NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Malam itu Seraphina tidak tidur. Ia duduk sendirian di dekat jendela kamar dengan lampu yang dimatikan, membiarkan cahaya bulan masuk samar melalui celah tirai tipis. Rumah besar itu sudah benar-benar tenang. Tidak ada lagi suara langkah kaki pelayan, tidak ada dentingan gelas dari dapur, dan tidak ada percakapan pelan dari lantai bawah seperti biasanya.

Namun justru di dalam kepalanya, semuanya terasa semakin ramai.

Kalimat demi kalimat yang ia dengar beberapa jam lalu terus berputar tanpa henti. Suara Lysandra yang terdengar kesal. Nada Kael yang dingin dan penuh perhitungan. Semua itu kembali muncul dengan jelas, seolah percakapan tadi masih berlangsung tepat di depan matanya.

“Dia terlalu mudah percaya.”

“Aku muak harus bersikap manis.”

“Aku tidak pernah merasa rumah ini benar-benar rumah.”

Setiap kata terasa seperti sesuatu yang perlahan mengikis bagian dalam dirinya. Tidak menghancurkan sekaligus, tetapi cukup untuk meninggalkan rasa nyeri yang terus tinggal.

Seraphina memejamkan mata perlahan.

Dan tanpa bisa dicegah, kenangan lama mulai bermunculan satu per satu.

Ia masih mengingat hari ketika Lysandra lahir. Hari itu hujan turun deras sejak pagi, membuat langit terlihat gelap meski waktu belum terlalu sore. Ruang rumah sakit terasa dingin, sementara tubuhnya sendiri nyaris kehilangan tenaga setelah berjam-jam menahan rasa sakit yang datang tanpa jeda.

Saat itu ia benar-benar kelelahan.

Bahkan untuk membuka mata saja terasa sulit.

Namun ketika suara tangisan bayi kecil itu terdengar untuk pertama kalinya, semua rasa sakit itu seperti menjauh sesaat. Seraphina masih ingat bagaimana air matanya langsung jatuh begitu perawat meletakkan bayi mungil itu di pelukannya.

Wajah kecil dengan kulit kemerahan dan mata yang bahkan belum terbuka sempurna.

Begitu kecil.

Begitu rapuh.

Darius berdiri di samping ranjang sambil menggenggam tangannya erat. Pria itu tersenyum hangat saat menatap bayi perempuan mereka, dan waktu itu Seraphina benar-benar percaya bahwa mereka adalah keluarga yang sempurna.

“Dia cantik,” bisik Darius pelan.

Seraphina tertawa kecil di tengah air matanya. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Bahagia yang terlalu besar sampai membuat napasnya sendiri terasa sesak.

Ia memandang bayi itu lama sekali sebelum akhirnya mengecup dahinya dengan hati-hati.

“Aku akan melindungimu,” bisiknya lirih.

Dan ia benar-benar melakukannya.

Bertahun-tahun setelah itu, hidup Seraphina hampir selalu berputar di sekitar anak-anaknya. Semua jadwalnya, semua keputusannya, semuanya perlahan berubah mengikuti kebutuhan mereka tanpa pernah ia sadari.

Ketika Lysandra demam tinggi di usia lima tahun dan terus menangis sepanjang malam, Seraphina duduk di samping tempat tidur putrinya tanpa tidur sedikit pun. Ia mengganti kompres berkali-kali sambil terus mengusap rambut kecil itu dengan sabar. Bahkan ketika matanya sendiri terasa berat, ia tetap bertahan sampai suhu tubuh Lysandra benar-benar turun menjelang pagi.

Ia masih ingat bagaimana tangan kecil itu memegang ujung bajunya erat.

“Ibu jangan pergi,” rengek Lysandra kecil dengan mata berkaca kaca.

Dan Seraphina tetap tinggal di sana sepanjang malam.

Ingatan lain muncul perlahan.

Hari ketika Kael kecil jatuh dari tangga rumah dan melukai lututnya cukup parah. Saat itu suara tangisan anak laki-lakinya membuat Seraphina panik sampai tangannya sendiri gemetar saat mengangkat tubuh kecil itu ke mobil.

Ia terus memanggil nama Kael sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.

Terus memastikan anak itu sadar.

Kael kecil memeluk lehernya erat sambil menahan tangis.

“Ibu…” panggilnya lirih waktu itu.

Dan Seraphina merasa dirinya dibutuhkan. Dibutuhkan bukan karena uang atau statusnya, tetapi karena ia adalah ibu mereka.

Kenangan demi kenangan terus berdatangan tanpa bisa dihentikan.

Hari ketika bisnis keluarga mereka hampir runtuh karena proyek besar yang gagal. Darius saat itu berada di bawah tekanan besar dan nyaris kehilangan kepercayaan dari banyak relasi penting. Seraphina diam-diam menjual beberapa aset pribadinya untuk membantu menutup kerugian tanpa memberi tahu siapa pun.

Ia tidak pernah menganggap itu pengorbanan besar.

Baginya, menjaga keluarganya tetap aman memang lebih penting daripada apa pun.

Bahkan Darius baru mengetahui hal itu jauh setelah semuanya selesai.

Saat pria itu bertanya kenapa ia melakukan semua itu, Seraphina hanya tersenyum kecil dan berkata bahwa keluarga memang harus saling membantu.

Dan ia sungguh percaya pada kalimat itu.

Ia pernah berhenti menghadiri banyak acara penting demi menemani Lysandra latihan piano. Ia juga pernah membatalkan perjalanan bisnis hanya karena Kael menolak pergi sekolah setelah bertengkar dengan teman-temannya.

