dan di sampingnya Hua Ling duduk dengan senyuman yang belum sepenuhnya hilang dari wajahnya sejak upacara tadi.
"Ke mana Tuan Muda Haifeng?" tanya Hua Yuan kepada cucunya.
Pertanyaan yang sangat biasa. Tapi cara orang-orang di sekitar sana menoleh ke arah Hua Ling sesudahnya tidak biasa sama sekali.
Wajah Hua Ling pun berubah menjadi warna yang tidak cocok dengan konteks pertanyaan tadi. "Kakek kenapa tanya aku."
"Lalu siapa lagi yang mau kakek tanya."
"Tanya ke siapa saja. Seperti Kak Tianbao."
"Tapi kakek tanya kamu."
Tianbao meletakkan tangannya di bahu Hua Ling dengan ekspresi yang paling tidak berdosa yang bisa dia produksi. "Ling'er, kenapa mukanya merah? Panas ya?"
"Tidak panas kok." Hua Ling menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Bukan begitu maksudnya. Kalian ini—"
Alhasil tawa yang pecah sesudahnya cukup keras untuk menarik perhatian beberapa kru yang duduk agak jauh.
Paman Dao tiba dari arah kapal dengan cangkir minuman fermentasi buatan sendiri yang entah dari bahan apa, dan langsung duduk di antara kelompok itu dengan cara seseorang yang merasa sudah layak beristirahat. "Kapal sudah di air," katanya. "Panglima yang pindahkan tadi pagi. Satu tarikan es dan kapal itu meluncur sendiri." Dia menggeleng kagum. "Belum pernah aku lihat pemindahan kapal secepat itu."
"Memangnya butuh berapa orang biasanya?" tanya Wang Bi.
"Dua puluh."
Keheningan pun diisi dengan kekaguman yang tidak perlu diucapkan.
Kemudian Paman Dao menatap Chen Mo. "Kapan Panglima dan Tuan Muda Haifeng kembali?"
"Sebelum sore," kata Chen Mo.
Paman Dao pun mengangguk dan menyeruput minumannya. Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Perpustakaan bawah tanah sekte itu jauh lebih luas dari yang bisa ditebak dari struktur bangunan di atasnya.
Rak-rak kayu tua yang sudah menghitam di tepinya memenuhi dinding dari lantai ke langit-langit, dan di setiap rak, gulungan-gulungan tersusun dengan sistem yang tidak langsung jelas tapi ternyata sangat teratur ketika sudah dipahami. Cahaya dari lampu-lampu minyak di ceruk-ceruk dinding membuat ruangan ini terasa seperti berada di dalam kepala seseorang yang sudah menghabiskan hidupnya untuk membaca.
Haifeng sendiri berdiri di tengah ruangan itu dengan jubah biru tua yang diberikan sekte sebagai tanda kehormatan, terlalu panjang di bagian lengan karena tidak ada yang pas untuk ukurannya, dan ekspresinya adalah ekspresi seseorang yang baru masuk ke toko yang menjual persis semua yang ingin dibelinya tapi tidak punya uang.
Sementara Qinghan berdiri dua langkah di belakangnya dengan tangan terlipat dan mata yang tidak berhenti bergerak ke setiap sudut ruangan.
"Guru Agung Shen Wuhai." Haifeng menoleh ke pria tua di sebelahnya yang tersenyum dengan cara yang membuat garis-garis di wajahnya semua bergerak sekaligus. "Terima kasih sudah membawa kami ke sini."
"Pedang Samudera tidak pernah salah memilih tangan," kata Shen Wuhai. "Aku sudah lama menduga bahwa suatu hari keturunan Changsong akan datang ke sini." Dia berjalan ke rak pertama, tangannya bergerak di antara gulungan-gulungan tanpa menyentuhnya, seperti menyapa teman lama. "Ayahmu pernah duduk di ruangan ini juga. Dua puluh tahun lalu atau lebih. Yang jelas dia membaca tiga hari tiga malam tanpa berhenti."
Lantas Haifeng menatap kursi tua di sudut ruangan itu tanpa berkedip selama beberapa saat.
"Tentang Pulau Xuanyuan," kata Qinghan dari belakang. Langsung, tanpa basa-basi.
