NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Paviliun Bulan Sabit dan Bayangan Ujian

​Tiga hari waktu tersisa sebelum ujian masuk Jembatan Penilaian adalah waktu yang krusial bagi setiap calon murid. Di ibu kota, para jenius bangsawan biasanya akan menggunakan waktu ini untuk mengonsumsi pil tingkat tinggi, bermeditasi di ruang kultivasi berlapis formasi pengumpul Qi, atau memohon senjata pelindung jiwa dari tetua klan mereka.

​Namun, Lin Chen memiliki rencananya sendiri.

​Ia tidak segera mencari penginapan. Sebaliknya, ia melangkah menyusuri jalanan ibu kota menuju Distrik Selatan, area komersial yang terkenal sebagai pusat perdagangan material kultivasi tingkat menengah dan tinggi.

​Berbekal Lencana Giok yang diberikan oleh Su Ruoxue, tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan bangunan megah bertingkat lima dengan plang kayu cendana bertuliskan: Paviliun Bulan Sabit. Ini adalah salah satu pusat perdagangan terbesar yang dikelola oleh Keluarga Su di ibu kota.

​Begitu Lin Chen melangkah masuk, aroma dupa spiritual yang menenangkan langsung menyapa penciumannya. Lantai pertama paviliun ini dipenuhi oleh ratusan etalase yang memajang pil-pil bercahaya dan senjata spiritual. Pelayan yang berlalu-lalang semuanya memiliki basis kultivasi setidaknya Tingkat 3, menunjukkan betapa kayanya faksi di balik tempat ini.

​Seorang pelayan wanita menghampirinya dengan senyum profesional, meski tatapannya sedikit curiga melihat pakaian Lin Chen yang berdebu dan topi bambu yang menutupi wajahnya.

​"Selamat datang di Paviliun Bulan Sabit, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.

​Lin Chen tidak berbicara. Ia hanya merogoh jubahnya dan melemparkan Lencana Giok berukir huruf 'Su' ke atas meja kaca di dekatnya.

​Mata pelayan wanita itu langsung membelalak. Ia mengenali lencana itu! Itu adalah lencana identitas pribadi milik Nona Muda Utama Keluarga Su. Ia buru-buru membungkuk dalam-dalam, keringat dingin membasahi pelipisnya.

​"M-Maafkan kelancangan saya, Tuan Terhormat! Mohon ikuti saya ke Ruang VIP di lantai lima. Saya akan segera memanggil Manajer Utama!"

​Sepuluh menit kemudian, Lin Chen duduk di sebuah kursi kayu gaharu yang empuk di lantai lima. Ia disuguhi teh spiritual yang mengepulkan asap berbentuk naga kecil.

​Seorang pria tua bertubuh kurus dengan mata yang setajam elang masuk ke dalam ruangan. Ia adalah Manajer Su Meng, pengawas tertinggi Paviliun Bulan Sabit. Kultivasinya tidak bisa diremehkan—ia memancarkan aura awal Ranah Pembentukan Fondasi.

​"Tuan Muda Lin," Su Meng menangkupkan tangannya sambil tersenyum ramah. "Nona Ruoxue telah mengirimkan pesan roh kepada saya mengenai kedatangan Anda. Keluarga Su kami berhutang nyawa pada Anda atas insiden di Jalur Angin Berbisik. Apapun yang Anda butuhkan di paviliun ini, kami akan menyediakannya dengan diskon maksimum, dan Anda memiliki akses penuh ke jaringan informasi kami."

​Lin Chen mengangguk. Ia meletakkan cangkir tehnya dan mengeluarkan sebuah perkamen kecil, lalu menyerahkannya kepada Su Meng.

​"Aku butuh bahan-bahan ini. Semuanya harus berumur minimal seratus tahun."

​Su Meng menerima perkamen itu dan membacanya. Alis putihnya seketika berkerut rapat.

​Darah Kera Iblis Gunung (Tingkat 6)

​Teratai Tulang Putih (Usia 150 tahun)

​Kristal Es Sumsum Bumi

​"Tuan Muda Lin..." Su Meng menatap Lin Chen dengan tatapan terkejut. "Bahan-bahan ini... ini semua adalah material ekstrem beryin tinggi dan sangat korosif. Jika digunakan untuk alkimia biasa, ini adalah racun mematikan. Apakah Anda berencana menggunakannya untuk... penempaan tubuh?"

