NovelToon NovelToon
Sekar

Sekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Mungkin!!!

Petugas pemadam kebakaran segera bersiap melakukan evakuasi.

Beberapa orang mengenakan perlengkapan keselamatan lengkap. Tali-tali besar dipasang di sekitar bibir sumur. Lampu sorot diarahkan ke dalam untuk membantu penerangan.

Sementara itu, polisi meminta warga menjaga jarak.

"Garis pembatas jangan dilewati!" teriak salah seorang petugas.

Meski begitu, rasa penasaran membuat banyak warga tetap berusaha melihat dari kejauhan.

Suasana menjadi tegang, tak ada lagi percakapan keras. Semua mata tertuju ke arah sumur tua itu.

Dua orang petugas damkar kemudian perlahan diturunkan ke dalam sumur menggunakan tali pengaman.

Orang-orang menunggu dalam diam.

Hanya suara peralatan dan instruksi para petugas yang sesekali terdengar.

Menit demi menit terasa begitu lambat.

Lalu dari dalam sumur terdengar suara petugas memberi aba-aba.

"Siap!"

"Tarik perlahan!"

Beberapa petugas di atas segera menarik tali.

Warga yang berdiri di belakang garis pembatas langsung meregangkan leher mereka.

Jantung berdebar semakin kencang. Tak sedikit yang menelan ludah.

Ada pula yang memilih memalingkan wajah karena tidak yakin sanggup melihat apa yang akan muncul dari dalam sumur.

Perlahan-lahan sebuah kantong jenazah hitam mulai terlihat dari mulut sumur.

Semakin lama semakin jelas.

Bau busuk yang luar biasa menyengat langsung menyeruak ke udara.

Beberapa warga spontan menutup hidung.

Sebagian lagi mundur beberapa langkah.

"Ya Allah..." Gumam seorang ibu.

Kantong jenazah itu akhirnya berhasil diangkat sepenuhnya ke atas.

Petugas kemudian membawanya ke area yang lebih lapang tidak jauh dari sumur.

Semua orang menunggu.

Mereka ingin tahu siapa orang yang selama ini terbaring di dasar sumur tersebut.

Seorang polisi kemudian berbicara kepada warga.

"Apakah ada anggota keluarga yang kehilangan kerabat atau mengenali ciri-ciri tertentu, nanti silakan melihat dari jarak aman."

Beberapa warga mengangguk.

Namun tak ada seorang pun yang maju, mereka sendiri diliputi rasa takut.

Petugas forensik yang baru tiba kemudian berjongkok di samping kantong jenazah.

Dengan hati-hati resleting kantong itu dibuka.

Perlahan.

Sedikit demi sedikit.

Ketika bagian atas terbuka, bau busuk yang jauh lebih kuat langsung menyebar ke sekeliling.

Beberapa warga spontan menutup mulut.

Seorang anak kecil yang nekat ikut menonton segera ditarik ibunya menjauh.

Wajah-wajah yang tadinya penuh rasa penasaran kini berubah tegang.

Tubuh yang berada di dalam kantong itu sudah berada dalam kondisi membusuk parah.

Kulitnya telah berubah warna.

Sebagian jaringan tubuh tampak rusak akibat proses pembusukan yang berlangsung lama di dalam air.

Rambut yang tersisa masih menempel di beberapa bagian kepala.

Namun wajahnya sudah sangat sulit dikenali.

Bahkan nyaris tidak menyisakan ciri-ciri yang dapat digunakan untuk memastikan identitasnya secara langsung.

Kerumunan warga langsung dipenuhi bisikan-bisikan pelan.

"Itu siapa?"

"Nda kenal."

"Sudah lama sekali itu."

"Ya Allah..."

Pak Darmin memalingkan wajah.

Dia tidak sanggup melihat lebih lama. Sementara Santa, Kimin, dan Bejo berdiri diam dengan ekspresi tegang.

Ternyata benar, memang ada mayat manusia di dalam sumur itu.

Dan kondisinya jauh lebih mengerikan daripada yang mereka duga.

Seorang polisi kemudian bertanya kepada warga yang berada paling depan.

