Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Bukit Batu Tua
Mereka mendaki lereng dalam diam yang dipaksa.
Tanah di bawah kaki Wira licin oleh embun malam dan serpihan daun kering. Setiap kali ia menginjak batu kecil, batu itu bergeser dan menimbulkan bunyi yang membuatnya menahan napas. Di depan, Ki Rangga terus bergerak dengan langkah pendek namun pasti, seolah tubuhnya sudah hafal medan seperti telapak tangan sendiri. Jaya menyusul di belakangnya, matanya sesekali menyapu ke samping bukit. Raden Seta berada di belakang rombongan, memastikan tidak ada yang tertinggal. Panca mengeluh pelan berkali-kali, tetapi tidak sampai berhenti.
Wira sendiri hampir tidak merasakan tubuhnya lagi. Yang tersisa hanya rasa letih, tegang, dan kepala yang penuh pertanyaan.
Di bawah sana, rumah singgah tua itu kini sudah jauh, tetapi suara kekacauan masih samar terdengar dari arah belakang. Para pengejar pasti menemukan ruang bawah dan menyadari mereka sudah lolos. Itu berarti waktu yang mereka miliki benar-benar menipis. Wira menekan rahang. Ia tidak suka dikejar, tidak suka kabur tanpa arah, dan terlebih tidak suka merasa hidupnya digiring oleh rahasia orang lain. Namun malam ini ia tidak punya pilihan selain mengikuti jalur yang dibuka orang-orang itu.
Ki Rangga berhenti di sebuah batu datar yang menonjol dari lereng. Ia mengangkat tangan memberi isyarat agar semua ikut diam.
“Ada yang menyusuri dari bawah,” bisiknya.
Wira langsung menegang. Ia menoleh cepat, mencoba melihat ke bawah lereng, tetapi hanya bayangan pohon dan garis gelap tanah yang terlihat. Panca membelalakkan mata.
“Sudah sampai sejauh itu?” desisnya.
Jaya mengangguk kecil. “Mereka cepat.”
Raden Seta memandang ke arah jalur sempit yang baru saja mereka lewati. “Kalau mereka menemukan pintu bawah, kita harus memutar ke batu timur.”
Ki Rangga menggeleng. “Tidak cukup cepat. Kita ambil jalur atas.”
Wira menatapnya. “Jalur atas?”
“Ke punggung bukit.”
Panca langsung mengerutkan wajah. “Itu berarti tanjakan lebih curam.”
“Benar.”
“Dan mungkin ada orang di atas?”
“Bisa jadi.”
Panca mengangkat tangan seperti menyerah pada takdir. “Aku resmi tidak suka malam ini.”
Jaya menoleh sebentar. “Tidak ada yang menyukainya.”
Ki Rangga memberi isyarat bergerak lagi. Mereka memotong ke sisi kiri lereng, mendaki lewat batu-batu besar yang tumbuh seperti tulang tua di permukaan tanah. Angin dari atas mulai terasa lebih kencang. Wira menundukkan kepala saat angin menyapu wajahnya, membawa bau tanah basah dan rumput yang remuk.
Setelah beberapa menit mendaki, mereka sampai di sebuah dataran kecil di sisi bukit. Dari sana, Wira bisa melihat lebih jauh ke arah belakang. Bangunan rumah singgah hanya tampak sebagai bayangan gelap di bawah, dan di sekitarnya samar-samar terlihat obor kecil bergerak. Berarti para pengejar memang sudah keluar dan menyisir sekeliling.
“Kalau mereka menyebar, kita harus segera hilang dari bukit ini,” kata Raden Seta.
Ki Rangga menatap ke depan. “Ada apa di atas?”
Raden Seta menunjuk sebuah formasi batu yang tampak seperti punggung hewan raksasa. “Di sana ada lorong lama. Jalur yang nyaris tertutup, tapi masih bisa dilewati. Dulu dipakai untuk menghubungkan sisi bukit ke tempat penyimpanan.”
Wira mengernyit. “Tempat penyimpanan yang lain?”
Raden Seta mengangguk. “Ini bagian dari jaringan lama. Jalan-jalan kecil seperti ini dipakai agar barang penting tidak lewat jalur utama.”
Panca menghela napas panjang. “Jadi kita memang sedang masuk ke tempat yang sengaja disembunyikan.”
