NovelToon NovelToon
Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Memetik Cinta Dari Sisa Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.

Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.

Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ratu Kembali dan Topeng Mulai Retak

"Menghadapi kejahatan yang menyamar sebagai kebaikan adalah ujian terberat bagi jiwa. Senyum yang biasa menenangkan kini terlihat menipu, dan suara yang biasa merdu kini terdengar bagaikan desisan ular berbisa. Kebenaran telah ditemukan, namun membawakannya ke permukaan ibarat membawa obor api masuk ke dalam gudang mesiu—salah bergerak semuanya akan meledak, menghancurkan siapa saja yang berani berdiri di sana. Kembalinya sang ratu dari negeri seberang bukanlah pertanda kedamaian, melainkan awal dari pertarungan mematikan di mana kebenaran dan kebohongan harus saling berhadapan."

...****************...

Malam itu, suasana di kediaman utama terasa berbeda. Suasana hening beberapa hari ini kembali seperti semula. Baru saja beberapa jam yang lalu, sebuah mobil mewah baru saja berhenti di halaman utama.

Veronica telah pulang.

Wanita itu baru saja mendarat dari penerbangan panjang dari luar negeri, namun tak ada sedikit pun kelelahan yang terlihat dari raut wajahnya. Ia tampak begitu segar, anggun, dan memancarkan aura keibuan yang begitu sempurna. Gaunnya modis, wanginya harum, dan senyumnya seakan mampu mencairkan es di kutub utara.

Di ruang tamu yang megah itu, Veronica duduk dengan santai di sofa utama. Ia mengenakan gaun sutra berwarna lembut, rambutnya disisir rapi, dan wajahnya tampak begitu teduh bagaikan bidadari.

Veronica tampak sedang menuangkan teh hangat ke dalam cangkir keramik, gerakannya lambat, elegan, dan penuh kesopanan yang dipelajari selama puluhan tahun.

Ia baru saja selesai menceritakan sedikit pengalamannya di luar negeri kepada beberapa pelayan, suaranya lembut, tertawanya renyah, seakan dunia ini penuh dengan kedamaian dan keindahan.

Namun, kedamaian itu buyar seketika saat Hariz dan Rosella melangkah masuk ke ruangan itu. Wajah mereka pucat, mata mereka merah, dan di tangan mereka tergenggam erat sebuah amplop cokelat yang berisi bukti kejahatan masa lalu.

Melihat Hariz dan Rosella datang, ia tersenyum lebar. Senyum yang biasanya membuat siapa saja merasa nyaman dan aman. Namun hari ini, bagi sepasang kekasih itu, senyum itu terasa begitu mengerikan dan palsu.

"Nah, lihatlah anak-anakku yang cantik dan ganteng sudah pulang..." sapanya dengan suara yang sehalus sutra. Ia membuka kedua tangannya, mengajak mereka mendekat. "Sini, biarkan Ibu melihat kalian. Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu. Wajah kalian terlihat cerah sekali, meski terlihat sedikit lelah. Ayo duduk dekat Ibu."

Hariz dan Rosella tidak bergerak mendekat. Mereka berdiri tegak beberapa meter di hadapannya, bagaikan dua patung yang membeku. Jantung mereka berdegup kencang, bukan karena rasa rindu, melainkan karena rasa takut dan amarah yang meluap-luap.

Wanita di hadapan mereka ini... wanita yang baru saja turun dari pesawat, yang tampak begitu suci dan lemah lembut ini... adalah dalang di balik semua penderitaan mereka. Dialah yang membunuh Ibu Rizna, dialah yang mempermainkan nasib Rosella, dan dialah yang menggerakkan Hengki untuk berbuat jahat.

"Ada apa ini?" tanya Veronica, perlahan menurunkan tangannya. Senyumnya sedikit memudar, matanya yang tajam mulai mengamati gelagat aneh pada kedua orang di hadapannya. "Kenapa berdiri saja di situ? Kenapa wajah kalian muram sekali? Apakah ada masalah saat Ibu pergi?"

Rosella menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya. Kakinya gemetar, namun tekadnya kini sekuat baja.

"Bu..." suara Rosella bergetar, namun terdengar jelas di ruangan yang hening itu. "Kami datang bukan untuk mendengarkan cerita perjalanan Ibu. Kami datang... karena kami sudah menemukan segalanya."

Veronica mengerutkan keningnya, tampak bingung namun tetap menjaga sopan santunnya. "Menemukan apa, Sayang? Apa yang maksudmu?"

Dengan gerakan lambat namun tegas, Hariz meletakkan amplop cokelat itu di atas meja di hadapan mereka.

"Ini, lihatlah sendiri!" ucap Hariz, suaranya berat dan dingin, sangat berbeda dengan nada bicara anak kepada ibu biasanya. "Dokumen-dokumen yang selama ini Ibu sembunyikan rapat-rapat. Surat kelahiran Arkan, catatan adopsi Rosella dan..."

Seketika, suasana ruangan itu berubah menjadi sedingin es.

