Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Madu
Penerbangan menuju Tokyo berlalu seperti mimpi yang indah. Begitu pintu pesawat terbuka di Bandara Haneda, udara musim dingin yang menggigit langsung menyambut Kevin dan Arini. Namun, dinginnya salju seolah tidak berarti karena tangan mereka selalu bertautan erat di dalam saku mantel wol tebal yang mereka kenakan.
Satu minggu ke depan di Jepang benar-benar menjadi waktu di mana dunia seolah-olah hanya akan menjadi milik mereka berdua. Kevin telah menyewa sebuah ryokan, penginapan tradisional Jepang, eksklusif di kawasan Hakone, yang terkenal dengan pemandangan Gunung Fuji dan sumber air panas alaminya (onsen).
Hari kedua di Jepang, setelah menempuh perjalanan romantis menggunakan kereta cepat Shinkansen yang membelah pemandangan bukit-bukit bersalju, mereka tiba di penginapan. Kamar mereka sangat luas, beralaskan tatami yang wangi, dengan pintu geser kertas yang langsung menghadap ke taman salju privat dan sebuah kolam onsen air panas pribadi di luar ruangan.
Sore itu, salju turun perlahan, menghiasi dahan-dahan pohon pinus dengan warna putih bersih. Kevin mengajak Arini untuk berendam bersama di onsen privat mereka.
Awalnya, Arini kembali merasa canggung saat harus melepas pakaiannya di hadapan Kevin dalam suasana benderang. Namun, Kevin dengan sangat lembut menuntunnya masuk ke dalam air kolam yang mengepulkan uap hangat.
"Dinginnya langsung hilang, ya?" bisik Arini, menenggelamkan tubuhnya hingga batas bahu, menikmati kontras antara udara musim dingin dan kehangatan air belerang.
Kevin bergerak mendekat, merangkul pinggang Arini dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu polos istrinya. "Bagian terbaiknya bukan air panasnya, Rin. Tapi karena aku bisa memelukmu seperti ini tanpa ada yang mengganggu."
Kevin mengecup leher belakang Arini, membuat wanita itu kegelian sekaligus meremang. Di bawah saksi rintik salju yang jatuh ke permukaan air, Kevin memutar tubuh Arini agar menghadapnya. Kabut uap air menyamarkan wajah mereka, namun tatapan mata Kevin begitu tajam penuh gairah. Ia memagut bibir Arini dengan lembut namun mendalam, sebuah kecupan yang perlahan berubah menjadi tuntutan rindu yang membara.
Malam harinya, mereka menikmati Kaiseki dinner, makan malam dengan menu tradisional Jepang yang disajikan langsung di dalam kamar mereka oleh seorang pelayan pribadi. Ruangan hanya diterangi oleh temaram lilin dan lampu taman luar.
Satu per satu hidangan estetik disajikan, mulai dari sashimi ikan salmon yang sangat segar, sup miso yang hangat, hingga daging sapi Hida yang dipanggang di atas batu panas. Kevin menyuapkan sepotong daging lembut itu ke mulut Arini.
"Bagaimana? Enak?" tanya Kevin penuh perhatian.
"Sangat enak, Kevin. Aku tidak pernah tahu kalau makan malam dalam keheningan seperti ini bisa terasa begitu mewah," jawab Arini dengan mata berbinar.
"Kemewahan itu bukan karena tempatnya, Sayang. Tapi karena aku makan bersama wanita paling cantik dan aku cintai. " balas Kevin sambil mengedipkan mata, membuat Arini tertawa kecil dan mencubit pelan punggung tangan suaminya.
Setelah pelayan pamit dan merapikan meja, Kevin memutar musik instrumental klasik yang lembut dari ponselnya. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Arini. Di atas lantai tatami, di bawah temaram cahaya lilin, mereka berdansa. Arini menyandarkan wajahnya di dada bidang Kevin, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan menenangkan.
