NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Perjalanan menuju rumah orang tua Aji dimulai dengan suasana yang tidak sepenuhnya tenang. Sekar menggenggam setir sedikit lebih erat dari biasanya, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya berkelana ke banyak kemungkinan yang belum tentu terjadi.

Di sampingnya, Lita duduk santai, namun diam-diam memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah sahabatnya itu. Sesekali Lita melontarkan candaan ringan, mencoba mencairkan suasana yang terasa tegang. “Kamu ini kayak mau sidang skripsi,” katanya sambil tersenyum tipis.

Sekar tertawa kecil, meski suaranya tidak sepenuhnya lepas. “Lebih deg-degan dari itu,” jawabnya jujur. Dan memang benar—ini jauh lebih penting daripada apa pun yang pernah ia hadapi sebelumnya. Ini bukan soal dirinya saja, tapi tentang anaknya, tentang kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.

Beberapa menit perjalanan diisi dengan keheningan yang tidak sepenuhnya kosong. Sekar akhirnya bersuara, pelan, tapi penuh makna. Ia mengucapkan terima kasih, bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk semua hal yang telah Lita lakukan selama ini. Ia tahu betul, tidak semua orang mau tetap tinggal dan mendampingi di saat hidup seseorang sedang berantakan. Terlebih lagi, hari ini Lita bersedia menemaninya ke tempat yang bahkan Sekar sendiri selalu berusaha hindari. Rumah itu… bukan sekadar bangunan. Itu adalah tempat di mana banyak luka bermula, tempat di mana harga dirinya pernah runtuh, tempat di mana ia harus pergi dengan tangan kosong. Namun demi Sea, ia kembali.

Lita hanya menjawab sederhana, bahwa Sekar tidak sendiri. Kalimat itu mungkin terdengar biasa, tapi bagi Sekar, itu seperti pegangan yang membuatnya tetap berdiri tegak. Ia sempat bercanda tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikan itu, dan Lita dengan ringan menjawab cukup ditraktir keliling dunia nanti. Mereka tertawa, dan untuk sesaat, beban itu terasa lebih ringan.

Namun, semakin mobil itu mendekati tujuan, suasana kembali berubah. Jalanan yang dilewati mulai terasa familiar, terlalu familiar bahkan. Setiap sudut seperti menyimpan potongan kenangan yang tidak sepenuhnya ingin ia ingat. Napas Sekar mulai tidak teratur, jemarinya sedikit menegang di setir, dan tanpa ia sadari, ia menelan ludah berulang kali.

Lita yang menyadari itu perlahan menyentuh tangannya, memberikan tekanan kecil seolah berkata tanpa kata bahwa ia ada di sana. “Fokus,” bisiknya lembut. “Kamu ke sini bukan untuk masa lalu.”

Sekar mengangguk pelan, mencoba menahan gejolak di dadanya.

“Untuk Sea,” lanjut Lita. Dan kalimat itu seperti menarik Sekar kembali ke alasan utamanya. Ia menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan, lalu mengulang dalam hati, “Untuk Sea.”

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan rumah itu. Rumah yang dulu pernah ia tempati sebagai seorang istri sebelum mereka pindah ke rumah yang sekarang telah dijual Aji, sebagai bagian dari keluarga… dan kini terasa seperti tempat asing yang penuh jarak. Sekar tidak langsung turun. Ia hanya duduk diam beberapa detik, menatap pintu rumah itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada sisa luka, ada ketakutan, ada amarah yang pernah ada, tapi semua itu ia paksa untuk tetap terkendali. Hari ini bukan tentang dirinya. Bukan tentang apa yang dulu terjadi. Bukan tentang Aji atau siapa pun di dalam sana. Hari ini hanya tentang satu hal yang paling penting dalam hidupnya.

Perlahan, Sekar membuka pintu mobil dan turun. Kakinya sempat terasa berat, tapi ia tetap melangkah. Satu langkah, lalu langkah berikutnya. Ia berdiri tegak, mengangkat wajahnya sedikit, mencoba menguatkan diri dengan segala sisa keberanian yang ia punya. Di belakangnya, Lita ikut turun, diam tapi hadir. Dan di dalam hati Sekar, hanya ada satu nama yang terus ia pegang erat, Sea.

