NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

foto mulai tersebar

Bab 26- foto mulai tersebar

Hari-hari setelah pertengkaran hebat dan malam kejujuran itu, terasa berbeda. Ada rasa damai yang baru tumbuh di antara mereka. Rasa takut masih ada, rasa was-was masih menghantu, tapi setidaknya sekarang mereka tahu mereka berjuang di pihak yang sama.

Mereka berjanji akan lebih berhati-hati. Mereka berjanji akan menjaga jarak di kampus sebaik mungkin.

Tapi... nasib berkata lain.

Malam itu, hujan baru saja reda. Jalanan kampus masih basah dan gelap.

Adrian baru saja selesai memberikan bimbingan tambahan pada Alena di ruangannya. Karena sudah sangat larut dan takut gadis itu kenapa-kenapa, Adrian memutuskan untuk mengantar Alena sampai ke gerbang parkiran tempat mobil Alena diparkir.

Mereka berjalan beriringan, namun menjaga jarak aman sekitar satu meter. Tidak ada sentuhan, tidak ada tatapan mesra. Hanya langkah kaki yang serasi di tengah kesunyian malam.

"Berhati-hatilah di jalan. Langsung tidur sampai sana, jangan begadang," pesan Adrian dengan suara rendah dan profesional, matanya waspada memindai sekeliling.

Alena mengangguk pelan, tersenyum tipis. "Iya, Pak. Bapak juga hati-hati. Makasih banyak."

Mereka berhenti tepat di bawah tiang lampu jalan yang cahayanya agak remang-remang karena ditutupi dedaunan pohon besar.

"Hati-hati," ucap Adrian sekali lagi, lalu dia berbalik badan hendak kembali ke gedung utama.

Alena juga berbalik, berjalan cepat menuju mobilnya dengan hati yang lega. Berpikir bahwa malam ini berlalu dengan aman dan lancar.

Mereka tidak sadar... bahwa di balik semak-semak yang gelap, di balik tiang listrik yang jauh, ada sepasang mata yang mengintip. Dan ada sebuah lensa kamera ponsel yang tertuju tepat pada mereka berdua.

KLIK!

Suara jeda foto yang sangat pelan, hampir tak terdengar, namun berhasil mengabadikan momen itu.

Fotonya memang tidak jelas. Cahayanya minim. Wajah mereka terlihat agak buram dan agak kabur karena jarak dan cahaya lampu yang temaram.

Tapi... siluet tubuhnya jelas sekali. Postur tegap dan tinggi Adrian, dan sosok kecil Alena yang berdiri tepat di hadapannya. Bahkan bisa dilihat gerakan mereka seolah sedang berbicara intim dan berpapasan di jam yang tidak wajar.

Foto itu tertangkap. Dan malapetaka pun dimulai.

 

📱 Rumor Mulai Berhembus

Dua hari berlalu.

Awalnya tidak ada yang aneh. Kuliah berjalan seperti biasa, Adrian tetap galak dan dingin di kelas, Alena tetap menjadi mahasiswi pendiam di barisan tengah.

Tapi perlahan-lahan, suasana mulai terasa aneh.

Saat Alena berjalan di koridor, dia merasa ada banyak pandangan yang tertuju padanya. Bukan pandangan biasa, tapi pandangan melirik-lirik, berbisik-bisik, dan ada yang tertawa kecil saat dia lewat.

"Eh itu kan Alena..."

"Iya itu dia..."

"Gue denger-denger lho..."

"Serius? Sama si Dokter?"

"Wah berani banget ya..."

Suara-suara bisikan itu terdengar samar-samar, namun cukup jelas sampai ke telinga Alena. Jantung gadis itu mulai berdegup kencang tidak beraturan. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

Ada apa? Kenapa mereka melihatku seperti itu?

Alena mencoba bersikap biasa, mencoba mengabaikan, tapi rasa diawasi itu semakin kuat. Rasanya seperti ada ratusan mata yang memantau setiap gerak-geriknya. Rasanya sesak. Rasanya takut.

 

👯 Teman yang Curiga

Siang harinya, Alena mencoba mencari ketenangan di kantin. Dia duduk bersama Rina dan beberapa teman dekat lainnya. Tapi suasana di meja itu terasa canggung.

Rina, teman sekamarnya yang paling dekat, menatap Alena dengan tatapan serius dan penuh tanda tanya. Dia memegang ponselnya erat-erat, jempolnya mengusap layar beberapa kali, seolah sedang berdebat dengan dirinya sendiri.

"Len..." panggil Rina pelan, suaranya rendah agar tidak didengar meja lain.

Alena mengangkat wajah dari piring makanannya, mencoba tersenyum sesantai mungkin. "Kenapa, Rin? Kok liatin aku gitu?"

Rina menghela napas panjang, lalu dia mendorong ponselnya ke tengah meja, tepat di hadapan Alena.

"Kau jujur sama aku... ini benar atau salah?"