"Ada yang mengenali?"

Tidak ada jawaban.

Orang-orang saling berpandangan, beberapa mencoba memperhatikan lebih saksama.

Namun hasilnya tetap sama, tidak ada yang berani memastikan.

Wajah mayat itu sudah terlalu rusak.

Kulit yang membusuk membuat ciri-ciri fisiknya hampir tidak dapat dikenali lagi.

Petugas kembali bertanya.

"Ada yang merasa pernah melihat pakaian atau benda yang ditemukan bersama jenazah ini?"

Lagi-lagi tidak ada jawaban, keheningan menyelimuti kerumunan.

Mayat itu memang telah ditemukan. Namun, identitasnya masih menjadi tanda tanya.

Siapa dia?

Bagaimana ia bisa berada di dasar sumur?

Sudah berapa lama dia berada di sana?

Dan yang paling mengganggu pikiran semua orang.

Apakah orang itu berasal dari desa mereka sendiri, atau seseorang yang sama sekali tidak mereka kenal?

Saat jenazah itu akan di tutup. Pakde Banyu yang baru tiba. Saat dia melihat baju yang di kenakan jenazah itu dia seperti mengenalinya, namun dia tidak bisa memastikan.

Dia meminta agar petugas untuk menunggu sebentar.

Dia lalu mendekati Santa. Dan berbisik ketelinga Santa.

Di tengah kerumunan warga yang masih dipenuhi bisik-bisik, Pak Nanang berdiri tidak jauh dari garis pembatas polisi.

Sejak kantong jenazah itu dibuka, wajahnya berubah.

Tidak seperti warga lain yang sekadar penasaran atau takut, Pak Nanang justru terlihat lebih diam dari biasanya. Matanya tidak lepas dari tubuh yang sudah tidak dapat dikenali itu.

Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Sesuatu yang membuat dadanya terasa berat.

Dia menelan ludah, lalu perlahan melangkah mendekati Santa yang masih berdiri di dekat situ.

Dengan suara rendah, hampir seperti bisikan agar tidak terdengar orang lain, Pak Nanang berkata,

"Santa..."

"Iya, Pakde?"

Pak Nanang tidak langsung menjawab. Dia kembali melirik ke arah kantong jenazah, lalu menarik napas pelan.

"Coba kau panggil Ratmini dan Banyu."

Santa mengernyit.

"Bude Ratmini dan pakde Banyu?"

Pak Nanang mengangguk pelan.

Seketika Santa menoleh ke arah wajah Pak Nanang.

Tatapannya berubah.

Ada sesuatu dalam nada suara Pak Nanang yang membuat Santa langsung berpikir ke satu arah yang sama.

"Pakde..." Ucap Santa pelan.

Matanya seperti bertanya tanpa kata.

Apakah mungkin…

Pak Nanang tidak menjawab dengan kata-kata.

Dia hanya menghela napas panjang, lalu mengangguk sekali lagi.

"Lebih baik cepat." Katanya singkat.

"Aku akan tetap di sini."

Santa terdiam sesaat.

Namun dia tidak berani bertanya lebih jauh.

Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung berbalik dan berlari kecil meninggalkan lokasi sumur.

Kerumunan warga yang masih ramai perlahan ia tinggalkan di belakang.

Suara orang-orang yang berbisik, suara petugas, bahkan bau menyengat dari lokasi itu semakin lama semakin menjauh.

Namun di kepalanya, satu kalimat terus berulang.

"Coba panggil Ratmini."

Langkah Santa semakin cepat.

Pikirannya mulai dipenuhi kegelisahan.

Kalau benar dugaan Pak Nanang, Berarti mayat itu mungkin...

Mungkin seseorang yang mereka kenal.

Santa melewati jalan desa dengan tergesa.

Rumah-rumah penduduk tampak mulai sepi karena hampir semua orang berkumpul di lokasi penemuan.

Warung-warung tutup setengah.

Angin sore berembus pelan, membawa suasana yang terasa aneh dan tidak nyaman.

Tak lama kemudian, rumah Bu Ratmini terlihat di depan.

