⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Bahagiamu bahagiaku juga
Kedua mata itu perlahan terjaga. Hanum menatap langit-langit yang terlihat terang oleh lampu ruangan. Dia hendak bangun untuk duduk, tetapi kepalanya terasa berat dan pandangannya sedikit kabur.
"HANUM?! Alhamdulillah sudah bangun!" pekik Bunda senang membuat Hanum menyadari ada seseorang di sampingnya..
"Bunda..," ucapnya pelan.
"Astagfirullah, Nak.., Bunda khawatirkan sekali sama kamu. Syukurlah kamu sudah sadar, dimana yang sakit? Biar Bunda suruh Devan panggilin dokter dulu ya," ucap Bunda sambil menyuruh Devan yang dari tadi sedang duduk di luar.
Beberapa saat kemudian, dokter memeriksa keadaan Hanum.
"Pasien masih perlu istirahat agar keadaannya pulih sepenuhnya. Butuh waktu satu sampai dua minggu sampai pasien benar-benar pulih. Efek yang dirasakan saat ini pandangannya sedikit kabur karena luka di kepalanya," terang Dokter itu sambil mengarahkan Devan untuk mengambil resep di instalasi farmasi rumah sakit itu.
"Apakah bapak suami nya? Kalau bisa istri nya jangan dibiarkan bekerja dulu ya, Pak," ucap dokter itu membuat Bunda tersenyum lebar. Hanum diam saja mendengarnya, cukup membuatnya malu tapi kepalanya terasa berdenyut.
"Saya.., bukan suami nya, Dok. Masih calon rencana nikah dua bulan lagi," kata Devan sambil tersenyum.
"Oh begitu, baiklah kalau begitu calon istrinya dinasehatin ya, Pak," Dokter itu pun pergi.
Bunda tertawa kecil. "Aduh.., siapa yang bilang mau nikah ya? Di depan orangnya langsung lagi," kata Bunda.
"Bun..," Hanum tersipu malu.
Devan tidak menyesal telah melontarkan ucapannya barusan. Dia segera duduk di sebelah Hanum yang masih duduk sambil dipegangi tangannya oleh Bunda.
"Kamu masih mau di sini atau pulang ke rumah? Bilang saja kalau masih ada yang sakit," Devan tampak risau menatap Hanum.
"Aku mau pulang saja, Van."
Alhasil, Devan membantu Bunda dan Bi Inah mengemas kembali barang-barang yang telah dibawa tersebut. Sebenarnya Bunda kira Hanum masih perlu perawatan untuk beberapa hari ke depan. Tapi melihat keadaanya yang sudah bangun membuatnya lega.
"Udah, kamu bantu Hanum saja ke mobil. Biar Bunda sama Bi Inah yang bawa barang-barang nya," ucap Bunda pada Devan.
Devan menggeleng, dia meraih kursi roda yang ada ruangan dan membantu Hanum untuk turun ke kursi roda. Sejenak perempuan itu mengingat kepalanya yang tak bertudung.
"Sudah Bunda ganti kok, tenang aja," ucap Bunda sambil tersenyum.
"Tapi..," Hanum ingat betul kalau sempat tidak memakainya.
"Aku gak sengaja melihatnya, Hanum. Sudah, itu hanya ketidaksengajaan saja. Sini aku bantu turun," Devan mencoba menetralkan keadaan.
"Aku bisa sendiri kok," Hanum menepis pikirannya tadi. Dia pun mencoba untuk menapakkan kaki nya di atas lantai. Namun, dia kehilangan keseimbangan sehingga membuatnya terjatuh.
"Sudah aku bilang biar aku bantu," Devan menangkap tubuh perempuan itu di pangkuannya.
Hanum pun tidak mengenal. Menyadari kesalahannya, dia hanya diam saja saat Devan mendorong kursi rodanya.
"Lah, berat loh," Bunda kaget saat Devan merangkul salah satu tas yang isinya cukup berat di bahunya.
"Itu kamu bawa Hanum loh, Van. Sudah biar Bunda bawa saja nanti," ucap Bunda yang kedua tangannya sendiri tampak penuh memegang totebag. Juga Bi Inah yang sama bawaannya seperti Bunda.
"Sudah, Bun. Ayo," Devan tak ambil pusing. Hanum mendongak menatap Devan.
"Berat loh, Van..," ucapnya pelan pada Devan.
Pria itu tersenyum, "Gak masalah, Hanum. Aku bisa kok."
Saat mereka melewati lorong menuju pintu keluar, beberapa orang terkejut melihat Devan. Bagaimana tidak? Tubuhnya yang nge gym abis dan ABS adalah impian pria idaman para cewek yang kebetulan melihatnya. Apalagi dengan ototnya yang menonjol kuat saat dia merangkul tas dan mendorong kursi Hanum dengan satu tangan.
