NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Hujan dan Penyesalan

​Kertas sticky note berwarna kuning itu telah kusut di dalam genggamanku, tintanya sedikit meleber terkena air mata yang menetes tanpa henti. Aku masih duduk membeku di kursi kerja milik Ghazali, di tengah ruang apartemen yang luasnya kini terasa seperti sebuah ruang isolasi hampa udara.

​Cincin platinum miliknya terasa luar biasa berat di telapak tanganku, seolah logam mulia itu menyerap seluruh penderitaan dan keputusasaan yang ditinggalkan oleh pemiliknya.

​“Biarkan aku menebus dosaku pada putraku sendirian di neraka.”

​Kalimat perpisahan itu adalah proyektil peluru yang menembus tengkorak logikaku, menghancurkan sisa-sisa keegoanku. Ghazali tidak lari karena ia pengecut. Ia lari karena ia merasa dirinya adalah monster yang terinfeksi oleh kutukan darah keluarganya. Ia percaya bahwa ia adalah racun, dan ia memilih untuk mengamputasi dirinya sendiri agar aku tetap bersih.

​Aku menghapus air mataku dengan kasar menggunakan punggung tangan.

​"Tidak," bisikku pada keheningan ruangan. Suaraku bergetar, namun perlahan menemukan ketegasannya. "Kau tidak akan pergi ke neraka sendirian, Ghazali Mahendra. Aku istrimu. Jika kau melompat ke dalam neraka, maka aku akan membawa lautan es untuk memadamkan apinya."

​Aku menyambar ponselku yang tergeletak di atas meja. Dengan jari yang masih gemetar, aku mendial nomor Komisaris Herman.

​Panggilan itu diangkat pada dering kedua. "Dokter Keana? Ada apa? Kau sudah sampai di apartemen?"

​"Komisaris, Ghazali pergi," suaraku memburu, menahan isakan yang mendesak naik ke tenggorokan. "Dia meninggalkan surat cerainya dan cincinnya. Dia sedang berada dalam fase krisis psikologis akut. Jantungnya baru saja pulih, dan luka bakar di tangannya bisa memicu sepsis jika ia tidak mendapatkan perawatan medis yang steril! Aku butuh Anda melacak posisi GPS dari ponselnya sekarang juga!"

​Terdengar suara umpatan pelan dari seberang telepon. "Dia mematikan ponsel utamanya sejak keluar dari rumah sakit, Keana. Dan mobil sedan perak yang tadi kalian gunakan, baru saja dilaporkan ditemukan kosong di pinggir jalan kawasan Jakarta Timur."

​Darahku mendadak membeku. "Dia meninggalkan mobilnya? Lalu ke mana dia pergi di tengah badai seperti ini?"

​"Tunggu sebentar," suara ketikan keyboard yang sangat cepat terdengar dari ujung sana. Herman sedang meretas akses kamera lalu lintas (CCTV E-TLE). "Aku melacak pelat nomor mobil itu. Sedan perak itu terpantau kamera terakhir kali berhenti di dekat TPU (Taman Pemakaman Umum) Karet Bivak sekitar dua puluh menit yang lalu. Seorang pria berjas hujan turun dan berjalan masuk ke area pemakaman yang gelap."

​Pemakaman.

​Tentu saja. Pria yang jiwanya baru saja dihancurkan oleh kematian anak kandungnya tidak akan lari ke bar atau hotel mewah. Ia akan lari ke tempat di mana orang mati beristirahat. Darmi pasti sempat membisikkan lokasi makam palsu anak itu padanya sebelum kami berpisah di klinik tadi.

​"Kirimkan titik koordinatnya padaku, Komisaris. Aku akan ke sana menyusulnya," putusku tanpa ragu.

​"Keana, kau gila?! Hujan di luar sangat lebat! Bahumu terluka dan kakimu penuh sayatan kaca! Biar aku yang mengirimkan unit patroli ke—"

​"Jangan libatkan polisi berseragam, Herman!" potongku tajam. "Jika media atau orang-orang Maia melihatnya ditangkap di kuburan dalam kondisi seperti orang gila, mereka akan menggunakan itu untuk memperkuat narasi bahwa Ghazali memiliki gangguan jiwa dan membunuh kakeknya sendiri! Ini adalah urusan rumah tanggaku. Aku sendiri yang akan menjemput suamiku."

​Aku mematikan sambungan telepon sebelum Herman sempat membantah. Aku menyambar kotak P3K dari laci meja, sebuah payung hitam, dan kunci mobil cadangan yang tersisa di mangkuk kunci dekat pintu masuk.

