NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34

Keesokan harinya, waktu berjalan begitu cepat bagi Arumi. Kesibukan workshop yang luar biasa sempat mengalihkan pikirannya dari janji makan malam bersama Bram. Namun, ketika jam di dinding ruang kerjanya menunjukkan pukul lima sore, jantungnya kembali berdegup dengan irama yang tidak beraturan.

Arumi berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit hanya untuk memilih pakaian.

Ia mengabaikan gaun-gaun kerjanya yang bernuansa kaku dan formal, lalu menjatuhkan pilihan pada sebuah terusan kain katun organik berwarna hijau sage yang lembut, dengan potongan sederhana namun sangat pas di tubuhnya.

Rambutnya dibiarkan tergerai indah, hanya dijepit sedikit di bagian samping.

"Wah, Ibu cantik banget hari ini! Kayak bidadari di buku cerita Kirana," puji Kirana yang sudah rapi mengenakan gaun kuning cerah, duduk di tepi kasur sambil memeluk kruk kecilnya.

Arumi tersenyum, berlutut di depan putrinya untuk memakaikan sepatu sandal kecil yang nyaman. "Kirana juga cantik sekali. Ingat ya, nanti di restoran jalannya pelan-pelan saja, dibantu Ibu sama Om Bram."

Tepat pukul enam sore, klakson mobil sedan biru laut yang familiar terdengar dari bawah ruko.

Ketika Arumi menuntun Kirana turun, Bram sudah menunggu di dekat pintu mobil. Pria itu tampak sangat tampan dan segar dengan mengenakan kemeja kerah koko modern berwarna putih bersih dengan celana khakis.

Begitu melihat Arumi melangkah keluar dari ruko, Bram sempat terpaku selama beberapa detik. Tatapannya yang biasa tenang kini memancarkan binar kekaguman yang begitu intens, membuat Arumi reflek menundukkan wajahnya, berpura-pura sibuk membetulkan posisi kruk Kirana.

"Selamat malam, Arumi... Kirana," sapa Bram, suaranya terdengar sedikit lebih rendah dari biasanya, seolah terpesona oleh penampilan Arumi malam ini.

"Malam, Om Bram!" sahut Kirana ceria.

"Selamat malam, Bram," balas Arumi pelan, matanya sempat bertemu dengan mata Bram sebelum ia kembali mengalihkan pandangannya.

Bram dengan sigap membungkuk, mengambil alih tugas menuntun Kirana dan membantu bocah itu masuk ke kursi belakang dengan kelembutan yang sangat alami. Setelah memastikan Kirana aman, Bram membukakan pintu depan untuk Arumi.

"Silakan, My Lady," ucap Bram dengan nada bercanda yang halus, mencoba mencairkan ketegangan yang ia rasakan menguar dari diri Arumi.

Arumi tersenyum kecil dan masuk ke dalam mobil. Aroma kayu cendana yang menenangkan kembali memenuhi indra penciumannya, entah mengapa membuat rasa gugupnya perlahan berganti menjadi kenyamanan yang hangat.

Bram membawa mereka ke sebuah restoran keluarga bernuansa taman yang terletak agak tersembunyi di sudut kota.

Tempatnya sangat asri, dengan lampu-lampu gantung kecil yang temaram dan aliran kolam ikan koi di sekeliling meja mereka. Suasana di sana sangat tenang, jauh dari hiruk-pikuk kedai kopi bisnis atau restoran mewah yang biasa dikunjungi para pengusaha ambisius.

Makan malam itu berlangsung dengan sangat kasual dan menyenangkan. Kirana menjadi pusat perhatian dengan segala cerita polosnya tentang proses pembuatan menara lego dan bagaimana ia sangat menyukai sup ayam buatan Mbak Lastri.

Bram mendengarkan setiap kalimat bocah itu dengan ketabahan seorang ayah, sesekali menyuapkan potongan daging steak yang sudah dipotong kecil-kecil ke piring Kirana.

Arumi memperhatikan interaksi itu dari seberang meja. Di bawah pendar cahaya lilin yang lembut, wajah tegas Bram terlihat begitu hangat. Ada sebuah ketulusan yang murni terpancar dari cara pria itu tertawa mendengarkan lelucon garing Kirana.

"Dia benar-benar pria yang baik," batin Arumi, hatinya berdesir aneh.

Ada bagian dari dirinya yang sangat ingin bersandar pada pundak tegap itu, menceritakan betapa takutnya ia malam itu saat mendengar Kirana kecelakaan, menceritakan betapa lelahnya ia harus selalu berpura-pura kuat di depan semua orang.

Namun, bayangan wajah Reza yang dulu juga pernah bersikap manis di awal pernikahan mendadak berkelebat di benaknya seperti alarm peringatan.

Arumi langsung mencengkeram sendoknya agak kuat, senyumnya sedikit memudar. Sifat defensifnya kembali bangkit. Ia buru-buru meminum air putihnya untuk menenangkan gejolak batinnya.