"Kamu gak capek, Van? Itu kamu cuma pake tangan kanan doang loh..," Hanum jadi merasa tak enak melihat pria itu berpeluh.
"Udah aku bilang, aku gak papa kok. Malah kayak lagi bawa anak SD lagi," canda Devan.
Astaga, bisa-bisanya dia bercanda di situasi seperti ini? Pikir Hanum.
"Jadi aku seperti anak SD begitu? Sekurus itu ya?"
"Hm.., gak juga sih. Kamu itu cukup mungil, makanya mirip sedikit..," ucap Devan memelankan suaranya.
"Kamu kira aku anak kecil apa..," Hanum tersenyum kecil.
"Hanum, aku minta maaf kalau ucapan aku sama dokter tadi buat kamu merasa gak nyaman. Aku tahu kok kamu masih butuh waktu buat jawab perasaan aku dan ya, aku terima itu," ujar Devan berharap Hanum tidak tersinggung dengan ucapannya.
"Siapa bilang aku gak suka?"
Sejenak Devan berhenti. "Apa aku gak salah denger ya? Coba ulang lagi."
"Aku gak marah kok, Van. Aku terima perasaan kamu, serius," ucap Hanum lagi.
Devan kembali mendorong kursi rodanya.
"Syukurlah kalau begitu. Hanum, asal kamu tahu. Bahagia kamu adalah bahagia aku juga. Begitu juga buat Bunda, dia begitu khawatir sama kamu..," ucap Devan dengan lembut.
Hanum terdiam tak menanggapinya. Dia sendiri menjadi luluh seperti ini karena sikap pria itu kepadanya. Siapa juga yang tahan mendengar ucapan pria yang tulus!
"Aku berterimakasih sama kamu dan Bunda, Van. Aku harap aku gak jadi beban di keluarga kamu. Itulah kenapa dari dulu aku tidak usah tinggal di-"
"No.., jangan kamu salahkan diri sendiri, Hanum. Aku dan Bunda senang bisa membantu kamu. Dan kalau kamu merasa menjadi beban, aku akan menikahi kamu. Mau?" ucapan Devan sempurna membuat Hanum tersipu malu. Wajahnya memerah.
"Di mana mobilnya, Nak? Bunda gak lihat ih!" ucap Bunda yang bingung sendiri. Devan tahu Hanum sedang malu, dia segera menuju mobilnya dan membawanya tepat di depan mereka.
Dengan hati-hati, akhirnya Hanum telah duduk di barisan belakang. Bersamaan dengan Bunda dan Bi Inah. Sedangkan Devan mengemudikan mobil di depan sendiri.
"Kursi rodanya udah?" tanya Bunda.
"Udah, Bun. Ada di bagasi."
Bi Inah mengecek di belakang. Memberitahukan nya pada Bunda.
"Hanum.., seperti kata dokter tadi kamu jangan bekerja dulu ya. Tetap di rumah, nanti biar Devan yang kasih tahu ke Dela supaya kamu rehat dulu," ucap Bunda memberinya nasihat. Hanum kini sedang bersandar di bahu Bunda, kepalanya memang terasa pusing.
"Iya, Neng. Biar Bibi aja yang ngurus dapur, kalau sudah pulih Neng baru boleh bantu lagi," kata Bi Inah prihatin menatap wajah Hanum yang cukup pucat.
Hanum tersenyum. Tetapi perlahan-lahan air matanya menetes membasahi pipi.
"Kok nangis, Neng??" Bi Inah kini kaget.
"Makasih ya, Bun.., Bi..," lirihnya. Mengingat separuh hidupnya ia jalani dengan penuh perjuangan. Sejak dia kehilangan orang tuanya, dia dirawat oleh neneknya. Sayangnya saat di beranjak SMP neneknya juga berpulang ke Yang Maha Kuasa. Mencoba hidup mandiri dengan menitip kue di warung-warung setiap hari itulah yang dia lakukan dari sisa uang peninggalan neneknya kepadanya. Hingga dia SMA dan mencoba membuka usaha toko pakaian yang semakin lama berkembang menjadi butik dan membiayai kuliahnya. Perjalanan yang terasa panjang, bertahun-tahun namun singkat jika diceritakan sekarang ini.
"Iya sama-sama, Nak.., sudah jangan menangis lagi ya..," ucap Bunda mengusap air mata Hanum.
Bahagiamu adalah bahagiaku, bahagia kami.
Devan mengangguk. Dia membantu Bunda dan Bi Inah untuk merapikan barang-barang yang telah dibawa semalam.