​Malam ini, sang dokter forensik tidak akan berlari ke pemakaman untuk menggali mayat. Aku akan berlari ke sana untuk menyelamatkan satu-satunya manusia hidup yang memegang separuh jiwaku.

​Hujan badai mengguyur kawasan TPU Karet Bivak tanpa belas kasihan, mengubah jalanan tanah di antara nisan-nisan batu menjadi lautan lumpur cokelat pekat. Petir menyambar di cakrawala, membelah langit malam yang pekat layaknya sayatan kilat scalpel di atas meja logam.

​Aku keluar dari taksi yang kubayar mahal untuk menembus badai. Payung hitam di tanganku nyaris terbang tertiup angin kencang. Cahaya dari senter ponselku berpendar lemah, mencoba membelah tirai hujan yang membatasi pandangan.

​"Mas!" teriakku, suaraku tertelan oleh gemuruh guntur. "Ghazali!"

​Kakiku yang hanya terbalut sepatu kets tipis tenggelam ke dalam lumpur sedalam mata kaki. Serpihan kaca yang masih tertanam di telapak kakiku berdenyut menyiksa, mengirimkan sinyal rasa sakit yang tajam setiap kali aku melangkah. Namun, rasa sakit fisik itu seketika mati rasa saat cahaya senterku menangkap sebuah siluet di ujung blok pemakaman khusus anak-anak.

​Di bawah sebatang pohon kamboja tua yang rantingnya meranggas, seorang pria berlutut di atas lumpur basah.

​Ghazali.

​Payungku terlepas dari genggamanku, terbang terbawa angin.

​Aku berlari tertatih menghampirinya. Pemandangan di depanku benar-benar merobek seluruh kewarasan medisku.

​Ghazali, Sang Jaksa Penuntut Umum yang selalu tampil sempurna dengan setelan jas seharga puluhan juta, kini berlutut di tanah yang kotor. Kemeja hitamnya basah kuyup dan dipenuhi lumpur. Ia mengabaikan perban di tangan kanannya yang kini telah basah dan kotor oleh tanah merah—sebuah kondisi yang sangat berisiko memicu infeksi bakteri nekrotik pada luka bakar kimianya.

​Di hadapannya, terdapat sebuah gundukan tanah kecil dengan nisan batu bata tanpa nama. Makam palsu yang ditunjukkan oleh Bidan Darmi.

​Ghazali tidak menangis dengan suara keras. Pria itu menunduk, bahunya terguncang hebat, menyalurkan tangisan tanpa suara yang jauh lebih menyayat hati daripada raungan mana pun. Tangan kirinya mencengkeram tanah kuburan yang basah, seolah ia ingin menggali bumi dengan tangan kosong untuk memeluk darah daging yang tidak pernah ia temui.

​"Ghazali," panggilku parau, jatuh berlutut tepat di sampingnya. Lumpur dingin seketika merendam lutut celana jeans-ku.

​Ghazali tersentak pelan, perlahan menoleh ke arahku.

​Di bawah cahaya kilat yang menyambar, aku melihat kehancuran absolut di wajahnya. Mata elangnya yang tajam itu kini kosong, merah, dan membengkak. Bibirnya membiru karena hipotermia tingkat awal. Tubuh besarnya menggigil tak terkendali.

​"Keana..." bisiknya, giginya bergemeretak menahan dingin. "Mengapa kau ada di sini? Aku... aku sudah menulis surat itu. Aku sudah menyerahkan semuanya padamu. Kau seharusnya berada di tempat yang hangat, jauh dari monster sepertiku."

​"Kau bukan monster," aku mengabaikan hujan yang menghantam wajahku, menangkup kedua pipi dinginnya dengan kedua telapak tanganku. "Kau adalah seorang ayah yang sedang berduka. Dan kau adalah suamiku."

​Ghazali menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba melepaskan wajahnya dari sentuhanku. Ia mundur perlahan, namun jatuh terduduk di atas lumpur.

​"Jangan sentuh aku," suaranya pecah, sebuah parauan yang dipenuhi rasa benci pada dirinya sendiri. "Tanganku kotor, Keana. Darahku kotor. Aku adalah bagian dari silsilah keluarga yang membunuh anakku sendiri demi uang dan reputasi. Aku tidak pantas berada di dekat wanita yang tangan dan hatinya sebersih dirimu."

​"Bersih?" Aku tertawa getir, sebuah tawa yang bercampur dengan isak tangis. "Ghazali, lihat aku! Aku adalah dokter yang menghabiskan setiap hari membedah mayat yang membusuk! Tanganku setiap hari berlumuran darah kotor dan cairan organ! Aku hidup di antara bau kematian! Tidak ada yang bersih dari kehidupanku!"

