Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Pertemuan Pertama yang Dingin
"Dasar orang tua tidak becus! Lihat, sepatuku jadi basah semua! Kamu tahu tidak berapa harga sepatu ini? Gajimu setahun saja tidak akan cukup untuk membayarnya!"
Suara makian melengking dari seorang pria bertubuh tambun berjas abu-abu menggema di koridor lantai VIP Hotel Grand Luxury. Di hadapannya, seorang wanita paruh baya berseragam cleaning service menunduk dalam-dalam, tubuhnya bergetar ketakutan sembari memegang erat tongkat pel.
"Maaf, Tuan... Saya benar-benar tidak sengaja. Lantainya baru saja saya pel dan masih agak licin," cicit wanita tua itu dengan suara parau menahan tangis.
"Alasan! Bersihkan sekarang juga pakai bajumu! Lap sepatu saya sampai kering!" bentak pria tambun itu lagi, semakin semena-mena.
Tak jauh dari sana, langkah kaki tegap seorang pria berpostur tinggi tegap terhenti. Calix David, dengan setelan jas hitam custom-made yang melekat sempurna di tubuh atletisnya, mengamati kegaduhan itu dari balik pilar marmer. Tatapan matanya sedingin es, tanpa niat untuk ikut campur. Baginya, drama manusia di tempat umum seperti ini hanya membuang waktu penandatanganan kontrak pentingnya malam ini.
Namun, sebelum ajudan Calix bergerak untuk mengusir keributan itu, seorang gadis muda dengan gaun terusan sederhana melesat maju, langsung berdiri pasang badan di depan wanita tua tersebut.
"Hentikan, Tuan! Tidak bisakah Anda berbicara dengan sopan? Ibu ini sudah meminta maaf," ujar gadis itu dengan suara lantang namun tetap terdengar lembut.
Calix menyipitkan matanya. Gadis itu... Mireya. Tentu saja Calix belum mengenalnya secara resmi, namun keberanian gadis berwajah polos dengan rambut dikuncir kuda itu berhasil mencuri perhatiannya.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur! Apa kamu juga bekerja di sini? Hah?" semprot pria tambun itu, menunjuk wajah Mireya dengan kasar.
Mireya tidak gentar. Dia justru mendongak, menatap lurus mata pria pemarah itu. "Saya bukan pekerja di sini, tapi saya punya mata untuk melihat mana yang benar dan mana yang keterlaluan. Sepatu Anda hanya terkena sedikit percikan air, Tuan. Anda bisa menyekanya dengan tisu, bukan malah menyuruh seorang ibu tua membersihkannya dengan pakaian. Di mana hati nurani Anda?"
"Kurang ajar! Kamu tahu siapa saya—"
"Saya tidak perlu tahu siapa Anda untuk tahu apa itu sopan santun," potong Mireya cepat. Dia kemudian berbalik, mengambil alih tongkat pel dari tangan si wanita tua dengan senyuman tulus. "Ibu tidak apa-apa? Mari, biar saya bantu rapikan bagian yang basah ini. Ibu istirahat saja dulu."
"Tapi, Neng... nanti Manajer..." wanita tua itu berbisik cemas.
"Tidak apa-apa, Bu. Biar saya yang bicara kalau Manajernya datang," sahut Mireya menenangkan.
Pria tambun itu mendengus kasar, merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang gadis kampung. Namun, melihat beberapa tamu hotel mulai menoleh dan berbisik-bisik, dia akhirnya memilih pergi sambil mengumpat pelan. "Awas kamu ya! Dasar gadis tidak tahu diuntung!"
Dari kejauhan, sudut bibir Calix berkedut tipis, hampir membentuk sebuah senyuman yang sangat langka. Ada rasa lega yang aneh merayap di dadanya. 'Jadi, gadis yang dipilihkan oleh keluarga Pradipta adalah tipe gadis pemberani seperti ini? Setidaknya dia tidak terlihat lemah dan menyedihkan,' batin Calix.
Namun, sedetik kemudian, rahang Calix kembali mengeras. Tatapannya kembali mendingin saat mengingat tujuan utama pertemuan malam ini. 'Jangan tertipu, Calix. Dia tetaplah putri dari Ardan Pradipta. Gadis yang setuju menjual rahimnya demi uang puluhan miliar. Semua kepolosan dan keberanian ini mungkin hanya topeng untuk menutupi sifat aslinya yang gila harta.'
"Tuan Calix, keluarga Pradipta sudah menunggu di dalam ruangan VIP 1," bisik asisten pribadinya, mementahkan lamunan Calix.
"Mari masuk," jawab Calix datar, memutar tubuhnya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke arah Mireya.
Lima belas menit kemudian, di dalam ruangan pertemuan yang beraroma kemewahan dan esensial oil mahal, Mireya duduk diapit oleh kedua orang tuanya. Jantungnya bertalu-talu tak keruan. Gaunnya yang tadi tampak rapi kini sedikit kusut karena aksi spontannya di koridor hotel.
Pintu geser kayu ek bermotif elegan terbuka. Langkah kaki yang mantap dan mengintimidasi masuk ke dalam ruangan.
"Selamat malam, Tuan Calix yang terhormat! Suatu kehormatan besar bagi kami bisa bertemu dengan Anda," sapa Ardan Pradipta dengan suara yang dibuat-buat seramah mungkin, langsung berdiri dan membungkuk hormat.
