NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: PUNCAK KELELAHAN AYAH

Bab 26: Puncak Kelelahan Ayah

Keheningan di dalam gedung kantor akuntansi pusat malam itu terasa jauh lebih pekat dan dingin daripada biasanya. Jam dinding analog yang menggantung di pilar beton koridor utama telah lama melewati angka dua dini hari. Sebagian besar ruangan telah gelap gulita, menyisakan deretan kubikel kerja kosong yang tampak seperti barisan batu nisan di bawah bayang-bayang malam. Namun, di sudut paling belakang lantai dua, seberkas cahaya putih temaram dari sebuah lampu belajar kecil masih menyala, membelah kesunyian malam yang mencekam.

Di sana, di balik meja kerja yang dipenuhi tumpukan map jepit tebal, Ayah masih terduduk kaku.

Kemeja garis-garis yang beliau kenakan sejak kemarin pagi sudah tampak sangat lusuh dan basah oleh keringat dingin di bagian punggung. Lengan kemejanya digulung kasar hingga siku, memperlihatkan lengannya yang kini tampak jauh lebih kurus dan berurat tajam. Di hadapannya, layar monitor komputer masih menyala terang Benderang, memancarkan binar radiasi visual yang memantulkan bayangan ribuan baris angka digital, grafik pengeluaran, dan tabel audit keuangan milik perusahaan eksternal yang sedang beliau kerjakan secara rahasia.

Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Ayah tiba-tiba terbatuk hebat. Tubuh paruh bayanya tersentak ke depan, memaksa kedua tangannya untuk mencengkeram pinggiran meja kayu dengan sangat erat agar tidak tersungkur. Suara batuk itu terdengar sangat kering, parau, dan tersedat di tenggorokan, meninggalkan rasa besi berkarat yang pekat di pangkal lidahnya. Ayah buru-buru merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sapu tangan putih peninggalan Ibu yang kini sudah dipenuhi oleh bercak-bercak noda merah tua yang mengering. Beliau mengusap bibirnya dengan gerakan gemetar, lalu menatap kain tersebut dengan sepasang mata yang kuyu dan meredup.

Rasa lelah yang menghantam Ayah malam ini bukan lagi sekadar rasa kantuk atau pegal linu biasa. Itu adalah rasa lelah biologis yang teramat sangat ekstrem, seolah-olah seluruh sumsum di dalam tulang-tulangnya telah diperas habis tanpa sisa, dan setiap sel di dalam tubuhnya sedang berteriak memohon untuk diistirahatkan.

Sudah hampir satu bulan penuh sejak Revan angkat kaki dari rumah, Ayah memotong waktu tidurnya secara tidak manusiawi. Beliau hanya membiarkan tubuhnya terpejam selama dua hingga tiga jam sehari di atas sofa kantor yang keras. Pagi hingga sore beliau menghabiskan seluruh energinya untuk menyelesaikan laporan internal kantor utama, lalu dilanjutkan dengan mengambil tiga proyek laporan keuangan eksternal sekaligus hingga menjelang subuh.

Semua itu beliau lakukan demi satu tujuan yang mutlak: mengumpulkan lembaran uang rupiah demi rupiah demi melunasi surat peringatan terakhir dari rumah sakit, agar prosedur cuci darah Arka tidak dihentikan, dan agar ada sedikit sisa uang yang bisa diselipkan lewat Miko untuk memastikan Revan tidak kelaparan di jalanan.

Sebagai seorang laki-laki, suami, dan kepala keluarga, Ayah tidak pernah dibesarkan untuk menjadi sosok yang pandai merangkai kata-kata manis atau mengeluh tentang beratnya beban hidup. Beliau hanya tahu satu cara untuk mengekspresikan cintanya kepada istri dan anak-anaknya: dengan bekerja, bertahan, memendam seluruh rasa sakitnya sendirian, dan terus berdiri tegak menjadi tiang penyangga rumah tangga hingga fisiknya sendiri yang hancur berantakan.