Rumah panggung sederhana itu tampak lebih sunyi dibanding biasanya.

Santa menaiki tangga kayu dengan cepat.

"Assalamualaikum..."

Tidak ada jawaban.

"Assalamualaikum!"

Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah dari dalam rumah.

Pintu perlahan terbuka. Bu Ratmini muncul di ambang pintu.

Wajahnya terlihat bingung melihat Santa datang dengan napas terengah dan wajah tegang.

"Santa? Ada apa?"

Santa terdiam sejenak.

"Bude…" Ucapnya akhirnya pelan.

"Pakde Nanang minta Bude dan Pakde Banyu segera ke kebunnya."

Bu Ratmini mengernyit.

"Ke kebun Pak Nanang?"

"Iya." Jawab Santa singkat.

"Kenapa? Ada apa?" Tanya Bu Ratmini.

Santa menggeleng pelan.

"Saya kurang tahu, Bude. Pak Nanang cuma bilang harus cepat."

Bu Ratmini menatap Santa lekat-lekat. Seolah mencoba mencari kejujuran di wajah pemuda itu.

Namun Santa hanya berdiri dengan wajah tegang, tidak berani menambahkan apa pun.

Kening Bu Ratmini berkerut, pikirannya mulai bekerja cepat.

Kalau Pak Nanang sampai menyuruh mereka berdua datang sekaligus, pasti ada sesuatu yang penting.

"Aneh…" gumam Bu Ratmini pelan.

Santa tidak menjawab, dia hanya menunggu.

Beberapa detik kemudian, Bu Ratmini menghela napas panjang.

Bu Ratmini akhirnya mengangguk pelan, meski wajahnya masih penuh tanda tanya.

"Baiklah." Ucapnya.

Bu Ratmini memanggil Dila dan Pakde Banyu begitu Santa pergi.

Di dalam rumah panggung itu, dia menjelaskan singkat pesan yang dibawa Santa.

"Pak Nanang minta kita ke kebunnya sekarang." Ucap Bu Ratmini dengan dahi berkerut.

Pakde Banyu yang sedang duduk langsung menegakkan tubuhnya.

"Ke kebun? Ada apa lagi?"

Bu Ratmini menggeleng pelan.

"Nda dijelaskan. Tapi katanya penting."

Pakde Banyu terdiam sejenak. Lalu dia menghela napas pendek.

"Kalau begitu kita berangkat."

Dila yang sejak tadi mendengarkan dari dalam ruangan keluar dengan wajah bingung.

"Kenapa Bu?"

Bu Ratmini menoleh padanya, lalu mengusap kepala Dila pelan.

"Kamu di rumah saja."

Dila langsung ingin protes, tapi Bu Ratmini mengangkat tangan.

"Jaga rumah. Siapa tahu kakakmu pulang tapi nda ada orang di rumah. Jadi kamu di rumah saja."

Nama itu membuat suasana sedikit berubah. Dila langsung mengangguk pelan.

"Baik, Bu."

Dila mengangguk lagi, meski terlihat masih tidak sepenuhnya mengerti.

Tak lama kemudian, Bu Ratmini dan Pakde Banyu pun berangkat.

Mereka berjalan cepat menuju kebun Pak Nanang.

Sesampainya di kebun Pak Nanang, suasana langsung membuat keduanya terdiam.

Ramai, sangat ramai.

Warga desa berkumpul di sana.

Ada polisi.

Ada petugas damkar.

Ada garis pembatas yang dipasang seadanya.

Dan di tengah kebun itu, semua orang tampak tegang.

Beberapa saling berbisik, yang lain hanya diam menatap satu titik yang sama.

Bu Ratmini berhenti melangkah.

Matanya bergerak cepat melihat sekeliling.

"Ini, ada apa sebenarnya?" Gumam Pakde Banyu pelan.

Belum sempat mereka mendapatkan jawaban, Pak Nanang muncul dari kerumunan.

Dia langsung berjalan cepat menghampiri mereka berdua.

Wajahnya serius.

"Pakde…" suara Bu Ratmini bergetar.

"Ada apa ini, Pakde?"

