NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Urat Nadi Kekaisaran

Langit di atas Lingkar Luar benar-benar telah menjadi lautan kekacauan.

Delapan pilar cahaya emas raksasa melesat turun dari Lingkar Dalam, menghantam bumi dengan tekanan spiritual yang membuat seluruh bangunan kumuh rata dengan tanah. Delapan Pelindung Kekaisaran yang tersisa—masing-masing adalah ahli Penyatuan Langit Tahap Akhir—telah tiba dengan murka yang bisa membakar langit. Jutaan prajurit Pengawal Emas Istana menyebar layaknya wabah belalang, membongkar setiap batu dan membunuh siapa saja yang berani menatap mereka.

Namun, di tengah hiruk-pikuk kiamat fana tersebut, tidak ada satu pun dari delapan dewa itu yang menyadari sebuah keganjilan kecil.

Tepat saat pilar cahaya emas mereka turun, sebuah bayangan abu-abu melesat naik melalui jalur yang berlawanan.

Memanfaatkan pusaran angin sisa ledakan dari tiga ratus kapal yang baru saja dihancurkannya, Chu Chen menyelimuti dirinya, Bai, dan Meng Fan dalam selubung Qi Yin-Yang yang meredam hawa keberadaan mereka sepenuhnya. Ia menggunakan ingatan dari Pelindung Ketujuh yang baru saja ia telan untuk melewati titik-titik buta susunan formasi penjagaan yang sedang kacau.

"Tahan napas kalian. Jangan lepaskan satu pun riak Qi," bisik Chu Chen datar saat mereka melayang naik, berpapasan dengan ribuan kapal kekaisaran yang sedang menukik turun hanya dalam jarak kurang dari seratus tombak.

Meng Fan menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak ngeri menatap perut kapal-kapal raksasa yang lewat tepat di depan hidungnya. Satu saja hembusan napas yang salah, jutaan prajurit itu akan mencincang mereka menjadi kabut darah.

Bai, meskipun wajahnya pucat, menatap Chu Chen dengan kekaguman yang gelap. Keberanian pemuda ini benar-benar tidak memiliki batas. Di saat seluruh kekaisaran mencarinya di bawah, ia justru melangkah menaiki tangga menuju singgasana kosong mereka.

Hanya butuh waktu setengah batang dupa, mereka bertiga berhasil melewati batas awan emas dan mendarat di atas pelataran giok putih Lingkar Dalam.

Udara di sini ribuan kali lebih murni daripada di Lingkar Luar. Istana-istana melayang yang dilapisi emas dan kristal membentang tanpa ujung. Namun, karena perintah darurat Kaisar Yan Luo, sebagian besar ahli Istana Jiwa dan Raja Fana telah dikerahkan ke bawah. Jalanan Lingkar Dalam yang biasanya dijaga ketat kini terasa sunyi dan lengang.

"Kita sudah masuk," gumam Bai pelan. "Sekarang apa? Mencari pusat perbendaharaan mereka? Perbendaharaan pusat dijaga oleh Tiga Bayangan Kaisar. Mereka berada di Puncak Raja Fana dan bisa menggunakan susunan formasi istana untuk mencapai kekuatan Setengah Langkah Penyatuan Langit."

Chu Chen membersihkan debu dari jubah abu-abunya, matanya yang gelap menatap lurus ke arah sebuah kuil raksasa yang berada di puncak tertinggi Lingkar Dalam, tepat di bawah delapan matahari buatan yang tersisa.

"Batu Roh fana tidak lagi berguna untuk Dantianku," ucap Chu Chen, menyeringai tipis. Ia menoleh ke arah Bai. "Sembilan matahari buatan di atas sana tidak mungkin menyala sendiri tanpa sumber tenaga dari bumi. Dari mana mereka mendapatkan energi itu?"

Bai tersentak. Mata kristal esnya membelalak saat ia menyadari tujuan asli Chu Chen.