Ayah perlahan menyandarkan punggungnya yang kaku ke sandaran kursi kerja. Tangannya yang gemetar hebat bergerak membuka laci meja, mengeluarkan dompet kulit tuanya yang sudah mulai terkelupas di bagian sudut. Dengan jemari yang terasa kaku dan dingin, beliau membuka lipatan dompet tersebut. Di dalam sana, tidak ada lagi lembaran uang ratusan ribu yang tersisa untuk dirinya sendiri. Yang ada hanyalah selembar foto kecil berukuran tiga kali empat yang permukaannya sudah agak usang dan buram.

Foto itu diambil sepuluh tahun yang lalu di halaman depan rumah mereka. Menampilkan sosok Revan dan Arka yang masih kecil, berdiri berdampingan sembari memamerkan senyuman ompong mereka yang sangat polos ke arah kamera, dengan tangan Revan yang merangkul pundak kakaknya dengan erat. Di foto itu, tidak ada dinding kebencian yang tebal. Di foto itu, Revan tidak menatap Arka dengan pandangan menghunus, dan Arka tidak perlu menahan racun ginjal yang membunuhnya pelan-pelan.

Setetes air mata yang hangat dan berat perlahan luruh dari pelupuk mata Ayah yang menghitam, jatuh tepat di atas permukaan mika plastik yang melindungi foto kedua putranya.

"Revan... Maafin Ayah, Nak..." bisik Ayah dengan suara yang sangat parau, nyaris habis terbawa angin malam yang berembus dari celah jendela. "Ayah gak pernah bermaksud buat buang kamu... Ayah cuma... Ayah cuma bingung bagaimana cara menyelamatkan Abangmu tanpa membuat kamu merasa tersisih... Maafin Ayah, Revan..."

Hati Ayah selalu hancur berkeping-keping setiap kali ingatan tentang malam tamparan itu kembali berputar di otaknya. Kalimat terakhir Revan yang penuh dengan kebencian luar biasa terus terngiang-ngiang seperti kutukan yang mengorek luka di dalam dadanya setiap detik. Ayah tahu anak bungsunya sangat terluka, dan kenyataan bahwa beliaulah yang menyebabkan luka itu membuat rasa bersalah di batinnya terasa jauh lebih menyiksa daripada penyakit apa pun di dunia ini.

Tiba-tiba, sebuah letupan rasa nyeri yang luar biasa tajam dan dahsyat menghantam tepat di dada bagian kiri Ayah.

"Ughh!" Ayah tersentak hebat, seluruh tubuhnya mendadak menegang kaku di atas kursi kerja.

Rasa perih dan panas itu tidak seperti biasanya. Kali ini rasanya seolah-olah ada sebilah belati besar yang membara ditusukkan langsung ke dalam jantungnya, lalu diputar dengan kasar tanpa belas kasihan. Rasa sakit yang luar biasa fatal itu menjalar dengan sangat cepat, mendaki menuju bahu kirinya, lalu mengalir turun ke sepanjang lengan hingga membuat ujung-ujung jemari tangannya seketika mati rasa, kaku, dan membiru.

Ayah mencoba meraup udara di sekitarnya, namun paru-parunya seolah mendadak lumpuh dan menolak untuk mengembang. Dadanya naik-turun dengan sangat cepat, megap-megap laksana seorang pria yang sedang tenggelam di dasar air yang sangat dalam dan dingin. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras membasahi seluruh wajah dan lehernya.

Tangan kanan Ayah yang masih bisa bergerak sedikit mulai mencengkeram permukaan meja kerja dengan liar, mencoba menggapai ponsel genggamnya yang tergeletak di dekat papan tik. Di dalam benaknya yang mulai berkabut, Ayah ingin sekali menelepon Ibu, atau menelepon ambulans, atau setidaknya... mengirimkan satu pesan terakhir untuk Revan.

