Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 14
Hank melangkah mendekat, mengikis jarak hingga sorot mata dinginnya yang mengintimidasi langsung mengunci manik mata Aurora.
“Saya akan menagih seluruh biaya kerusakan ini kepada Anda,” ancam Hank dengan nada rendah yang berbahaya. “Kurang dari satu menit, saya bisa menguliti seluruh identitas Anda. Jadi jangan pernah berpikir Anda bisa membuat keributan di depan Tuan Aragon tanpa konsekuensi.”
Hank menjeda kalimatnya, menatap Aurora semakin tajam. “Apakah Anda sengaja mencari masalah, atau hanya berniat mencari keuntungan dari Tuan Aragon? Jika itu tujuan Anda, semuanya akan sia-sia. Jika Anda masih sayang pada nyawa Anda, maka pergilah sekarang.”
Di bawah guyuran hujan yang kian deras, tubuh Aurora gemetar hebat, entah karena hawa dingin yang menusuk atau rasa takut yang mulai melumpuhkannya. Wajahnya kian memucat.
Air hujan kini telah membasahi semua orang, termasuk Hank dan para pengawal yang masih mengepungnya dengan sikap siaga.
Aurora menggigit bibir bawahnya, mengumpulkan sisa-sisa keberanian sebelum akhirnya bersuara.
“Saya… saya hanya ingin Tuan Aragon membantu menyelamatkan panti asuhan kami,” rintihnya dengan suara bergetar. “Ada pihak yang ingin merobohkannya. Anak-anak di sana tidak akan punya tempat tinggal lagi.”
“Dan Anda pikir Tuan Aragon adalah lembaga amal yang bisa dimintai bantuan sesuka hati?” balas Hank, telak dan tanpa ampun.
Namun, di tengah ketegangan itu, tanpa disadari oleh siapa pun, kaca jendela mobil Aragon perlahan turun beberapa sentimeter.
Gerakannya begitu halus dan minim. Celah sempit itu hanya cukup untuk memperlihatkan sepasang mata elangnya yang tajam, sekaligus memberi jalan bagi sang penguasa untuk mendengar interaksi di luar secara langsung. Aragon diam-diam mengamati segalanya.
“Tuan Aragon tidak akan jatuh miskin hanya karena menyelamatkan satu panti asuhan!” seru Aurora, suaranya naik satu oktav karena putus asa. “Beliau sering menyumbang untuk badan amal, bukan? Beliau dikenal dermawan! Jadi saya mohon… hanya satu panti asuhan saja… demi anak-anak yang akan kehilangan tempat berlindung!”
Di balik kaca, Aragon bergeming.
Namun entah kenapa, sebuah rasa yang asing dan perasaan tak biasa mendadak menyusup di dadanya. Sorot matanya mengunci sosok gadis di balik celah kaca. Ada desiran aneh yang mendadak muncul di benak Aragon
Pria itu memperhatikan bagaimana tubuh kecil di depannya sudah menggigil hebat dengan bibir yang membiru menahan dingin, tetapi mulut mungil itu tetap bersuara, menolak untuk menyerah pada keadaan.
Namun, sebenarnya pertahanan Aurora nyaris runtuh. Rasa takut dan hawa dingin bersekongkol membuat tubuh ringkihnya gemetar hebat di bawah hujan yang kian menggila.
“Sebaiknya Anda pergi atau ini tidak akan berakhir dengan baik dan justru mengantarkan anda pada hal yang tidak bisa anda bayangkan.” Ancam Hank.
Sambil menggigit bibirnya erat, Aurora memaksakan sebuah suara lagi keluar dari tenggorokannya yang kering.
“Jadi pada akhirnya, si Tuan Dermawan itu hanya hidup di layar media sosial!” teriak Aurora putus asa, suaranya pecah di antara deru hujan. “Kenyataannya, dia tidak lebih dari sosok munafik yang sibuk membangun citra palsu!”
Mendengar makian itu, Hank yang semula hendak berbalik mendadak menghentikan langkahnya. Ia menoleh lambat, menatap Aurora dengan senyum miring yang meremehkan.
“Ya, mengumpatlah dan mengejeklah sesukamu,” balas Hank, suaranya terdengar tajam membelah suara hujan. “Tapi pastikan saja kau tidak menangis darah ketika tagihan kerusakan mobil-mobil ini datang kepadamu nanti.”
Setelah melemparkan ancaman dingin itu, Hank tidak lagi menggubris Aurora. Ia berbalik dan melangkah pergi begitu saja.
Melihat kode dari sang asisten pribadi, para pengawal yang mengepung Aurora serentak mundur dan kembali ke kendaraan masing-masing.
Mereka meninggalkan gadis itu sendirian, terisolasi di tengah guyuran hujan yang kian menderu.
Tenaga Aurora mulai terkuras habis. Tubuhnya gemetar hebat, terjebak di antara rasa dingin yang menggigit dan ketakutan yang kian menyesakkan dada.