​"Jangan banyak bertanya," potong Lin Chen datar. "Apakah Keluarga Su memilikinya?"

​"T-Tentu saja," Su Meng buru-buru mengangguk, menyadari bahwa ia telah melewati batas dengan menanyakan rahasia kultivasi seseorang. "Kami memilikinya di gudang rahasia. Saya akan segera menyuruh pelayan menyiapkannya."

​Sambil menunggu, Lin Chen menatap Manajer Su Meng. "Karena kau menyebutkan jaringan informasi, aku ingin tahu segala hal tentang Jembatan Penilaian Akademi Bintang Jatuh, serta orang-orang yang harus kuperhatikan dalam ujian nanti."

​Su Meng tersenyum penuh arti. Ia duduk di hadapan Lin Chen dan mulai menjelaskan.

​"Ujian Jembatan Penilaian bukanlah ujian pertarungan biasa, Tuan Muda Lin. Itu adalah sebuah artefak raksasa peninggalan era kuno yang menguji tiga hal: Ketahanan Fisik, Kemauan Jiwa, dan Kapasitas Dantian."

​Su Meng mengangkat tiga jarinya.

​"Begitu Anda menginjak jembatan itu, Anda akan terkena ilusi gravitasi yang berlipat ganda setiap sepuluh langkah. Banyak jenius yang tulangnya hancur karena memaksakan diri maju."

​"Kedua, di dalam jembatan tersebut, ada boneka-boneka roh tanpa rasa sakit yang akan menyerang tanpa henti. Mereka menyerap energi spiritual dari udara, sehingga tidak akan pernah kelelahan."

​"Namun, yang paling berbahaya bukanlah ujiannya itu sendiri, melainkan sesama peserta. Di atas Jembatan Penilaian, hukum akademi belum berlaku penuh. Pembunuhan antar peserta sering kali ditutup-tutupi sebagai 'kecelakaan ujian'."

​Lin Chen mendengarkan dengan saksama. Ujian semacam ini tidak asing baginya, namun gravitasi ilusi itu akan menjadi tempat yang sempurna untuk menguji batas tubuh fisik barunya.

​"Lalu, siapa 'lalat' terbesar yang akan mengganggu jalanku?" tanya Lin Chen.

​Su Meng tersenyum pahit mendengar istilah 'lalat' untuk menyebut para jenius puncak ibu kota. Ia menyebutkan tiga nama yang paling ditakuti generasi muda saat ini:

​Chu Kuangren : Kakak kandung dari Chu Yun yang baru saja dilukai Lin Chen di gerbang pendaftaran. "Dia berada di puncak Tingkat 8, seorang gila pertarungan yang memiliki fisik setara dengan monster spiritual. Dia pasti akan mencari Anda untuk membalas dendam."

​Mu Hongling: Putri dari Asosiasi Alkemis. Kultivasinya di Tingkat 9, dan ia menggunakan api mematikan yang bisa membakar Qi murni lawannya.

​Pangeran Xiao Tian: Bintang paling terang di ibu kota, anggota keluarga kerajaan. "Kultivasinya adalah misteri, namun rumor mengatakan dia telah menembus Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9 Puncak dan memegang senjata spiritual tingkat tinggi yang dianugerahkan langsung oleh Raja."

​"Chu Kuangren, Mu Hongling, Xiao Tian..." Lin Chen menggumamkan nama-nama itu. Tidak ada sedikit pun rasa takut di nadanya, melainkan antisipasi kelaparan. "Menarik. Semoga mereka tidak mengecewakan pedangku."

​Tak lama kemudian, pelayan membawakan kotak kayu berisi bahan-bahan ekstrem yang dipesan Lin Chen. Setelah membayar menggunakan sisa Batu Spiritual Menengah yang ia miliki, Lin Chen menyewa sebuah ruang kultivasi tertutup di Paviliun Bulan Sabit dan mengunci dirinya di sana selama tiga hari penuh.

​Tiga hari kemudian. Pagi hari pembukaan Ujian.