“Ya,” kata Ki Rangga singkat. “Dan itu justru yang membuat kita harus waspada.”
Mereka terus naik. Jalur menjadi lebih sempit dan dipenuhi batu lepas. Wira dua kali hampir terpeleset, namun berhasil menahan diri. Panca di belakangnya langsung memegang bahunya saat ia nyaris kehilangan pijakan.
“Fokus,” gumam Panca.
Wira mendengus kecil. “Kau terdengar seperti guru.”
“Jangan menghina.”
Mereka akhirnya mencapai punggung bukit yang lebih terbuka. Di sana, tanahnya lebih keras dan ditutupi batu-batu besar yang berdiri seperti sisa bangunan lama. Beberapa di antaranya pecah, beberapa lainnya miring seperti pernah dihantam kekuatan besar. Bulan kini berada lebih tinggi, menumpahkan cahaya pucat yang membuat semua permukaan tampak dingin dan asing. Wira merasakan suasana tempat itu berbeda. Sunyi, tetapi tidak kosong.
Ki Rangga berjalan ke sebuah batu besar yang tampak lebih gelap daripada yang lain. Ia menyentuh permukaannya lalu menyingkap lapisan lumut tipis. Di balik lumut itu ada garis ukiran yang nyaris tak terlihat.
“Di sini,” katanya.
Wira mendekat. “Apa ini?”
Jaya membungkuk, lalu memeriksa batu itu dengan mata tajam. “Tanda lama.”
Raden Seta mengangguk. “Lorong masuknya di balik susunan batu ini.”
Panca menyipit. “Kau bilang lorong, padahal yang kulihat cuma batu.”
“Karena memang disamarkan,” jawab Raden Seta.
Ki Rangga menekan bagian tertentu di sisi batu besar. Namun tidak ada yang bergerak. Ia menoleh ke Wira. “Coba letakkan benda itu.”
Wira langsung menegang. “Lempeng kayu?”
“Ya.”
Wira ragu sesaat, lalu mengeluarkannya dari pinggang dan menyerahkannya. Ki Rangga menaruh lempeng kayu itu pada cekungan kecil di batu. Saat disentuhkan, terdengar bunyi klik pelan dari dalam. Wira membeku. Panca menatap dengan mata membesar.
“Serius?” bisiknya.
Raden Seta sudah meletakkan keping logam di sisi lain. Begitu kedua benda itu sejajar, permukaan batu di depan mereka bergeser perlahan ke samping, menyingkap celah hitam sempit yang cukup untuk satu orang merunduk masuk.
Wira menahan napas.
Jaya tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. “Jadi kunci itu memang bekerja.”
Ki Rangga mengambil kembali kedua benda itu lalu menatap Wira. “Masuk.”
Wira memandang celah gelap di depan. Udara dingin dari dalam menyembur keluar, membawa bau tanah tua, batu lembap, dan sesuatu yang anehnya seperti kayu lapuk yang lama tertutup. Ia tidak tahu harus merasa takut atau justru lega. Tapi yang paling kuat adalah rasa bahwa ia akhirnya benar-benar mendekati inti rahasia yang selama ini memanggilnya.
Ia masuk lebih dulu.
Lorong di balik batu itu sempit, dan dindingnya kasar. Wira harus merunduk sambil menjejak batu datar yang licin. Di belakangnya, Panca mengumpat pelan karena kepalanya nyaris tersenggol bagian atas. Jaya membawa lampu kecil, dan cahayanya menyingkap dinding yang penuh goresan lama. Ki Rangga terakhir menutup celah di belakang mereka dengan hati-hati agar tidak ada cahaya dari luar langsung terlihat.
Lorong itu turun sedikit lalu berbelok ke kiri. Setelah beberapa langkah, mereka tiba di ruang yang lebih lebar. Bukan ruangan besar, tetapi cukup untuk berdiri tegak. Di sana terdapat beberapa tiang batu tipis, sisa dudukan kayu yang sudah hancur, dan satu pintu tua lain di sisi seberang. Pintu itu dilapisi besi hitam yang sudah berkarat di pinggirnya.