​"Tapi jiwamu bersih!" bantah Ghazali histeris, menunjuk ke arah dadaku. "Sementara jiwaku... jiwaku sama busuknya dengan ibuku! Aku menipumu! Aku menghinamu! Aku membiarkanmu menangis di malam pertama kita karena aku terlalu pengecut untuk melawan ibuku secara terang-terangan! Dan hukumanku atas semua kepengecutan itu..."

​Ghazali menunjuk ke arah nisan batu bata kecil di depannya dengan tangan kirinya yang bergetar. "...hukumanku adalah aku kehilangan anakku tanpa pernah melihat wajahnya."

​Air mataku tumpah, menyatu dengan derasnya hujan. Pria ini sedang menghukum dirinya sendiri di atas tiang gantungan psikologis yang ia buat sendiri. Ia menyerap semua dosa ibunya dan Maia, menjadikannya beban yang menekan paru-parunya hingga ia tak bisa bernapas.

​"Itu bukan dosamu, Mas," aku merangkak maju menerjang lumpur, memangkas jarak di antara kami. Aku tidak peduli pada pakaianku yang kotor, aku tidak peduli pada cuaca ekstrem ini.

​Aku meraih lengan kanannya yang dibungkus perban kotor dengan sangat berhati-hati, lalu menggunakan tangan kiriku untuk menarik kerah kemejanya. Aku memeluk tubuh besarnya dengan erat, menekan wajahku ke ceruk lehernya yang dingin.

​"Lepaskan aku, Keana," Ghazali mencoba meronta dengan lemah, namun tubuhnya terlalu lelah karena efek hipotermia dan trauma kardiologis yang baru saja ia alami semalam. "Aku akan menyeretmu jatuh. Aku akan menghancurkanmu."

​"Kau sudah menghancurkanku, Ghazali," bisikku tepat di telinganya. "Kau menghancurkanku saat kau membiarkan Nyonya Ratna menanamkan benih kesalahpahaman di kepalaku. Kau menghancurkanku saat kau membiarkanku percaya bahwa kau membakar tanganmu hanya demi simpati publik. Dan kau menghancurkanku saat kau meninggalkanku sendirian di apartemen itu dengan selembar surat cerai palsu!"

​Ghazali terdiam. Bahunya yang lebar bergetar di dalam pelukanku.

​Aku menarik wajahku, menatap lurus ke dalam matanya yang dipenuhi air mata. "Aku cemburu, Mas. Di klinik aborsi tadi, saat aku melihat foto masa lalumu dengan Maia... aku merasa sangat rendah. Aku merasa cemburuku sangat kotor. Aku mengira aku hanyalah pion sementara bagimu."

​"Kau bukan pion," bantah Ghazali seketika, suaranya terdengar begitu putus asa. "Maia adalah kesalahan terbesar dalam masa mudaku. Tapi kau... kau adalah kebenaran yang tak pernah kuduga akan kumiliki."

​"Kalau begitu buktikan!" aku berteriak membelah suara hujan. Aku melepaskan satu tanganku, merogoh saku dalam kemejaku, dan mengeluarkan cincin platinum miliknya.

​Aku meraih tangan kirinya yang berlumpur. Dengan gerakan paksa dan tanpa kompromi, aku memasukkan cincin pernikahan itu kembali ke jari manisnya.

​"Wasiat kakekmu mungkin mengikat kita di atas kertas. Tapi cincin ini... cincin ini adalah kontrak yang kita buat di ruang bawah tanah, saat kau menolak meninggalkanku mati keracunan gas," aku menggenggam tangannya erat-erat, menekan cincin itu hingga menempel di kulitnya. "Kau tidak punya hak untuk menceraikanku secara sepihak, Ghazali Mahendra. Jika kau ingin masuk neraka untuk menebus dosa keluargamu, maka kau harus membawaku serta. Karena aku menolak menjadi janda dari seorang pria bodoh yang tidak tahu cara memaafkan dirinya sendiri."

​Ghazali menatap cincin di jarinya, lalu menatap wajahku yang basah oleh hujan dan air mata. Pertahanan pualamnya yang ia bangun sejak hari pertama kami bertemu akhirnya hancur tak bersisa. Dinding keangkuhan, ketakutan, dan rasa tidak pantas itu luruh menjadi debu.