***

Pintu itu terbuka perlahan, dan wajah yang pertama kali muncul adalah mantan ibu mertua Sekar. Tatapannya langsung jatuh ke arah halaman, tepat ke mobil yang masih terparkir di depan rumah. Matanya menyipit, memperhatikan dengan saksama, seolah memastikan sesuatu yang sulit ia percaya.

“Itu mobil kamu?” tanyanya tanpa basa-basi, nadanya datar tapi penuh selidik.

Sekar belum sempat menjawab, Lita lebih dulu menyahut ringan, “Iya, Bu. Baru.”

Sejenak, wajah perempuan itu berubah, bukan senang, bukan juga benar-benar marah, tapi ada sesuatu yang tertahan. Ia mendumel pelan, bibirnya bergerak-gerak, namun suaranya terlalu lirih untuk benar-benar tertangkap jelas. Hanya nada tidak suka yang terasa menggantung di udara.

Sekar memilih diam. Ia tidak datang untuk itu.

Belum sempat suasana mencair, langkah kaki lain terdengar dari dalam. Aji muncul, disusul Mila yang berjalan pelan dengan perut yang sudah membesar, dan Sea.

Dunia Sekar seakan berhenti di satu titik. Semua suara meredup. Semua orang menghilang. Yang tersisa hanya anak kecil itu. Tubuhnya… lebih kurus dari yang Sekar ingat. Wajahnya pucat, matanya sayu, dan yang paling menyakitkan, tidak ada lagi keceriaan yang dulu selalu menyambut Sekar setiap kali mereka bertemu. Tidak ada lompatan kecil, tidak ada tawa riang.

Sea hanya berdiri. Diam. Seperti anak yang belajar menahan perasaan.

“Sea…” suara Sekar pecah begitu saja. Tanpa berpikir panjang, ia langsung melangkah cepat, hampir berlari, lalu memeluk putrinya erat. Sangat erat. Seolah kalau ia melepas sedikit saja, anak itu akan hilang lagi dari pelukannya. “Sayang…” bisiknya berulang kali, suaranya bergetar. “Ibu kangen… ibu kangen banget…”

Tangannya mengusap rambut Sea, mencium kepalanya berkali-kali, menahan air mata yang hampir jatuh. Sea diam beberapa detik… lalu perlahan membalas pelukan itu. Tidak sekuat dulu. Tidak sehangat dulu. Tapi cukup untuk membuat hati Sekar… retak lagi.

Di sisi lain ruangan, Mila bergerak dengan langkah malas menuju dapur setelah mendapat perintah singkat dari ibu mertuanya untuk menyiapkan minuman. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, seolah semua ini adalah kewajiban yang enggan ia jalani.

Sekar tidak peduli. Ia bahkan hampir tidak menyadari keberadaan mereka. Dunianya hanya ada di pelukannya saat itu.

Beberapa menit kemudian, mereka semua duduk di ruang tamu. Meski sebenarnya Sekar ingin cepat-cepat pergi. Ia hanya butuh Sea. Tapi Sekar tidak benar-benar hadir di percakapan itu. Ia duduk di sofa, dengan Sea di sampingnya, kadang menggenggam tangan kecil itu, kadang mengusap punggungnya, kadang hanya menatap wajahnya dalam diam, seperti berusaha menghafal lagi setiap detail yang hampir ia lupakan. “Sea sekarang suka apa?” tanyanya pelan.

Anak itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat bahu kecil, matanya tidak sepenuhnya berani menatap Sekar.

Sekar tersenyum, meski dadanya terasa sesak. “Ibu bawain sesuatu nanti ya…” bisiknya lembut.

Sea mengangguk kecil.

Di luar percakapan kecil itu, suara orang dewasa tetap berjalan. Sampai akhirnya, “Ibu sih sekarang lagi pusing,” suara mantan ibu mertua Sekar terdengar jelas.

Sekar sedikit menoleh, meski tangannya masih menggenggam Sea.

“Kenapa, Bu?” tanya Lita, sopan.

“Sekolahnya Sea,” jawab perempuan itu. “Butuh uang. Sampai sekarang dia belum sekolah lagi.”

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!