​Area belakang Akademi Bintang Jatuh berbatasan langsung dengan sebuah lembah raksasa yang diselimuti kabut putih pekat. Lembah ini dikelilingi tebing curam di kedua sisinya.

​Ribuan peserta ujian telah berkumpul di dasar lembah. Suara riuh dan pamer kekuatan Qi mendominasi udara pagi. Berbagai faksi membentuk kelompok-kelompok, menatap satu sama lain dengan penuh permusuhan.

​Di salah satu sudut, kerumunan secara otomatis membuka jalan selebar sepuluh meter. Seorang pemuda berbadan besar, nyaris setinggi beruang dengan otot yang menonjol dan dipenuhi bekas luka, berjalan dengan ekspresi bengis. Di punggungnya terpasang sepasang palu godam raksasa.

​Itu adalah Chu Kuangren.

​"Di mana dia?!" suara Chu Kuangren menggelegar bak guntur, membuat gendang telinga para peserta di sekitarnya berdenging. "Di mana tikus desa berbaju hitam yang berani mematahkan lengan adikku?! Keluar dan berlututlah, atau aku akan mengunyah tulangmu di atas jembatan nanti!"

​Para peserta saling berpandangan dan berbisik ketakutan, tidak ada yang berani mendekati si Orang Gila Chu.

​Di tengah keributan itu, dari balik kabut di pintu masuk lembah, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar.

​Tap... Tap... Tap...

​Setiap langkah itu seolah menyatu dengan detak jantung bumi, menciptakan tekanan tak kasat mata yang mencekik udara.

​Sosok Lin Chen muncul dari balik kabut. Jubah hitamnya berkibar pelan, topi bambunya telah ia lepaskan, memperlihatkan wajahnya yang tampan namun sedingin es abadi. Di punggungnya, Pedang Berat Penelan Bintang memancarkan kilau hitam pekat yang menyerap cahaya matahari.

​Setelah penempaan ekstrem selama tiga hari menggunakan Teratai Tulang Putih dan Darah Kera Iblis, kulit Lin Chen kini memancarkan pendar perunggu samar. Fisiknya telah mencapai batas kekuatan manusia fana.

​Ia berjalan lurus menuju kerumunan, mengabaikan ribuan tatapan yang tertuju padanya. Ia berhenti tepat dua puluh langkah di depan Chu Kuangren.

​"Kau mencariku, Anjing Besar?" Lin Chen membuka mulutnya, suaranya tenang namun memotong udara bak bilah pedang.

​Chu Kuangren membelalakkan matanya yang merah. Niat membunuh dari Ranah Kondensasi Qi Tingkat 8 Puncak meledak dari tubuhnya, menciptakan kawah kecil di bawah kakinya.

​"Jadi kau orangnya!" raung Chu Kuangren. Ia mencabut salah satu palu godamnya. "Aku akan meremukkan kepalamu sekarang ju—"

​WUUUUUUMMMM!

​Sebelum Chu Kuangren sempat menerjang, sebuah getaran dahsyat yang membuat seluruh lembah berguncang hebat menghentikan semua pergerakan.

​Dari atas tebing di ujung lembah, sebuah jembatan batu raksasa berwarna kelabu perlahan-lahan terbentang, membelah kabut putih, dan terhubung melintasi jurang tak berdasar. Jembatan itu panjangnya nyaris tak terlihat, diselimuti oleh kabut darah dan rune formasi ilusi yang berputar-putar mengerikan.

​Di langit di atas jembatan, seorang Tetua Akademi berjubah putih melayang di udara, suaranya dilapisi dengan Qi tingkat tinggi yang menggema ke seluruh penjuru lembah.

​"Jembatan Penilaian telah dibuka!"

​Tetua itu menatap ribuan peserta di bawahnya dengan pandangan tanpa emosi.

​"Aturan ujian ini sangat sederhana. Siapa pun yang bisa bertahan berjalan sejauh satu mil melintasi jembatan ini dalam waktu dua jam, akan menjadi Murid Luar. Mereka yang mencapai dua mil akan menjadi Murid Dalam. Dan siapa pun yang berhasil mencapai ujung jembatan..."

​Tetua itu berhenti sejenak, matanya memancarkan sinar tajam.

​"...akan diangkat menjadi Murid Inti Langsung! Sekarang, masuklah ke dalam Neraka!"

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!