Bram, yang memiliki kepekaan tinggi, menyadari perubahan ekspresi di wajah Arumi. Setelah Kirana pamit sebentar diantar pelayan restoran untuk melihat ikan koi di kolam dekat meja mereka, Bram meletakkan garpunya lalu menatap Arumi dengan tatapan yang sangat dalam namun penuh pengertian.

"Arumi," panggil Bram lembut.

"Ya, Bram?" Arumi mendongak, mencoba memasang wajah datarnya yang biasa.

"Kamu... tidak perlu selalu menahan diri seperti itu saat bersamaku," ucap Bram pelan, suaranya seperti usapan lembut pada luka lama Arumi. "Aku tahu, kamu sedang membangun dinding yang sangat tebal untuk melindungi dirimu dan Kirana dari dunia luar. Dan aku sangat menghargai itu. Tapi malam ini, di tempat ini... kamu boleh melepaskan beban itu sebentar. Kamu tidak sedang berada di medan perang bisnis, Arumi. Kamu hanya sedang makan malam dengan seorang pria yang sangat... mengagumimu."

Tenggorokan Arumi mendadak terasa tercekat. Kata mengagumimu yang diucapkan Bram dengan begitu tulus tanpa ada nada menuntut di dalamnya, sanggup menembus pertahanan terdalam Arumi.

Air matanya hampir saja menggenang di sudut mata, namun ia mati-matian menahannya dengan berkedip beberapa kali.

"Bram... aku... aku belum siap untuk hal-hal seperti itu," bisik Arumi jujur, suaranya bergetar tipis. Ini adalah pertama kalinya ia mengakui kerapuhannya di depan pria lain. "Masa laluku... terlalu berantakan. Fokus utamaku saat ini hanya memastikan masa depan Kirana aman bersama A.R Design."

Bram tersenyum hangat, tidak ada raut kekecewaan sedikit pun di wajahnya. Ia justru memajukan tubuhnya sedikit, menatap Arumi dengan binar mata yang penuh janji kesetiaan.

"Aku tahu, Arumi. Dan aku tidak sedang memintamu untuk membuka pintu itu sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu... bahwa aku ada di sini. Aku tidak akan mendesakmu, aku tidak akan menuntut apa pun darimu. Biarkan aku berjalan di sampingmu, memastikan langkahmu tidak lagi terasa sepi dan berat. Sebagai mitra bisnismu, sebagai teman Kirana... atau sebagai apa pun yang membuatmu merasa aman. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Arumi menatap mata Bram yang teduh di balik kacamata tipisnya. Di dalam pantulan bola mata pria itu, Arumi tidak melihat adanya ego, nafsu kekuasaan, atau kepalsuan. Yang ada hanya ketulusan murni yang begitu lapang, siap menerima segala bentuk trauma dan kekurangannya.

Arumi tidak menjawab dengan kata-kata, namun sebuah senyuman yang sangat manis terukir indah di bibirnya. Perasaan kagum yang sejak kemarin ia sangkal, kini mulai mengakar kuat di hatinya, berubah menjadi sebuah benih harapan baru yang siap mekar di tengah fajar kebangkitannya.

Dari kejauhan, Kirana berjalan kembali ke meja mereka dengan tawa riang, tidak menyadari bahwa di bawah langit malam yang bertabur bintang itu, dua hati orang dewasa di hadapannya baru saja menenun sebuah ikatan tak kasatmata yang akan mengubah jalannya takdir mereka ke depan.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Dew666
💝💝💝💝
Patrish
kalau sudah mekar merona..pasti banyak semut yang datang...
enak saja mau minta gabung gabung..ngaca Buuu
Dew666
👄👄👄👄
Patrish
tulang selangka..itu bahu
tulang selangkang...itu diantara paha
beda ya thor..
Patrish
sudahlah Arumi...buka pelan pelan pintunya...tanpa suara derit...supaya semua tetap nyaman...
Patrish
Kirana permpuan kan ya?
Dew666
🪭🪭🪭🪭
Patrish
ayook Arumi....semangat.....ada pengagum baru..semangat❤❤
Patrish
Reza licik...menyerang anaknya sendiri
Yunita Asep
sudah tamatkah., ?
Yunita Asep
lanjuttkaaannn...
Yunita Asep
lanjuutt...
Yunita Asep
siiaaapp...
Yunita Asep
lanjuutt...
Yunita Asep
hebat euy.. Arumi... semangaatt..!!
Yunita Asep
woww kerreenn.. Arumi... lanjuutt...
Yunita Asep
thorr.. punya dendam ap y DindaRini kok julid amat gitu.. am Arum...
Yunita Asep
ah gk sanggup terus bcnya... thorr... tapi penasaran....
Yunita Asep
ya Allah sedihnya...
Yunita Asep
kasian Arumi thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!