Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak hilang di antara halaman buku
Sebelum dunia berubah menjadi labirin rumit yang harus kujalani bersama Charles, hidupku adalah garis lurus yang sederhana. Aku ingat betul bagaimana aroma perpustakaan sekolah menjadi tempat pelarianku yang paling aman. Di sana, di sudut paling belakang, di antara rak-rak buku tua yang berdebu, aku sering menghabiskan waktu dengan sebuah buku catatan lusuh di tangan.
Nama "Andini" yang kusematkan di sampul depan buku itu bukan sekadar nama. Itu adalah identitas seorang gadis yang punya ribuan mimpi dalam kepalanya.
"Din, lo itu beneran bakal jadi penulis terkenal, ya?" Siska sering bertanya sambil memutar-mutar pulpen di jarinya, duduk di sampingku.
Saat itu, aku hanya tertawa kecil. "Nggak tahu, Sis. Tapi, dengan menulis, aku bisa menciptakan dunia sendiri. Dunia di mana semua masalah punya jawaban, dan setiap tokoh bisa menentukan nasibnya sendiri."
Itulah aku. Andini yang naif. Andini yang percaya bahwa jika kita cukup berusaha dan berdoa, takdir akan berpihak pada kita. Aku tidak punya beban, selain memikirkan bagaimana caranya agar nilai Matematika-ku tidak anjlok atau bagaimana cara meminjam novel terbaru di perpustakaan kota tanpa harus terlambat mengembalikannya.
Keluargaku memang sederhana. Setelah orang tuaku tiada, aku tinggal bersama Paman di rumah tua peninggalan kakek. Hidup kami pas-pasan, tapi kami bahagia. Aku punya waktu untuk ikut klub debat, sesekali nongkrong di kantin sambil membahas gosip sekolah, dan yang paling penting—aku punya kebebasan.
Kebebasan. Satu kata yang sekarang terasa seperti kemewahan yang hanya bisa kutonton di balik layar kaca.
Semua berubah pada suatu sore yang mendung. Hari itu, aku sedang asyik merangkai kata demi kata untuk novel pertamaku di teras rumah. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma tanah basah. Paman datang menghampiriku dengan wajah yang sangat pucat. Tangannya gemetar saat memegang selembar surat legal yang tampak sangat resmi.
"Andini," suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Aku meletakkan penaku, merasa tidak enak. "Kenapa, Paman? Apa terjadi sesuatu di toko?"
"Bukan toko, Din. Ini... ini tentang masa depanmu. Tentang wasiat keluarga."
Itu adalah pertama kalinya aku mendengar nama "Keluarga Utama." Paman menjelaskan bahwa utang budi kakek kami di masa lalu, yang melibatkan tanah dan investasi, kini jatuh tempo. Bukan dalam bentuk uang, tapi dalam bentuk sebuah janji kuno yang tertulis di atas akta perjanjian yang tak bisa digugat.
Aku ingat bagaimana duniaku mendadak terasa dingin. Aku masih tujuh belas tahun. Aku baru saja memikirkan tentang universitas mana yang ingin kumasuki, bukan tentang pernikahan.
"Kenapa harus aku, Paman? Kenapa bukan orang lain?" teriakku saat itu, air mata jatuh tanpa bisa kutahan.
"Karena kau satu-satunya pewaris yang tersisa, Andini. Dan mereka... mereka bukan orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang bisa menghancurkan kita dalam semalam jika kita melanggar janji ini," jawab Paman lirih.
Sore itu, Andini yang mencintai puisi dan cerita fiksi mati perlahan. Digantikan oleh seorang gadis yang harus belajar cara menyembunyikan rasa takut di balik senyum yang dipaksakan. Aku mulai belajar memakai seragam sekolah dengan lebih rapi, belajar menyembunyikan ponselku agar tak terlihat jika ada pesan dari pria asing yang akan menjadi suamiku, dan belajar berbohong kepada teman-temanku.
Setiap kali aku menatap cermin sebelum berangkat sekolah, aku selalu berbisik pada gadis di dalam sana, *"Bertahanlah sedikit lagi. Lulus sekolah, dan kau akan bebas."*
Tapi, setelah bertemu Charles, aku menyadari bahwa "bebas" bukanlah tujuan akhirnya. Charles bukan sekadar pria yang dingin; dia adalah pria yang terjebak dalam dunianya sendiri.
*Tok. Tok.*
Suara ketukan pintu apartemen membuyarkan lamunanku. Aku menarik napas dalam, membetulkan letak gaunku di depan cermin besar di kamar. Andini yang dulu, gadis yang hanya memikirkan novel dan nilai sekolah, kini harus menghadapi kenyataan di balik pintu itu.
Aku membuka pintu. Charles berdiri di sana, menungguku dengan tangan terlipat di depan dada. Dia tampak seperti patung marmer yang bernapas—sempurna, megah, tapi tak tersentuh.
"Kau siap?" tanyanya dingin.
Aku menatap matanya, mencari sisa-sisa kemanusiaan di sana. "Siap untuk apa, Charles? Makan malam bisnis, atau sekadar sandiwara lainnya?"
Charles terdiam sejenak. Alisnya sedikit terangkat, mungkin terkejut dengan keberanianku bertanya. Dia melangkah masuk ke dalam kamar, menutup pintu di belakangnya, sehingga jarak di antara kami menjadi sangat sempit. Aroma parfumnya yang maskulin dan dingin kembali mendominasi indra penciumanku.
"Keduanya," jawabnya datar. Dia mengulurkan tangannya. "Tunjukkan pada mereka bahwa kau bukan sekadar 'anak sekolah'. Tunjukkan bahwa kau adalah istri Charles Utama."
Aku menatap tangannya yang terulur. Ada sedikit keraguan di hatiku, namun aku meraihnya. Saat kulit kami bersentuhan, aku merasakan aliran listrik kecil—bukan percikan asmara, tapi pengingat bahwa mulai malam ini, aku benar-benar tidak bisa lagi kembali menjadi Andini yang dulu.
Duniaku telah berubah, dan satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan memainkan peran ini hingga akhir—atau mungkin, sampai aku berhasil membuat es di hati pria ini mencair, entah itu butuh waktu setahun, atau selamanya.
"Ayo," bisikku pelan.
Charles mengangguk sekali, lalu membimbingku keluar dari apartemen, menuju dunia yang tidak pernah kubayangkan akan menjadi bagian dari hidupku. Aku Andini, dan ini adalah bab kedua dari kisah hidupku yang tak pernah kutulis di dalam buku catatanku.