"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Sinar matahari sore yang mulai memudar menyapu permukaan aspal sirkuit balap pribadi di pinggiran New York. Suara deru mesin mobil sport yang dimodifikasi membelah keheningan, meninggalkan jejak ban yang hitam dan aroma karet terbakar yang khas.
Bagi B5, sirkuit ini adalah tempat pelarian paling murni dari tuntutan nama besar keluarga dan kejenuhan akademis di NYU.
Apolo, Dorian, Sander, Gavin, dan Ailen baru saja menyelesaikan beberapa putaran panas. Mereka kini duduk bersandar di kap mobil masing-masing, memegang botol air mineral dengan napas yang masih sedikit memburu. Jaket balap mereka tersampir sembarangan, memperlihatkan aura maskulin yang sangat kuat.
Keheningan sempat meraja, hanya ditemani suara mesin yang mendingin, sampai tiba-tiba Ailen membuka suara dengan nada yang sangat rendah, hampir tertelan angin.
"Dia anak manajemen... Theana. Namanya Theana."
Dorian, yang sedang meneguk air, langsung tersedak. Ia menyeka mulutnya dengan punggung tangan, matanya membelalak.
"Si Theana yang cerewet itu? Yang selalu bersama si gadis jaket kebesaran yang dingin itu?"
Ailen mengangguk lemah, matanya menatap ujung sepatu balapnya. "Iya. Theana."
"Kau kenal dia, Dor?" tanya Ailen dengan nada menyelidik.
"Tentu saja!" sahut Gavin sebelum Dorian sempat menjawab. "Aku dan Dorian sering mampir ke kelas-kelas junior manajemen atau sekadar lewat di koridor mereka. Banyak wanita cantik di sana, dan Theana... sulit untuk tidak memperhatikan gadis yang suaranya bisa terdengar sampai gedung sebelah itu."
Di tengah keriuhan itu, Apolo hanya diam. Ia menyandarkan punggungnya di pintu mobil Porsche hitamnya, matanya menatap jauh ke cakrawala yang mulai memerah. Pikirannya tidak ada di sirkuit. Pikirannya tertahan pada satu minggu terakhir yang terasa seperti neraka sunyi.
Vea. Sudah tujuh hari wanita itu tidak ada kabarnya.
Apolo sudah mengirimkan beberapa pesan—pesan singkat yang berisi ajakan bertemu atau sekadar bertanya "apa kabar"—namun tidak satu pun yang mendapatkan balasan.
Statusnya hanya read, atau bahkan terkadang tidak terbaca sama sekali. Gelisah merayap di bawah kulitnya. Ia terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan, namun dengan Vea, ia merasa seperti sedang mengejar bayangan yang bisa menghilang kapan saja saat lampu dinyalakan.
Sedang apa kau sekarang, Vea? Apa kau sedang mencari 'bibit unggul' lain seperti ancamanmu waktu itu? Batin Apolo penuh kecamuk.
"Apa yang membuatmu tidak bisa move on, Ai?" suara Sander memecah lamunan Apolo. Sander menatap Ailen dengan rasa ingin tahu yang besar. "Maksudku, dia cantik, oke. Tapi New York punya jutaan gadis cantik yang lebih... tenang."
Ailen menghela napas panjang, sebuah senyum pahit muncul di bibirnya. "Aku mencintainya. Sesederhana dan serumit itu, San."
"Tapi kenapa kalian putus? Kalau kau secinta itu, kenapa membiarkannya pergi?" sahut Gavin sambil memainkan kunci mobilnya.
Ailen terdiam sejenak, wajahnya tampak menegang karena memori lama yang menyeruak. "Dia menuduhku berselingkuh dulu. Setiap hari, setiap jam, dia selalu saja curiga padaku. Dia tidak percaya padaku meskipun aku sudah memberikan seluruh waktuku untuknya."
Ailen menjeda, suaranya memberat. "Aku muak dicurigai terus-menerus atas hal yang tidak kulakukan. Jadi... suatu malam, aku pikir, kenapa tidak sekalian saja? Aku selingkuh saja agar kecurigaannya punya alasan. Dan dia tahu. Dia menangkap basah."
"WHAT?!"