Namun, penglihatan Ayah mendadak buram secara drastis. Ribuan angka digital dan grafik keuangan di layar monitor di hadapannya mulai berputar-putar dengan cepat, kabur, lalu perlahan-lahan menggelap secara permanen menjadi hamparan warna hitam yang pekat dan sunyi.

BRAKK!

Gerakan lengan Ayah yang tidak terkendali menyenggol selembar map dokumen dan sebuah gelas kopi hitam yang sudah dingin di tepi meja. Gelas itu jatuh menghantam lantai ubin dengan keras, pecah berkeping-keping menjadi serpihan tajam dan menyebarkan aroma kopi yang pekat, menimbulkan bunyi dentingan nyaring yang membelah keheningan koridor kantor yang sepi.

Tubuh pria paruh baya itu tidak lagi mampu mempertahankan posisi duduknya. Dengan sisa-sisa kesadaran dan tenaga terakhirnya yang semakin menipis, Ayah terkulai lemas ke depan. Kepalanya jatuh lunglai, bertumpu di atas tumpukan berkas laporan keuangan proyek rahasia yang belum sempat ia selesaikan, tepat di atas tulisan tangan angka-angka nominal yang ia kumpulkan demi memperpanjang umur anak-anaknya.

Ponsel genggamnya yang berada hanya beberapa sentimeter dari ujung jarinya tiba-tiba bergetar sejenak di atas meja, menampilkan sebaris notifikasi pesan masuk singkat dari nomor Ibu yang menanyakan apakah suaminya itu akan pulang subuh ini atau tidak karena lauk semur daging di meja makan sudah dingin. Namun, pesan penuh perhatian dari sang istri itu tidak akan pernah dibaca lagi oleh pemiliknya.

Dalam kegelapan malam yang dingin dan sunyi di dalam ruang kantor yang mati itu, napas Ayah perlahan-lahan memberat, melambat, meninggalkan satu helaan napas panjang yang terakhir sebelum akhirnya berhenti berdenyut sepenuhnya tepat pada pukul dua lewat lima belas menit dini hari.

Pria tegap yang selama belasan tahun ini menjadi tiang penyangga utama yang paling kokoh bagi keluarga Dirgantara itu akhirnya gugur dalam keheningan total. Beliau menyerah pada puncak kelelahan gila-gilaan yang telah merenggut seluruh sisa dayanya, pergi membawa seluruh rahasia pengorbanan berdarah-darahnya yang belum sempat tersampaikan kepada anak bungsunya.

Sementara itu, di kamar belakang rumah Miko yang berjarak beberapa kilometer dari kantor, Revan tiba-tiba tersentak dan terbangun dari tidurnya yang lelap. Tubuhnya bersimbah keringat dingin, dan napasnya terengah-engah seolah-olah baru saja berlari maraton sejauh bermil-mil. Jantung di dalam dadanya berdegup dengan sangat kencang dan tidak beraturan tanpa alasan yang jelas, menimbulkan rasa tidak nyaman yang mendadak melanda ulu hatinya.

Cowok itu memegangi dadanya sejenak, duduk termenung di atas kasur busa tipis sembari menatap ke arah jendela kamar yang masih diketuk oleh sisa-sisa rintik air hujan malam itu.

"Kenapa... perasaan gue mendadak gak enak gini ya...?" gumam Revan lirih dengan suara parau, mengusap wajahnya yang pucat di kegelapan kamar. Ia menoleh ke arah Miko yang masih tertidur pulas di meja belajar, lalu kembali melihat ke luar jendela.

Revan kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur, membalikkan badannya membelakangi dinding sembari menarik selimut jinsnya dengan erat hingga menutupi dada. Remaja keras kepala itu sama sekali tidak pernah menyadari, bahwa ego besarnya kini telah resmi kehilangan kesempatan terakhirnya untuk mendengar kata maaf dan melihat sang Ayah dalam kondisi bernapas.

Bersambung......

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!