Mata Veronica menyapu pandang ke arah amplop itu, lalu kembali menatap wajah Hariz dan Rosella. Dalam sekejap mata, aura keibuan yang hangat itu lenyap begitu saja. Digantikan oleh tatapan yang tajam, dingin, dan penuh perhitungan. Ia tidak terlihat kaget, melainkan lebih terlihat seperti seorang pemain catur yang menyadari bahwa lawannya telah mengetahui langkah rahasianya.

"Jadi... kalian benar-benar menemukannya..." ucap Veronica pelan. Suaranya tidak lagi lembut, melainkan rendah dan datar, mengirimkan getaran ketakutan ke seluruh tulang. "Aku kira tempat itu cukup aman untuk menyimpan rahasia lama. Ternyata kalian lebih pintar dari yang aku duga."

"Jadi ini semua benar, Bu?" tanya Rosella, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi. "Aku bukan anak dari keluarga mana pun yang aku kenal. Aku hanyalah anak yang Ibu adopsi dari panti asuhan, lalu Ibu titipkan kepada pasangan bawahan Ibu hanya supaya bisa di pantau dari jauh..."

Rosella menatap tajam, menahan sakit hati yang luar biasa.

Veronica tidak langsung menjawab. Ia perlahan merapikan ujung gaunnya dengan tenang luar biasa, seakan apa yang dikatakan Rosella hanyalah hal sepele.

"Kau memang sangat mirip dengannya, Rosella. Sangat mirip..." bisik Veronica pelan hingga mereka tak mendengar, matanya menelusuri wajah Rosella dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara kekaguman dan kebencian. "Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk ku jadikan alat. "

"Tapi kenapa, Bu?!" seru Rosella tak kuasa menahan tangis. "Kenapa harus mempermainkan hidupku seperti ini?!"

"Karena dunia ini butuh ketertiban, Sayangku..." jawab Veronica santai, namun setiap katanya menusuk. "Rizna... wanita itu datang dan mengambil segalanya. Dia mengambil perhatian Abraham, dia mengambil kasih sayang, dan yang paling parah... dia melahirkan pewaris-pewaris yang kuat seperti Hariz dan Arkan. Dia bersinar terlalu terang, hingga membuatku dan anakku, Hengki, terpinggirkan dan berada dalam bayang-bayang."

Veronica berdiri perlahan. Tingginya menjulang, memancarkan otoritas seorang ratu yang kejam.

"Aku tidak bisa membiarkan itu terus terjadi. Aku harus memastikan bahwa kekuasaan dan harta kekayaan keluarga ini tetap berada di tangan garis keturunanku, di tangan Hengki."

"Lalu... apa yang kau lakukan pada Ibuku?" tanya Hariz dengan suara parau, dadanya sesak menahan amarah yang meledak-ledak. "Kami tahu dia tidak mati karena sakit. Kau yang menghabisinya, bukan? Kau yang membunuhnya dengan kejam supaya kamu bisa menjadi satu-satunya wanita berkuasa di sini!"

Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan mematikan.

Veronica tersenyum miring. Sebuah senyuman yang tidak ramah, senyuman iblis yang paling menakutkan.

"Dia memang harus pergi, Nak..." ucapnya pelan, seakan sedang membicarakan lelucon "Dia menjadi penghalang yang terlalu besar. Dan ketika seseorang menjadi penghalang... seseorang harus disingkirkan dengan cara apa pun."

Ia melangkah maju selangkah, menatap mereka berdua dengan tatapan yang kini benar-benar kehilangan kemanusiaan.

"Jadi, sekarang kalian tahu segalanya. Kalian tahu bahwa Hengki hanyalah alat yang aku gerakkan untuk memenuhi kebutuhanku. Kalian tahu bahwa Rosella hanyalah boneka ciptaanku. Dan kalian tahu bahwa tangan ini..."

Veronica mengangkat kedua tangannya yang halus dan putih itu ke depan wajahnya, memandanginya dengan bangga.

"...tangan ini yang telah mengatur takdir kalian sejak awal. Tangan ini pula yang telah menuntaskan nyawa Rizna dengan sangat rapi dan sempurna."

Udara di ruangan itu terasa panas dan menyesakkan. Wanita yang baru saja pulang dari bepergian ini, yang tampak begitu anggun dan berkelas, ternyata adalah monster yang paling kejam.

"Dan sekarang..." Veronica menatap mereka dengan tatapan membunuh. "...apa yang ingin kalian lakukan? Kalian pikir dengan selembar kertas ini kalian bisa menjatuhkanku? Ingatlah, aku sudah pulang, dan kekuasaanku di rumah ini masih mutlak."

Ia mendekatkan wajahnya ke depan mereka, berbisik dengan ancaman yang mematikan.

"Jika kalian berani membuka mulut, jika kalian berani menceritakan ini pada Abraham... aku pastikan, perjalanan pulang kalian nanti tidak akan semulus perjalananku kembali ke sini."

Ancaman itu terlontar begitu halus namun mematikan. Perang dingin ini baru saja dimulai secara terbuka. Hariz dan Rosella kini sadar, mereka tidak hanya berhadapan dengan wanita licik, tapi juga dengan Iblis berkekuasaan yang sangat besar.

1
Daisy
keren.
Rocean: terima kasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!