"Ya, ya." Shen Wuhai menoleh ke Qinghan dengan ekspresi yang tidak tersinggung sama sekali. "Panglima Perang yang terkenal itu pasti tidak sabar. Baiklah." Nada suaranya berubah serius. "Kami percaya Pulau Xuanyuan itu ada. Kami percaya itu adalah pusat dari semua yang ada di lautan ini. Tapi untuk lokasinya..." Shen Wuhai menghela napas. "Tidak ada satu pun dari kami yang tahu dengan pasti."
Qinghan menatapnya tajam.
"Ini bukan penipuan," kata Shen Wuhai. "Kami tahu tanda-tandanya. Kami tahu arus yang mengarah ke sana. Kami tahu musim yang tepat. Tapi koordinat pastinya yang belum ketemu." Dia mengambil satu gulungan dari rak dan meletakkannya di meja di tengah ruangan. "Yang kami punya hanyalah ini. Peta arus bawah laut yang dikumpulkan selama tiga generasi. Jalur migrasi Gui Ao. Dan..." Dia membuka gulungan lain. "Catatan dari ayah kalian sendiri. Dia meninggalkan salinan catatannya di sini sebelum pergi."
Haifeng bergerak ke meja itu tanpa sadar bahwa kakinya sudah bergerak.
Tulisan ayahnya di atas kertas yang sudah menguning itu tidak berbeda dari yang pernah dilihatnya di Long Yuan, huruf yang terlalu tebal dan rapi untuk tulisan tangan seseorang yang sedang berpikir cepat. Haifeng membaca beberapa baris pertama dan tidak bisa mengangkat matanya dari sana.
Sementara Qinghan ikut membaca dari sisi lain meja. Wajahnya tidak berubah, tapi tangannya yang tergeletak di tepi meja mengencang sedikit.
"Kerajaan Tengkorak Hitam," kata Shen Wuhai tiba-tiba. "Kalian harus berhati-hati dengan mereka."
"Kami tahu tentang mereka," kata Haifeng.
"Tahu nama bukan berarti tahu bahayanya." Shen Wuhai duduk di kursinya. "Mereka bukan sekadar bajak laut. Mereka percaya bahwa kekuatan sejati Shenzhou ada di lautan, dan bahwa siapa pun yang menguasai lautan bisa mengubah hukum langit yang sudah rusak itu menjadi alat kekuasaannya."
Haifeng berpikir bahwa orang-orang di ruangan ini juga tidak bisa disebut sepenuhnya baik, bahwa ritual ular dan pembantaian kru Long Yuan yang terdampar adalah fakta yang ada dan tidak bisa dihapus oleh sikap hormat dan gulungan catatan. Tapi informasi adalah informasi, dan orang yang menyampaikannya tidak harus sempurna untuk informasinya menjadi berguna.
"Kami sudah dengar tentang ambisi mereka," kata Qinghan. "Dari sumber yang berbeda."
"Jangan khawatir, sumbermu benar," kata Shen Wuhai. "Dan tambahkan ini: pemimpin mereka sudah pernah ke wilayah sekitar Pulau Xuanyuan. Dia tidak berhasil masuk, tapi dia sudah lebih dekat dari siapa pun selain ayahmu."
Akhirnya Haifeng merasa cukup dengan percakapan itu. "Terima kasih, Guru Agung Shen. Ini lebih dari yang kami harapkan."
Shen Wuhai pun mengangkat tangannya. "Tunggu dulu."
Dia mengambil sesuatu dari lipatan jubahnya, sebuah bungkusan kain kecil yang dibuka perlahan, dan di dalamnya ada sebuah botol kecil dari bahan yang transparan dengan cairan di dalamnya berwarna biru kehijauan, sangat mirip dengan warna rambut Samudera.
"Ini dibuat dari bunga karang laut yang mekar satu kali setiap dua belas tahun," kata Shen Wuhai, meletakkan botol itu di atas meja. "Dicampur dengan akar pohon Dao yang sudah tumbuh selama tiga ribu tahun di dasar laut, dan sedikit qi murni dari binatang spiritual tingkat delapan yang sudah meninggal secara alami." Dia menatap Haifeng. "Meminumnya akan meningkatkan tingkat kultivasi paling sedikit ke tingkat tiga jika dari nol, bahkan untuk yang tidak memiliki akar spiritual sekalipun."