​Ia menggunakan tangan kirinya untuk menarik tengkukku. Ia membenamkan wajahnya di dadaku, memeluk pinggangku dengan erat, dan menangis tersedu-sedu. Raungan sang Jaksa Penuntut Umum terdengar menyayat hati, membaur dengan suara guruh di langit Jakarta. Ia menangis seperti seorang anak kecil yang tersesat di dalam kegelapan, yang akhirnya menemukan secercah cahaya suar untuk membawanya pulang.

​Aku memeluk kepalanya, membelai rambutnya yang basah kuyup. Aku menyandarkan daguku di puncak kepalanya, menahan udara dingin dengan kehangatan tubuh kami yang saling menopang di tengah lautan lumpur makam.

​"Kita akan membalas dendam untuknya, Mas," bisikku, sengaja tidak memberitahunya kebenaran bahwa Gala sebenarnya sempat hidup hingga usia enam tahun di panti asuhan. Kondisi jantung dan psikologis Ghazali saat ini tidak akan sanggup menerima fakta bahwa putranya dijadikan tikus percobaan. Ia butuh waktu. Ia butuh pijakan yang kuat sebelum aku membuka jahitan rahasia yang paling berdarah itu.

​"Kita akan memastikan ibumu dan Maia tidak akan pernah bisa melihat sinar matahari dari luar jeruji besi. Kita akan membedah kebusukan mereka di Pengadilan Publik lusa nanti. Aku berjanji padamu," janjiku dengan determinasi absolut seorang ahli forensik yang siap berperang.

​Ghazali mengangguk pelan di pelukanku. Ia perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang merah menatap bibirku sejenak, sebelum ia mencondongkan tubuhnya ke depan.

​Di bawah guyuran badai, di tengah makam yang kotor dan dingin, bibirnya menyentuh bibirku.

​Ciuman itu terasa asin oleh air mata dan air hujan, namun sensasi yang menjalar di tubuhku jauh lebih membakar daripada ciuman kami di ruang otopsi. Tidak ada lagi kebohongan. Tidak ada lagi masa lalu yang disembunyikan. Hanya ada penyesalan yang jujur, dan penerimaan yang tanpa syarat.

​Aku membalas lumatannya, mengabaikan rasa perih di sekujur tubuhku. Tangannya merengkuh punggungku semakin kuat, seolah ingin menyatukan tulang rusuk kami menjadi satu kesatuan yang utuh. Di tengah bau tanah basah dan sisa-sisa aroma kematian di pemakaman ini, cinta yang selama ini salah alamat akhirnya menemukan titik koordinatnya yang absolut.

​Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, aku perlahan melepaskan pautan kami. Napas kami saling beradu.

​"Kau kedinginan," ucapku, memindai warna kebiruan di ujung bibirnya. Fisiologi tubuhnya mulai menunjukkan tanda bahaya hipotermia akut. "Kita harus kembali ke apartemen sekarang. Tangan kananmu harus disterilisasi sebelum jaringan epitelmu mengalami nekrosis."

​Ghazali mengangguk lemah. "Maafkan aku karena membuatmu harus menyusulku ke tempat sekotor ini, Keana."

​"Seorang dokter forensik tidak pernah takut pada tempat yang kotor," aku tersenyum tipis, berdiri terlebih dahulu, lalu mengulurkan tanganku untuk membantunya bangkit. "Kita pulang, Mas."

​Ghazali menerima uluran tanganku. Dengan susah payah, ia berdiri dengan menumpukan sebagian bobot tubuhnya padaku. Kami berjalan tertatih meninggalkan gundukan makam palsu itu, saling merangkul di bawah derasnya hujan.

​Ranjang kami yang bermula dari dua luka itu tidak akan pernah bisa menghapus bekas sayatannya. Namun malam ini, hujan badai telah membersihkan nanah keraguan di antara kami. Luka itu tidak lagi dibiarkan terbuka dan infeksi; luka itu akan dijahit oleh tangan kami berdua, membentuk sebuah jaringan parut yang kuat dan tak terkalahkan.

​"Keana," panggil Ghazali pelan saat kami nyaris mencapai pintu keluar area pemakaman.

​"Ya, Mas?"

​"Saat sidang pembuktian terbuka di pengadilan nanti..." suara Ghazali berubah menjadi berat dan dipenuhi aura gelap seorang dominus litis sejati. "...aku tidak akan lagi memakai jubah jaksaku. Tapi aku akan meminjam pisau bedahmu. Aku ingin menguliti mereka dari kursi saksi korban, di depan seluruh rakyat negeri ini."

​Aku menyunggingkan seringai tipis yang mematikan. "Akan kusiapkan scalpel yang paling tajam untukmu, Suamiku."

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!