NovelToon NovelToon
Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Bertani
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.

Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.

Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.

Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]

[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]

[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]

[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]

Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.

. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4.5--Mengusir Dua Preman Bringas Dan Kemakmuran Desa

Namun, sebelum jari kotor Dullah menyentuh kain bajunya, Aris bergerak.

*Wush!*

Gerakan Aris sangat minimalis namun efisien. Ia sedikit memutar tubuhnya ke samping, membiarkan tangan Dullah menyambar angin. 

Dalam sekejap mata, tangan kanan Aris melesat—bukan sebuah pukulan biasa, melainkan serangan telapak tangan terbuka yang tepat menghantam ulu hati Dullah.

*Bugh!*

Dullah terbelalak. Napasnya terhenti seketika. Tubuh raksasanya terhuyung ke belakang sebelum akhirnya jatuh berlutut, wajahnya membiru karena kekurangan oksigen.

Mereka adalah preman elit kawasan sini! Semenjak beberapa tahun mereka berkuasa, sudah seperti penjajah. Semua orang gak ada yang berani begitu mereka ucap nama bos malik.

Dan sekarang bocah yang baru pulang kampung berani menantang mereka?

Gito yang melihat rekannya tumbang dalam satu gerakan langsung naik pitam. "Bajingan! Kamu berani melawan?! Lo gak tahu siapa yang kami lawan?”

“Kagak takut gue. Mau si malik anak pejabat ke, bos ceo kek, presiden kek. Kita sama-sama manusia, gue cuma ambil hak yang jadi milik gue! Jangan mentang berdasi dan berkuasa bisa semata-mata sama rakyat! Ingat yang gaji pejabat juga duit rakyat!”

Gito berteriak marah, wajahnya memerah padam hingga urat-urat lehernya menonjol. "Sombong banget mulut lo, bocah! Di sini hukumnya bukan kertas sertifikat, tapi siapa yang pegang kuasa!"

Gito menerjang beringas, parang karatannya diayunkan secara vertikal, mengincar bahu Aris dengan niat membelah tulang dan membunuh itu bocah. Namun, di mata Aris yang kini telah memiliki memori otot seorang Prajurit, gerakan itu terasa kasar dan penuh celah.

Sret!

Aris hanya menggeser kakinya sedikit ke kiri. Parang itu menebas udara kosong tepat di samping telinganya. Sebelum Gito bisa menarik kembali senjatanya, Aris menangkap pergelangan tangan pria itu dengan cengkeraman besi.

"Gue udah capek denger nama Malik," desis Aris dingin.

Krak!

"AAARRGGHH!"

 Gito menjerit saat Aris memutar sendi tangannya hingga parang itu jatuh berdenting ke tanah. Tak berhenti di situ, Aris melayangkan tendangan lutut tepat ke arah rahang Gito.

*Bugh!*

Gito terpental ke belakang, menghantam tumpukan ban bekas yang belum sempat tersuling. Ia terkapar di samping Dullah yang masih megap-megap mencoba mencari oksigen. Dua preman yang biasanya ditakuti satu desa itu kini tampak seperti pecundang di hadapan satu pemuda.

Aris berdiri tegak di tengah uap putih yang masih tersisa dari proses purifikasi tanah. Sinar matahari subuh mulai muncul dari ufuk timur, menyinari separuh wajahnya, membuatnya tampak seperti sosok pelindung lahan yang bangkit dari kematian.

"Balik sana ke tuan lo," Aris melangkah mendekat, membuat Gito dan Dullah menyeret tubuh mereka di tanah karena ketakutan. 

"Bilang sama Malik, tanah ini bukan lagi tempat dia buang kotoran. Mulai hari ini, setiap sampah yang dia kirim ke sini, bakal gue balikin lewat muka kalian berdua."

"l-lo bakal mati, Ris... Malik gak bakal diem… di negara korup kaya gini, jangan remehin kekuatan kuasa dan uang" ancam Gito dengan suara gemetar sambil memegangi tangannya yang patah. “Ingat itu dasar anak idealisme tinggi!”

"Gue tunggu ancaman lo," jawab Aris singkat. "Sekarang, cabut dari tanah gue sebelum gue mutusin buat jadiin kalian pupuk di sini."

Melihat sorot mata Aris yang tidak menunjukkan keraguan sedikitpun, kedua preman itu segera lari terbirit-birit menuju Jeep mereka yang terparkir di pinggir jalan. 

“Awas lo ya!”

Mesin Jeep itu menderu keras, meninggalkan kepulan asap hitam saat mereka tancap gas seolah dikejar setan.

Setelah suasana kembali hening, Aris menarik napas dalam-dalam. Aroma tanah segar yang gembur mulai mengalahkan bau busuk amonia di area 10x10 meter tersebut.

[Ding!]

[Misi Baru Terbuka: Restorasi Hijau Tahap 1]

[Selamat anda berhasil mengusir para preman sampah! Anda tidak akan terganggu untuk membersihkan sampah!]

