NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SENI BERSIKAP BODO AMAT

Pagi ini, HP Ah Chio berdering.

WA dari Ah Guan: "Chio, aku jemput ya. Kita sarapan dulu sebelum syuting."

Ah Chio membaca. Matanya tidak berkedip. Lalu—klik. "Mute this chat."

Bodo amat.

---

Sejak skandal dengan Eng Sok, Ah Chio mulai belajar. Belajar untuk tidak terlalu peduli. Belajar untuk tidak terlalu memikirkan apa kata orang. Belajar untuk tidak terlalu berharap.

Ia bahkan membeli buku—"Seni Bersikap Bodo Amat".

Buku itu sudah 8 bulan di meja samping ranjangnya. Kulitnya sudah sedikit kusam. Beberapa halaman ada lipatan kecil di pojok—tanda dibaca berulang-ulang. Semalam, setelah Eng Sok mengantarnya pulang, ia menyelesaikan buku itu.

Selesai.

Ia hanya tidur dua jam.

---

Jam delapan pagi. Ah Chio bangkit dari ranjang. Mandi. Air hangat mengalir di rambut panjangnya—dibiarkan terurai, tidak diikat.

Ia mengambil minyak Sam Hok Liong dari rak kamar mandi. Botol baru—yang lama habis kemarin. Ia oleskan ke rambut—pelan, tidak terburu-buru. Wangi jahe dan serai memenuhi ruangan.

Lalu ia membuka meja rias.

Lipstik.

Bukan lipstik biasa. Lipstik pemberian Eng Sok kemarin—tube aluminium, ukiran teratai di tutupnya. Model "nenek-nenek", kata orang. Tapi setelah viral karena Eng Sok, malah populer lagi di kalangan anak muda.

"Malah sudah keluar yang baru lagi," pikir Ah Chio sambil tersenyum. "Lebih kuno. Model kotak. Bisa langsung dijepit di bibir atau dipakai dengan kuas kecil."

Ia membuka tutup lipstik itu. Warna merah gelap—seperti darah naga, seperti bunga teratai yang mekar di malam hari.

Ah Chio mengoleskannya di bibir. Pelan. Tidak terburu-buru.

"Sioh Bu..."

Ia memeluk lipstik itu. Matanya terbayang—ingatan lama. Bukan ingatan tentang kemarin. Tapi ingatan tentang ruangan itu—di mana hatinya berdebar-debar. Di mana dia dan Eng Sok masih kecil. Masih kurus. Tapi sudah macam-macam.

Ah Chio menggeleng. Tidak mungkin.

---

HP berdering.

Pesan masuk—dari Eng Sok: "Gua udah di pintu."

Ah Chio tersenyum. Ia mengambil ransel—sudah berisi Tng Sa, power bank, botol minum, dan buku catatan kecil. Tanpa berlama-lama, ia keluar. Eng Sok tersenyum menyambutnya. 

---

 

Lim Hong Guan entah dari mana berdiri di belakang Eng Sok. Pakai kaos dan kolor. Wajahnya merengut. Matanya menyipit begitu melihat Ah Chio keluar—dengan ransel, dengan lipstik, dengan senyum yang tidak ia kenali.

"Chio, lu—", teriak Ah Guan.

Eng Sok dan Ah Chio melihat pria tinggi ikal itu. Mereka menyipit dan senyum miring bersamaan.

"Jangan baper," potong Ah Chio. Suaranya santai. "Gua ni ramah. Kayak elu."

Ah Guan terdiam.

Ramah?

Sama siapa?

Sama Sioh Bu?

Tapi belum sempat ia bertanya—pintu kamar sebelah terbuka.

Ah Lin keluar. Rambut masih basah. Make up masih setengah jadi. Pakai tank top acak-acakan dan kolor setengah paha 

Ia menghampiri Ah Guan. Langsung menggandeng tangannya.

Ah Guan emosi. Matanya melotot ke Ah Lin.

"Lu—"

"Apa?" Ah Lin tidak takut sambil menunjuk Ah Guan lalu Kamarnya. "Lu yang telpon gua semalam. Lu yang nginap sama gua di sini?"

Ah Guan tidak bisa menjawab.

Ah Chio melihat semuanya. Matanya tidak berkedip. Ia tidak terkejut. Ia tidak marah. Ia hanya menghela napas.

Buku "Seni Bersikap Bodo Amat" halaman 37: "Kamu tidak bisa mengubah orang lain. Yang bisa kamu ubah hanya reaksimu."

Ia menggandeng Eng Sok. Menjauh.