Satu per satu pintu mobil tertutup dengan dentum berat yang seragam. Hank masuk kembali ke dalam kabin mobil Aragon dengan pakaian yang basah kuyup.
“Maaf, Tuan. Anda harus tertahan karena keributan ini,” ucap Hank seraya menoleh ke belakang dan menundukkan kepala penuh hormat. “Saya siap menerima konsekuensi apa pun atas kelalaian ini.”
Aragon tetap duduk tenang, ekspresi wajahnya sedatar permukaan es.
“Hmm. Berangkat saja sekarang,” jawabnya singkat, tanpa riak. “Lalu ganti pakaianmu setelah ini. Semua orang basah kuyup.”
Hank sempat tertegun sesaat sebelum akhirnya ia kembali menunduk dalam. “Baik, Tuan. Terima kasih.”
Namun, tepat saat ia menegakkan kepala, sudut mata Hank tanpa sengaja melirik panel kendali di sisi kanan kursi Aragon, tepat pada bingkai jendela yang menyisakan jejak basah tak biasa dari rembesan air hujan.
Mata Hank menyipit samar. Ia langsung menyadari sesuatu.
Detik itu juga, Hank menelan kembali rasa penasarannya. Ia tidak akan pernah cukup bodoh atau berani untuk mempertanyakan apakah tuannya sengaja menurunkan kaca jendela demi mendengar tuntutan gadis di luar tadi.
Hank segera membuang jauh-jauh spekulasi tersebut. Tuannya adalah pria berdarah dingin yang tidak akan pernah terpengaruh oleh hal-hal sepele semacam itu, apalagi oleh seorang gadis asing yang datang dengan cara nekat dan menyedihkan.
Sangat mustahil seorang Aragon memedulikannya.
Sementara itu, seiring dengan iring-iringan mobil mewah yang perlahan bergerak menjauh dan meninggalkan kawasan gedung perusahaan, pertahanan tubuh Aurora akhirnya runtuh.
Kakinya kehilangan tumpuan hingga ia jatuh terduduk di atas jalanan yang basah. Kedua lututnya membentur dengan keras. Tubuh kecilnya membentur aspal dingin tanpa daya, sementara langit terus menumpahkan isinya tanpa belas kasihan.
Aurora menangis sesenggukan di bawah amukan badai hujan dan badai kesedihan hari itu.
Kerumunan pegawai lobi telah bubar dengan pemikiran yang sama: menganggap tindakan Aurora hanyalah kesia-siaan, sebab Tuan Aragon adalah kemewahan yang mustahil digapai oleh orang biasa.
Mengabaikan tubuhnya yang kian melemas, Aurora memaksa kedua kakinya bertumpu pada aspal. Ia bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.
Gadis itu melangkah gontai, membiarkan air mata dan hujan menyatu di pipinya yang pucat.
Kedua lututnya terluka dan celana robek tepat di tempat lutit yang terluka, mengalirkan darah yang langsung memudar tersapu air hujan di sepanjang kakinya.
Telapak tangannya pun lecet memerah. Namun, rasa sakit itu kalah telak oleh rasa perih di dadanya saat membayangkan nasib panti asuhan.
“Apakah pada akhirnya, aku harus menyerah dan menemui Tuan Alexander Ridge? Atau… aku harus tunduk dan menikah dengan Bulldog?”
Sebuah getaran tiba-tiba memutus keputusasaannya. Aurora tersentak, ia buru-buru merogoh tasnya yang sudah menjelma menjadi kantong air.
“Astaga, aku baru sadar ponselku! Tolong jangan mati…” gumamnya cemas.
Ia menggeser layar saat melihat nama Suster Magdalena. Detik berikutnya, suara kepanikan yang teramat sangat langsung terdengar.
“Aurora… lekas pulang… Cepat pulang…” Suster Magdalena meratap di seberang telepon.
“Bulldog… dia datang lebih cepat dari perjanjian! Dia membawa alat-alat berat dan banyak pria berwajah bengis ke sini…!”
“Apa! Baik, Suster! Aku pulang sekarang juga!”
Bip. Sambungan itu terputus sepihak.
“Halo? Suster?! Halo…!!” Aurora berteriak histeris.
Ia mengguncang ponsel bututnya, namun benda itu telah mati total akibat kemasukan air. Kehancuran harapannya hari ini memicu gelombang amarah yang tak terbendung di dadanya.
“SIALAN! DASAR ARAGON BERENGSEK!” teriak Aurora sekuat tenaga menantang gemuruh hujan.
“Datang kepadamu bukannya mendapat pertolongan, malah kesialan bertubi-tubi!” Kesal Aurora dan kemudian berjalan dengan tertatih.
Mengabaikan penampilannya yang kacau dan basah kuyup, Aurora menggunakan sisa uang terakhirnya untuk menaiki bus umum. Sepanjang perjalanan pulang yang terasa begitu menyiksa, hatinya dilingkupi rasa cemas yang hebat. Hari ini dia pulang dengan tangan kosong, dan panti asuhannya sedang berada di ujung tanduk.
Bersambung