[Tujuan: Bersihkan seluruh lahan (1 Hektar) dari limbah kimia.**]

[Target Jangka Pendek: Kumpulkan 100 kg sampah dan bersihkan semuanya]

Hadiah: Benih 'Sayuran Sultan' (Masa panen hanya 7 hari & kualitas tanaman tingkat tinggi).]

Aris menatap lahan yang luas itu. Separuhnya masih tertutup gunung plastik dan cairan kimia hitam, tapi kini dia tidak lagi merasa putus asa.

"Tujuh hari?" Aris menyeringai. "Waktu yang cukup. Saatnya bersih-bersih sampah!”

Kejadian subuh tadi tentu tak luput dari pasang ata dan pendengaran waga suka cita yang bersembunyi karena ketakutan, namun melihat keberanian Aris dan melihat dia yang bisa mengusir dua prema sok berkuasa yang selama ini jadi hama kampung.

Mereka keluar satu persatu menatap Aris bagaikan pahlawan desa dengan pandanga kagum. Desa ini diisi orang tua, dan beberapa gadis muda. Tentu jarang ada pemuda berani seperti aris.

“Hebat!”

“Sungguh pemuda yang berani!”

Wak Darmo menatap Aris dengan mata penuh perasaan rendah diri. Dia kemarin menghindari ana hanya karena keluarga mereka dijadikan incaran.

Beberapa warga juga merasa bersalah, selama ini mereka menyalahkan keluarga Aris karena mereka tempat kampung mereka dijadikan ladang berkuasa pejabat gak berkompeten. Bahkan gak sedikit pula yang menatap benci Emi dan Ibunya, sekarang mereka malah diselamatkan oleh keluarga itu.

Wak Darmo melangkah maju dengan bahu yang tampak lebih merosot dari biasanya. Tangannya yang gemetar memegang cangkul tua yang sudah berkarat, saksi bisu betapa lamanya ia hanya bisa diam melihat tanah leluhurnya diinjak-pagi.

​ “Aris…” suara Wak Darmo parau, matanya berkaca-kaca menatap tanah cokelat gembur yang baru saja dimurnikan. “Maafkan kami, Nak. Kami ini pengecut. Kami cuma bisa nonton waktu tanah kakekmu dikotori, waktu ibumu dipukuli. Kami takut lapar, kami takut mati.”

​ Warga lain ikut tertunduk. Ada rasa malu yang pekat di antara kekaguman mereka. Namun, Aris hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mengandung dendam sama sekali.

​ “Gak apa-apa, Wak. Ketakutan itu manusiawi,” sahut Aris tenang. “Tapi mulai hari ini, jangan ada lagi yang menunduk kalau melihat Jeep mereka lewat. Tanah ini punya kita, bukan punya pejabat yang cuma tahu cara buang limbah. Kita punya hak buat ngelawan!”

​Kata-kata Aris seperti bensin yang menyulut api semangat di dada warga. Melihat tanah yang tadinya beracun kini mengeluarkan aroma segar, harapan mereka yang sudah mati mendadak berdenyut kembali.

​“Ris, apa yang bisa kami bantu?” tanya seorang pemuda tanggung, tetangga sebelah rumah Aris. “Gue gak punya otot kayak lo, tapi kalau cuma mungutin plastik, gue sanggup!”

​“Iya, Ris! Kami bantu!” seru warga lainnya.

​​“Terima kasih semuanya,” Aris berseru, suaranya lantang memecah suasana subuh. “Kalau kalian mau bantu, tolong kumpulkan plastik-plastik itu di satu titik. Jangan sentuh cairan hitam yang berbau tajam, biar itu bagian saya. Kita bersihkan satu hektar ini sebelum Malik datang lagi membawa lebih banyak orang!”

1
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
tetap semangat dan Jaga kesehatan /Good/
Manusia Biasa: amin walau otaknya udah agak eror

terimakasih sudah membaca kak🤣
total 1 replies
Mamat Stone
sehat selalu Thor /Ok/
Hajir Pemburu
di tunggu kelanjutanya thor.
Manusia Biasa: baik tunggu besok ya ka. kemungkinan up 4-5 bab
total 1 replies
ラマSkuy
wah Thor masih banyak typo ya dan kadang ada juga penamaan karakter yang kebalik contohnya di bab ini di akhir
Manusia Biasa: waduh baik tak koreksi kak. garap dua novel sekaligus emang resikonya gini/Sob/🙏
total 1 replies
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/💥💥
Mamat Stone
Pejantan Tangguh /CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
sang Dermawan 🤩
Mamat Stone
berbagi itu indah 😍
ラマSkuy
kembali jadi warga biasa, kaya pria so.....
ラマSkuy: maaf gak dilanjut kata katanya, ada tukang bakso bawa HT jadi ngeri 🤣🤣🤣
total 2 replies
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!