"U-Urat Nadi Naga Emas..." Bai berbisik dengan suara bergetar. "Di bawah Kuil Leluhur di puncak itu, terdapat Urat Nadi Bumi yang telah menyerap energi Langit dan Bumi selama seratus ribu tahun. Itu adalah fondasi mutlak yang menghidupkan Sembilan Matahari Buatan dan menjaga ibukota ini tetap melayang! Jika kau menyentuhnya—"

"Aku tidak akan menyentuhnya," potong Chu Chen santai, melangkah maju. "Aku akan meminumnya sampai kering."

Meng Fan nyaris tersandung kakinya sendiri. "M-Meminum fondasi kota ini?! Jika urat nadi itu habis, seluruh Ibukota Suci ini akan jatuh dari langit dan hancur berkeping-keping!"

"Itulah tepatnya arti dari sebuah kejatuhan kekaisaran, Meng Fan," Chu Chen tertawa pelan. Tawa yang tidak mengandung belas kasihan, hanya penindasan murni.

Berbekal ingatan Pelindung Ketujuh, Chu Chen berjalan melintasi Lingkar Dalam bagaikan pemilik rumah yang pulang dari pasar. Setiap kali ada sekelompok prajurit peronda yang tersisa mencoba menghentikan mereka, seutas Niat Pedang Purba dari ujung jari Chu Chen langsung memotong leher mereka tanpa suara, bahkan sebelum mereka sempat mencabut pedang.

Mayat-mayat itu langsung disedot oleh Pusaran Ketiadaan menjadi debu yang tertiup angin. Tidak ada jejak. Tidak ada genta peringatan.

Dalam waktu kurang dari satu jam, mereka tiba di depan gerbang raksasa Kuil Leluhur Kekaisaran. Gerbang itu terbuat dari logam spiritual berwarna ungu, dipenuhi oleh ukiran sembilan matahari.

Di depan gerbang, duduk bersila tiga sosok pria tua yang mengenakan jubah abu-abu tanpa lengan. Wajah mereka ditutupi oleh topeng perunggu tanpa ekspresi. Gejolak Qi mereka menyatu sempurna dengan udara di sekitar kuil, memancarkan aura Puncak Raja Fana yang sangat padat.

"Tiga Bayangan Kaisar," bisik Bai, mundur selangkah.

Ketiga pria tua itu serempak membuka mata mereka yang berwarna putih tanpa pupil.

"Berhenti. Ini adalah Tanah Suci Urat Nadi Kekaisaran. Siapa pun tanpa Titah Emas Kaisar... harus mati," ucap ketiga orang itu secara bersamaan, suara mereka tumpang tindih seperti paduan suara dari alam baka.

Chu Chen tidak menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan maju.

"Suruh kaisarmu untuk menulis titahnya di atas batu nisan," jawab Chu Chen datar.

"Lancang!"

Tiga Bayangan Kaisar itu melesat maju secara serempak. Mereka tidak menggunakan pusaka. Masing-masing dari mereka mengulurkan telapak tangan yang memancarkan segel formasi berwarna emas, menyedot energi langsung dari Urat Nadi di bawah mereka.

Dalam sekejap, aura ketiganya melonjak hingga menyentuh batas Setengah Langkah Penyatuan Langit!

Tiga Segel Matahari Pembakar Jiwa!

Tiga telapak tangan raksasa dari cahaya emas menghantam ke arah Chu Chen dari tiga sisi yang berbeda, berniat menghancurkan tubuh dan jiwanya menjadi abu ketiadaan. Serangan gabungan ini bahkan bisa melukai Pelindung Ketujuh jika ia lengah.

"Kalian meminjam energi dari Urat Nadi Naga untuk menyerangku?"

Chu Chen mendongak. Di mata emas vertikalnya, serangan itu terlihat seperti lelucon yang buruk.

"Kalian tidak tahu malu," bisik Chu Chen.

Bukannya menghindar, Zirah Tulang Naga Hitam di balik kulit Chu Chen meledak dengan pendaran gelap. Ia mengangkat kedua tangannya. Di tangan kanannya menyala Api Teratai Merah, sementara di tangan kirinya bergejolak ketajaman perak dari Niat Pedang Purba.

Tebasan Penakluk Semesta: Belahan Yin-Yang!

Chu Chen menyilangkan kedua tangannya lalu menebaskannya ke luar secara bersamaan.

SRAAAAAAT!!!