Pria tujuh puluh tahun itu tidak langsung menjawab.

Dia menatap Bu Ratmini lama, seolah sedang menyiapkan sesuatu yang sangat berat untuk diucapkan.

Lalu dengan suara pelan dia berkata.

"Kalian harus kuat."

Dada Bu Ratmini langsung terasa sesak.

"Pakde… ada apa?"

Pak Nanang menghela napas panjang.

"Lihat dulu."

Dia lalu memberi isyarat kepada petugas.

Beberapa orang mulai bergerak membuka penutup kantong jenazah yang tergeletak di tanah.

Warga mulai mendekat sedikit, tapi tetap dijaga polisi.

Pak Nanang memegang lengan Bu Ratmini.

"Mendekatlah pelan-pelan."

Bu Ratmini menelan ludah.

Langkahnya berat.

Di sampingnya, Pakde Banyu ikut berjalan, wajahnya mulai mengeras, seperti mencoba bersiap pada sesuatu yang buruk.

Satu demi satu langkah mereka membawa mereka semakin dekat ke kantong jenazah itu.

Dan ketika resleting kantong mulai dibuka…

Bau menyengat langsung menyeruak ke udara.

Beberapa orang langsung menutup hidung.

Bu Ratmini sedikit tersentak, tapi tetap tidak mundur.

"Bu...." suara polisi terdengar.

"Apakah Ibu bisa mengenali korban ini? Dari pakaian atau ciri lain?"

Kantong itu dibuka sedikit lebih lebar.

Wajah mayat itu masih sulit dikenali, Kulitnya rusak. Bentuk wajahnya hampir tidak lagi utuh.

Namun pakaian yang melekat di tubuh itu masih bisa terlihat jelas.

Pakaian yang sudah lusuh, basah, dan kotor karena lama berada di dalam air.

Bu Ratmini menatapnya lama, sangat lama.

Pandangannya berhenti pada satu bagian.

Pada motif kain itu.

Pada warna yang masih samar terlihat meski sudah rusak.

Matanya membesar sedikit.

Napasnya tersendat, dia maju selangkah.

"Ini…"

Suara Bu Ratmini bergetar.

"Ibu kenal?" Tanya petugas.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Dia menggeleng pelan, seolah tidak ingin percaya.

"Tidak mungkin…"

Tangannya mulai gemetar.

"Itu… baju Sekar…"

Suasana langsung hening.

Seakan semua suara di kebun itu lenyap dalam satu detik.

Pakde Banyu yang berdiri di belakangnya langsung terdiam.

Wajahnya memucat.

"Ratmini…" Suaranya pelan, hampir tidak terdengar.

Namun Bu Ratmini tidak menjawab.

Air matanya jatuh satu per satu.

Matanya tetap tertuju pada pakaian itu, seolah berharap penglihatannya salah.

Seolah berharap ini hanya mimpi buruk yang bisa berakhir kapan saja.

Namun kenyataan di depannya tidak berubah.

Itu baju Sekar.

Baju anaknya anak perempuannya.

1
M.S Inisial
Suka banget sama karya author satu ini
Yulia Lia
ceritanya bagus
Riska Salahudin
seru kak
Yulia Lia
lanjut KK ,,nah yg kmaren ngatain sekar lari SM laki2 lain taunya dia ada di dlm sumur
Yulia Lia
lanjut ya kk
Yulia Lia
mudah2 itu Sekar biar gosip yg berenar gk bener
Nurr Tika
warga heboh knp sekar mati
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
harusnya tdi di angkat sekalian yah, gara" takut akhirnya lupa
Siti Yatmi
jgn2 Sekar itu..ya Tuhan ...
Wiwit
lanjut thor
Nurr Tika
bnr kah itu mayat sekar
Riska Salahudin
pasti sekar
Nurr Tika
mayat sekar di buang ke sumur
Nurr Tika
bagus
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
oh ternyata baskoro dan wulan ada hubungan
Elgi 07
aduhhh thor keren sekali ceritanya. serasa gantung banget babnya.
sepatal city
thor bagus banger, selalu di buat penasaran sama karya horor author
Nanda
mantappu............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!