Saat musik perlahan berhenti, Kevin tidak melepaskan pelukannya. Ia mengangkat tubuh Arini ke dalam gendongannya, membawa istrinya menuju hamparan futon (kasur tradisional Jepang) tebal yang sudah disiapkan di tengah ruangan.
Kevin merebahkan tubuh Arini dengan sangat hati-hati, seolah wanita itu adalah permata paling berharga yang tidak boleh tergores sedikit pun. Ia ikut merebahkan diri di atasnya, mengurung tubuh Arini di antara kedua lengan kokohnya.
"Siap untuk melanjutkan program kita, Nyonya Mahendra?" bisik Kevin dengan suara berat yang seksi, menatap lekat-lekat mata Arini.
Arini tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai jawaban, ia melingkarkan kedua lengannya di leher Kevin, menarik wajah suaminya agar semakin dekat.
Malam itu, di dalam kamar ryokan yang hangat di tengah kepungan salju Hakone, mereka kembali menyatu dalam romansa yang membara. Sentuhan demi sentuhan Kevin lakukan dengan penuh kelembutan namun sarat akan gairah, menghapus setiap sisa rasa dingin yang ada. Arini mendesah pelan saat penyatuan suci itu terjadi, merasakan kehangatan cinta Kevin menjalar hingga ke sudut jiwanya yang paling dalam. Mereka bercinta dengan penuh perasaan, menanam benih-benih harapan baru dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menitipkan malaikat kecil di rahim Arini yang subur. Setelah badai gairah itu mereda, mereka tertidur dalam posisi saling berpelukan erat di bawah selimut tebal, berbagi kehangatan tubuh hingga pagi menjelang.
Hari-hari berikutnya dihabiskan dengan penjelajahan romantis di kota budaya, Kyoto. Kevin mengajak Arini berjalan-jalan di antara rindangnya Hutan Bambu Arashiyama yang magis. Mereka juga menyewa baju Kimono tradisional Jepang untuk pergi ke kuil Fushimi Inari.
Arini terlihat sangat menawan mengenakan Kimono bermotif bunga sakura merah muda dengan rambut yang ditata rapi. Sepanjang jalan setapak di bawah ribuan gerbang Torii berwarna merah menyala, banyak turis asing yang mengagumi keserasian mereka dan meminta foto bersama.
Setiap kali Arini merasa lelah karena berjalan menggunakan sandal kayu bakiak tradisional, Kevin dengan sigap akan merangkulnya, atau bahkan menggendongnya di tempat yang sepi dari kerumunan.
"Kev, memalukan dilihat orang," protes Arini sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah di pundak Kevin.
"Biarkan saja. Mereka hanya iri melihat suamimu yang tampan ini sangat memanjakan istrinya," sahut Kevin percaya diri, membuat tawa Arini pecah seketika.
Satu minggu berlalu begitu cepat di negeri sakura. Di hari terakhir sebelum kembali ke Indonesia, saat mereka sedang duduk di sebuah kafe modern di Tokyo sambil memandangi rintik hujan salju di luar jendela, Arini menggenggam erat tangan Kevin.
"Terima kasih untuk satu minggu yang luar biasa ini, Suamiku. Aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia," ucap Arini tulus, matanya berkaca-kaca karena haru.
Kevin membawa tangan Arini ke bibirnya, mengecup cincin pernikahan mereka dengan takzim. "Ini baru awal dari perjalanan panjang kita, Rin. Pulang dari sini, kita akan membangun keluarga kecil kita, membesarkan anak-anak kita, dan menua bersama. Aku akan selalu ada di sampingmu, menjaga samudera hatimu agar tetap tenang selamanya."
Dengan hati yang dipenuhi cinta yang matang dan harapan akan tanda-tanda kehidupan baru di dalam rahimnya, Arini tersenyum mantap. Bersama Kevin, ia tahu bahwa masa lalunya telah terkubur sempurna, dan masa depannya kini terbentang luas, seindah langit musim dingin yang bersih di atas kota Tokyo.