Dua bilah energi silang berwarna merah dan perak meledak, merobek ruang di depan Kuil Leluhur. Tiga telapak tangan emas yang diklaim memiliki kekuatan Setengah Langkah Penyatuan Langit itu terbelah seperti kertas tipis!

"A-Apa?!" Ketiga Bayangan Kaisar itu memuntahkan darah hitam, mata putih mereka membelalak ngeri saat serangan mutlak mereka dipatahkan dengan kekuatan fisik dan niat yang tidak masuk akal.

Mereka baru saja menyadari bahwa pemuda di depan mereka ini... kekuatannya telah melampaui batas hukum fana di bawah Penyatuan Langit!

Chu Chen tidak memberi mereka waktu untuk menyesal. Ia melesat menembus pecahan cahaya emas, langsung muncul di depan Bayangan Kaisar pertama. Tangan kirinya mencengkeram wajah pria bertopeng itu.

Pusaran Ketiadaan.

Jeritan tertahan terdengar dari balik topeng perunggu saat ahli Puncak Raja Fana itu mengerut menjadi sekam dalam satu tarikan napas.

Dua Bayangan lainnya mencoba melarikan diri untuk membunyikan genta bahaya.

"Kalian tidak akan pergi ke mana pun."

Sayap Tulang Naga hitam legam menembus punggung Chu Chen. Ia mengepakkannya satu kali dengan kekuatan penuh, melesat lebih cepat dari kilat. Dua tangan Chu Chen masing-masing menembus dada kedua Bayangan Kaisar dari belakang, menggenggam jantung spiritual mereka.

Srrrttt!

Dua ahli Puncak Raja Fana terakhir itu dihisap hingga menjadi debu abu-abu yang jatuh berserakan di depan gerbang ungu.

Tiga pengawal terkuat di bawah Alam Penyatuan Langit... musnah dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas.

Chu Chen mengusap sisa debu dari tangannya. Dantiannya yang berisi Inti Emas Naga Hitam berdenyut puas. "Tiga Puncak Raja Fana... cukup untuk membasahi meridianku sebelum hidangan utama tiba."

Ia berjalan mendekati gerbang logam ungu raksasa itu. Tanpa mencari kunci atau memecahkan formasi, Chu Chen murni menggunakan tangan kanannya yang dilapisi Niat Pedang Purba untuk meninju gerbang tersebut.

BUMMM!

Gerbang setebal lima tombak itu meledak ke dalam.

Udara yang menyembur dari dalam kuil bukanlah udara biasa, melainkan kabut emas cair yang sangat pekat. Itu adalah energi murni dari Urat Nadi Naga Emas Kekaisaran yang telah mengendap selama seratus ribu tahun. Bau kehidupan dan penciptaan yang luar biasa kental langsung memenuhi paru-paru mereka.

Di dalam aula yang sangat luas itu, di tengah-tengahnya, terdapat sebuah kolam raksasa tempat sebuah sungai emas cair mengalir langsung dari dasar bumi, berdenyut memancarkan cahaya yang menerangi delapan matahari di langit.

Mata naga Chu Chen berkilat dengan keserakahan mutlak.

"Luar biasa," bisik Chu Chen, menjilat bibirnya. "Ini... ini baru makanan yang pantas untuk seorang Kaisar."

Namun, di saat yang sama, jauh di dalam ruang takhta Istana Pusat yang tertutup rapat, Kaisar Yan Luo yang sedang duduk memejamkan mata tiba-tiba tersentak.

Kaisar itu memuntahkan seteguk darah emas. Matanya yang memancarkan kengerian dan kemurkaan mutlak terbuka lebar. Hubungan batinnya dengan Urat Nadi Kekaisaran... baru saja disentuh oleh hawa pemangsa yang sangat buas!

"Iblis itu... DIA TIDAK ADA DI LINGKAR LUAR! DIA ADA DI KUIL LELUHUR!" raung Kaisar Yan Luo, suaranya menghancurkan seluruh kaca di Istana Pusat. Dewa penguasa kekaisaran itu akhirnya bangkit dari singgasananya, membawa murka langit menuju Kuil Leluhur.

1
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!