Seraphina selalu ada.

Selalu menempatkan mereka lebih dulu.

Bahkan ketika dirinya sendiri lelah.

Bahkan ketika tidak ada seorang pun yang bertanya apakah ia baik-baik saja.

Seraphina membuka mata perlahan. Tatapannya kosong mengarah ke taman gelap di luar jendela, tempat cahaya bulan jatuh samar di atas rumput yang basah oleh embun malam.

Dulu…

Ia benar-benar percaya bahwa semua itu berarti.

Bahwa cinta yang ia berikan akan kembali padanya suatu hari nanti.

Namun sekarang, kenyataan di hadapannya terasa begitu berbeda.

Lysandra menganggap semua perhatian itu sebagai sesuatu yang menyesakkan.

Kael melihat keluarga sebagai hubungan yang penuh perhitungan.

Dan Darius…

Pria yang selama ini ia percayai sepenuh hati justru menjadi orang pertama yang menghancurkan semuanya.

Seraphina menundukkan kepala perlahan. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan lagi rasa terkejut, melainkan kesadaran yang akhirnya benar-benar ia terima malam ini.

Mereka tidak pernah melihat pengorbanannya seperti yang ia bayangkan.

Tidak pernah.

Bagi mereka, semua itu hanyalah sesuatu yang memang seharusnya ia lakukan.

Kewajiban.

Bukan cinta.

Seraphina tertawa kecil.

Pelan sekali.

Namun suara itu terdengar rapuh di tengah kamar yang sunyi.

Ia teringat satu kejadian lagi.

Hari ulang tahun Lysandra yang keenam belas.

Saat itu putrinya sangat ingin datang ke pesta eksklusif yang diadakan teman-teman sekolahnya. Namun beberapa hari sebelum acara, Lysandra justru jatuh sakit dan demamnya cukup tinggi hingga dokter menyarankan istirahat total.

Seraphina menjaga gadis itu sepanjang malam tanpa tidur. Ia terus memastikan suhu tubuh Lysandra turun sambil mengusap punggungnya perlahan ketika anak itu menangis karena kecewa.

“Ibu akan tetap di sini,” katanya waktu itu sambil memeluk putrinya.

Lysandra kecil membalas pelukan itu erat sekali.

“Aku sayang Ibu,” bisiknya dengan suara serak.

Ingatan itu membuat dada Seraphina terasa semakin nyeri.

Karena sekarang…

Ia bahkan tidak tahu apakah kata-kata itu pernah sungguh tulus.

Atau hanya sesuatu yang perlahan menghilang seiring waktu.

Seraphina mengangkat tangannya perlahan lalu menutupi matanya. Napasnya terdengar berat di ruangan yang sunyi itu. Ia tidak ingin menangis lagi.

Sudah cukup.

Terlalu banyak air mata yang ia habiskan untuk orang-orang yang tidak pernah benar-benar melihat dirinya.

Namun kenangan terus berdatangan.

Kael kecil yang diam-diam menunggunya pulang larut malam hanya untuk menunjukkan nilai ujiannya.

Lysandra yang tertidur di pangkuannya saat badai petir karena takut suara guntur.

Darius yang dulu selalu menggenggam tangannya di depan orang banyak seolah ia adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Momen-momen kecil itu dulu membuat Seraphina percaya bahwa keluarganya bahagia.

Bahwa mereka saling mencintai.

Dan sekarang semuanya terasa seperti mimpi lama yang perlahan pecah di tangannya sendiri.

Seraphina menarik napas panjang sebelum perlahan menurunkan tangannya dari wajahnya. Matanya memerah, tetapi tatapannya jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.

Ada sesuatu yang berubah malam ini.

Sesuatu yang akhirnya selesai di dalam dirinya.

Ia sudah mencoba memahami mereka.

Sudah mencoba mencari alasan.

Sudah mencoba berharap bahwa mungkin masih ada bagian dari mereka yang tulus.

Namun setelah semua yang ia lihat dan dengar sendiri…

Ia akhirnya mengerti.

Semua yang ia lakukan tidak pernah benar-benar berarti bagi mereka dengan cara yang sama seperti dirinya mencintai mereka.

Seraphina menatap pantulan dirinya di jendela. Wanita itu terlihat lelah, jauh lebih lelah daripada yang selama ini ia akui. Namun di balik kelelahan itu, ada ketegasan yang perlahan terbentuk semakin kuat.

Ia tidak bisa terus hidup sambil memegang bayangan masa lalu.

Tidak bisa terus berharap pada sesuatu yang sebenarnya sudah lama mati.

Dan malam ini…

Ia memutuskan untuk melepaskannya.

Perlahan, setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Hangat dan diam, mengalir melewati pipinya tanpa suara. Seraphina tidak menyekanya. Ia membiarkannya jatuh begitu saja.

Satu tetes.

Lalu satu lagi.

Bukan untuk Darius.

Bukan untuk Lysandra.

Bukan untuk Kael.

Melainkan untuk dirinya sendiri.

Untuk wanita yang selama ini mencintai terlalu dalam sampai melupakan dirinya sendiri.

Untuk ibu yang memberikan segalanya dan hanya menerima pengkhianatan sebagai balasan.

Dan ketika air mata terakhir itu jatuh…

Seraphina akhirnya tersenyum tipis.

Senyum yang tenang.

Namun dingin.

Karena ia tahu…

Itu adalah terakhir kalinya ia menangis untuk mereka.

1
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!