Fiona pun ikut berdiri, tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Malam, Tuan Calix. Ini... ini putri kami, Mireya. Dia masih sangat muda, baru dua puluh satu tahun, dan kami jamin dia masih sangat bersih."
Mireya terpaksa mendongak. Dan detik itu juga, napasnya seolah tercekat di tenggorokan. Pria yang berdiri di depan meja adalah pria jangkung berjas hitam yang tadi sempat dia lihat sekilas di koridor. Wajahnya luar biasa tampan, bak pahatan dewa Yunani, namun auranya begitu pekat, kaku, dan dingin luar biasa.
Calix tidak membalas sapaan manis kedua orang tua Mireya. Mata tajamnya langsung tertuju pada Mireya yang tampak pucat.
"Duduk," perintah Calix pendek. Suaranya yang berat memotong semua basa-basi di ruangan itu.
Ardan dan Fiona buru-buru duduk kembali dengan canggung.
Calix melirik jam tangan Rolex-nya sebelum menatap Ardan dengan pandangan merendahkan. "Saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi. Dokumen kontrak rahim sudah ditandatangani oleh putri Anda, bukan?"
"Ukuran nominal dari David Group sudah disetujui, Tuan! Sudah! Ini dokumennya," jawab Ardan dengan cepat, menyodorkan map dokumen dari dalam tasnya dengan tangan yang agak gemetar.
Calix mengambil map itu, membukanya perlahan, lalu mengalihkan pandangannya pada Mireya yang sejak tadi hanya menunduk sembari meremas jemarinya sendiri.
"Mireya," panggil Calix dingin.
Mireya tersentak, terpaksa menatap pria berusia tiga puluh lima tahun itu. "I-iya, Tuan...?"
"Kamu tahu apa isi kontrak ini?" tanya Calix, nadanya penuh selidik dan sinisme yang disembunyikan dengan baik. "Atau kamu hanya asal tanda tangan karena tergiur dengan nominal angka di belakangnya?"
Mireya mendongak, merasa tersinggung dengan nada bicara Calix. "Saya tahu isinya, Tuan. Satu tahun... pernikahan kontrak untuk memberikan Anda keturunan."
Calix mendengus remeh, bersandar pada kursi kulitnya sembari melipat tangan di dada. "Bagus kalau kamu sadar. Jadi, berapa bagian yang dijanjikan orang tuamu dari lima puluh miliar yang akan aku kucurkan nanti? Sepuluh persen? Atau kamu meminta semuanya untuk membeli kemewahan kota yang tidak pernah kamu lihat di desamu?"
"Tuan Calix, maaf, anak kami tidak—" Fiona mencoba menimpali dengan panik, takut kesepakatan ini batal.
"Saya tidak berbicara dengan Anda, Nyonya Pradipta," potong Calix tajam tanpa menoleh, membuat Fiona langsung bungkam seribu bahasa. Matanya tetap mengunci manik mata Mireya. "Jawab, Gadis Desa. Apa yang paling kamu inginkan dari uang kontrak ini? Rumah mewah? Perhiasan?"
Mireya mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa lega yang sempat ia rasakan karena mengira pria ini setidaknya berpenampilan terhormat langsung sirna. Di balik wajah tampannya, pria ini benar-benar sombong.
"Saya tidak menginginkan sepeser pun uang Anda untuk kemewahan saya, Tuan Calix David," jawab Mireya dengan volume suara yang naik, kepolosannya berganti dengan ketegasan yang sama seperti di koridor tadi. "Saya menandatangani kontrak rahim ini karena adik saya sedang sekarat di rumah sakit dan nenek saya butuh biaya pengobatan! Jika bukan karena nyawa keluarga saya, saya tidak akan pernah sudi menyewakan rahim saya pada pria sekaku dan sedingin Anda!"
Suasana ruangan mendadak mencekam. Ardan dan Fiona hampir jantungan mendengar kelancangan putrinya.
"Mireya! Jaga bicaramu!" bentak Ardan dengan wajah pucat pasi.
Namun, Calix justru menaikkan sebelah alisnya. Alih-alih marah, ada kilatan ketertarikan yang tertangkap di matanya, meskipun sedetik kemudian langsung ditutupi oleh topeng sinisnya yang kaku. Egonya menolak untuk mengakui bahwa keberanian gadis ini membuatnya terpikat.
"Berani juga kamu berbicara seperti itu di depan orang yang memegang kendali atas nasib keluargamu," bisik Calix, memajukan tubuhnya ke arah Mireya. "Kita lihat saja nanti, Mireya Pradipta. Apakah mulut manismu ini akan tetap berkata tidak butuh uang saat kamu sudah merasakan kemewahan di mansionku... atau kamu justru akan memohon padaku untuk tidak menceraikanmu setelah satu tahun karena sudah terbiasa menjadi nyonya kaya."
Mireya membalas tatapan itu dengan berani, meski hatinya bergetar hebat. "Kita buktikan saja, Tuan Calix. Satu tahun tidak akan lama."
Calix menutup map dokumen dengan hentakan keras. "Kesepakatan selesai. Besok pagi, bersiaplah. Mobilku akan menjemputmu untuk mendaftarkan pernikahan ini. Dan ingat... persiapkan fisikmu, karena aku tidak suka membuang waktu untuk menunda kehamilan kontrak ini."
semangat terus ya Thor...