Alena menunduk menatap layar ponsel itu.

Dan saat melihat gambar yang ada di sana, dunia Alena seakan berhenti berputar. Darah di tubuhnya seakan mendidih sekaligus membeku dalam waktu yang bersamaan.

Itu adalah sebuah foto.

Foto hitam putih, pencahayaan buruk, agak grainy dan buram. Tapi cukup jelas untuk dikenali.

Di foto itu terlihat dua orang sedang berdiri berhadapan di bawah lampu jalan malam hari. Pria itu tinggi besar, posturnya sangat khas, gaya berpakaiannya dan gaya rambutnya... siapa lagi kalau bukan Dr. Adrian Vale?

Dan di hadapannya, berdiri sosok wanita berambut panjang, mengenakan jaket yang sangat Alena kenali, tas yang juga sama persis dengan yang dia pakai.

Wajahnya memang tidak terlalu clear, tapi bentuk tubuh, cara berdiri, dan segala detail kecilnya... itu 100% dia!

Di bawah foto itu ada tulisan komentar-komentar jahat:

'Siapa tuh cewek berani banget?'

'Kelihatannya mahasiswi baru ya?'

'Wih malam-malam begini masih di kampus, ngapain aja coba?'

'Jangan-jangan memang udah ada apa-apa deh.'

Alena menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya kering kerontang. Tangannya gemetar hebat sampai dia tidak sanggup memegang apa pun.

Tuhan... tolong aku... Ini bencana besar...

 

🥶 Panik dan Bingung

"Len?" Rina menatapnya lekat-lekat, menunggu jawaban. Teman-teman yang lain juga ikut menatapnya dengan berbagai ekspresi: penasaran, kaget, dan menyalahkan.

"Aku... aku..." Alena terbata-bata, otaknya bekerja keras mencari alibi, mencari pembelaan, tapi semuanya menguap entah ke mana. "Itu... itu gelap banget kan, Rin? Masa gak bisa lihat jelas? Itu bukan aku kok..." suaranya terdengar lemah dan tidak meyakinkan sama sekali.

"Alena," Rina memotong pelan tapi tegas. Dia mengambil kembali ponselnya, lalu memperbesar foto itu di bagian wajah yang sedikit terlihat cahaya. "Ini jaket bomber hitam yang kau pakai hampir setiap hari kan? Ini tas ranselmu juga kan? Dan postur tubuhnya... gak ada yang mirip selain kau di fakultas ini, Len."

Rina menghela napas lagi, matanya terlihat khawatir bercampur kecewa.

"Dan itu... itu beneran Dr. Vale kan? Kenapa kalian bisa barengan jam segitu? Kenapa bisa sedekat itu? Apa yang kalian lakukan di kampus sampai malam sekali?"

Pertanyaan demi pertanyaan meluncur deras, menghujani Alena seperti batu besar.

Alena menundukkan wajahnya, membiarkan rambutnya menutupi ekspresi ketakutannya. Air matanya siap tumpah setiap saat.

Dia merasa terjebak. Dia merasa seperti penjahat yang baru saja tertangkap basah.

Benar kata Adrian... mereka bermain terlalu dekat dengan api. Dan sekarang... apinya sudah mulai membakar mereka.

 

💔 Pertanyaan yang Mematikan

"Kalian berdua... ada hubungan kan?" tanya salah satu teman lain pelan, suaranya bergetar karena kaget. "Gak heran sih Bapak Dokter sering banget nyebut nama kau, sering banget perhatiin kau dari jauh. Ternyata beneran ya?"

"Jujur Len, kami gak mau menghakimi," tambah Rina lagi, mencoba bersikap bijak meski wajahnya juga pucat. "Tapi ini bahaya banget lho. Kalau ketahuan pihak kampus, kau bisa dikeluarin! Karir dia bisa hancur! Kenapa kau bisa sebodoh ini membiarkan hal ini terjadi?"

Kata-kata itu menyakitkan. Sangat menyakitkan. Tapi Alena tahu mereka benar.

Alena menggigit bibir bawahnya sampai terasa sakit dan berdarah sedikit. Dia tidak bisa menjawab. Dia tidak bisa mengakui, tapi dia juga tidak bisa berbohong dengan lancar.

Bukti ada di depan mata. Foto itu ada. Dan meski wajahnya tidak terlalu jelas, tapi ciri-cirinya terlalu kuat untuk disangkal.

Suasana di meja makan itu menjadi hening yang mencekam. Semua mata tertuju padanya. Menunggu pengakuan.

Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Alena mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, berkaca-kaca, penuh ketakutan dan keputusasaan.

Dia menatap Rina, lalu menatap layar ponsel itu sekali lagi.

Dan dengan suara yang hampir tak terdengar, bergetar hebat karena rasa takut yang luar biasa, Rina berkata pelan namun tegas, menegaskan apa yang sebenarnya sudah mereka semua tahu:

“Ini kamu… kan?”

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!