Qinghan menatap botol itu. "Di Long Yuan, ada puluhan tabib yang sudah mencoba meningkatkan tingkat kultivasi adikku. Tapi tidak ada yang berhasil."
"Ramuan Long Yuan bekerja dengan memperkuat akar spiritual yang sudah ada." Shen Wuhai mendorong botol itu ke arah Haifeng. "Ramuan ini bekerja dengan menanam akar baru. Jadi caranya berbeda dengan ramuan peningkat biasa."
Haifeng menatap botol itu sebelum menatap Shen Wuhai. Kemudian botol itu lagi. Tangannya sudah hampir menyentuh botol itu ketika tangan Qinghan mendarat di atas tangannya.
"Jangan dulu," kata Qinghan.
"Tapi Kak—"
"Tidak dulu."
Haifeng menarik napas, meski tangan itu tetap ada di atas tangannya.
Sedangkan Shen Wuhai malah terkekeh, suaranya hangat dan tidak menyimpan maksud lain. "Kakak yang bijak." Kemudian dia berdiri, membungkuk ke arah Haifeng dalam gerakan yang dalam untuk ukuran seseorang seusianya. "Semoga perjalananmu membawa dirimu ke tempat yang sudah lama menunggumu, Pendekar Pedang Samudera, Wei Haifeng."
Haifeng menerima penghormatan itu dengan meringis senyum yang terlalu lebar untuk disebut elegan tapi terlalu tulus untuk disebut tidak pantas. "Terima kasih untuk semuanya."
Lautan yang sama yang hampir membunuh mereka beberapa minggu lalu kini terasa berbeda di bawah lunas kapal.
Atau mungkin yang berbeda adalah cara mereka berdiri di atasnya.
Zhao Feng bersandar di railing dengan ekspresi orang yang sudah memutuskan bahwa merasakan angin laut itu nikmat dan tidak ada yang bisa mengambil keputusan itu darinya. Sementara Sun Li melakukan hal yang sama di sampingnya. Dan di antara keduanya, Ma Chao berdiri dengan tatapan yang sudah mulai bisa melihat lautan tanpa langsung membayangkan ular raksasa.
"Kau tahu," kata Sun Li, "aku masih bisa bayangkan ekspresinya waktu pertama kali muncul dari karung itu."
Ma Chao menutup matanya. "Tolong jangan."
"Kepala dulu, lalu badannya menyusul pelan-pelan—"
"Sun Li."
"Lalu matanya yang tajam itu—"
"Aku minta tolong."
Zhao Feng sudah tertawa sejak kalimat pertama. "Kau harus akui itu momen yang tidak akan dilupakan siapa pun yang melihatnya."
"Aku yang mengalaminya sendiri dan aku sudah sangat berhasil melupakannya, dua kali! Ular besar dan yang kecil-kecil itu," kata Ma Chao. "Kenapa kalian tidak mau membiarkanku."
Zhao Feng pun menyikut Bai Mei yang berdiri di sisi kanan mereka dengan tudung di kepalanya, matanya lurus ke depan ke arah punggung Haifeng yang berdiri di dek kemudi. "Hey. Bersenang-senang lah sedikit. Kita masih hidup."
"Aku tahu kita masih hidup," kata Bai Mei.
"Kelihatannya tidak."
"Aku sedang berpikir."
"Pikir saja nanti. Sekarang senang-senang dulu."
Bai Mei tidak menjawab. Matanya tidak bergerak dari punggung Haifeng di dek kemudi, dari gagang Pedang Samudera yang menyembul di punggungnya, dari cara pemuda itu berdiri di hadapan lautan yang sama seperti yang sudah dua kali hampir membunuh mereka tapi tidak berhasil.
"Bai Mei." Zhao Feng kali ini lebih serius. "Apa yang kau rencanakan?"
"Tidak ada." Bai Mei mengangkat tudungnya sedikit dan melangkah ke depan.
“Tu-tunggu dulu, Bai Mei—“ Zhao Feng pun cepat-cepat mengulurkan tangannya namun terlambat.
Langkah Bai Mei ke arah Haifeng tidak terburu-buru tapi tidak bisa dihentikan, seperti arus yang sudah memilih arahnya.