Wira menatap ruangan itu dengan napas tertahan. Di dinding terdapat ukiran-ukiran tipis yang sebagian terhapus waktu, namun bentuknya masih bisa dikenali sebagai pola berulang, seperti penanda arah atau lambang keluarga lama. Tempat ini jelas bukan sembarang gudang. Ini bagian dari sejarah yang sengaja ditanam di bawah bukit.
Raden Seta berjalan ke tengah ruangan dan menatap pintu berkarat itu lama.
“Ini dia,” katanya pelan.
Panca menyandarkan punggung ke dinding. “Apa yang ada di balik pintu itu?”
Raden Seta menatap Wira. “Tempat yang dicari ibumu.”
Wira merasa tenggorokannya mengering. “Tempat ini?”
“Bukan ruangan ini,” jawab Raden Seta. “Yang ada di baliknya.”
Ki Rangga melangkah ke sisi pintu, lalu meneliti engsel dan bekas kunci tua. “Masih tertutup?”
“Seharusnya,” jawab Jaya. “Tapi setelah kunci dibawa ke sini, sistemnya mungkin mulai melemah.”
Panca mengernyit. “Sistem?”
Raden Seta menoleh. “Pintu seperti ini tidak dibuka dengan tenaga. Ada urutan. Dan dua kunci yang dibawa Wira barulah tahap awal.”
Wira menatap pintu berkarat itu. “Berarti masih ada cara lain?”
“Ya,” kata Raden Seta. “Dan itulah sebabnya tempat ini disembunyikan.”
Ki Rangga mengangkat kepala. “Apa yang harus dilakukan?”
Raden Seta menarik napas dan menunjuk ke dua tonjolan batu di kiri dan kanan pintu. “Tekan bersamaan.”
Jaya langsung bergerak ke kiri. Ki Rangga ke kanan. Setelah saling memberi tanda, mereka menekan batu itu bersamaan. Terdengar suara dalam dari balik dinding, seperti sesuatu yang bergerak jauh di dalam tanah. Panca menatap dengan tegang, sementara Wira memegang napasnya sampai dada terasa sesak.
Namun pintu itu tidak langsung terbuka.
Hening sebentar.
Lalu dari balik pintu terdengar bunyi gesekan panjang, disusul suara batu yang bergeser perlahan. Pintu berkarat itu bergerak mundur beberapa jengkal, dan udara dari dalam menyembur keluar. Udara itu lebih tua, lebih dingin, dan membawa aroma debu yang sangat lama tersimpan.
Panca langsung mengangkat tangan menutup hidung. “Bau kubur.”
“Jangan lebay,” gumam Jaya.
“Sedikit saja,” balas Panca.
Ki Rangga menatap ke dalam pintu yang mulai terbuka. “Hati-hati. Apa pun yang ada di sana mungkin sudah lama menunggu.”
Wira merasakan seluruh tubuhnya tegang. Ia melangkah maju bersama yang lain. Ruangan di balik pintu itu lebih luas dari yang dibayangkan, namun gelap. Jaya menyalakan lampu lebih tinggi, dan perlahan dinding-dinding batu mulai terlihat. Di tengah ruangan ada peti besar yang sudah tertutup debu. Di belakangnya, terdapat meja batu dengan cekungan serupa kunci, dan di sisi kanan ruangan ada papan kayu tua yang menyandar ke dinding seperti pernah dipindahkan terburu-buru.
Wira memandang semua itu dengan mata melebar. “Ini…”
“Ruang simpan,” kata Raden Seta.
“Untuk apa?” tanya Wira.
Raden Seta berjalan ke peti besar di tengah ruangan dan meletakkan tangannya di atas tutupnya. “Untuk sesuatu yang sangat dijaga.”
Ki Rangga menyipit. “Dan mungkin berbahaya.”
“Biasanya begitu,” jawab Raden Seta.
Panca menggeleng pelan. “Aku benar-benar mulai percaya orang-orang lama suka sekali membuat hidup orang sekarang rumit.”
Jaya menghampiri papan kayu di sisi kanan ruangan dan menyingkirkannya. Di balik papan itu tampak sebuah celah kecil dengan sebuah benda dibungkus kain. Wira langsung menegakkan badan.
“Apa itu?”
Jaya menoleh. “Mungkin bagian yang hilang.”