Teriakan itu kompak keluar dari mulut Sander, Dorian, dan Gavin. Bahkan Apolo, yang tadinya melamun, langsung menoleh tajam ke arah Ailen.
"Kau memang psikopat gila, Brother!" seru Apolo, tak percaya dengan logika sahabatnya itu. "Kau menghancurkan hubunganmu sendiri hanya karena gengsi dan kemarahan?"
"Aku benar-benar tidak menyangka," Dorian menggelengkan kepala, merasa kalah gila. "Pantas saja kau selalu menolak dan bahkan membakar surat-surat cinta itu. Kau merasa bersalah sekaligus masih terobsesi padanya."
Suasana di sirkuit itu mendadak menjadi tenang kembali. Tidak ada lagi ejekan. Mereka semua tahu, di balik kemewahan dan kekuasaan yang mereka miliki, mereka hanyalah pria-pria muda yang bisa hancur karena satu nama, wanita.
Setelah beberapa saat dalam keheningan yang penuh solidaritas itu, Gavin mencoba mencairkan suasana. Ia melirik ke arah Apolo dengan kerlingan jahil.
"Ngomong-ngomong soal mantan, aku melihat Claudia sudah ada gandengan baru tadi siang di kafe dekat kampus. Pria dari fakultas hukum, sepertinya."
Apolo hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kelegaan. Ia mengangguk santai. "Baguslah. Artinya aku benar-benar bebas. Tidak ada lagi yang akan menerobos masuk ke laboratoriumku hanya untuk menangis karena aku lupa membalas pesannya."
Sander tertawa keras, menepuk bahu Apolo. "Hahaha! Selamat atas kemerdekaanmu, Pol! Lalu, bagaimana dengan aplikasi itu? Si SoulBound? Kau benar-benar tidak menemukan teman kencan setelah kata putus itu?"
Apolo terdiam sejenak. Bayangan Vea yang mendesah di bawah cahaya remang New York kembali muncul. Ia merasakan getaran aneh di dadanya.
"Ada. Aku menemukannya," jawab Apolo pelan namun mantap.
"Woaah, Brother! Serius?!" Dorian langsung melompat dari kap mobilnya. "Selamat! Akhirnya sang Bangsawan turun ke bumi!"
"Siapa dia? Anak mana? Cantik?" tanya Sander bertubi-tubi.
Apolo menggeleng kecil. "Aku tidak tahu namanya. Kami hanya... bertemu dalam gelap."
Dorian tertawa sambil merangkul leher Apolo. "Itu baru gaya New York! Kau memang harus mencoba menjadi playboy sesekali seperti aku, Pol. Nikmati saja tanpa harus melibatkan perasaan yang rumit seperti Ailen."
Apolo hanya tersenyum, meski hatinya berkata lain. Ia ingin menikmati, tapi rasa penasaran dan kegelisahan karena tidak dikabari selama seminggu ini membuatnya sadar bahwa ia sudah terlibat lebih jauh dari sekadar urusan fisik.
"Terima kasih, Dor," ucap Apolo.
Di sore yang mulai mendingin itu, di sirkuit yang menjadi saksi kecepatan dan kejantanan mereka, B5 menunjukkan sisi lainnya.
Di balik gelar Brengsek, Bajingan, Bangsat, Bucin, dan Bangsawan, mereka adalah lima sahabat yang saling menopang luka masing-masing.
"Ayo, satu putaran terakhir sebelum kita kembali ke peradaban!" teriak Sander sambil melompat masuk ke mobilnya.
Apolo memakai helmnya, mengunci rapat kacanya. Di dalam kesunyian helm itu, ia berbisik pelan, "Vea... kau di mana?"
Ia tidak tahu bahwa di sebuah asrama di sisi lain kota, Veronica sedang menatap layar ponselnya, menimbang-nimbang apakah ia harus membalas pesan Apolo atau tetap membiarkan pria itu tersiksa dalam ketidaktahuan.
Veronica sedang berjuang dengan rasa takutnya akan keterikatan, sementara Apolo sudah siap untuk melaju lebih kencang demi mengejarnya.
Malam akan kembali tiba, dan New York sekali lagi akan menjadi saksi permainan kucing dan tikus antara sang Bangsawan dan sang Gadis Yatim Piatu.