"Makan tu ramah!" kata Ah Chio bersamaan dengan Eng Sok—sambil tertawa. Tawa iblis—seperti saat mereka berdua berakting sebagai antagonis di Mikrodrama "Goeh Sia" yang viral di awal karir Ah Chio.

"Ramah banget," sahut Eng Sok.

Mereka berjalan ke motor—meninggalkan Ah Guan yang masih bergumul dengan Ah Lin di depan apartemen.

---

Sampai di lokasi syuting, Ah Chio dicegat petugas parkir.

"Non, mobil Nona udah hampir 3 hari ga dibawa pulang." Petugas itu menunjuk mobil Ah Chio—yang masih terparkir di tempat yang sama sejak lusa. "Apa mau dibantu jualin?"

Ah Chio menggeleng. "Enggak. Nanti."

Petugas mengangkat bahu. Tidak bertanya lebih lanjut.

Eng Sok menatap mobil itu—lalu ke Ah Chio. Ah Chio tidak peduli. Ia sudah berjalan menuju studio—meninggalkan masalah parkir untuk nanti.

---

Di ruang rias, Ah Chio duduk di kursi. Di sebelah kanannya—Eng Sok. Di sebelah kirinya—kursi kosong.

Tapi tidak lama. Seorang pria masuk.

Rambut hitam, disanggul rapi. Tinggi tidak terlalu—sekitar 170 cm. Pakaian rapi—kemeja putih, lengan digulung. Bawa kotak kecil—biru muda, pita putih.

Ia mendekati Ah Chio.

"Nona Hok."

Ah Chio menoleh. Matanya membulat—sedikit kaget, tapi tidak terlalu.

"My Little..." pria itu tersenyum. "Ini kesukaan Nona. Sakima."

Ia membuka kotak itu. Di dalamnya—kue tradisional. Sakima. Kesukaan Ah Chio.

Ah Chio menerima. "Go Hok Peng?"

Pria itu mengangguk, bersalaman dengan Eng Sok, "Iya. Gue Go Hok Peng."

Eng Sok senyum ramah tapi kakinya menendang tembok. Tembok malang itu retak catnya.

---

Eng Sok—yang duduk di samping Ah Chio—mendengar semuanya.

Matanya menyipit. Tersenyum sehangat mungkin—tapi di dalam hati... Menyala abangku!

Go Hok Peng.

Mantan.

Pria pertama yang jadi kekasih Ah Chio.

Yang mundur setelah sebulan karena capek dengan waktu yang terlalu terbatas.

Dan sekarang—dia ada di sini. Di ruang rias yang sama. Dengan Sakima di tangan. Dengan senyum yang tidak bersalah.

"Thien, baru lolos lubang harimau kok malah masuk lubang buaya!"

Eng Sok menendang tembok—dalam hati.

Ia tidak menunjukkan apa-apa di wajah. Senyumnya masih hangat. Matanya masih ramah. Tapi dalam hati—batu bata berhamburan.

---

Go Hok Peng duduk di kursi sebelah Ah Chio.

Dia ramah. Dia sopan. Dia tidak menyentuh Ah Chio. Tidak menggoda. Tidak menggoda. Dia hanya tersenyum—dan kadang menatap Ah Chio terlalu lama.

Eng Sok mengamati.

Ah Peng tidak merebut tapi menumbuhkan ingatan lama. Dia hanya... mengingatkan. Mengingatkan Ah Chio bahwa dia pernah dicintai — sebelum Ah Guan. Sebelum Eng Sok. Sebelum semua keributan ini, dialah tuan di hati Ah Chio.

Dan Ah Chio—menerima Sakima itu. Memakannya membaginya dengan Eng Sok. Tidak menolak. Tidak bertanya.

Eng Sok memakannya dengan pandangan tajam ke Ah Peng.

Ah Peng meremas ujung kemejanya.

"Ini perang baru," pikir Eng Sok. "Dan musuhnya tidak pernah menyerang. Dia hanya... berdiri di sana. Tersenyum dengan sekotak kenangan."

---

Syuting dimulai.

Adegan pertama— Ah Peng melindungi Ah Chio dari serangan Eng Sok. Eng Sok perih. Karena tatapan lembut Ah Chio yang biasanya hanya miliknya kini dibagi dengan Ah Peng juga.

---

BERSAMBUNG

---

Ah Guan kena mute. Ah Lin keluar. Go Hok Peng datang dengan Sakima.

Ah Chio belajar bersikap bodo amat.

Dan Eng Sok—menendang tembok dalam hati.

"Ini perang baru."

💐🪷

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!