Wira mendekat bersama Ki Rangga. Jantungnya berdetak cepat. Jaya mengeluarkan bungkusan itu perlahan. Kainnya tua, tetapi masih terikat. Saat ia membuka simpulnya, terungkap sebuah keping tipis berbahan logam hitam, lebih kecil daripada keping yang mereka temukan sebelumnya. Di permukaannya ada ukiran yang sama dengan dua benda lain, hanya kali ini bentuknya melengkung seperti potongan pusat.
Wira menahan napas.
Ki Rangga menatap benda itu. “Ini yang ketiga.”
Raden Seta mengangguk. “Bisa jadi.”
Wira langsung bertanya, “Bisa jadi?”
Raden Seta menatapnya. “Kalau tiga bagian ini disatukan, kita akan tahu apakah teori lama itu benar.”
Panca menatap mereka bergantian. “Teori apa lagi?”
Raden Seta tidak langsung menjawab. Ia justru mengangkat keping kecil itu ke cahaya. “Bahwa ada tempat penyimpanan yang tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga bukti.”
Wira memandangnya tidak mengerti. “Bukti tentang apa?”
Jaya menjawab pelan, “Tentang siapa yang dulu berkuasa, siapa yang dijatuhkan, dan siapa yang sebenarnya masih menyimpan hak itu.”
Wira merasa kepala dan dadanya sama-sama berat. Semua itu terdengar semakin besar dari yang ia sangka. Bukan hanya soal benda warisan atau keluarga, tetapi soal sejarah yang sengaja dipotong.
Ki Rangga mengambil ketiga benda itu satu per satu, menatanya di atas meja batu. Saat keping ketiga didekatkan, bentuknya mulai membentuk pola melingkar yang nyaris sempurna. Cahaya lampu memantul pada permukaan logam dan kayu itu, lalu jatuh tepat ke cekungan pada meja.
Terdengar bunyi kecil.
Pelan.
Tetapi jelas.
Di bawah meja batu, sesuatu bergerak.
Wira terperanjat. Panca langsung mundur satu langkah. Raden Seta menegakkan badan. Ki Rangga memiringkan kepala, memperhatikan celah di bawah meja yang mulai terbuka sedikit demi sedikit. Udara dingin keluar dari sana, disusul suara gesekan mekanisme tua yang lama tak dipakai.
“Ada ruang di bawahnya,” gumam Jaya.
Panca menatap dengan mata besar. “Aku benci kalau batu mulai bergerak sendiri.”
Celah itu makin lebar.
Dan dari dalam, mereka melihat tangga kecil turun ke bawah.
Wira berdiri terpaku. Ia menatap lubang gelap itu seolah sedang melihat mulut masa lalu. Semua yang mereka kejar, semua yang disembunyikan ibunya, dan semua ancaman yang mengejar mereka sejak awal, tampaknya berpusat di bawah sana.
Ki Rangga menatap Wira. “Kau yang harus pertama turun.”
Wira menelan ludah. “Kenapa aku lagi?”
“Karena ini menyangkutmu,” jawab gurunya singkat.
Raden Seta menambahkan, “Dan mungkin hanya kau yang bisa mengenali apa yang ada di bawah sana.”
Wira mengalihkan pandangannya ke tangga gelap itu. Napasnya terasa berat. Ia ingin bertanya banyak hal, tetapi semua pertanyaan terasa kalah penting dibanding satu kenyataan: pintu yang selama ini mereka cari akhirnya benar-benar terbuka.
Di atas mereka, dari kejauhan, samar terdengar suara ramai bergerak di luar bukit.
Para pengejar masih belum berhenti.
Ki Rangga menarik napas pendek. “Tidak ada waktu untuk ragu.”
Wira mengangguk perlahan. Ia meraih sisi meja batu untuk menyeimbangkan diri, lalu menurunkan satu kaki ke tangga pertama. Udara dari bawah makin dingin. Lebih dalam. Lebih tua. Seolah ada sesuatu yang sejak lama menunggu di sana, diam, terkurung, dan kini akhirnya mendengar langkahnya.
Dan saat ia turun ke anak tangga berikutnya, Wira tahu bahwa malam ini bukan lagi soal melarikan diri.
Malam ini adalah saat ia masuk ke rahasia ibunya yang paling dalam.
bukin pusing aja